Stairway To Love

Stairway To Love
26.


__ADS_3

...♨♨♨...


"Tadi Bass kesini jam berapa memangnya?" tanya Oma saat sarapan pagi.


Sontak membuat Anggi mendongak, "Jam enam lewat sedikit."


Oma mengangguk kecil, kemudian melirik cucunya itu. Anggi memang bersifat seperti anak-anak, karena memang sudah dimanjakan dari dulu. Tapi di balik itu, ada kerinduan kasih sayang yang jarang tersalur langsung sehari-hari. Ayah dan ibunya sibuk, mana mungkin menyempatkan diri untuk bertanya banyak hal pada Anggi.


Itulah yang diusahakan Oma saat ini, menjadikan Anggi seperti memiliki sahabat di rumah sendiri.


"Jadi Anggi jatuh cinta?" Oma angkat bicara.


Gadis itu terdiam, matanya membulat kaget ketika mendengar pembahasan konyol yang barusan tersalur dari mulut Oma.


"Oma apaan sih?" Anggi mengelak. "Bass itu hanya temen. Oma tau sendiri kalau Anggi ga punya temen disini."


"Oma tau. Tapi semua itu kadang awalnya temenan. Papa sama Mama kamu juga hanya temenan dulu."


Anggi menghentikan gerakan sendoknya yang dari tadi menyentuh nasi di piring. Seketika otaknya menjurus pada perkataan oma yang menyangkut soal kedua orangtuanya. Dulunya hanya teman? Ya memang bisa jadi cinta.


Endy pernah bercerita kalau dia bertemu Ibunya di universitas, kemudian mereka menjadi teman. Siapa sangka mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah. Nyaris menjadi cerita romantis yang manis di telinga Anggi. Sayangnya semua berakhir kandas di tengah pernikahan, dengan seorang anak yanh sebenarnya hanya mencari perhatian tetapi malah tidak dimengerti.


"Mau gimana lagi? Kalau kandas kan sama aja, Oma." ucap Anggi.


Oma menunduk pelan, "Sebenarnya cinta mereka ga kandas sepenuhnya. Masih ada bibit-bibit yang tersisah, tapi mereka tidak sadar karena keegoisan semata. Suatu saat mereka sadar kalau mereka masih butuh saru sama lain.."


"Tapi ga bersatu lagi." kata Anggi, mencoba mengakhiri percakapan mereka mengenai itu.


"Bukan berarti kamu harus marah ke mereka terus kan? Oma tahu kamu tidak terima, tapi segala sesuatu tidak baik kalau dipaksakan." Oma kemudian terdiam.

__ADS_1


Setelah sarapan pagi dan menyuci piring kotor, Anggi duduk di pinggiran kamarnya sembari memandangi foto masa kecilnya, di sebuah ruangan besar dan kue ulang tahun bertingkat. Boneka-boneka raksasa dan hadiah-hadiah besar. Belum lagi hiasan acara yang benar-benar meriah kala itu. Saat itu, ia baru menginjak tujuh tahun.


Namun rasanya kebahagiaan itu hanya omong kosong, alias hanya jepretan biasa. Setelah acara selesai, Endy pergi dengan alasan urusan mendadak ke Eropa dan Dina mengurus sisa proyek film yang sedang dikerjakan team-nya. Tinggallah Anggi sendirian di kamar dan membuka tiap bingkisan sendiri.


Anggi memutar bola matanya kesal, kemudian melempar foto itu ke atas tempat tidur. Dia ingat kalau dia harus pergi ke rumah Tante Helen untuk belajar masak, dengan Bass.


Suatu kejanggalan kalau lelaki nakal seperti Bass bisa memasak, apalagi mengajari. Kalau ditarik dari garis kehidupan sehari-harinya, nyaris tidak mungkin. Tapi tidak apa, tujuan utama Anggi bukan itu. Mungkin untuk memastikan kalau Bass masih menjadi sesuatu yang special dan tercatat indah di hatinya.


"Gue beneran penasaran nih sama Bass?" tanyanya pada hati.


Gadis itu terkekeh pelan sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi pagi. Memakai baju biru langit dan celana putih, dilengkapi dengan jam tangan hitam. Dia mengoleskan sedikit bedak ke wajahnya dan mencari lipstick merah jambu favorite yang dipilihkan Gladys dua minggu lalu untuk Anggi.


Namun, lima menit mencari di atas menja, dia tidak juga menemukan lipstick itu. Menyadari barang yang ia cari tidak ada, gadis itu teringat akan tulisan di kaca pagi tadi. Tulisan dengan warna yang sama yang sengaja dituliskan oleh Bass.


"Bass!!" geramnya sial.


Tak butuh waktu lama untuk Anggi pamit dari Oma dan berjalan gontai ke halaman depan dengan rantang bersih di tangannya. Mengambil sepeda dan mengayuhnya lamban ke arah rumah Tante Helen.


Selang beberapa menit berlalu, Anggi sampai di depan sebuah rumah milik Tante Helen. Rumah utu tampak sepi, hening. Suara kicauan burung peliharaan tampak diurung kesunyian. Ada Cleo duduk di depan teras sambil membaca sebuah komik ukuran kecil yang dibaca mulai dari halaman belakangan.


"Cleo!" panggilnya.


Yang dimaksud mendongak ke arah Anggi, sambil tersenyum karena sudah tahu kalau gadis itu akan datang. Mereka bertemu di ambang teras dan Cleo mempersilakan Anggi untuk menunggu saat dia masuk untuk memanggil Bass.


Langkahnya gontai masuk ke dalam ruang tengah, mengarah ke depan kamar Bass. Cleo bilang kalau lelaki itu mengendap di kamar seperti pengangguran, maka dengan cepat dia harus mengumumkan ke pada Bass kalau tamunya sudah datang.


Tok tok!!


"Bass! Gue pikir lo bohong soal Anggi, ternyata bener kalau lo ngundang dia ke rumah!" ujarnya, saat lelaki itu keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Gue bilang apa juga! Gue pokoknya mau ngajarin dia masak!"


"Emang lo tau masak?" Cleo ragu.


"Engga!" jawab Bass singkat. "Belajar bareng kan bisa. Ada youtube."


Cleo memutar bola matanya kesal, kemudian mengalihkan perhatian pandangan ke arah luar. Menatap Anggi yang sedang mengamati sekeliling halaman rumah Helen yang luas. Matanya dengan cepat menangkap segala objek yang menarik perhatian gadis itu.


"Lo cuma mau manfaatin tuh cewe buat ngerjain tugas skorsing lo?" tanya Cleo.


Bass mengernyit, "Maksud lo?"


"Menurut gue wajar kok kalau lo suka sama dia. Dia cantik, keliatannya baik, cocok sama lo!"


"Kok lo ngehubungin pertemanan gue sama cinta-cintaan sih? Kalau emang gue cuma mau temenan gimana?" cerocos Bass.


"Tau ah! Kalau lo mau, gue bisa bantu kok! Jujur aja, gampang!"


Cleo berlalu menuju kamarnya. Dengan cepat gadis itu menutup pintu kamar dan menghilang di balik dinding. Sedang Bass masih terpaku untuk mencerna segala ucapan dari Cleo, sepupunya itu.


Pandangannya yang tadi tertuju pada kamar Cleo beralih ke teras. Benar adanya kalau Anggi itu perempuan cantik, dia juga baik. Tapi rasa-rasanya, bagi Bass, tidak ada getaran apa pun yang membuatnya berpikir kalau Anggi berbeda dengan gadis lain.


Kecuali saat ini.


Saat tatapan Anggi dan Bass bertemu pada satu titik, diikuti senyuman dari bibir gadis itu dan lamunan Sebastian.


"Dia cantik juga!"


Sebastian terkekeh geli sebentar, ia tidak sadar kalau Anggi mendapatinya seperti orang gila. Ketika Bass sadar dia terlihat seperti orang aneh, segera dia menghampiri Anggi dan mencoba mengembalikan raut wajahnya menjadi lebih netral.

__ADS_1


...♨♨♨...


__ADS_2