
...♨♨♨...
Gladys duduk di salah satu meja terdekat dengan jendela cafe. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dan matanya tidak berhenti memandangi arah pintu masuk. Ia menunggu seseorang, Bobi. Lelaki itu memang tampak cupu, tapi dengan masalah yang satu ini dia tidak main-main. Bahkan dia dengan beraninya mengajukan rencana menakutkan seperti ini hanya untuk sebuah kata bernama dendam.
Demi memuaskan hatinya sementara.
Entah mengapa lelaki itu tidak takut kalau hal ini diketahui oleh Bass atau teman-temannya yang ada di kota yang sama. Padahal kalau di sekolah, melihat sehelai rambutnya mereka saja tidak berani. Bisa dibilang kalau Bobi adalah serigala di luar kandang.
Mereka sengaja bertemu disini untuk membincangkan sesuatu yang berhubungan dengan Bass. Yang pasti karena keduanya diperintahkan Anggi untuk minta maaf sebelum dia memberitahukan yang sebenarnya pada Bass.
Jujur Gladys kecewa mengetahui sahabatnya itu terdengar memihak pada Bass, dengan sedikit kecurigaan kalau saja Bass mengganggunya disana. Walaupun gadis itu mengatakan kalau Bass bukan macan yang sebenarnya, tapi Glad masih kekeuh tidak percaya.
Tujuannya datang kemari hanyalah itu. Menunggu Bobi, satu-satunya orang memihak padanya. Karena ini masalah nyawanya yang hampir melayang karena dibentak dan diancam Bass seminggu lalu sebelum dia kena skorsing. Glad akan selalu mengingat hal itu, dan menyimoannya baik-baik dalam hati.
Tidak akan dimaafkan sampai Bass sendiri yang memohon ampun. Walau itu kedengarannya sangat mustahil, tapi Glad tetap akan mencoba mewujudkan dendam ini. Mungkin!
"Gladys!" sapa Bobi saat dia sampai.
Glad menarik napas frustasi, "Gue tungguin sejam. Lo ngapain aja sih?"
"Lo tau kalau jalanan—"
"Macet? Makanya datang itu cepetan dikit. Lo paham kalau kita mau bahas sesuatu yang penting kan?" celutuk Gladys tidak terima.
"Iya iya maaf!" Bobi duduk kemudian meraih gelas minuman yang dipesan Glad untuknya. "Lo tau ga kalau gue ga takut seandainya Bass tau kalau kita dalang dari masalah ini."
"Siapa juga yang takut. Gue itu cuma khawatir kalau Anggi itu jadi kenapa-napa disana." Glad mendongak.
"Rencana ini kita bangun tanpa harus ada kekhawatiran. Cuma sebatas bikin Bass kapok sama tingkahnya yang ga lucu." Bobi menggeram.
__ADS_1
"Jadi, sekarang lo mau apa? Lo mau ngerjain Bass lagi?" tanya Glad.
"Pertama kita harus bujuk Anggi buat kerja sama kita. Kita bilang kalau dia harus tutup mulut soal masalah ini. Lo kan sahabat dia Glad, masa buat bujuk dia ga bisa." Bobi membetulkan posisi kacamatanya yang tadi sedikit miring.
"Anggi kayanya lebih mihak sama Bass. Dia ga terima kalau Bass disalahin karna kasus ini. Bahkan Anggi bilang kalau cara kita ngirimin foto itu ke rumah Bass, udah bikin itu cowok harus dihukum. Gue mana bisa maksa—"
"Lo milih apa sekarang? Ga maksa Anggi atau digeprek sama temen-temen Bass?"
Gladys terdiam. Dia menimbang perkataan Bobi yang ada benarnya juga. Apalagi si Jhon yang mukanya lebih seram dari hantu Thailand. Belum lagi si Fariz sama si Dio yang keasaman jahilnya tidak lebih dimaklumi dari Sebastian. Memang mereka ditakuti, tapi tak selamanya begitu. Glad juga harus bisa membuat Bass jera karena sudah membuat jiwanya nyaris melayang waktu itu. Jujur saja, kurva detak jantung Glad tidak bisa diajak kompromi bahkan sampai pulang sekolah.
"Jadi apa gue harus nelpon Anggi sekarang?" tanya Gladys dengan sedikit tenang.
"Harus!" geram Bobi.
Gladys meraih handphone miliknya dan mencari kontak Anggi yang ada di urutan kedua. Sekarang mereka tinggal menunggu gadis yang dipanggil mau mengangkat panggilan dengan cepat, sesuai yang diharapkan oleh Bobi.
"Bass!" panggil Anggi.
"Iya Nyonya?"
Anggi memutar bola matanya jengkel. "Bisa ambilin gue minuman? Gue haus."
Bass menoleh pada dua gelas teh hangat yang dia siapkan dari tadi. Asap masih mengepul menciptakan suasana hangat yang cocok untuk pagi sedingin ini. Belum lagi karena Bass membuatnya dengan sepenuh hati dan bisa terhitung berapa kali dia menakar gula yang dibutuhkan. Namun seenak jidat, Anggi menyuruhnya untuk mengambil minuman lagi?
"Teh hangat buatan gue—"
"Maksud gue.." Anggi memotong pembicaraan Bass. "Minuman dingin yang ada es batunya."
"Masih pagi, Anggi!"
__ADS_1
Gadis itu mengerutkan dahi dan menghujam tatapan tajam pada Bass, membuat Bass terkekeh pelan dan mengiyakan permintaan gadis itu. Dia beranjak menuju dapur, dan Anggi meraih ponselnya dengan cepat.
Dia menunggu panggilan kedua dari Glad, dan benar saja kalau panggilan itu langsung dijawab oleh Anggi. Dia yakin kalau bincang-bincang mereka pasti menjurus pada Sebastian.
"Apa?"
"Anggi!" pekik Bobi dari seberang.
"Iya, apaan?"
"Anggi! Gue mohon sama lo, jangan bikin rencana gue sama Glad jadi hancur. Apapun yang bakal terjadi ke depannya, anggap aja lo ga tau apa-apa." kata Bobi.
"Maaf nih Bob.." ujar Anggi. "Gue bukan nolak permintaan lo, gue hanya mau baik lo atau Gladys jujur sama Bass. Masalahnya selesai. Kalau lo mau bales dendam, bales sendiri. Gladys ga perlu bantuan lo!"
"Stress!" umpat Gladys ikutan. "Lo aja bilang gitu karna lo ga tau gue sama Bobi gimana. Coba mikir kalau Bass tau, terus dia malah ngebully gue di sekolah?"
"Itu jelas salah lo pada! Kan lo yang mulai. Tanggung jawab dong sama apa yang lo lakuin." Anggi nyinyir.
"Oh jadi ceritanya lo mihak sama Bass?"
Anggi terdiam sejenak untuk memastikan kalau Bass belum kembali. "Gini, gue ga mihak sama siapapun. Gue hanya pengen lo ga ada masalah lagi sama Bass. Begitu juga sama Bass, ga ada masalah lagi sama lo."
"Lo ga tau kalau aja dia balik, mungkin tas gue udah gantiin bendera di tiang sekolahan Gi!" tukas Bobi.
Seketika Anggi terkesiap saat melihat Bass kembali, "Udah dulu. Ntar dilanjut."
Baik Bobi atau Gladys sama-sama menghujat Anggi yang kini sama menyebalkannya dengan Bass. Benar-benar susah diduga kalau Anggi malah berpikir jauh soal ini.
...♨♨♨...
__ADS_1