Stairway To Love

Stairway To Love
22.


__ADS_3

...♨♨♨...


Sebelum Anggi menjawab pertanyaan konyol yang entah apa alasannya bisa keluar begitu ringan dari mulut Cleo, bunyi dering telepon terdengar dari saku celananya. Gadis itu segera merogoh kantong dan mengeluarkan handphone miliknya dan segera melihat siapa yang menelepon dirinya di saat yang tidak tepat begini.


Gladys.


Anggi menarik napas dalam dan melirik sebentar pada Cleo sebelum akhirnya mengangkat telepon. Dia lupa mengabari sahabatnya itu hari ini, dan menurut Anggi itu adalah hal buruk dan melanggar janjinya pada Gladys.


"Halo Glad?"


"Anggi! Kangen!" katanya cepat.


Anggi tersenyum kecil, "Iya, sama."


"Lo lagi dimana? Si Bass masih neror lo?"


"Neror? Sejak kapan dia neror gue?" tanya Anggi sembari mengerutkan dahi dan menjauh sedikit dari Cleo, takut kalau sepupu orang yang sedang dibahas itu mendengar.


"Lo bilang sendiri kalau dia itu ******* di idup lo, tenang aja. Palingan ntar lagi dia kapok." Gladys menenangkan sahabatnya itu.


Begitu mendengar ucapan itu, Anggi langsung menggeleng. Dia bahkan tidak lagi menganggap Bass sebagai orang yang mengganggu hidupnya, bahkan dia pikir Bass cukup asik sebagai satu potong puzzle di kisah remajanya. Semua pasti mengerti apa maksudnya kan?


"Emang kenapa?" tanya Anggi.


"Gue," kata Glad dari seberang. "udah kirimin paket ke rumah Bass. Isinya foto temen-temennya lagi nongkrong gila di warung deket sekolahan. Gimana?"


Mendadak darah Anggi seakan berhenti mengalir, tulangnya tiba-tiba tak kuat menopang tubuhnya, dan seakan ada penyekat yang menghalangi napasnya untuk keluar masuk. Dia benci keadaan sekarang, mengetahui kalau Gladys lagi-lagi mengulang tingkah konyol untuk Bass.


"Lo becanda!" kata Anggi memastikan.


"Engga! Udahlah tenang, sekarang lo ga bakal diganggu lagi."


Anggi menoleh pada Cleo yang juga menatapnya heran. Pasalnya gadis itu mangap mengingat kalau dia lagi-lagi kena masalah karena Gladys. Di benaknya selalu muncul pertanyaan kenapa sahabatnya itu selalu ceroboh dan tidak berpikir secara matang ke dampak yang akan timbul jika dia melakukan hal itu?


"Anggi?" panggil Glad dari seberang, membangunkan gadis itu dari lamunan.


"Nanti gue telpon lagi." Anggi menutup sambungan telepon dan mendekat ke arah Cleo.


Jujur dia sangat kecewa bercampur marah dan kesal pada Gladys. Dia tidak tahu bagaimana perasaan dan emosi Bass ketika tahu bahwa dalang dari semua ini ialah Gladys, sahabatnya sendiri.


Anggi merinding tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Cleo.


"Engga, tadi temen gue cuma mau nyapa doang."


"Oh iya, sampai mana tadi?" Cleo bergumam, seperti orang yang sedang berpikir keras. "Oh!! Lo suka sama Bass?"


Anggi mendecak kesal kemudian berniat untuk memutar knop pintu kamar. Dia ingin pulang dan berbincang dengan Gladys untuk meluruskan sedikit masalah gila ini. Dia harap Cleo tidak menahannya setelah bertanya,


"Mau kemana?" tanya Cleo.


"Pulang!" jawabnya singkat.


Cleo tidak bisa menahan gadis itu lagi dan kemudian membiarkan Anggi keluar dari kamarnya. Sesampainya di ruang tengah, lagi-lagi mata mereka semua tertuju pada Cleo dan Anggi. Yang bisa keduanya lakukan ialah tersenyum pahit, dan berjalan mendekati ambang pintu.


"Kayanya Anggi harus pulang tante om!" ucapnya sungkan.


"Oh gitu?" Helen berdiri sejenak.


"Kenapa harus pulang?" tanya Bass, mengundang kekesalan dari raut wajah Bagas yang sepertinya dari tadi masih menegasi masalah ini.


"Apa pentingnya buat kamu?" Bagas menoleh lirih. "Masalah ini masalah kamu! Yang bobrok itu kamu! Jangan urusin urusan lain selain masalah ini dulu!"


Bass diam, namun matanya masih mengisyaratkan agar Anggi tidak beranjak dari tempat kakinya berdiri. Apa pun alasan mengapa Anggi menuruti isyarat itu, yang jelas Anggi tidak ingin pergi. Seakan ada yang ingin dia sampaikan tapi tidak tahu, tidak berani, dan kurang yakin. Sedang mata Bass masih dan berkutat pada gadis yang kini merasa serva salah itu.

__ADS_1


"Sebenarnya Bass anak baik-baik, om!" ujarnya, Difa Anggita.


Helen dan Cleo menoleh spontan ke arah Anggi, antara rasa tidak percaya dan bertanya-tanya mengapa Anggi bisa mengatakan hal berat itu secara ringan seperti membalikkan telapak tangan. Beda dengan Bass yang mencetak senyum kecil di sudut bibirnya, mengetahui kalau Anggi seperti paham akan isyaratnya.


Bagi gadis itu, senyum dari Bass ialah ucapan terimakasih yang tidak diucapkan secara langsung. Dia tidak peduli sebagaimana Bagas ikut menatapnya tajam, yang jelas ada dorongan baginya untuk yakin akan ucapan Cleo tadi dan menolong Sebastian Prananda.


Jangan tanyakan alasannya seseorang bisa berkorban, tolong!


"Kenapa kamu bisa bilang begitu? Kamu paham apa?" tanya Bagas sembari berdiri dari tempatnya.


Sarah sempat menahan lengan suaminya itu, namun segera terlepas saat Bagas menghempaskannya. "Pa! Udah!"


"Saya mau tau, apa alasan kamu bilang begitu!" ujar lelaki tua itu seperti menantang.


Cleo menciut, sedang Anggi menoleh lagi pada Bass seakan instruksi selanjutnya ada di isyarat mata lelaki itu. Benar saja, lelaki itu menaikkan sebelah alisnya kemudian tersenyum kecil. Sepertinya Anggi mengerti maksudnya.


Gadis itu mengikuti gerak Bass, mulai dari manaikkan sebelah alisnya, kemudian tersenyum kecil. "Menurut Anggi, kita bisa nilai seseorang kalau kita dua puluh empat jam punya waktu buat merhatiin seseorang."


"Bener banget!" pekik Bass cepat. "Yang tau siapa kita, adalah orang yang tiap hari rela mantau kehidupan kita. Bukan yang mantau dari apa kata orang."


"Kalau gitu, Anggi pamit ya om. Kasihan Oma nunggu di rumah sendirian!"


Begitu Anggi sampai di depan pintu, dia bisa mendengar suara Bagas yang menyenggol dirinya. Dia bisa tahu kalau Bagas melakukan itu sengaja. Dengan lantangnya dia berteriak,


"Itu tuh! Kamu masih syukur punya orangtua kaya papa, yang didik kamu walaupun keras begini, Bass! Untung papa sama mama ga pisah. Kalau kamu anak broken home, mau jadi apa kamu?"


Apa? Anggi tidak salah dengar kan? Mengapa Bagas bertingkah seolah yang paling tahu hidup Anggi?


Anggi terdiam sebelum membalikkan badan dan menghujam tatapan tajam ke arah Bagas yang juga menantangnya. Seketika reaksi rumah itu menjadi panas dan semuanya bingung harus berkata apa. Ini semua di luar kendali.


Gadis itu menoleh pada Bass, mencoba mencari lagi sinyal apa yang akan diberi lelaki itu untuk melawan Bagas. Yang dilakukan Bass hanya mengatupkan dua telapak tangannya dan menunduk sekali, kemudian tersenyum. Baiklah, Anggi paham maksudnya.


Sabar, "Makasih Om!" katanya. "Sayangnya om bukan orang tua Anggi jadi om ga tau kalau papa atau mama sayang sama Anggi atau engga."


Gadis itu kembali melanjutkan jalannya dengan masih mendengar sindiran apa yang keluar lagi dari mulut Bagas. Tapi toh dia tidak akan mendengarnya lagi, karena dengan secepat mungkin dia mengambil sepeda miliknya dan segera melaju kencang di jalanan utama.


Gladys pernah bilang kalau orangtunya sayang pada Anggi, dan itu akan berlaku sampai kapan saja. Memang Anggi belum yakin kalau apa yang diucapkan Glad benar, tapi dia tidak terima segala sesuatu yang keluar dari mulut Bagas.


Memangnya siapa dia? Apa dia tahu asal-usul bagimana Anggi bisa ada disini? Gadis itu ada di desa semata-mata bukan karena dia ditinggalkan, melainkan sebaliknya.


Anggi berhenti di tengah jalan. Matanya menghadap kanan kiri depan belakang, tidak ramai. Jujur dia ingin menangis tapi tidak ingin membuat Oma khawatir dan ikut sedih. Dia janji akan menjadi orang yang kuat dan sekarang dia mengingkari kata itu. Dia ingin menangis.


Segera dia memutarbalikkan sepedanya, dia mengintari lagi jalanan utama dan melewati rumah Bass. Membelok di jalanan kecil yang akan membawanya ke danau, dia yakin disana sepi. Dia harus mengungkapkan isi hatinya pada angin, agar membuat hati bisa sedikit lebih tenang.


Sekitar lima menit, dia sampai di sebuah tempat yang dimaksud. Suara tetesan air dari batu-batuan terdengar jelas sehingga menciptakan gelombang kecil di air yang memantulkan hijau lumut itu.


Anggi memarkirkan asal sepedanya di tanah berumput, kemudian berjalan ke arah kursi di tepi danau. Diam. Namun air matanya mengalir deras di pipi, seolah kesialan ini adalah kesalahannya. Anggi ingin mengutuki nasibnya yang terlahir untuk menjadi malang, tapi dia ingat sebagaimana dia harus tetap kuat.


"Gue kira lo kuat!" tiba-tiba terdengar suara seseorang mengagetkannya.


Anggi menoleh spontan ke arah sumber suara, dan melihat Bass berdiri memegangi sepedanya tepat di samping sepeda gadis itu. Perlahan Bass mendekat, dan sebisa mungkin gadis itu mengusap air matanya.


"Kenapa lo disini?" tanya Anggi.


"Seharusnya gue yang nanya, tuan putri!"


Anggi mengernyit, "Gue emang suka sama tempatnya."


"Kalau gitu gue juga sama, gue ada disini karena gue suka tempatnya." balas Bass sedikit konyol.


"Lo lagi disidang sama bokap lo?" Anggi kembali duduk saat Bass ikut duduk di sampingnya.


"Udah biasa gue pergi kalau dia lagi bicara, males! Lagian tadi gue lihat lo lewat, yaudah gue ikutin." jawabnya.


Anggi mengangguk kecil, "Oh!"

__ADS_1


"Maafin bokap gue, dia emang suka ngomong ga mikir panjang dulu. Dia juga sering hina temen gue kok." kata Bass sambil menoleh sekejap pada gadis itu.


"Gue paham, jujur aja dari pertama gue ketemu gue udah ga enak deket sama dia." Anggi menghembuskan napas berat. "Gue ingat waktu dia nampar lo setelah nerima surat yang gue kasih ke orangtua lo."


"Lo lihat?" Bass sedikit terhenyak.


Gadis itu mengangguk lagi, "Maaf! Tapi itu gara-gara gue kesel aja sama lo."


"Itu artinya gue yang harus minta maaf. Maafin gue, Anggi!" ucap Bass.


Anggi mendadak ingat pada jepretan foto yang dikirimkan Glad sengaja ke alamat Bass. Itu membuatnya merasa bersalah lagi karena memang baginya Glad sudah keterlaluan dalam hal ini. Karena Anggi bisa percaya perkataan Cleo soal Bass, kalau sebenarnya lelaki yang kini ada di dekatnya itu adalah baik-baik.


Lihat saja tatapan matanya yang mengarah kosong ke danau itu! Dari sana Anggi bisa lihat kalau dia bukan sejenis brutal yang pantas diperlakukan buruk oleh ayahnya sendiri. Begitu tampak begitu tulus menerima segala ocehan tidak benar dari Bagas tadi.


Semakin diperhatikan, banyak yang memukau dari sekedar wajah lelaki itu. Matanya yang sangat indah, bulu matanya yang lentik, hingga rahangnya yang tegas. Dia lumayan menawan bagi Anggi.


"Ngapain liatin gue?"


Anggi tersentak ketika suara Bass membangunkannnya dari lamunan. Dia baru sadar kalau mata Bass yang indah itu mengarah ke arahnya dan ada kerutan di keningnya. Betapa tampannya lelaki itu meskipun sedang dalam keadaan seperti orang bodoh yang kebingungan.


"Eh, tadi ada nyamuk di pipi lo! Mau mukul tapi ntar salah paham." kata Anggi berdusta.


"Jadi nyamuknya udah pergi karena lo liatin?"


"Ha?" Anggi gugup, bingung mau jawab apa lagi.


"Engga! Lupain." katanya sembari kembali menatap danau dan dedaunan yang sesekali jatuh dari pohon yang ada di sekitar pinggirannya.


"Lo ga dimarahin sama bokap lo? Maksud gue, lo pergi kesini tiba-tiba padahal masalah lo besar banget." Anggi mendelik, memberanikan diri untuk menyambung lagi percakapan mereka.


"Ga perlu dibahas, soalnya dia bawa berita bohong kok!" kata Bass. "Lagian gila banget percaya sama apa kata orang. Gue ga pecandu, umur gue masih tujuh belas."


"Kalau udah delapan belas?" Anggi menautkan jari-jarinya sendiri dari tangan satu ke tangan yang lain.


"Ga juga!"


"Sembilan belas?"


"Belum tentu!" Bass menjawab dengan suara bernada jenaka. "Sebenernya tergantung!"


"Kok tergantung?" Anggi mengangkat bahu.


"Tergantung lo. Kalau lo nekat ngejauhin gue dan bikin gue stress, ga ada jaminan gue ga bakal mabok kaya orang-orang di sinetron!"


Anggi terkekeh pelan mendengar gurauan dari Bass yang memang walaupun hanya sedekat bercandaan, tapi cukup membuatnya melengkungkan bibir. Sedang Bass sedikit tertawa menyadari kemampuan alami menggombal miliknya keluar di saat yang tidak baik seperti ini, tanpa bantuan Dio.


"Lo bisa jelasin desa ini ga sama gue? Sebenernya desa ini terpencil apa engga sih?" Bass menengok kiri-kanan, seperti mengisyaratkan kalau desa ini memang kecil.


"Engga sih. Lo bilang gitu karena perjalanan lo dari kota sampai sini ngelewatin sawah gunung sawah gunung doang. Kalau lo pergi ke desa sebelah, lo pasti ga bakal bilang kalau ini desa terpencil. Anggap aja kita ini ada di kota kecil, kota yang lagi tumbuh."


"Oh ya?" Bass bergumam. "Jadi jarak dari sini ke kota sebelah jauh apa engga?"


"Jauh engga deket engga. Mungkin gue bilang deket karna besok besok gue udah sekolah disana. Pulang balik sama kaya Cleo." jawab Anggi dengan ringannya.


"Satu sekolah sama Cleo?" tanya Bass.


"Iya. SMA bagus terdekat sih hanya ada disana. Kualitasnya masih bisa diancungin jempol lah!"


"Jempol kaki?" Bass cengingisan pelan.


"Apaan sih?" Anggi ikut tertawa pelan.


Angin sejuk masih berhembus saat Anggi menoleh sekali lagi ke wajah lelaki itu. Baiklah, sekarang waktunya untuk jujur dan sadar kalau dia rada tertarik.


Hangatnya udara di balik rimbunan awan-awan kumulus dan matahari yang sangat ceria membuat gadis itu ikut bahagia. Seolah kebahagiaan itu tertular dari sang mentari, padahal karena adanya sosok baru di sisinya, yang lagi-lagi membuatnya tertawa, tersenyum, tersipu, dan berharap. Selagi bisa menatapnya, dia tidak ingin berkedip selang beberapa detik.

__ADS_1


...♨♨♨...


__ADS_2