
...♨♨♨...
Hari menjelang siang ketika sebuah mobil pick-up menyita perhatian Anggi. Dia tahu kalau mobil itu berisi sepeda yang sudah dikabarkan ayahnya akan sampai siang ini. Gadis itu berjalan menuju teras diikuti oleh Oma. Mereka menyambut turunnya sepeda itu dan menandatangani tanda terima yang diambil alih oleh gadis itu sendiri.
Anggi mendecak kesal sejenak. Warna sepeda itu merah jambu padahal Anggi sudah meminta warna putih saja, warna kesukaannya. Sayangnya Endy tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu. Dia maklum. Bagaimana pun juga dia tidak bisa menyalahkan ayahnya atas hal ini, karena anggap saja Anggi yang tidak punya waktu berbincang Dengan Endy.
"Bagus, Anggi?" tanya Oma sembari melihat sepeda yang lengkap dengan helm sewarna dengan itu.
"Iya, Oma!" dustanya.
"Kamu mau cobain dulu ga?" Oma bertanya lagi.
Anggi menerawang ke pikirannya. Sebenarnya dia malas menyusuri desa walaupun langit mulai mengusir awan hitam yang menyumbat sinar matahari, namun rasanya tidak salah untuk mengenal lebih lagi tempat tinggal barunya. Akhirnya dia iyakan saja.
"Iya, Oma!" ujarnya.
Om tersenyum ketika Anggi bilang iya. Rasanya dia bangga punya cucu yang akan siap menemani dirinya menghabiskan waktu di desa ini walaupun mungkin setelah SMA akan pergi lagi.
"Jangan kejauhan!" kata Oma memperingati sembari menyusuri halaman untuk masuk kedalam rumah.
Gadis itu masih belum terlalu terima dengan sepeda merah jambu di depannya itu. Baiklah, kalau disuruh memilih antara sepeda lipat baru ini dengan sepeda tua milik Bass, maka Anggi akan bilang 'lebih baik punya sepeda kaya Bass aja.' Tapi dia lagi-lagi harus menghargai karena Endy ayahnya.
Anggi melepas seluruh pembungkus yang melekat di sisi sepeda, termasuk helm yang terkait. Dia meletakkan helm itu di kursi yang sudah ada di dekat gerbang sejak dulu. Perlu diketahui kalau Anggi lebih suka berjalan-jalan menikmati udara sendirian, bukan ditemani helm. Walaupun dia memang sangat kesepian semenjak berpisah dengan kehidupan kotanya.
Tapi tidak apa. Dia pikir pasti ada seseorang di sekitar sini yang bisa dijadikan teman yang menyerupai Gladys. Dia tidak akan menyerah untuk mengubah hari-harinya, toh tidak akan pernah dia kembali lagi pada masa lalu.
Gadis itu menaiki sepeda. Sudah lama dia tidak mengenakan sepeda, karena hidupnya di kota selalu bertemu pada kendaraan berbahan bakar. Diantar jemput oleh supir pribadi atau dengan mobil yang sengaja dibelikan Endy untuknya. Mungkin sekarang mobil itu menganggur di parkiran Endy.
Dengan cepat Anggi mengayuh sepeda menuju jalan utama yang lebar. Di bagian kanan terhampar sawah luas membentang, walaupun belum ada orang yang bekerja disana. Mungkin pengaruh cuaca, membuat mereka malas untuk pergi keluar rumah.
Gadis itu terhenti ketika sampai di depan pagar sebuah rumah. Rumah besar terbuat dari semen dan papan, halaman yang luas, dan sebuah Sepeda terparkir di depan rumah. Anggi ingat kalau itu ialah rumah Helen, dan pasti Bass tinggal disana juga.
Sebenarnya Anggi bingung kenapa Bass bisa dihukum sampai sini. Kembali ingatannya saat Bass ditampar oleh ayahnya ketika surat dari sekolah sampai di depan kedua orangtuanya. Anggi merasa bersalah sekaligus menyesal.
Lupakan! Dengus Anggi.
Dia kembali menuju ke jalan yang akan dia tuju yaitu sebuah jalan sekitar dua meter lebarnya. Lurus, dengan kiri-kanan berisi sawah hijau. Jalan favorite Anggi dulu, yang selalu membawanya ke sebuah danau yang sudah pernah dia kunjungi selang beberapa tahun yang lalu.
Danau yang bertepi sebuah taman teman banyak pohon, airnya masih jernih, namun Anggi belum tahu sekarang sudah bagaimana.
Dia harus menyusuri jalanan lurus yang sangat panjang rasanya. Kalau pakai sepeda, waktu yang dimakan tidak lebih dari lima menit. Bagi Anggi tidak apa, karena yang ingin dia kunjungi adalah sebuah pemandangan indah yang masih bisa dia rasakan.
Sesampainya disana, Anggi tersenyum lebar. Ternyata tidak jauh berbeda jernihnya dengan beberapa tahun lalu. Perubahannya hanya pada letak sebuah kursi taman yang letaknya kini sudah lebih dekat dengan danau.
"Indah!" kata Anggi puas. "Seandainya ada Mama sama Papa, juga Gladys. Gue kangen sama mereka."
Anggi benar-benar kagum dengan danau yang satu itu. Selain indah, dia juga merasa kalau kebahagian tidak hanya bisa diraup di kota hinar binar dan ramai. Setidaknya di desa kecil ini, dia dapatkan apa yang membuat dia bersyukur.
Gadis itu duduk di kursi itu sendirian dan mencoba melupakan segala masalahnya yang pernah ada. Mulai dari masalah perpisahan orangtuanya sampai masalah rindu dengan semua yang tidak dekat dengannya saat ini. Walau begitu, tidak ada kata menyesal di hati Anggi karena memilih tinggal disini. Karena Oma memberi semua kasih sayangnya sama seperti kasih seorang ibu pada anaknya. Walaupun Anggi kadang bertanya apa ibunya memiliki kasih sayang padanya atau tidak.
Setelah lama ada disana, Anggi segera mengayuh kembali sepeda menuju jalan utama. Kali itu pukul satu siang dan jalanan mulai ramai.
Tidak ada SMA di desa ini, harus ke desa sebelah dimana ada sebuah sekolah swasta yang selalu menjadi incaran anak desa kecuali kalau mereka rela bersekolah di kota. Dan walaupun namanya desa sebelah, toh jaraknya tidak tanggung-tanggung. Sampai kaki Anggi mungkin akan patah untuk mengayuh sepeda. Namun rasanya bersepeda lebih baik daripada naik mobil di jalanan yang bahkan masih didominasi dengan pejalan kaki.
Dia harus membiasakan hidup normal dengan keadaan baru ini.
"Anggi!" tiba-tiba Anggi mendengar suara memanggilnya dari belakang.
Gadis itu menghentikan sepedanya kemudian mendelik ke belakang, dan mendapati seorang gadis menyamai tempatnya. Cleo. Melihat gadis itu, Anggi langsung turun dan memilih menuntun sepedanya.
"Mau kemana?" tanya Anggi.
"Rumah Oma, minta rantang!" katanya.
Anggi mengangguk, "Bass kemana?"
"Kok nanyain Bass?"
Anggi terkesiap. Iya juga! Kenapa dia bertanya soal manusia tidak penting di hidupnya? Dengan jelas pula dia menyatakan itu pada Cleo, sepupu Sebastian Prananda.
"Engga! Gue cuma nanya doang!" jawab gadis itu dengan cepat.
...***...
Pagi hari di Selasa yang cukup berembun, namun jejak-jejak cerahnya cakrawala mencoba menyapa dengan menunjukkan dirinya yang akan segera menggantikan kesedihan hujan kemarin. Bahkan, langit saja tahu bahea seseorang tidak perlu bersedih lama-lama. Harus ada waktunya untuk berbahagia dan menikmati udara hangat di penghujung tahun.
Bass mengayuh sepedanya lantaran dia harus menjalankan rutinitas biasanya, yaitu mengantarkan rantang Oma. Dan saat ini, dia tidak akan peduli kalau Bagas menelepon lebih dulu atau bahkan lebih lama, dia tidak tahan lagi. Satu cara andalan terakhir ialah membiarkan Bagas bermain sesuai kemauan hatinya sampai puas sendiri.
Mungkin Bass sedikit kecewa kalau tahu bahwa Sarah akan datang bersama Bagas nanti untuk membicarakan sesuatu yang katanya menjadi masalah besar bagi Bass. Tapi tidak apa, selagi dia di jalur yang bahkan belum ia ketahui seluk beluknya, dia pasti bisa menjawab segala sesuatu pertanyaan dan pernyataan Bagas.
Sesampainya di rumah Oma, Bass mengetuk pintu dengan kuat. Pukul setengah tujuh saat Anggi membukakan pintu dan menampakkan dirinya yang segar. Sudah mandi sampai aroma sabun masih menyeruak.
Lelaki itu tersenyum melihat Anggi, sedang Anggi menahan segala kuasa yang memaksanya membalas senyuman lelaki manis satu itu.
Di hati Anggi seperti ada dua batin. Yang satu bilang tersenyum, satu lagi bilang jangan. Gadis itu memilih untuk tetap datar demi menjaga kekesalan yang nyaris menghilang setelah lelaki itu menyapanya.
__ADS_1
"Hai?!"
"Apa?" tanya Anggi.
"Rantang!" kata Bass serah menunjukkan rantang putih yang dia bawa untuk Oma dan gadis itu.
"Oh!" balas Anggi sambil meraih yang disodorkan oleh Bass.
"Oma ada?" tanya Bastian seolah-olah dia tidak ingin langsung pulang, walaupun dia ingat pesan dari Helen kalau dia harus segera kembali setelah memberikan makanan itu.
Anggi mengangguk, "Iya! Kenapa? Mau sarapan bareng?"
"Apa lo bilang? Gue ga salah denger?" Bass menyuruh Anggi mengulang perkataan itu, untuk menutupi rasa tidak percaya.
Gadis itu terkesiap menyadari kalau dia baru saja menyatakan perkataan konyol yang tidak akan masuk di akal Bass maupun dirinya sendiri. Anggi mulai ngaco mulai kemarin, semenjak pikirannya hanyut pada Bass. Seakan-akan Bass benar-benar membuat suasana hatinya berbeda.
"Maksud gue, lo harus pulang! Karna gue udah lapar, mau makan bareng Oma!" jawab Anggi mengawal.
"Oh gitu!" Bass mengangguk pelan. "Kalau gitu gue pulang!"
Secepat kilat menyambar, Bass sudah sampai di depan gerbang tepat di mana sepedanya berada. Sedang Anggi memasang wajah heran, karena ada bisikan di hatinya yang berkata bahwa tidak seharusnya dia menyuruh Bass pergi.
Sejujurnya, Bass rada menyesal ketika tahu bahwa dia pulang dari rumah Oma tidak lebih dari sepuluh menit, namun lagi-lagi Helen sudah menunggu di depan teras. Jadi bagaiamna lagi maksud wanita itu? Haruskan Bass mengayuh sepeda dan melemparkan rantang ke teras Oma agar dia bisa kembali dalam dua menit saja?
Jangan salahkan Helen! Tapi salahkan saja Bagas yang bukan dianggap over protektif tapi cenderung berlebihan. Karena Sarah saja tidak begitu! Wanita itu tidak pernah mengekang Bass untuk sesuatu yang dianggap masih wajar. Bukan manja, tapi anak-anak memang harus diberi batas dubia sendiri. Walau Bass bukan anak-anak.
"Apa Tante?" tanya Bass kesal.
"Kok lama?" tanya Helen.
"Ya ampun! Bass sampe, nganterin rantang, bicara dua kalimat sama Anggi, abis itu kelar! Ga lebih!" sesuai lelaki itu mulai berlebihan. "Emang Bagas nelpon lagi?"
"Engga!" jawab Cleo cepat sambil melongok dari pintu depan.
"Jadi?"
"Tapi gue yang udah laper! Makanya cepetan! Kata Tante, ga boleh makan sebelum lo dateng!"
Helen terkekeh pelan kemudian masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Bass yang jantungnya hampir keluar melonjak. Kadang dia ingin melempar sesuatu ke wajah Cleo yang sungguh ngotot minta digebuk, tapi sayang, sepupunya itu terlalu cantik untuk dijadikan samsak.
Bass ikut tertawa.
"Emang gimana ceritanya sama Anggi?" tanya Cleo saat mereka duduk di meja makan berbentuk persegi itu.
"Ya gitu!" balas Bass menunggu Helen menyendokkan nasi goreng ke arah piringnya.
"Eh, Cleo!" Helen mengingatkan.
"Becanda!"
...***...
Anggi memandangi syal yang kini tergantung di dinding kamarnya, dekat jendela. Matanya berbinar mengetahui bentangan yang terbuat dari wol hitam putih itu sangat menawan. Dan satu lagi yang berhasil membuatnya berdecak kagum ialah, bahwa yang membuat syal itu adalah Oma. Seorang nenek tua dengan kacamata yang mengait di ujung pangkal hidungnya.
Benar-benar special. Kado ini jauh lebih menyenangkan daripada kado ayahnya tahun lalu, yang menghadiahi Anggi dengan sebuah mobil merah mengkilap sedang Anggi saat itu belum paham menyetir dan umurnya belum genap tujuh belas.
Anggi duduk, dia ingat kalau Oma menyuruhnya pergi ke rumah Tante Helen untuk belajar masak siang ini. Siang ini artinya pukul satu, dan sekarang sudah pukul satu. Setelah siap makan siang buatan Oma, maka gadis itu akan segera melesat menuju tempat yang akan dia tuju.
Seraya berjalan menuju dapur dan disambut oleh aroma makanan buatan Oma, gadis itu mengeluh panjang. Dia bosan di rumah dan harus makan tiga kali sehari, artinya tidak lama dia akan naik lima kilo seminggu.
"Oma mau ikut ke rumah Tante Helen?" tanya Anggi.
"Ngapain?" Oma menatap cucunya heran. "Kenapa emang?"
"Engga! Kirain ikut."
"Deket kok, masa ga berani."
"Berani Oma, berani kok! Sekarang kita makan ya!"
Anggi menyantap makananya dengan cepat. Entahlah ini apa maksudnya! Apa ingin segera bertemu Bass atau tidak sabar memasak bersama Helen, entahlah!
Sebenarnya tidak ada alasan bagi Anggi kenapa tiba-tiba mampu menatap mata Bass dengan tajam. Benar kalau pikirannya terkuras habis memikirkan lelaki itu dua hari ini. Seolah-olah Anggi ingin tahu siapa itu Bass yang sebenarnya.
Selesai makan siang, Anggi langsung melakukan sepedanya menuju rumah Helen yang tidak jauh. Melewati jalan utama kemudian sampai di rumah besar itu. Kiri-kanannya gang, dan rumah-rumah di belakangnya menghadap kanan kiri.
Anggi tiba di depan halaman, kemudian dengan pelan menyusuri taman yang jelas sangat luas. Banyak tanaman yang membuat rumah itu seakan hidup dan dia mencoba membandingkan wilayah itu dengan pemandangan kota.
Gadis itu menaiki tangga kecil yang membawanya masuk ke dalam teras, dia sempat memandangi burung-burung yang berkicau seolah bernyanyi kalau mereka bahagia.
Anggi mengetuk, tok tok tok.
Tidak lama seseorang membuka pintu, dan tampaklah Cleo melongok dan seakan tidak percaya bahwa yang ada di hadapannya saat ini ialah Anggi. Ia tersenyum.
"Bass!" panggilnya cepat-cepat.
__ADS_1
Mengetahui kalau manusia yang satu itu sedang memanggil sepupunya, mendadak Anggi merasa ada yang janggal. Kenapa harus memanggil Bass sedang dia belum tahu maksud kedatangan Anggi itu apa dan ingin bertemu siapa. Dia mendecak kesal.
"Kenapa manggil Bass? Gue datang bukan mah nemuin dia." jawab Anggi terang-terangan.
"Suka-suka gue dong mau manggil siapa. Kan gue juga ga bilang kalau gue manggil Bass buat lo." balas Cleo dengan sinisnya.
Tatapan Anggi bertemu dengan celotehan cepat dan singkat dari Cleo. Sudah tampak menyebalkan dari pangkal pertemuan mereka kemarin dan ternyata tidak berubah sampai sekarang.
"Emang Tante kemana?" tanya Anggi.
Cleo tersenyum kecil, "Ada di dapur. Itu Bass!"
Anggi memperhatikan gadis itu membukakan pintu sedikit lebih lebar dan tampaklah seorang lelaki dengan wajah kacau dan setengah mengernyit. Awalnya dia ingin bertanya 'kenapa?' pada Cleo, tapi tidak jadi ketika melihat Anggi disana.
"Hey? Ngapain?"
Anggi tersenyum sekilas berusaha meyakinkan Bass kalau kedatangannya tidak tepat dengan maksud serta tujuan Anggi kemari. "Sebenarnya aku nyari Tante Helen, mau belajar masak kata Oma. Bukan ketemu kalian."
Cleo terkekeh pelan, "Emang kenapa kalau ketemu Bass?"
"Gue ga makan manusia, Anggita!" nyinyir lelaki tinggi itu sembari memamerkan sederet gigi putihnya.
Gila! Decak Anggi tak karuan.
Segera saat Anggi memasang wajah kesal menahan emosi, Cleo dengan nyaring memanggil Tante Helen. Tak lama, derap langkah tercipta dan muncullah Helen yang tangannya dipenuhi busa berbau lemon, sepertinya cairan pembersih piring. Anggi bisa tebak wanita itu sedang apa ketika dipanggil.
"Wah, Anggi?" senyum Helen merekah, begitu dengan gadis itu.
"Iya, Tante. Disuruh Oma katanya buat belajar masak." kata Anggi terang-terangan sambil memandang Bass sesekali.
"Bagus tuh! Biar jadi cewe idaman semua laki-laki, kaya Tante Helen yang sampe sekarang masih suka ditelpon sama mantannya waktu SMA." Bass berucap layaknya paham tentang kenangan masa lalu Helen.
Wanita berkepala empat itu mencubit punggu tangan Bass sampai dia merintis, sedang Anggi hanya bisa menahan tawanya.
"Emang Bass suka ngaco Anggi!" kata Helen seakan memberitahu pada Anggi.
"Ngaco, tapi ngangenin kok!" lanjut sepupunya lagi.
"Kalau Bass sih emang ngangenin, tapi ada yang lebih ngangenin lagi.." kata lelaki itu.
"Apa?" tanya Cleo cepat-cepat.
Bass tidak menjawab, hanya saja dia menoleh pada Anggi yang langsung menyernyit ketika tahu maksud dari Bass. Cleo terhenyak dan terkekeh kuat, sedang Helen tidak paham apa yang mereka bicarakan. Maklumlah, zaman Helen muda rayuan gombal itu masih berisi: kaulah matahariku, kau bulanku.
"Udah!" Helen menyela dengan cepat. "Sekarang ayo masuk, kebetulan Tante lagi siap-siap buat masak."
Anggi tersenyum lebar mengetahui kalau sebentar lagi dia kan menjadi juru masak di rumah Oma. Dengan bangga seperti seorang siswa yang berhasil lulus test pelajaran matematika, Anggi melenggang masuk dan diikuti oleh kedua manusia tak kalah aneh di matanya.
"Bass, ngapain ikut? Mau gangguin Anggi?" Helen memperingatkan.
"Iya, mau dukung Anggi." goda Bass.
Gadis yang dimaksud menghentikan langkahnya sembari menatap tajam ke arah Bass yang berdiri tidak jauh darinya. Sedikit kesal, tapi hatinya justru tertawa geli saat Bass membalas tatapan itu dengan senyum miring khas miliknya.
"Apa?" tanya Bass pura-pura tidak mengerti.
"Ngeselin ya lo!" dusta Anggi seraya berjalan mengikuti Helen yang sudah lebih dulu sampai di ruang dapur.
Sedang Bass duduk di sofa panjang tempat dia biasanya menyandarkan tubuhnya yang akhir-akhir ini tidak banyak bergerak. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya meraih handphone dan mencari kontak teman-temannya yang jauh.
Membuka history pesan mereka kemarin malam yang nyaris membuat hati Bass teriris benar-benar. Matanya kuyu dan rindu menatap ketiga sahabatnya tertawa karena sebuah lelucon yang tidak lucu sama sekali.
"Bass!" panggil Cleo tiba-tiba, membuat lelaki itu mendecak kesal karena tahu pasti gadis itu akan cari masalah lagi.
"Apaan?"
"Kalau Anggi suka sama lo, apa yang bakal lo lakuin?"
Bass terhenyak mendengar pertanyaan konyol sepupunya itu sambil berdecis ringan di hatinya, gue ga suka sama dia! Ini cuma biar gue bisa balik aja ke sahabat gue, Cleo!
"Jadiin dia pacar mungkin!" kata Bass akhirnya. Dia tidak ingin siapa pun tahu kalau dia hanya memanfaatkan seorang gadis yang dulu dia anggap pendiam itu.
Cleo tersenyum pahit sembari mengangguk paham, "Berarti sebentar lagi terwujud."
"Masa?" Bass seolah peduli padahal tidak, dia sibuk mengotak-atik ponselnya dan tidak mendelik pada Cleo.
"Menurut gue sih siapa yang bakal nolak lo? Ganteng? Iya! Tinggi? Iya! Baik? Engga juga sih! Makanya itu yang gue maksud—"
"Lo udah bilang itu beribu kali!" Bass mendecak. "Gue udah baik. Anggi bakal jadi milik gue, ga lama."
"Gitu dong optimis! Atas dasar apa?" Cleo menaikkan sebelah alis, mencoba menguji perkataanya yang baru ia ucapkan kemarin sebelum Bass marah padanya.
"Atas dasar sayang gue sama Anggi." katanya pasrah.
Cleo tertawa kuat merasa seperti memenangkan sebuah ajang perlombaan internasional. Sedang Bass tidak tahu harus bilang apa lagi sangking kesalnya terhadap perempuan yang satu itu.
__ADS_1
...♨♨♨...