
...♨♨♨...
Sore yang cukup membuat Anggi kesal, dimana Glad tidak mengangkat teleponnya padahal dia sudah mencoba menghubungi sebanyak sepuluh kali lebih. Entahlah Glad sengaja karena sadar dia salah atau karena memang dia sedang tidak memegang gawai sekarang. Yang jelas Gladys harus menyelesaikan masalah ini, karena Anggi tidak mau namanya tercoreng lagi di mata Bass.
Ini bukan semata-mata soal perasaan Anggi pada lelaki itu, tapi juga karena wujud kasihan kalau lelaki itu disangka yang tidak-tidak oleh Bagas. Semua hanya karena Glad salah sangka dan mereka kurang komunikasi kalau Bass ternyata bukan peneror yang sengaja datang ke desa untuk mengikuti Anggi.
Jauh sekali dari apa yang dipikirkan Anggi pada awalnya, sampai sekarang dia sadar kalau Bass tidak terlalu buruk. Dia tahu alasan mengapa Bass menjadi orang yang jahil di sekolahan, dan dia tahu kalau Bass bisa berubah. Anggi tidak pernah menuntut hati untuk menyukai orang yang baik, dia hanya ingin sosok Bass yang berubah.
Gadis itu paham, setiap pribadi orang memiliki sisi positif masing-masing. Kalau sudah ditemukan ya syukur, kalau belum maka mereka akan sama-sama mencari. Karena definisi cinta bukan penuntut, tetapi yang selalu ada untuk membantu. Anggi mengerti itu, walaupun dia belum tahu kalau rasa suka ini adalah cinta atau hanya rasa kagum semata.
"Angkat dong, Glad!" pekik Anggi dalam hati.
Untuk panggilan kelima belas, Gladya mengangkat telepon dan Anggi tersenyum sembari menyahut sahabatnya itu.
"Woy!" ujarnya.
"Apaan? Orang lagi istirahat lo nelpon-nelpon!" desis Gladys sinis.
"Gue mau lo jujur sama Bass, minta maaf, biar masalah ini kelar." kata Anggi.
Gladys memekik setengah mati, "Gila lo! Lo mau bunuh gue diam-diam?"
"Engga!" Anggi memutar bola matanya kesal. "Kasihan Bass, dia dimarahin sama orangtuanya! Lagian dia baik kok, pasti mau maafin lo."
"Dasar stress!" celutuk Glad.
"Gini ya! Gue bukannya jahat atau gimana, tapi ini demi kebaikan lo. Lo pilih mana? Lo ngaku sendiri sekalian minta maaf atau gue yang ngasih tau ke Bass?"
Gladys membulatkan matanya. "Gila lo gila! Jahat lo Anggi!"
"Gue ga jahat! Gue udah bilang Bass kasihan. Percaya sama gue dia bakal maafin lo, dia baik. Ceritanya panjang buat jelasin dia baik darimana."
"Halah Anggi! lo kok belain dia? Lagian ini bukan murni dari rencana gue kok!"
"Jadi?" Anggi menaikkan alisnya.
"Bobi!" jawab Glad, yang saat itu sedang duduk di meja belajar sembari mengamati buku tahunan siswa sekolah. "Gue dapet ide dari dia."
"Wait! Bobi yang anak cupu? Yang kacamatanya bulet kaya Harry Potter?"
"Iya! Jadi dia sms gue, ngajakin ngerjain si Bass. Katanya sih karena kemaren dia dikerjain sama si Bass. Gue pikir itu ganjaran sesuai banget, makanya gue berani buat bantuin Bobi."
"Bobi yang—"
"Jadi Bobi ini anak cupu yang diganggu sama Bass." Glad menaikkan nada suaranya. "Gara-gara gangguin Bobi makanya si Bass kena skorsing sekolahan."
"Apa?" Anggi terbelalak. Ini keterlaluan. "Bass itu udah dihukum sama Bu Ani, Pak Ruben, sama orangtuanya sendiri. Lo pada kok nambahin lagi?"
"Belum puas si Bobi. Nih ya, gue ga peduli sama si Bass atau lo yang maksa buat minta maaf. Selengkapnya lo tanyain aja sama si Bobi. Nomornya kosong delapan lima,,"
"Ehhh, tunggu! Gue ambilin pulpen dulu!"
Anggi langsung bergegas meraih tas kecil yang selama ini menggantung di dinding. Isinya hanya satu tempat pensil dan dia segera mengeluarkan sebuah pena. Sembari meraih secarik kertas sisah lembaran kalender hari ini, Anggi mengambil lagi poselnya dan menyuruh Glad untuk melanjutkan.
"Emang ini nomornya?" kata Anggi sambil mengamati angka yang baru ia tulis.
"Dia sms gue make nomor itu, di buku tahunan juga nomornya itu."
Anggi mengangguk, "Kalau gitu gue telpon dia dulu,, bye!"
Mematikan telepon dengan raut wajah tidak sabaran memang sudah menjadi hal wajib kalau mau Bass bebas dari hujatan Bagas. Disindir sedikit saja Anggi sudah berapi-api, apalagi sosok Bass yang tampaknya selalu ditekan. Herannya kenapa Bass bisa sabar? Apa dia suka menangis malam-malam sendirian? Mungkin!
Sekali Anggi menelepon, Bobi tidak mengangkat. Dua kali, tiga kali, toh juga tidak diangkat. Anggi kesal, tapi mau buat apalagi? Jadinya dia hanya bisa mengirimkan sepucuk pesan.
"Balas SMS gue kalau lo udah lihat. Gue Anggi, anak kelas 11 IPA 1, ada yang penting mau gue omongin. Jangan takut! Gue bukan sebangsa sama Bass."
...***...
__ADS_1
"Emang dia ga bisa sedikit lebih nyantai gitu? Bilang baik-baik! Kalau Cleo sih percaya sama Bass! Bass ga mungkin mau ngelakuin hal bodoh kaya gitu!" Cloe membela Bass
Gadis itu mengoceh sejadi-jadinya dalam bentuk curhat kepada Helen, sedang lelaki yang dimaksud hanya duduk diam sambil mengamati buku tebal intisari fisika, buku yang dia ambil dari perpustakaan sekolah dengan harapan menemukan soal yang sama dengan soal yang diberikan Bu Ani. Nyatanya nihil. Isinya hanya penjelasan dan contoh soal paling sederhana, padahal soal dari guru BK itu adalah sisa soal cerdas cermat antar sekolah tahun lalu.
"Bass emang harus sabar! Lagian salah sendiri kenapa nakal? Jadinya dicurigain mulu." balas Helen sambil memotong apel yang baru ia kuliti.
"Jadi Tante pikir, selama SMP SMA Bass ga sabar gitu? Apasan kenapa Bass ga lari ya karena Bass sabar! Apalagi Bass ga mau bikin mama jadi drop karena anak semata wayangnya ngilang."
Cleo mengangguk cepat, "Kalau Bass kabur, bisa jadi cuma Cleo yang jadi sasaran Tante Helen buat ngomel!"
Bass dan Cleo tertawa kuat, sementara Helen hanya hisa geleng-geleng melihat kedua kepinakannya yang selalu bisa menciptakan tawa bahkan di situasi serumit ini. Dia masih sibuk memotong satu per satu apel, kemudian meletakkan piring di tengah meja ruang tengah.
"Jam berapa sekarang?" tanya Bass tanpa menoleh ke arah jam karena matanya berfokus pada buku.
"Setengah tujuh."
Bass melirik memastikan, kemudian menarik napas. "Bass pergi dulu!"
"Kemana?" Helen langsung mengintimidasi.
"Jalan, nyari udara. Kalau Bagas telpon, bilang aja Bass ngerokok."
Cleo terkekeh sedang Helen menggelengkan kepalanya. Bass segera beralih setelah meletakkan buku panduannya itu ke atas meja, kemudian turun dari teras. Dia tidak mengambil sepeda, melainkan ingin jalan saja ke rumah Oma yang memang sangat dekat.
Jalannya gontai sambil bersiul kecil, ditemani angin desa yang ternyata tidak terlalu buruk dibandingkan suara klakson mobil Bagas ketika memasuki halaman rumahnya di kota. Rasanya lebih baik berkutat disini daripada bersikukuh pada perdebatan dengan ayahnya sendiri. Selain memalukan diri sendiri, ini juga menjadi satu hal yang paling disesali Bass mengapa terlahir sebagai anak seiba ini.
Sesampainya di rumah Oma, dia mendelik kecil memastikan kalau jendela kamar Anggi sudah tertutup rapat.
Segera lelaki itu masuk perlahan dengan menggeser gerbang hitam sedikit saja, khusus untuk badannya. Kemudian dia melenggang cepat menuju taman kecil yang bersih di samping kamar Anggi. Lelaki itu menempelkan telinganya di kayu jendela dan mencoba mendengar tanda-tanda kehidupan di dalam kamar. Dan benar adanya, Bass bisa mendengar Anggi melantunkan lagu Hello dari Adele dengan nada berantakan yang dibuatnya dengan sengaja atau tidak.
Bass menarik napas kemudian mengetukkan jari telunjuknya tiga kali di depan jendela. Seketika lantunan itu berhenti dan Bass yakin kalau Anggi mendadak merinding dengan mengerutkan keningnya.
Kedua kalinya Bass mengetuk jendela dan berharap gadis itu menyahutnya. Namun salah, ternyata Anggi malah diam tanpa menyahut dan mungkin di balik sana dia sedang mengira-ngira kalau si pengetuk adalah cicak atau hewan lainnya. Tapi siapa bilang kalau hantu tidak bisa mengetuk, seperti Bass contohnya.
Dengan perlahan lebih kuat, Bass mengetuk lagi. Kemudian Anggi terdengar menyahut dengan suara menjengkelkan, lebih menyebalkan dari suara nyanyiannya tadi.
"Siapa? Jangan bercanda ya!"
Dan saat puluhan ketukan dilontarkan oleh Bass, jendela langsung terbuka dan menabrak dahi dan hidung Bass. Dia meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya, sedang Anggi melongok kaget melihat Bass.
"Bass? Lo ga apa apa?"
"Engga! Engga apa apa!" lelaki itu mencoba berdiri tegap dan tersenyum ke arah Anggi. "Mungkin ini namamya karma."
Anggi cengingisan, "Siapa suruh ngetukin jendela orang! Tau rasa."
"Halah! Gue mau nepatin janji doang kok, kalau gue bakal balik nemuin lo sebelum besok."
"Buat apa?" tanya Anggi sambil membuka jendelanya lebih lebar lagi, segingga keduanya hanya dibatasi jeruji.
"Buat apa ya?" Bass pura-pura berpikir. "Mungkin ngilangin yang namanya rindu."
Gadis itu mengernyit kemudian tersenyum malu, dia menyembunyikan salah tingkahnya sambil melihat lurus ke arah langit malam yang menggambarkan kecerahan hari esok. "Gimana sama Bagas?"
"Udah pulang."
"Ke rumah lo?"
"Engga!" tangkis Bass cepat. "Ke laut. Ya kali Sarden pulangnya ga ke laut."
"Gue pikir bokap lo bakal nginep sehari gitu."
"Gue juga mikir begitu. Tapi Tuhan ngabulin doa gue buat ngusir dia." katanya.
Anggi mengangguk lagi. Dia ingat bahwa semua bertambah buruk ketika Gladys dan Bobi mengirim paket itu ke rumah Bass dan mengakibatkan amarah di wajah Bagas mendukung gambaran monster kejam. Gadis itu tidak menyukai Bagas, pasalnya cara Bagas mengatai Anggi bukanlah hal yang menyenangkan.
Kadang ada batas dimana kehidupan seseorang tidak bisa ditelusuri hanya dengan 'katanya'. Bahkan jika sudah tahu sekalipun, kadang manusia masih belum berhak menyeruakkan masalah itu dengan semena-mena. Tapi untuk mendamaikan hati, yang dapat dilakukan adalah memendam semuanya dan memaafkan.
__ADS_1
Walaupun kadang banyak orang yang masih belum paham mengapa seseorang begitu tabah, anggap saja karena mereka belum tahu apa isi hati yang sebenarnya.
"Lo ga ngajak gue ngobrol di ruang tengah aja?" Bass menaikkan alisnya.
Anggi mendongak, "Emang lo mau ketemu Oma?"
"Engga!"
"Yaudah! Ngobrol disini aja. Lupain semua hal yang pengen lo sampein. Gue lagi jadi pendengar yang baik."
Bass tersenyum miring kemudian menyandarkan dirinya di batang pohon jambu yang tak jauh dari ambang jendela. "Gue heran sama orang yang ga seneng lihat gue bahagia. Rasanya gue udah nemu bahagia gue, tapi direbut lagi. Seakan waktu ga ngizinin gue buat bahagia."
"Sabar aja! Mungkin ini belum saatnya."
"Gue udah nunggu buat dapetin bahagia gue yang sebenernya." Bass menatap Anggi. "Ga ada! Masalahnya semua selalu diganggu. Gue punya temen, dihalangin sama bokap. Punya cita-cita, dihalangin juga. Gue ga mau sampai suatu saat, cinta gue juga dihalangin."
"Kalau cinta ga bakal ada yang halangin kok." ujar Anggi memberanikan diri. "Kalau udah sayang, pasti ga bakal kemana."
"Iya juga sih. Lagian soal masalah cinta, gue ga mau terlalu berharaplah sama cewe. Cewe sekarang harus diselidikin dulu baru cocok."
Anggi memayunkan bibirnya karena kesal mengenai pendapat Bass. "Maksud lo?"
"Yaelah ga usah sedih. Kalau sebagian cewe ga perlu diselidikin karena emang udah keliatan baik."
"Termasuk gue?"
Bass terkekeh pelan, "Iyain aja deh."
Keduanya tertawa. Baiklah, sedikit tentang paras Bass jika tertawa. Tampaknya tidak berkurang dan sisi hangatnya masih nampak di senyumnya yang manis. Bola matanya yang bersih membuat wajah lelaki itu tampak sangat dewasa namun tidak kehilangan bagian dirinya yang lucu dan bersahabat.
Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk dari arah ponsel Anggi, menarik perhatinnya dan segera meraih benda itu. Dia mendelik ke nama kontak dan terpampang nama Bobi. Gadis itu menoleh spontan pada Bass yang masih berdiri termenung dan matanya menatap rumput di bawahnya.
Isi pesan begini, "Kalau mau nanya soal rencana gue sama Glad, telpon gue aja!"
Sontak Anggi menoleh Bass lagi, membuat lelaki itu juga ikut menoleh spontan dan tatapan mereka bertemu di satu titik. Saat itu antara hawa dingin dan hangat bertemu, menjadikan Anggi bingung berkecamuk atas semua ini. Dia tidak akan tega memberitahu soal Glad pada Bass, dan dia juga tidak mau kalau Bass selalu dipersoalkan oleh Bagas. Pilihan yang cukup sulit.
"Apa liatin gue kaya gitu?" Bass menyipitkan matanya.
Anggi mengernyit, "Engga! Lo yang liatin gue!"
"Iyain aja deh! Kalau gitu gue mau pergi dulu! Gue ga bisa lama-lama lagian." ujar Bass.
Anggi mengangguk pelan. Sebenarnya dia tidak ingin Bass pergi dulu, karena menatap bola matanya yang seakan menawan adalah favorit Anggi saat ini. Namun rasanya tidak mungkin mengatakan itu secara langsung di hadapan Bass. Cukup dipendam saja sampai akhirnya lelaki itu benar-benar memutuskan untuk pergi.
"Tapi inget nih Anggi!" katanya lagi sebelum pergi, membuat gadis itu mendekat ke jeruji jendelanya.
"Apa?"
"Sebelum lo tidur, mending lo liatin foto gue yang ada di intagram. Cuma tiga tapi bisa kok buat jadi pengundang mimpi indah lo!"
Anggi terkekeh geli mendengar joke Bass, "Apa iya jadi mimpi indah?"
"Kalau ga indah, ya buruk. Buruknya, gue takut lo ga mau bangun karena nyaman sama mimpinya." lanjut lelaki itu.
"Kalau gitu, lo juga harus liatin foto gue juga dong, biar mimpi lo indah."
"Engga!" elak Bass cepat.
"Kenapa?" Anggi menaikkan sebelah alisnya.
"Karena lo ga bakal jadi mimpi gue, semoga jadi kenyataan."
Anggi terdiam, begitu juga dengan Bass yang masih menyisahkan senyum manis di bibirnya. Gadis itu hanya bisa menatap wajah Bass lagi, setelah ucapan barusan keluar, dan jujur membuat hatinya seolah meleleh dalam waktu sedetik. Butuh beberapa waktu untuk membuatnya kembali normal.
Bass tertawa. "Udah ah! Gue mau pulang! Mimpi indah Anggi!"
Setelah lelaki itu mengucapkan kata terakhir, dia langsung berjalan cepat dan meninggalkan gadis itu sendiri menatap taman kecil yang kosong. Hatinya sekarang sangat sejuk dan sedikit semakin bahagia.
__ADS_1
Anggi menuju jendela. Menutupnya dan menarik napas, "Semoga lo juga mimpi indah."
...♨♨♨...