
...♨♨♨...
Kini, hal pertama yang menyambut bangunnya Anggi ialah suara alarm yang sengaja ia bunyikan lebih awal. Kepalanya pusing, mungkin karena waktu tidurnya sedikit terganggu karena memikirkan segala sesuatu yang diucapkan Bobi semalam.
Setelah Bass pulang, Anggi segera menelepon Bobi kemarin malam. Butuh waktu lama untuk membuat lelaki itu mengangkat teleponnya, entah karena lelaki itu dia terganggu atau karena tidak mau ikut campur lagi soal Bass. Tapi dengan kata 'jangan menyerah', Anggi bisa membuat Bobi mengangkat dan menjawab.
"Halo?"
Anggi tersenyum riang, mengetahui Bobi sudah mengangkat. "Bobi! Ini penting, kenapa lo punya kepribadian ganda?"
Bobi terdengar terkekeh di seberang. Ya memang siapa pun yang mendengar kalimat barusan pasti akan tertawa. "Kalau soal itu, gue ga peduli. Gue cuma mau ngasih tau kalau gue bisa bikin dia lebih menderita."
"Wait! Jadi intinya ini apa? Lo kan udah bikin dia kena skorsing sekolahan, berarti seri dong."
"Seri apa?" Bobi terpingkal. "menurut lo fair kalau dia kena skorsing cuma sekali?"
Anggi menggeleng pelan menyadari bahwa ternyata ada sifat lain di balik polosnya Bobi, si anak kutu buku yang berkeliaran di arena perpustakaan sewaktu jam istirahat. "Masalahnya lo ga tau orangtua dia gimana!"
"Tau kok! Gladys udah cerita sama gue." balas Bobi.
"Dia dihusir dari rumah, dihina, apa itu masih belum setimpal?"
"Dengar ya Anggi! Kacamata gue udah dua kali patah karena Bass. Belum lagi harga diri gue waktu dia nyiramin kuah bakso ke kepala gue. Dan yang paling keselnya—"
"Oke oke gue paham!" potong Anggi. "Tapi gue minta tolong lo jelasin semua ke Bass!"
"Amit-amit! Denger ya Anggi! Kalau lo nelpon gue semata-mata mau bela dia karena dia pacar atau sahabat atau sodara lo, ga peduli. Bye!"
Anggi menciut. Dia mencoba lagi menelepon Bobi, sayangnya tidak diangkat sama sekali. Mencoba mengirimi pesan, sayangnya tidak dibalas.
Anggi serasa dibutakan oleh Bass. Jelas yang dilakukan Bass bukanlah hal yang patut dibenarkan, tapi entah mengapa Anggi merasa ada yang salah. Bass tidak akan melakukan itu hanya untuk bersenang-senang, bukan?
Ah, belum lagi soal orang tua Bass. Gadis ini bukan bilang kalau Bagas tidak benar selaku orangtua, hanya saja dia paham kalau dibalik kesempurnaan yang diinginkan Bagas, ada kesalahan yang terjadi.
Anggi seolah ingin memperbaiki semuanya.
__ADS_1
Gadis itu memijit lehernya sebelum kembali mengecek layar handphone untuk memastikan kalau saja Bobi berubah pikiran. Sayangnya tidak! Bobi bahkan tidak membalas pesan dengan satu titik saja. Ini membuat Anggi kesal.
Namun gadis itu tidak ingin merusak paginya dengan berkutat pada madalahnya dengan Bobi. Dia sengaja bangun lebih asal bukan untuk berpikir, tapi untuk memyeduh teh hangat untuk Oma. Dia belum pernah melakukan sesuatu pada Oma, dan suatu keberuntungan ketika Anggi memperhatikan cara membuat teh nikmat seperti yang dibuatkan Tante Helen pada Bass kemarin.
Anggi melesat menuju dapur rumah Oma. Lampu yang dimatikan kini menyala sepenuhnya. Dia yakin kalau Oma masih tertidur mengingat kalau jarum pendek masih ada di angka lima. Wanita tua itu belum bangun pada jam segini seperti biasa.
Di dapur tampak sunyi dan dingin sekali. Menusuk sampai ke tiap pori kulit gadis berambut terurai itu. Dia meraih satu teko kecil, melakukan apa yang dilakukan Helen kemarin, berharap kalau rasanya sama enak. Pasalnya dia sempat mencicip sedikit kemarin.
Anggi bergumam setelah merasakan teh buatannya. Tidak buruk dan tidak jauh beda dari buatan Helen kemarin. Maklumlah ketika masih bersama orangtuanya, Anggi tdak pernah mengerjakan sesuatu di dapur kecuali kalau pembantu rumah tangga sedang tertidur pulas. Maka untuk membuat teh saja, dia masih kebingungan. Tapi dia tidak khawatir, karena dia punya niat untuk belajar pada Tante Helen.
Dan kembali lagi mengenai belajar masak dengan Tante Helen, membuatnya lagi-lagi teringat pada Bass. Benar-benar lelaki itu mengganggu otaknya dan membuat segalanya bergeser. Di balik sisi tak ingin menyalahkan Gladys dan si cupu, dia juga tak ingin Bass terpuruk begini.
Walaupun pada akhirnya, ketika kebenaran terkuak, maka Bass akan kembali ke kehidupannya jauh di kota. Meninggalkan Anggi dengan hidup baru di desa bernuansa hijau ini.
Gadis itu menuangkan teh buatannya ke dalam gelas, kemudian menunggu Oma bangun. Biasanya kalau wanita tua itu bangun, dia akan menyapu rumah dan membersihkan halaman selagi menunggu Bass mengantarkan rantang makanan.
Dia menyapu seluruh penjuru rumah dan merapihkan segala sudut ruangan. Membuka tiap gorden jendela dan tiba untuk membuka tirai penutup jendela besar menghadap halaman.
Anggi mengernyit, melihat satu nama yang tertulis di kaca jendela menggunakan sesuatu berwarna merah jambu. Tulisnya, ANGGI.
Segera Anggi menuju luar, mengusap tulusan itu dengan jari telunjuknya. Sial sekali ternyata kalau warna itu tidak mungkin dibersihkan dengan jari saja. Anggi melajukan langkah menuju dapur, meraih lap kecil dan mencelupkannya ke air. Kembali ke tempat kejadian itu, dengan sigap Anggi mengusap kuat tulisan sampai akhirnya lenyap dari kaca.
"Nyaris bikin jantung copot! Emang kurang kerjaan si Bass!" umpat Anggi dengan jengkel.
"Apa manggilin nama gue?"
Anggi terhenti, mendengar suara Bass terdengar jelas dari belakangannya. Ia berbalik cepat, mendapati lelaki yang dimaksud sedang berdiri dengan baju putih dan celana sewarna.
"Bass?"
"Kenapa sebut-sebut nama gue? Masalah nama lo di kaca?" tanya Bass. "Sengaja gue bikin, lo suka warna merah jambu gitu kan?"
Gadis itu melirik ke kain lap yang ia lain pegang, dan benar adanya kalau warna itu adalah warna kesukaannya. "Sok tau.."
"Tau dong!"
__ADS_1
"Tapi itu ga penting, lo hampir bikin jantung gue copot. Coba bayangin Oma yang bangun duluan buat bukain jendela?" Anggi mencibir.
"Ya Oma pasti ketawa, terus dia bakal bilang ke lo kalau gue udah nyoret kaca rumah make—"
"Ya ya ya! Sekarang, lo ngapain kesini?"
Bass menunjukkan rantang bawaannya, "sarapan!"
"Kok cepet? Biasanya lo datang jam tujuh."
"Tante Helen mau pergi ke acara nikahan orang di kampung sebelah, jadi cepet-cepet masaknya."
Anggi mendecak, "Jadi gue ga latihan masak gitu sama Tante Helen?"
"Lo ga tau gue?" Bass menaikkan alisnya sebelah.
"Ha?"
"Gini-gini gue juga jago masak kali, Anggi! Yaudah ah, nih rantangnya! Makan! Gue tunggu jam delapan di rumah buat belajar masak!"
Gadis itu terkekeh pelan, "Jangan-jangan kita bakal bakar rumah kalau belajar sama lo."
"Ga percaya? Terserah mau datang atau engga, gue mau pulang!"
"Ga mampir?"
"Gue mau dandan, mau ketemu bidadari soalnya nanti jam delapan."
Anggi terdiam, sedang Bass tertawa kecil melihat perubahan di wajah Anggi. Benar gadis itu jadi tersipu, tapi berusaha menyembunyikannya di balik wajah sok datar.
"Udah ah! Gue pulang dulu, bye!"
Bass berbalik dan menyusuri halaman. Satu hal yang berbeda dari dia ialah tidak pakai sepeda. Mungkin karena ingin menikmati suasana desa yang semakin dia nikmati atau entahlah. Yang jelas dia bukan ahli masak yang bisa mengajari Anggi. Anggap saja sebagai modus untuk bertemu dengan gadis itu karena sebuah alasan.
Tunggu! Alasan apa tadi?
__ADS_1
...♨♨♨...