Stairway To Love

Stairway To Love
07.


__ADS_3

...♨♨♨...


Pukul dua siang ketika Bass sampai di desa yang sangat asri, indah, sejuk, namun akan menjadi tempat paling membosankan bagi Bass.


Bass mencoba menatap sejauh jarak pandangnya ketika turun dari mobil. Dia bisa melihat hamparan gunung yang benar-benar tampak dekat, beberapa rumah papan, dan sawah yang bertebaran di mana-mana. Jalan kecil belum terbuat dari aspal, hanya tanah yang dibubuhi batu-batu kecil. Sedang beberapa kambing dan kerbau ada di hamparan rumput luas dan menikmati rumput hijau.


Udara segar, membuat lelaki itu menarik napas panjang. Lelaki itu menutup pintu mobil dengan kuat dan menatap aneh pada beberapa orang yang meliriknya. Bass mendecak kesal, dia berpikir kalau orang-orang itu belum pernah melihat manusia saja. Padahal mereka sendiri adalah manusia, Bass terkekeh pelan.


Bagas juga ikut turun, kemudian melangkah mendekati sebuah pagar kayu setinggi pinggang. Halaman rumah itu cukup luas dan ditumbuhi banyak pohon, menambah kesan sejuk. Rumah semi permanen itu berdiri sendiri dengan jalanan kecil di sebelah kiri-kanan yang memisahkan rumah itu dengan bangunan lain.


Rumah itu ialah tempat tinggal tante Helen. Di sekitar rumah itu ramai rumah-rumah yang nyaris sama bentuk. Sebelum masuk ke rumah, ia harus menaiki tiga anak tangga kecil dan sampai di teras yang sangat nyaman dihiasi pot-pot menggantung berisi berbagai macam bunga warna-warni.


Bass mengikuti langkah ayahnya yang barus saja membuka gerbang kecil itu. Mereka menyusuri halaman yang sangat bersih dan sejuk, kemudian sampai di teras rumah bercat krem. Bagas mengetuk pintu rumah beberapa kali sampai terdengar suara orang menyahut dari dalam.


Beberapa saat kemudian, tampaklah tante Helen yang memandang keduanya dengan senyum. Bagas menyambut senyuman itu, dan mengarah pada Bass, mengisyaratkan agar lelaki itu menyalam wanita itu.


"Kalian sampai akhirnya!" kata tante Helen sembari menyambut tangan Bass yang hendak menyalim.


"Kampung ini makin ramai ya Helen!" ujar Bagas berbasa-basi.


"Iya Bagas! Kamu pasti langsung kaget karena sudah lama tidak kesini!"


"Biasalah tante, mana ada waktu!" Bass menyelip begitu saja.


Mendadak Bagas melirik pada anaknya yang nyaris melebihi tingginya. Bass memang tidak bisa menahan sedikit keusilannya. Hampir saja Bagas meluapkan kekesalannya, namun dia sadar kalau dia sedang ada di tempat yang tidak biasa. Bagas tidak mau membuat malu keluarganya.


Helen menyadari kejanggalan yang terjadi antara ayah dan anak itu. Dia paham benar bagaimana adiknya itu mendidik seorang anak, harus keras. Segera Helen mengalihkan pembicaraan agar kondisi membaik.


"Ayo masuk kalau begitu Bagas!" ajaknya.


"Tidak usah Helen! Saya harus segera pergi karena ada urusan. Dan kamu Bass, angkat barang-barang kamu! Saya pamit Helen!" katanya.


Helen dan Bass sama-sama terkejutnya. Bagas tidak mampir walau hanya untuk duduk dan memilih untuk melanjutkan perjalanannya setelah tiga jam menyetir tanpa henti. Atau mungkin karena Bagas tidak memiliki waktu lebih untuk Bass?


"Papa ga nunggu dulu?" tanya Bass dibumbui dengan nada kecewa dan tidak percaya. Dia belum bisa menyesuaikan diri secara langsung tanpa orangtua disini.


"Papa ada urusan!" jawab Bagas sembari berjalan kembali ke depan rumah.


Bass hanya bisa menghembuskan napas pasrah, kemudian menatap Helen dengan tatapan kosong. "Ayah memang gitu tante!"


Helen tersenyum mencoba menghibur keponakannya itu, "Tante bikinin teh sama kamu ya! Sekarang kamu bawa dulu barang-barang kamu kesini!"


Bass mengangguk kemudian berjalan menuju ayahnya. Bagas sampai di mobilnya dan segera membuka pintu bagasi. Ada satu koper hitam besar untuk baju dan tas sekolah berisi buku Bass. Ada juga satu kardus ukuran besar berisi oleh-oleh untuk Helen. Bass menurunkan semua dan meletakkannya di tanah, kemudian menjurus pada Bagas.


"Jangan bikin malu! Tunjukan kalau kamu itu anak papa!" katanya tegas.


Bass tidak menyahut, bahkan saat ayahnya pergi dan meninggalkannya sendiri. Mobil itu melaju kencang dan hilang ketika sampai di jalan ujung yang menyatukan desa itu dengan jalan raya.


Jujur Bass sangat kesal, namun apa boleh buat. Dia melayangkan pandangnya ke rumah tante Helen, mencoba mengilhami apa yang dipikirkan oleh ayahnya sehingga percaya bahwa Bass akan berubah dengan tinggal di desa. Sejenak dia tidak bergeming, namun dengan sigap dia langsung menyeret kopernya dan menenteng beberapa bawaan lainnya.


Helen baru saja keluar dari rumah, mencoba mencari dimana Bagas berada. Namun dia tidak menemukan mobil lelaki itu, dan mulai mengerti kalau Bagas sudah pergi.


"Papamu udah pergi?" tanya Helen.


"Udah tante!"


Helen melirik ke depan gerbangnya dan melihat tas Bass ada disana, "Biar tante bawa tas kamu ya! Kamu tunggu aja di teras sambil duduk nunggu kamar kamu tante bersihin. Tante udah suruh Cleo buatin teh!"


Bass mengangguk sembari melanjutkan langkahnya. Sesampainya di teras, Bass duduk di kursi kayu yang tertata dengan sebuah kursi lain dan menghadap meja bundar kecil. Lelaki itu bersandar dan melepas genggaman tangkai koper dan meletakkan plastiknya di meja.


Begitu juga Helen meletakkan tas milik Bass di kursi yang lain dan masuk untuk menyediakan kamar untuk Bass. Sedang lelaki itu hanya bisa duduk pasrah karena kepergian ayahnya begitu cepat sehingga dia harus beradaptasi sendiri.

__ADS_1


Bass tidak tahu kalau itu adalah salah satu cara ayahnya untuk mendidik Bass atau karena memang Bagas yang terlalu keji.


Sebenarnya nyaris tidak perlu beradaptasi, karena Bass sudah kenal betul dengan Helen, dan Bass merasa kalau dia tidak perlu keluar rumah untuk mendapat lingkungan baru. Begitulah prinsipnya. Di kamar sepanjang waktu sambil main gadget, tidur, keluar kamar jika perlu, dan begitu seterusnya sampai masa hukumannya berakhir.


"Ini minumnya!" tiba-tiba terdengar suara seorang gadis dari sampingnya, membuat lelaki itu nyaris terloncat kaget.


"Cleo?" pekik Bass.


Cleo tersenyum kecil kemudian menaruh gelas di meja. Dia terkekeh saat melihat reaksi Bass yang berlebihan karena terkejut. Dia kenal betul dengan Bass. Sepupunya yang sangat diam kalau di depan keluarganya, maksudnya itu menurut pandangan Cleo karena Bass memang suka berubah menjadi baik kalau sudah di hadapan keluarga besar.


Di mata Bass, sekarang tampak seorang gadis yang sangat polos, seperti gadis desa. Umumnya pakai rok dan rambut lurus menawan. Bass tidak percaya kalau yang di hadapannya adalah Cleo. Mereka tidak bertemu dua tahun dan perubahan pada gadis itu sangat drastis. Dulu gadis itu tidak pernah se-alim itu.


"Biasa aja kali lihatnya!" Cleo duduk sembari memegangi nampan yang dia gunakan untuk membawa gelas Bass.


"Lo beneran Cleo?" tanya Bass karena masih belum percaya.


"Iyalah!" decak Cleo. "Oh, gue tau! Lo pasti mikir kenapa gue bisa berubah jadi cantik gini kan?"


"Iyalah! Waktu SMP lo masih tinggal sama orangtua lo, lo itu dekil, kaya orang idiot lagi!" jawab Bass dengan santai.


"Sok ngatain idiot, lo aja yang ga tau kalau gue populer di SMP gue waktu dulu!"


"Halah!" elak Bass. "Ya kali lo tenar."


Cleo tertawa kecil, "Sekali lagi lo ngejek gue bakal balikin tuh teh!"


"Ya balikin gue juga ga butuh."


Gadis itu mendecak kesal dan mengernyit melihat tingkah Bass yang blakblakan. "Lo ga berubahnya, sukanya bikin kesel mulu!"


Bass mengangguk kemudian menoleh pada sepupunya itu, "Itu alasan gue kenapa pindah ke kampung tau, kaya lo!"


Bass menggeleng tidak menyangka, "Kenapa sih keturunan kakek lo itu kalo bikin hukuman parah banget! Kaya ngedidik angkatan militer. Lagian di kampung apaan sih? Bisa dapat apa coba?"


"Lo dateng-dateng langsung curhat aja! Yang lo pikirin itu bukan kenapa anak kakek ngedidik kaya militer, tapi kenapa semua cucunya ga ada yang bener! Lagian nih ya, banyak yang bisa lo nikmatin desa ini sepuasnya, dan yang jadi alarm pagi lo itu bukan lagi suara handphone, tapi suara tante Helen yang super bikin kuping lo merah!"


"Apa ini bawa nama tante?" seru tante Helen dari ambang pintu dengan tawanya yang membuat kedua keponakannya itu ikut tertawa.


"Ini nih tante, Bass baru nyampe ehh si Cleo langsung gosipin orang!" sindir Bass terang-terangan.


"Enak aja! Bass tuh yang baru datang udah curhat!"


"Emang ya dari dulu sifatnya masih sama, padahal kirain tadi udah berubah!" lanjut lelaki itu.


Helen terkekeh melihat tingkah kedua keponakannya yang tampak sudah sangat akrab. Ya mungkin karena dulu juga sudah saling kenal, jadi tidak asing kalau mereka berdua bisa sedekat itu.


"Udah ayo! Tante udah siap beresin kamar kamu! Ayo Cleo bantuin bawa tas Bass!" perintah Helen dengan kuat.


Mereka beranjak kemudian mulai menenteng bawaan Bass. Sebenarnya Bastian masih belum bisa melupakan kekesalannya kepada Bagas, tapi itulah tujuan dia ada disini. Untuk lupa kalau Bagas sangat keras mengatur semua seluk beluk kehidupan Sebastian.


"Nyesel bikinin si Bass teh, malah dibiarin diminum sama lalat di depan!"


...***...


Anggi duduk di depan meja belajarnya, sembari sesekali melirik jam yang menunjukkan pukul tiga sore. Dia harus segera membereskan barang-barang miliknya untuk dibawa ke rumah oma. Dengan sedikit kesal dia beralih ke arah tumpukan buku yang harus dia bawa, dan juga barang-barang kesayangannya yang begitu banyak.


Dia harus berpisah dengan kedua orangtuanya dan tinggal bersama oma ialah pilihan terbaik. Jujur kalau diberi kesempatan untuk menyatukan kembali ayah dan ibunya, Anggi akan menjadi orang paling semangat untuk menuruti hal itu.


Namun tampaknya sia-sia saja kalau dia melakukan hal bodoh itu. Pasalnya semua tidak akan kembali menjadi seperti dulu. Anggi akan tetap pindah ke desa dan merawat Oma, sekolah disana, dan menjalani kehidupan biasa bersama neneknya itu.


Seketika pikiran Anggi buyar ketika suara panggilan telepon berdering dari handphone yang terletak di mejanya. Tangannya santai melayang meraih benda itu dan melirik ke nama pemanggil. Gladys.

__ADS_1


Cepat Anggi menggeser tombol hijau kemudian mengarahkan hp ke telinga kirinya. "Iya Glad?"


"Anggi! Lo dimana? Jalan yuk!" ujar Glad dari seberang.


Anggi berpikir sejenak, dia harus mengumpulkan barang-barangnya karena tiga hari lagi gadis itu akan pergi ke desa. "Lo dateng aja ke rumah gue, bantuin gue beresin barang-barang gue!"


"Barang-barang? Lo pindahnya masih lama kok!" desis Glad dengan nada tidak terima.


"Yaudah kalo ga mau datang!"


"Ehh! Iya deh gue dateng!" ucap Glad sembari menutup telepon.


Anggi melempar tubuhnya ke ranjang empuk miliknya, kemudian menarik napas panjang karena dia tidak akan bertemu langit-langit kamarnya yang dihiasi hiasan bintang-bintang.


Walaupun begitu, rumah Oma sangat nyaman bagi Anggi sebagai tempat berlindung dari kata broken home. Oma yang selalu paham mengenai hati Anggi dan selalu memasakkan kue kesukaan gadis itu. Dan sekarang kasih sayang Oma juga harus dibalas oleh Anggi, daripada dia harus diperebutkan untuk tinggal bersama ayah atau ibunya.


Gadis itu menutup matanya sejenak, kemudian perlahan mulai terlelap karena suasana. Tidurnya ditemani angin yang berasal dari balkon yang terbuka lebar dan tirainya diterpa udara sepoi-sepoi. Melelapkan gadis itu.


Mimpinya cukup menarik ketika melihat ayah dan ibunya akur. Di mimpi itu tampak mereka sedang makan bersama di sebuah restoran. Ketiganya memakai baju putih yang sangat indah, serasi.


Mereka duduk di sebuah meja bundar dan memesan banyak makanan. Sembari menunggu pesanan, mereka tertawa riang seperti sebuah rumah yang benar-benar lengkap.


Anggi tertawa tak kalah gembira dari orangtuanya, namun tawa gadis itu tiba-tiba berhenti ketika seorang pelayan datang ke meja membawakan pesanan mereka.


Lelaki itu tidak asing di mata Anggi. Mendadak Anggi terbelalak kaget mengetahui kalau pelayan itu ialah Bass. Lelaki itu tersenyum miring dan tertawa melihat raut wajah Anggi.


Anggi terkesiap dan bangun dari tidurnya.


Ia mencoba mengingat mimpi apa yang membuatnya terbangun di kala tidurnya sangat nyenyak.


"Sebastian? Bass? Ngapain dia masuk ke mimpi gue?" pekik Anggi seraya mengucek matanya.


Gadis itu melirik ke jam, dan menyadari kalau dia sudah melewatkan waktu setengah jam untuk tidur di tempat tidurnya. Dia mendecak kesal. Mimpi indahnya diganggu oleh lelaki yang bahkan tidak ada hubungannya dengan Anggi.


Tok.. tok..


Anggi melirik ke pintu kamarnya. Suara pintu diketuk dari luar kamar membuatnya ingat kalau dia mengundang Glad datang ke rumahnya tadi. Dengan cepat gadis itu beranjak dan membuka pintu. Tampaklah Glad dengan wajah sumringahnya menyelinap cepat menuju kamar Anggi dan dengan tidak tahu dirinya langsung meloncat ke ranjang gadis itu.


Anggi menutup pintu, "Kaya orang kampung aja lo!"


Glad menyadari ejekan Anggi, "Gue gini karna gue ga yakin bakal bisa loncat-loncat lagi di tempat tidur lo! Sebentar lagi kan lo pindah, terus ninggalin gue sendiri."


Anggi bergeming sendiri, dia yakin kalau ucapan Gladys barusan ialah kode kersa karena Anggi sebentar lagi akan pergi dari kota. "Ini semua gara-gara orangtua gue! Mereka ga punya perasaan buat pertahanin gue!"


"Anggi!" decak Glad sembari duduk mendekat pada sahabatnya itu. "Lo ga boleh bilang gitu. Apapun yang dilakuin sama orangtua lo, pasti ga ada niat buat lo sedih."


"Kalo mereka mikirin gue, ga mungkin pisah Glad!"


Gladys menggeleng melihat Anggi yang sangat keras kepala begitu. Kadang Anggi sadar kalau orangtuanya sayang padanya, kadang juga dia berpikir kalau orangtuanya tidak memikirkan dirinya. Walaupun Glad sudah mengingatkan berapa kali, toh gadis itu belum bisa yakin sepenuhnya.


"Gini aja! Lo inget apa yang gue bilang ya! Inget kata-kata sahabat lo yang cantik ini!" ujar Glad seraya memegang kedua tangan Anggi dan menatapnya sangat dalam. "Orang tua lo sayang banget sama lo, makanya lo ga dibuang waktu baru lahir.. Sekarang lo paham kan?"


"Jadi kenapa mereka pisah?" tanya Anggi dengan mata berkaca-kaca.


"Mereka pisah itu karena ada masalah antara cinta mereka berdua, bukan masalah cinta mereka ke lo! Ilhamin dalam-dalam! Gue mau lo inget kata-kata gue, dan jangan lupain!" balas Gladys sembari tersenyum.


Anggi mulai paham, sekarang ada seberkas senyuman terpampang di wajahnya. Dia mengusap air mata yang sempat jatuh ke pipinya, dan menatap Glad penuh tanda terimakasih.


"Gini dong sahabat gue, Anggi! Senyum cantik!!" Gladys terkekeh kemudian memeluk sahabatnya itu. "


...♨♨♨...

__ADS_1


__ADS_2