Stairway To Love

Stairway To Love
23.


__ADS_3

...♨♨♨...


Melalui siang menjelang sore kali ini, Anggi paham bagaimana Bass menjadi pribadi yang kurang membanggakan ibunya. Dia paham kenapa lelaki itu berubah saat dia menjelang remaja, dan semua itu disebabkan oleh ayahnya sendiri.


Anggap saja kalau Bass adalah seorang anak biasa yang bahagia ketika hidup bersama Sarah, sedang ayahnya tinggal di luar negeri untuk bekerja. Dan ketika Bagas pulang, semua berubah menjadi hangus dan membuat Bass membangun jalan sendiri untuk mengetahui dimana kebahagiaan yang sering diceritakan orang-orang.


Intinya, si Sarden yang mengubah ini semua menjadi mengerikan. Sarden. Nama itu sengaja diciptakan Bass tadi, karena dia ingin Bagas hidup di lautan saja daripada harus bersamanya apalagi bersama Sarah. Bukan bermaksud menginginkan keduanya pisah, hanya saja ingin mengungkapkan sebagian kecil kekesalannya saja.


Bass juga bilang kalau Bagas merampok kasih sayang yang seharusnya dicurahkan seorang ayah menjadi pekikan-pekikan yang menjurus pada emosi. Ayahnya tidak tahu kalau itu sendiri yang membuat Bass tidak pernah taat perintahnya. Pasalnya, sekali dituruti maka Bagas akan mengambil seluruh kontrol kehidupan anaknya itu mulai dari pertemanan sampai cita-cita.


Lelaki itu bercerita bagaimana Bagas mengusir sahabatnya dari rumah karena merasa tidak pantas. Ayahnya juga pernah membakar gitar kesayangan Bass, kemudian melarang seluruh toko musik di kota untuk menjualkan gitarnya pada Bass.


Cukup membuat Anggi sedikit miris melihat tingkah seorang ayah yang benar-benar membangun tembok besar sebagai penghalang anaknya bereksplorasi. Dalam hal ini, Bagas ditempatkan sebagai penghalang bukan sebagai pemimpin dan pembimbing. Jelas bagaimana Bass merasa resah dan tidak betah berlama-lama di hadapan ayah kandungnya sendiri.


Sekarang Anggi jadi maklum kenapa Bass mendecak kesal melihat mobil hitam mengkilap itu masih ada di depan pagar rumah Helen ketika mereka menuntun sepeda masing-masing untuk pulang.


"Lo perlu dianter?" tanyanya pada Anggi.


Gadis itu segera menggeleng, dia tidak mau dianggap sebagai alasan Bass untuk menghindari ayahnya yang kemungkinan masih di rumah Helen. "Engga! Gue bisa sendiri."


"Yaudah kalau gitu, gue harap ini bukan tatapan mata terakhir hari ini, ya?" katanya.


"Maksudnya?" Anggi tertawa kecil sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Gue pengen ketemu lo malam ini, entah dimana. Karena lo tau gue ga bakal betah ketemu sama si...?"


"Sarden?" lanjut Anggi mencoba melengkapi ucapan belum lengkap dari Bass.


"Kok pinter?" Bass terkekeh. "Yaudah jalan sana! Gue mantau!"


Anggi tersenyum kecil, "Dahh!"


Dengan sigap dia menaiki sepedanya kemudian mengayuh cepat di jalan utama. Ingin dia menoleh ke belakang, tapi rasanya mustahil untuk menghentikan sepeda dan membalikkan badan. Jadi dia melirik saja ketika dia sampai di tikungan, dan dengan bahagianya Bass masih ada disana. Benar-benar memantau Anggi entah untuk menepati janji atau hanya memastikan kalau Anggi langsung pulang.


Anggi bahagia mengetahui kalau dia bisa mengenal sedikit lebih dalam lagi mengenai Bass.


Rencananya untuk menangis di danau gagal. Setidaknya kegagalan yang satu ini bukan membuatnya bersedih, tetapi bahagia karena adanya seseorang yang bisa menahan air matanya untuk mengalir deras. Seolah Bass mengerti mengapa Anggi pergi ke danau, maka dia datang untuk menghibur.


Memang benar kata orang kalau pelangi muncul sehabis hujan. Dia bisa bersama Bass sore ini semata-mata bukan karena kebetulan saja, tapi karena Bagas sudah terlebih dulu menghinanya mati-matian sampai melibatkan ibu dan ayahnya.


Tidak apa! Toh Bagas tidak paham dengan apa yang dia katakan, dan dia kuga telah mengirimkan satu malaikat penghibur baginya. Setelah mengakui dan menyadari kalau dia jatuh hati, dia tersenyum.


"Oma!" sapanya saat melihat wanita tua itu sedang menyapu halaman yang diisi oleh banyak dedaunan yang rontok ulah hujan semalam.


"Kok lama pulangnya?" tanya Oma setelah Anggi memarkirkan sepeda dan menyalim tangannya.


"Tadi masaknya lama." kata Anggi. Dia tidak ingin menceritakan soal Bagas karena dia tidak mau berbagi kesedihan disini. "Sini Anggi yang sapu!"


"Ga usah!" tolak Oma. "Kamu istirahat aja dulu. Nanti bantu Oma masak buat sore."


Anggi tersenyum, "Oke!"


Secepat kilat dia menyambar menuju kamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang empuk. Jelas senyum yang tadi, yang sama, masih terpampang jelas sebagai identitas perasaannya kali ini. Belum hilang bahkan saat dia mencoba menutup mata dan mengingat kembali bagaimana Bass menerima teh darinya tadi, mengisyaratkan jawaban, sampai menemuinya di danau.


Dia ingin bagian yang tadi direkam di sebuah video sehingga dia bisa menontonnya kapan saja. Jadi dia tidak akan lupa sebagaimana bahagia dirinya hari ini, dan sebagaimana dia cukup merasa mengenal Bass. Bass tidaklah sesuatu yang buruk yang perlu dihindari ternyata. Anggi ingin menjadi malaikat penghibur baginya juga, karena dia lagi di ambang masalah.


Tunggu! Bass sedang bermasalah dan masalahnya ada di Glad?


Anggi segera mengangkat tubuhnya dan membelalakkan matanya. Dia harus menghubungi Glad dan meluruskan semua ini. Gadis itu meraih handphone miliknya di kantong celana dan melihat panggilan tidak terjawab dari Gladys sekita beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Anggi balik menelepon.


"Lo ini apa-apaan Glad!!" pekiknya saat Glad baru saja mengangkat panggilan.


"Apa sih! Baru diangkat udah ngerengek kaya bocah aja!" balasnya tak kalah sengit.


Anggi menarik napas frustasi, "Denger ya! Kelakuan lo ke Bass itu keterlaluan, sampai-sampai dia dimarahin orangtuanya tadi!"


"Lah syukur! Jadi dia bisa kapok dan tau kalau karma itu real."


"Lo kok ga paham! Gue itu—" Anggi terhenti. Dia ingat kalau Glad tidak tahu sola perasaanya dan tidak boleh tahu sol ini. Gawat.


"Lo kenapa?" tanyanya.


"Gue itu, gue ada di rumahnya tadi waktu orangtuanya dateng buat marahin dia!" Anggi membelokkan jawaban.


"Oh! Kan dia ga tau!" sahut Glad santai.


Jujur Anggi ingin melemparkan hartanya ini ke dinding sangking kesalnya. "Tapi ini keterlaluan!"


"Gue tau! Tapi itu bagus, daripada lo diteror disana?"


"Oke, gue jelasin sama lo kalau gue ga diteror sama sekali! Engga!" Anggi menenangkan dirinya sendiri. "Lo salah paham. Dia baik kok!"


"Lagian ngapain lo di rumah dia tadi? Lo diapain sama dia?" tanya Gladys.


"Engga Glad!! Gue diajarin masak sama tantenya dia, dan lo tau ga kalau Bass itu anak baik-baik!"


"Apa?" teriak Gladys meremehkan. "Ini salah suara, salah orang, apa salah jaringan sih gue? Yakali ada tukang bully yang baik, dermawan, halah! Bilang aja kalau lo udah diancem sama dia kan? Jujur aja!"


Anggi mengepal satu tangannya untuk menahan emosinya sebelum meluapkan kata-kata kasar ke sahabatnya. Tenang Anggi! Tenang! Sabar!


Gladys memang suka keras kepala dan menganggap dirinya paling benar. Dan itulah titik utama masalah ini terjadi. Gara-gara Gladys, Bass jadi harus disidang mati-matian oleh sorot mata dan suara menggelegar milik Bagas yang selalu saja menebarkan aura kematian dari jiwanya. Selain itu, gara-gara masalah ini Anggi jadi kena imbas oleh Bagas, karena dikatakan tidak mendapat kasih sayang yang utuh dari seorang ayah atau ibu.


Baiklah! Mungkin pandangan Bagas sedikit keliru soal masalah ini, tapi jujur ini menyakitkan. Kalau saja Bagas ada di posisi Anggi dan harus dihina secara langsung begitu, apa sanggup dia menahan bendungan air matanya?


Tapi Anggi tidak ingin menyumpahi seorang tua yang mungkin pikirannya masih primitif begitu. Dia ambil sisi positifnya, kalau dia bisa bertemu dengan Bass karena keringatnya juga dengan Sarah.


Gadis itu merebahkan lagi tubuhnya untuk menyerap sedikit tenaga demi meluruskan lagi masalah ini dengan Gladys tanpa menyebutkan masalah perasaannya pada Bass. Mungkin susah, karena mungkin sahabatnya itu akan bertanya kenapa Anggi malah membela Bass mati-matin.


...***...


"Sebastian Prananda!" panggil Bagas ketika lelaki itu baru menapakkan kaki di lantai ruang tengah.


Bass menoleh. Diruangan itu hanya ada Bagas seorang diri, sedang Sarah, Cleo, dan Helen mungkin sedang berada di dapur. Dia bisa merasakan aura tidak baik disini. tapi mustahil juga kalau dia pergi lagi dari harapan Bagas.


"Duduk!" perintah lelaki itu, membuat Bass menarik napas panjang dan mengikuti kata-kata ayahnya.


"Papa mau bilang apa lagi? Belum jelas kalau Bass ga ikutan sama mereka? Bass ga bakal pernah ngecewain kalian make cara begitu."


"Setidaknya banyak hal mengecewakan lainnya kan, Bass?" ujar Bagas. "Kamu bilang kalau sahabat kamu itu orang yang terdekat dengan kamu. Keluarga kamu! Jadi ga ada alasan buat Papa percaya sama omongan bohong kamu!"


Bass terkekeh kecil, "Kalau memang benar Bass ikutan sama mereka, masalah sama papa apa?"


"Masalahnya kamu ini anak papa!" pekiknya kuat.


"Seorang ayah itu ngebimbing anaknya bukan malah menyudutkan terus!"


"Jaga ucapan kamu, Bass!" teriak Bagas.

__ADS_1


Bass mengerutkan dahi, dia mendelik ketika melihat Cleo berjalan dari dapur dan berhenti karena kaget akan ucapan Bagas. Seketika mata lelaki tua itu juga mengarah ke arah Cleo, dan menarik napas dalam-dalam.


"Kamu masuk ke kamar kamu, Cleo!" suruh Bagas pada gadis itu.


Cleo langsung menuruti dan masuk terburu-buru ke kamarnya. Dia benar-benar takut pada Bagas, padahal lelaki itu bukan singa atau serigala.


"Kamu mau jadi sama kaya Cleo?" tanya Bagas.


Bass menoleh, "Maksudnya?"


"Papa bisa buat kamu mendekam disini sampai lulus kalau kamu ga mau mengakui kesalahan kamu yang satu ini." ucap Bass, lebih tepatnya mengancam.


"Papa, Bass itu ngomong jujur. Bass ga ikutan sama sahabat Bass buat nongkrong disana."


"Sudah! Keputusan papa udah bulat, kamu ga bisa balik sebelum jujur."


"Coba papa pikir!" tantang Bass. "Bass ini anak siapa? Anak papa kan? Kalau Bass maksa papa buat bilang kalau Bass ini anak tiri gimana?"


"Itu beda lagi!" kecamnya.


"Papa kok ga paham? Bass bukan anak brandalan kaya yang ada di pikiran papa!" Bass berdiri dari tempatnya.


"Duduk!" Bass menegaskan kata yang baru diucapkannya barusan.


Bass memutar bola mata kesal dan mengarah menuju kamarnya, tidak peduli apa kata Bagas, dia hanya ingin menenangkan pikirannya sekarang. Pasalnya, nama Bagas sudah cukup membuat otaknya muak dan ingin meluapkan emosi entah pada siapa. Yang jelas hanya amarah Bagas yang menggebu-gebu pada Bass tanpa tahu hal yang terjadi sebenarnya.


Langkahnya cepat menuju kamar dan segera membanting pintu tanpa memperdulikan siapa Bagas. Dia cukup tahu kalau seorang ayah busa saja menjadi musuh dan membunuhnya dalam diam. Pertanyaan hanya satu, yaitu mengapa Bagas tidak membiarkan Bass untuk berpetualang di jalan hidupnya sendiri? Apa setiap langkah yang akan dilakukan Bass harus diatur oleh ucapan ayahnya?


Bass tidak menginginkan segala material dari Bagas. Yang ia butuhkan ialah keluarga utuh, dimana peran ayah dan anak sungguh nyata seperti kehidupan anak lainnya. Bukan seorang kepala sipir yang memerintah ini itu pada Bass seakan ia ialah tahanan kriminal.


Jujur! Bass membenci hidupnya saat ini.


"Ada apa?" tanya Sarah saat mendengar suara bantingan pintu kamar anaknya. Dia segera melaju bersama Helen menuju ruang tengah dan Cleo keluar, mendongakkan kepalanya.


"Harus diajarkan apa lagi si Bass? Semua arahan dia bantah dan caranya membantah selalu bikin emosi. Anak macam apa itu?" teriaknya.


Perlu diketahui kalau suara kerasnya sengaja ditinggikan agar Bass mendengar. Dia tidak tahu saja bahwa Bass menutup telinga di kamar seakan tidak peduli pada Irang luar.


"Jangan terlalu keras, Bagas! Dia masih teman dan waktunya untuk diberi kelonggaran sedikit." kata Helen.


"Tidak ada kata remaja di keluarga ini. Semua harus dituntut bisa dewasa secepat mungkin, jangan manja, cengeng, berandalan, apalagi bikin orangtua muak." pekiknya, kemudian melirik pada Cleo. "Kamu juga Cleo! Ubah sifat kamu! Kalian semua ini aset dan diharapkan mampu untuk berubah! Satu yang harus kamu ketahui, kalau hidup ini keras."


"Kenapa masa remaja harus dilompatin, Om?" tanya Cleo memberanikan diri, mendelik di balik pintu.


"Biar kalian mampu mengemban tugas berat masa depan, ga ada waktu main-main."


"Emang masa remaja buat main-main?" Cleo keluar dari kamar sepenuhnya. "Bagi Cleo, masa remaja itu buat nemuin jati diri. Kayak Bass, dia pengen jadi pemain gitar yang go internasional. Kalau mm remaja dan cita-citanya jadi pengusaha, pasti om berusaha jadi pengusaha beneran."


"Go internasional atau membusuk di jalanan? Cleo, Kamu itu masih kecil, ga tau apa-apa!" sambung Bagas.


"Kecil?" Cleo menaikkan alisnya kemudian melirik Helen dan Sarah. "Bukannya Om tadi bilang kalau masa remaja dilompatin jadi dewasa. Cleo udah dewasa, Cleo berhak buat nentuin nasib sendiri. Begitu juga Bass."


Bagas menarik napas kesal, kemudian menoleh pada istrinya yang sedang menahan senyum kecil. "Kita harus pulang sekarang!"


"Cepet banget, om!" Cleo tertawa kemudian masuk ke dalam kamar. Tawanya masih terdengar bahkan saat Helen menegurnya dengan teriakan.


"Bass!" teriak Bagas kuat. "Kalau ga mau ngaku! Jangan harap bisa balik ke kota! Papa ga bakal izinin kamu!"


Beberapa menit selang itu, Bagas dan Sarah bersiap untuk pergi dari desa dan kembali. Entah mengapa mereka tidak memilih untuk tinggal sebentar dengan anaknya itu. Yang jelas Bass tidak peduli, bahkan dia tidak mengantar Bagas dan Sarah. Dia hanya berbincang sedikit dengan Sarah di kamar, menerima beberapa solusi, dan tetap sabar saja menerima ini semua.

__ADS_1


...♨♨♨...


__ADS_2