Stairway To Love

Stairway To Love
09.


__ADS_3

...♨♨♨...


Anggi mendecak sembari melihat kalender yang tergantung di kelasnya. Sekarang hari Jumat. Meninggalkan sekolah, rumah, ayah dan ibu, dan Gladys yang kini berdiri di sampingnya sembari menatap Anggi dengan tatapan berharap. Anggi tahu apa yang diharapkan gadis itu. Berharap agar Anggi tidak pergi dan berubah pikiran untuk tetap tinggal di sini saja.


Namun Anggi sudah membulatkan tekad dan pasrah. Semua barangnya sudah disiapkan. Banyak koper yang dia pakai dan banyak tas yang dia perlukan. Dan yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu hari Sabtu datang menyapa dan dia pergi menemani oma.


Setidaknya pada akhir kegiatan di kota, gadis itu sudah memohon pada ayah dan ibunya untuk mengantar bersama-sama. Dia ingin merasakan sebuah keluarga utuh tanpa kekurangan sebelum akhirnya hal ini tidak akan mungkin terjadi lagi. Ingin rasanya dia menangis tapi untuk apa? Ayah dan ibunya memang berpisah, dan itu bukan berarti kalau orangtuanya tidak sayang pada Anggi.


Dia akan selalu ingat kata-kata Gladys soal kasih sayang orangtua yang sebenarnya.


"Anggi gue tau kok kalau bokap lo bisa beliin lo rumah di sini." kata Gladys.


Anggi terkekeh. "Bukan gitu Glad, gue cuma mau ngurusin oma. Lo tau kan gue pernah bilang kalau oma ga mau pindah ke sini."


"Iya sih! Gue hanya ga yakin aja bisa dapet temen kaya lo."


"Banyak kali!" balas Anggi sembari menoleh ke meja kelas paling ujung. "Ada Fara!"


Gladys melirik ke orang yang dimaksud oleh Anggi. Gadis paling pendiam di kelas yang paling sering dirumorkan diganggu oleh Dio. Tak heran, pasalnya paras gadis itu cantik namun sedikit lugu dan kutu buku. Dia adalah manusia paling rentan berurusan dengan weird n dumb.


"Lo sengaja biar gue kena juga sama Bass?" pekik Glad.


"Ga gitu! Lagian kan Bass ga bakal ganggu dia karna ada Dio yang suka sama dia! Lo aman dan sifatnya juga ga kalah baik dari gue."


Gladys menarik napas perlahan dan mempertajam mata ke arah sahabatnya itu. "Dio emang suka sama semua cewe kali!"


Anggi terkekeh dan menyerah untuk memberi saran pada Glad yang selalu menolak. Baik itu usul yang masuk akal sampai yang luar biasa, Glad selalu bertingkah kalau dia bisa menghadapi masa SMA sendiri tanpa Anggi dan tanpa teman yang lain.


"Tinggal hari ini, Glad. Besok balik dari sekolah gue langsung pergi ke kampung." kata Anggi.


Glad mengangguk paham. "Selagi itu bikin lo bahagia Anggi!"


"Orangtua gue bakal daftarin gue di SMA yang ada disana." lanjut Anggi.


Nada sedih dari Anggi langsung bisa dianggap sebagai sinyal bagi Glad. Sinyal yang menyatakan kalau sebenarnya gadis itu tidak sedang baik-baik saja kalau pindah kesana. Dia lebih memilih orangtuanya kembali bersatu dan tinggal disini bersama-sama.


"Semoga lo bahagia sama oma lo!" ucap Glad pelan.


"Lo pikir gue meninggal apa?" pekik Anggi tidak terima.


Gladys tertawa pelan kemudian menuju ke kursinya di kelas yang ramai dengan teriakan-teriakan itu. Anggi tidak yakin kalau bisa menemukan kela sebegini hebat disana.


Seingat Anggi, kehidupan di desa ialah kehidupan yang serba tenang. Padahal sebenarnya gadis itu tidak terlalu suka dengan ketenangan yang membuat sekelilingnya menjadi hampa. Di kawasan itu tidak lebih dari sepuluh yang sebaya dengan gadis itu. Artinya, mencari teman di sekitar rumah oma sangat susah.


"Eh Glad, menurut lo kenapa Bass diskorsing ya?" tanya Anggi tiba-tiba membuat Glad mendadak menilik ke arah sahabatnya itu.


"Lo nanya soal Bass?"


Anggi mengangguk pelan. "Kenapa emang? Salah?"


"Ngapain lo nanya soal dia? Lo naksir—"


"Bisa ga sih lo jauhin pikiran dari yang namanya naksir-naksiran?" decak Anggi sembari mengetuk meja dengan kuat.


"Iya iya! Menurut gue Bass kena skors karena tingkahnya yang melampaui batas kali ya!" Glad mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jemarinya.


"Biasanya bokap dia pasti nawarin duit ke Pak Ruben, kan itu rumor paling hits di sekolahan." kata Anggi.


Gladys mengernyit kesal karena arah pembicaraan mereka yang membuatnya takut memulai ajaran baru. "Udah ah! Gue mau ke kanti aja!"


"Yaudah gue ikutan." Anggi berjalan di belakang Glad yang menata jalan mereka menuju kantin.


Kantin adalah tempat yang selalu ramai di sekolah ini. Setelah kabar bahwa Bass kena skors, kantin jadi agak ramai dan perempuanulai berani menginjakkan kaki disana. Pasalnya kabar soal Dio, Fariz, dan Jhon juga menghilang. Mungkin mereka mendekap di kelas semenjak Bass mereka tidak ada di sekolah.

__ADS_1


Bass memang manusia paling berpengaruh selama peradaban kantin. Mulai dari kelas sepuluh, ada aura di dalam tubuhnya untuk membuat orang takut, sekali pun itu adalah kakak kelas, pasti kalap dibuatnya. Semua bergidik ketika dia sudah tertawa seperti setan dengan sahabat-sahabatnya yang tak kalah gila.


Wajar saja kalau mereka memang divonis kena gangguan jiwa kelas akut yang menyerang otak mereka.


Kalau mau tidak diganggu artinya harus berani masuk menjadi anggota genk mereka. Namun untuk lewat dari depan mereka saja susah, apalagi untuk meminta agar dimasukkan ke anggita genk. Bisa-bisa harga diri jadi taruhan awalnya. Semua saja bisa heran bagaimana keempat manusia itu dipersatukan oleh alam dengan sifat yang sama. Nyaris tak ada bedanya.


...***...


Bass mengayuh sepedanya menuju rumah oma. Sore ini dia harus menjemput rantang milik Helen agar bisa dipakai besok pagi. Jarak antar rumah Helen dan rumah oma memang dekat, namun sengaja Bass menaiki sepeda semata-mata untuk membuat Cleo sial karena dia tidak paham apapun soal mengendarai sepeda.


Biasanya pekerjaan menjemput rantang ialah tugas Cleo. Tapi semenjak Bass ada, dua hari terakhir lelaki itu sangat semangat untuk mengantar jemput rantang. Menurutnya oma begitu ramah dan baik. Bass merasa sedang berhadapan dengan nenek kandungnya.


Lelaki itu menghentikan sepeda ketika sampai di depan gerbang oma. Dengan cepat dia membuka gerbang hitam karena kata oma Bass harus terbiasa menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri. Bass hanya mengiyakan, dia maklum karena tahu pasti oma merindukan anak dan cucunya.


Bass mengetuk pintu dan sesegera mungkin oma membukakan untuk lelaki itu. Di tangan oma sudah ada rantang yang bersih, dan dengan senyum wanita tua itu menyambut kedatangan Bass.


"Oma lagi apa?" tanya Bass.


"Lagi bersih-bersih! Kamu bisa bantuin oma?" tanya oma dengan nada berharap.


Bass membulatkan matanya. Jarang dia ikut bekerja membersihkan rumah. "Dengan senang hati oma!"


Keduanya masuk ke dalam rumah itu. Rumah besar itu ternyata lebih menarik daripada yang diperkirakan okeh Bass. Kemarin dia hanya masuk sampai ruang tamunya saja, dan sekarang dia terbelalak melihat ruang keluarga dan beberapa ruang kecil di sampingnya.


Dapur memiliki pintu besar tersendiri yang menghububgkannya langsung ke halaman belakang. Banyak bunga-bunga bergantungan dan sebuah kursi untuk oma bersantai. Di sampingnya ada tangga menuju loteng yang hanya berisi satu ruangan besar dan satu kamar khusus barang-barang tidak terpakai.


Ada dua kamar mandi sedang yang tinggal hanya satu orang. Ruang tidur di bawah ada tiga buah, mungkin akan dipakai oleh cucu oma nanti.


Bass menelusuri rumah itu dengan seksama dan memandangi foto-foto yang tergantung di dinding. Ada satu foto yang menarik perhatiannya. Yaitu foto keluarga besar yang ramai. Di bagian depan ada seorang anak kecil usia sepuluh tahun duduk tersenyum. Lucu.


"Bass tolongin oma geserin sofa ini!" ujar oma dari ruang keluarga.


Bass melakukan perintah oma. Menggeser sofa besar berwarna abu-abu ke dekat dinding sehingga menjauhi televisi. Semua diatur oma sedemikian rupa agar ruangan tampak lebih luas dari sebelum diubah.


"Oma mau ngubah suasana, sebentar lagi cucu oma datang dan dia pasti senang lihat rumah ini jadi baru." jawab wanita tua itu.


Bass mengangguk paham. Bass menakar-nakar sebahagia apa menjadi cucu oma. Selalu disapa senyum ramah dan kasih sayang yang tampaknya begitu tulus. Bayangkan saja rela merombak perabotan dengan tubuh tua renta hanya untuk membahagiakan cucunya.


"Jadi lupa lagi, cucu oma kemarin namanya siapa?"


"Difa, sebenarnya dia lebih sering dipanggil—"


"Bass!" tiba-tiba teriakan seseorang dari luar rumah mengejutkan Bass.


"Itu Cleo oma, sebentar Bass liat ya!" Bass melajukan langkahnya menuju teras dan melihat Cleo berdiri disana dengan wajah heran.


"Ngapain di rumah oma?" tanyanya.


"Bantuin beres-beres, ikutanlah!" paksa Bass menarik tangan sepupunya itu.


Cleo tampak kesal pada Bass. Pasalnya tubuhnya sangat letih karena membantu Helen membersihkan halaman belakang, dan sekarang Bass dengan hebatnya mengajak untuk beres-beres lagi di rumah oma.


Bass mendelik pada sepupunya yang tampak kusam. Mulai dari baju panjang dan rok selutut berwarna cokelat. Rambut digulung dan mata kuyu. "Kenapa kaya orang abis marathon?"


"Gue baru bersih-bersih di rumah eh lo nyolot ngajakin gue bersih-bersih." pekik Cleo kesal. "Gue cuma disuruh lihat lo ada disini apa engga. Mana tau lo tersesat gitu."


Bass tertawa lebar. "Gue tersesat? Enggalah!"


Cleo mengangguk kemudian memasuki ruang keluarga tepat dimana oma berada. Tubuhnya langsung hanyut di tempat duduk yang ada paling dekat dengan pintu.


"Cleo cape begitu?" oma mengerutkan dahi heran.


"Capek banget oma!" desisnya.

__ADS_1


"Alah lebay!!" Bass mendengus.


"Kalau capek beneran ambilin tuh di kulkas, tadi oma beliin es gitu."


Cleo membulatkan mata kemudian langsung melesat menuju dapur. Hal itu membuat Bass geleng-geleng kepala dan kembali membantu oma untuk menyelesaikan tugas yang tampaknya sangat menyiksa bagi seorang nenek tua.


...***...


Usai membereskan semua pojok rumah, Bass duduk dan mengistirahatkan kepalanya di sandaran sofa. Kakinya digoyangkan dan matanya melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Dia tampak lelah, begitu juga oma yang lebih pandai menyembunyikan rasa lelahnya.


Beda dengan Cleo yang hanya asik membantu pekerjaan ringan. Mengambil sapu. Mengambil kain pel. Mengambil ember. Mengambil lap. Mengambil kemoceng. Itu saja, namun dia berlagak seperti orang yang tidak berhenti bekerja selama sepuluh hari berturut-turut.


Mereka bertiga duduk di ruang tengah sambil menikmati udara yang masuk melalui pintu. Oma menoleh pada kedua anak itu, kemudian tertawa seolah ada yang lucu.


"Kalian kelihatan sekali ga pernah kerja begitu."


Cleo mengerutkan dahi tidak terima. Dia mengangkat sandarannya dan menatap oma tajam. "Oma, Cleo ga pernah free dari kerjaan selama tinggal sama tante Helen."


"Helen memang begitu, kerja keras, bersih. Jadi kalian harus ketularan bersihnya." lanjut oma.


"Bass ga disuruh kerja!" desisnya lagi, membuat Bass tertawa terpingkal-pingkal.


"Biasanya cewek emang harus lebih peka sama yang bersih-bersih, iyakan oma?" Bass memperkuat kondisinya.


Oma mengangguk. "Memang, perempuan itu cenderung lebih peka untuk segala sesuatu yang indah."


"Kalau cowok?" tanya Cleo lagi.


"Lelaki itu cenderung kuat! Cari nafkah dan tanggung jawab paling besar ada di punggungnya. Laki-laki itu harus rajin, jangan pemalas! Yang jadi bagian penting dari laki-laki itu tanggung jawab, dan itu yang akan menarik cinta perempuan."


Cleo dan Bass saling berpandangan. Keduanya kikuk saat oma membicarakan soal cinta. Mereka nyaris tidak percaya kalau oma masih bisa membicarakan soal hal begitu. Mereka terkekeh pelan, membuat oma mengernyit heran.


"Kenapa ketawa? Kan memang begitu! Suami oma itu orangnya tanggung jawab loh! Makanya oma jadi sama dia!" jawab oma sembari menoleh ke foto yang ada di atas jendela ruangan itu.


Foto itu menampilkan foto jadul pernikahan antara oma dan suaminya. Sudah sangat lama. Namun bingkai baru yang menghiasi tepinya mengisyaratkan kalau foto itu akan dikenang sampai selama-lamanya.


"Karena dia tanggung jawab, oma mau bersama dia sampai tua. Dan akhirnya dia dipanggil sama yang di atas."


Cleo dan Bass terdiam sembari mengamati foto itu. Benar-benar Bass bisa merasakan kalau oma tidak sedang bercanda. Bass cukup tahu bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang disayangi. Seperti dia harus pergi dari kota dan meninggalkan sarah serta sahabatnya.


"Cinta sejati itu ada dari hati masing-masing!" lanjut oma lagi.


"Udah oma! Jadi bahas begituan. Kalau gitu Cleo sama Bass pamitan dulu ya oma, pasti dicariin tante Helen!" ujar Cleo.


Bass mendelik pada sepupunya itu. Jelas dia belum mau pulang, namun akhirnya dia hanya bisa pasrah ketika Cleo menarik tangannya. Oma mengangguk pelan dan mengantar mereka sampai ke pintu.


"Besok Bass datang lagi oma!" teriaknya sesaat setelah mereka sampai di luar gerbang.


Bass menaiki sepeda dan mempersilahkan Cleo untuk duduk di boncengannya. Mereka menyusuri jalanan desa dan melaju ke rumah dengan diam tanpa bicara. Dengan cepat Bass memarkirkan sepeda dan melihat ketika Helen menuju teras dengan air wajah khawatir.


"Bass, kamu ga bawa hp?" bisik Helen dengan sedikit kuat.


Bass menggeleng sembari menatap Helen dengan bingung. "Engga! Emang kenapa? Bass sama Cleo di rumah oma kok—"


"Bukan itu!" potong Helen. "Ini telepon buat kamu!" Helen menyerahkan handphone-nya ke keponakannya itu.


Bass melirik ke layar dan melihat kalau panggilan tersambung dengan ayahnya, Bagas. Dengan napas pasrah dan dengusan kesal dai menyahut.


"Iya pa?"


"Kamu ya! Bukannya bantuin tante kamu di rumah malah keluyuran ga jelas. Dari tadi papa telpon tante kamu katanya kamu ga di rumah. Mau jadi apa kamu? Ga di kota ga di desa sama aja! Mau jadi apa??"


Bass terdiam kemudian menatap nanar ke arah Helen dan Cleo. Secepat kilat lelaki itu menyerahkan handphone ke Helen dan masuk ke dalam rumah. Emosinya tampak terlupakan, apalagi ketika dia menutup pintu dengan membanting.

__ADS_1


...♨♨♨...


__ADS_2