
...♨♨♨...
Anggi masih tersenyum, bahkan semakin lebar ketika Bass mengarah ke arahnya dengan langkah tenang. Mata keduanya sama-sama menghujam satu sama lain, seperti tidak rela untuk membuang sedetik saja pada objek lain. Bagaikan dua remaja yang saling diterpa hebatnya jatuh hati.
"Gugup?" Bass memulai obrolan.
Perkataan pertama yang keluar dari mulut Bass membuat Anggi mengernyit kebingungan. "Kok gugup? Lagian kenapa coba?"
"Ya kan bisa jadi, ketemu sama pangeran Sebastian Prananda. Siapa sih yang ga gugup kalau ketemu gue?"
Gadis itu mengingat kejadian di depan ruangan kepala sekolah seminggu lalu. Saat Bass menghampirinya dengan senyuman khas iblis dan sensasi menakutkan yang ditularkan dari otaknya. Memang benar kalau Anggi gugup benar saat itu. Rasanya seperti bertemu pembunuh bayaran yang sudah menjadi buronan para polisi. Bahkan bisa dibilang, lebih dari segugup itu.
"Sekarang buat apa gugup?" Anggi angkat bicara. "Gue udah tau sifat asli lo kaya gimana."
"Gue baik. Gue manis. Gue ga seburuk yang lo pikirin." ujar Bass.
Anggi menaikkan sebelah alisnya, seperti sedang berpikir ulang tentang apa yang baru diucapkan oleh Bass. "Lo bilang apa? Manis?"
Bass menggeleng, "Ga usah dibahas. Sekarang kita masuk, karena gue ga sabar buat ngajarin lo masak."
Keduanya berjalan santai menuju dapur tanpa banyak bicara. Di otak Bass, bagaimana cara dia mengajari Anggi sedang dia sendiri tidak tahu panci itu digunakan untuk memasak air atau menggoreng tempe.
Kalau di pikiran Anggi, tidak jauh beda dari yang di otak Bass tadi. Dia kurang yakin kalau Bass mampu mengajarinya masak. Kalau dilihat dari sifat Bass yang jahil dan bisa dibilang nakal, mana mungkin dia menyempatkan diri ke dapur. Untuk menanak nasi saja, Anggi sudah tidak yakin kalau Bass bisa melakukannya.
Sesampainya mereka di dapur, Anggi membuka lebar pintu menuju halaman belakang rumah. Agar udara segar masuk saat mereka belajar memasak.
"Yakin bisa?" tanya Anggi sembari meletakkan rantang kosong bawaannya di atas meja. "Gue ragu sama kemampuan lo."
"Jangan ragu, sampe muka lo pucat gitu sangking ragu sama gue?"
Anggi mengerutkan dahi, dia ingat kalau dia tidak memakai sesuatu yang biasanya bisa mengurangi kepucatan bibirnya karena kurang minum. "Gue pucat banget karena ga make apa-apa di bibir gue, soalnya lipstick kesayangan gue entah kenapa bisa dipake buat nyoretin kaca jendela oma sama setan."
"Ha?" Bass menaikkan alis.
"Lo kapan masuk kamar gue buat nyolong lipstick gue dari kamar?" Anggi melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Oh, itu!! Kemaren gue ambil lewat jendela, waktu gue ngobrol sama lo semalem." jawab Bass tanpa nada bersalah, malah ditemani cengiran kecil di mulutnya.
"Sekarang gue pucat gini karena lo, tanggung jawab nih!"
__ADS_1
"Entar, gue punya sambel. Lo make sambel aja, bikin tuh ke bibir biar pedes. Kan jadi ga pucat lagi." kata Bass.
Anggi tertawa, walau sebenarnya dia ingin marah pada Bass, tapi rasanya lelucon Bass lagi-lagi membuatnya luluh. Tidak disangka kalau Bass bisa menciptakan lelucon yang menarik perhatian Anggi.
Hanya satu yang bukan komedi semata di antara mereka, yaitu kalau Anggi benar-benar jatuh hati pada Bass. Maksudnya, menyukai candaan, lirikan, dan tawa lelaki itu. Rasanya baru minggu kemarin dia ingin menampar wajah Sebastian karena kesal akan sifatnya, tapi sekarang malah terbalik. Anggi ingin menciptakan senyuman kecil di balik bibir Bass.
Jujur!! Dia cukup kasihan mengetahui bahwa di balik sosok Bass, ada banyak masalah di batinnya. Well, lelaki itu cukup tegar untuk menghadapi semuanya.
"Udah bisa mulai masak, bidadari Difa Anggita?" Bass membangunkan gadis itu dari lamunannya yang tertuju pada Bass. "Kok liatin gue?"
Anggi terkesiap menyadari kalau Bass sedang menatapnya heran. Jangan sampai kalau lelaki itu sadar bahwa dia sedang memikirkan sesuatu mengenai Bass. Pasti memalukan, dan memilukan kalau Bass tidak punya perasaan apa-apa pada anggi.
"Mikirin gue?" tanya Bass.
Sialan!! Pekik Anggi dalam batinnya.
"Udah bisa mulai masak. Sekarang lo mau ngajarin gue masak apa? Nasi goreng? Mie goreng?" Anggi langsung mengalihkan percakapan mereka.
"Bukan!!!"
"Jadi masak apa dong?" gerutu Anggi sambil mengerutkan dahi.
Gadis yang kini hanya bisa menepuk jidat itu langsung menarik napas panjang untuk mengontrol emosi. Menggebu-gebu seperti api yang me lalap habis suatu hutan, begitu perasaannya kesal Anggi. Tapi tunggu!! Perlu ditekankan kalau ini hanya pura-pura. Dia tidak benar kesal. Siapa juga yang meluapkan emosi saat dipertemukan dengan orang yang berhasil membuat jatuh hati begini.
"Lo nyari masalah, Bass!" Anggi mengepal erat tangannya.
"Emangnya lo tau masak air gimana? Ha??" cerocos Bass seperti menantang gadis itu.
Anggi menimang perkataan Bass. Benar adanya kalau dia tidak pernah melakukan hal itu di rumah ayahnya, tapi memasak air itu adalah hal mudah. Masa iya kalau Anggi mengaku kalah akan Sebastian.
"Ya taulah!!" pekiknya dengan suara khas perempuan ketika sedang dilanda kekesalan.
"Lah, gue pikir lo ga tau. Sayang banget kalau sebenernya lo udah tau." Bass pura-pura menciptakan wajah kesialan. Padahal memang dari awal dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Bass, tau gini gue ga dateng tadi! Lo bikin kesel aja tau ga sih?"
"Hm.." Bass bergumam. "Gini deh, daripada lo sial ga ngapa-ngapain, mending kita belajar! Ajarin gue tugas fisika buat nyelesain masalah skorsing gue."
Anggi terdiam sejenak.
__ADS_1
"Emang gue pakar fisika?" ucap gadis itu.
"Bukan sih, tapi kan lo itu anak unggulan. Anak IPA. Lo ga kasihan sama gue? Anak IPS terus dikasih tugas fisika? Ga ngaco darimana coba?"
"Berapa soal emangnya?" tanya Anggi.
"Seratus lima puluh."
"Gila lo! Ogah gue!" Anggi menggeleng, menguji Bass saja.
"Please!" Bass memohon dengan menjatuhkan kedua telapak tangannya. "Gue ga bisa balik kalau tugas gue ga beres."
Lagi-lagi, Anggi terdiam. Sial saja baginya ketika tahu kalau Bass membahas soal kepulangannya. Ayolah Bass, baru saja Anggi mulai luluh, apakah Bass akan langsung meninggalkannya sendirian di sini.
"Anggi?" Bass memanggil.
"Gimana kalau kita cicil ngerjainnya?" usul Anggi, berusaha menakari agar Bass tidak pulang terlalu cepat sebelum liburan berakhir. Juga agar mereka lebih sering bersama. Namanya juga cinta monyat, ide muncul secara mendadak asal bisa bersama si dia.
"Nyicil? Emang utang apa dicicil?"
"Eh Sebastian Prananda!!! Masih untung dibantuin. Lo pikir otak gue itu mesin jawab soal apa?" protes Anggi, mulutnya terbuka lebar seperti siap melahap Bass.
Lelaki yang dimaksud tertawa melihat Anggi seperti itu. "Sensi nih! Gue bercanda kali! Iya deh, dicicil. Asal bisa selesai secepetnya, biar gue tenang gitu."
Biar tenang atau biar bisa pulang? Gumam Anggi dalam hati.
"Okey.." Anggi setuju. "Deal!"
"Kita bisa mulai sekarang, Difa Anggita? Gue udah ga sabar pengen megang buku fisika yang tebalnya kebangetan itu."
"Sekarang?" Anggi mengernyit.
Selang beberpa menit, di teras rumah itu hanya ada Anggi dan Bass yang baru saja selesai mengangkut semua barang yang mereka butuhkan. Mulai dari buku referensi, rumus-rumus, kertas untuk menghitung, dan pulpen. Tidak lupa dua gelas teh hangat buatan Bass yang belum dicicip sama sekali oleh keduanya.
Bagi Anggi, berhadapan dengan buku begini sudah biasa. Memahami tiap rumus dan menghapal bagaimana tiap-tiap masalah memiliki jalan keluar yang diakhiri dengan hembusan lega. Sedang Bass, harus menghadapi kenyataan karena sebelumnya dia belum pernah dihadapkan dengan banyak buku. Buku paling banyak yang pernah ada di meja belajar Bass hanyalah tiga.
"Jadi kita mulai darimana nih, Anggi?" tanya Bass.
"Dari soal nomor pertama."
__ADS_1
...♨♨♨...