Stairway To Love

Stairway To Love
21.


__ADS_3

...♨♨♨...


Setelah dipaksa oleh Helen untuk mengantarkan segelas teh hangat untuk Bass yang sedang duduk sendirian di ruang tengah, akhirnya Anggi mengiyakan. Toh dia sudah diajari masak untuk hari ini dan begitu ke depannya, jadi hitung-hitung menuruti perintah sebagai murid. Sebenarnya Anggi kesal, tapi mau buat apa lagi?


Mendelik sedikit ke arah Bass, dia sempat ragu, tapi akhirnya dia memberanikan diri. Jujur, jantungnya kalap dan tidak bisa menormalkan kembali sesuai dengan tempo yang sewajarnya.


Baiklah, dia mulai menerima Bass di hidupnya, entah sejak kapan. Tapi dia hanya ingin mengatakan kalau sekedar gadis itu sekedar 'menerima' saja dan tidak lebih. Anggi tidak peduli apa itu cinta dan tidak akan pernah ingin peduli, karena dia menyukai Bass hanya karena ia ingin tahu seluk beluk hidup lelaki itu. Sama hal seperti kebanyakan remaja yang ingin tahu semua jalur hidup seseorang yang disukainya, tapi masih dalam batas wajar. Perasaan Anggi bisa dibilang baru matang dan siap diangkat. Masih baru sekali.


Apakah Anggi baru saja menyatakan bahwa dia menyukai Bass?


Sesaat setelah Anggi mengumpulkan banyak nyali, dia bergegas menuju ruang tengah dan mendapati Bass menoleh spontan ke arahnya. Lelaki itu tersenyum dan meletakkan handphone di atas meja yang tak jauh darinya. Sedang gadis itu enggan membalas senyum dan memilih segera menunduk ketika sampai.


"Buat gue?" tanya Bass tiba-tiba.


Anggi mengangguk, "Iya! Ini gue disuruh sama—"


"Yaudah! Sini!!" Bass berdiri dengan secepat kilat setelah memotong perkataan Anggi. Dia meraih gelas itu dan kembali duduk di sofa.


Gadis itu mendecak kesal karena belum sempat menyelesaikan ucapannya agar Bass tidak bawa perasaan. Tapi lelaki itu sungguh membuat lidahnya kelu untuk berbicara lebih banyak, apalagi saat Bass meneguk teh itu sekali sembari menerawang ke langit-langit untuk memberi penilaian dari minuman itu.


"Terlalu manis!" kata Bass.


Anggi menaikkan sebelah alisnya. "Maaf, tapi itu yang buat—"


"Terlalu!" ulang Bass lagi. "Karena teh ini manis dan cewe manis lagi ada di depan gue sekarang. Manisnya double kill. Lo ga kasihan entar lihat gue jalan ke apotek sendirian beli obat diabetes?"


"Ha?" Anggi mengerutkan dahinya bingung. Sebenarnya dia tersipu malu dan ingin tertawa, tapi batinnya bilang kalau belum waktunya menyatakan perasaan secara terang-terangan. Gawat. "Maksud lo?"


"Pura-pura ga paham?" Bass meletakkan gelas putih itu ke atas meja.


"Gue beneran ga paham."


"Syukurlah!" ujar Bass.


"Kok syukur?"


"Kalau lo paham, entar lo jadi senyum-senyum seharian, dikira orang gila nantinya."


Anggi menggidikkan bahunya sembari berbalik, dia ingin kembali ke dapur untuk senyum sedikit. Sejenak diliriknya ke arah jam, sudah pukul setengah tiga siang dan dia pikir sudah waktunya untuk pulang dan bertemu Oma lagi.


Sesampainya di dapur, dia melirik Helen tengah duduk di meja makan sambil tersenyum ke arah Anggi. "Gimana si Bass? Lucu kan?"


"Lucu apa Tante?" Anggi tertawa sedikit sembari meletakkan nampan yang tadi dia bawa untuk mengantarkan segelas teh.


"Kalau Bass suka sama kamu, gimana? Kamu mau nerima ga?" tanya Helen.


Anggi terkesiap dengan cepat sangking terkejutnya mendengar perkataan Helen yang memaksanya untuk membulatkan mata. "Tante suka becanda juga!"


"Engga!" ujar wanita itu. "Bass pernah bilang kalau dia jatuh hati sama dua orang perempuan sekarang. Yang pertama ibunya, yang kedua ya kamu!"


Tepat sebelum Anggi membalas kata-kata dari Helen, terdengar pekikan klakson yang menderu di suara mesin mobil. Sumbernya dari depan rumah dan terdengar cukup jelas di keheningan desa akhir tahun. Anggi menoleh pada Helen, dan wanita itu segera menuju ruang tengah.


Dengan langkah mengikuti, Anggi bisa melihat Bass menuju teras bersama keluarnya Cleo dari kamar. Mereka semua tertuju ke luar rumah, begitu juga dengan Anggi yang hanya bisa mengikut tanpa tahu kenapa mereka mendadak keluar semua.


Tiba di depan teras, Anggi bisa melihat sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan pagar dan tampaklah dua orang keluar dari sana. Satunya lelaki tegap, lengkap dengan setelan jas serta kemeja berdasi merah. Satunya lagi ialah wanita cantik yang awet muda, dengan baju putih.


Datangnya kedua manusia itu membuat pikiran Anggi terburuk pada kejadian Senin lalu. Saat Anggi dan Glad mengantarkan surat ke rumah Bass, dan Bass ditampar oleh lelaki tua elegan yang satu itu.


Mengapa mereka tiba-tiba ada di sini?

__ADS_1


Anggi bergidik menyadari tatapan mata Bass menatap tajam ke arah ayahnya dan begitu juga sebaliknya. Hanya wanita itu yang tersenyum menyambut Helen yang kini tengah membukakan pagar agar mereka bisa masuk.


Satu hal yang bisa ditakar oleh gadis itu antara raut wajah Bagas dan Sarah ialah, sangar dan lembut.


Kontras sekali.


"Bass!" Sarah berlari kecil mendahului Helen untuk segera memeluk Bass.


Bedanya, Bagas hanya diam sembari membalas salaman tangan Cleo. "Gimana kabarnya Cleo? Enak tinggal disini kan?"


Cleo melirik Bass yang paham akan sindiran itu. "Cleo senang kok tinggal disini."


"Kamu udah gimana Bass? Bahagia?" Bagas beralih dengan tatapan tajam yang membuat Anggi enggan untuk menyapa.


"Bahagia banget, tanpa singa."


Sarah dan Helen yang mengetahui panasnya kondisi itu segera mencoba mencairkan suasana dan membawa mereka masuk ke dalam. Kecuali Cleo dan Anggi yang masih terpaku di teras.


"Gue kayanya pulang aja!" kata Anggi.


"Jangan!" bisik Cleo. "Gue bakal bawa lo ke sebuah suasana panas yang tercipta di keluarga gue."


Sebelum Anggi menyela, tangan Cleo langsung menyeretnya untuk segera masuk ke dalam dan bertemu pandang mereka semua. Kecuali Helen yang sekarang sudah menuju ke arah dapur menyiapkan minuman untuk tamunya.


Sebenarnya Anggi tidak enak, apalagi saat Sarah dan Bagas menoleh padanya ketika Cleo dan Anggi duduk. Tatapan Bagas membuatnya kalap, sedang tatapan Sarah membuatnya sedikit lebih tenang.


"Siapa ini, Cleo?" tanya Sarah. "Kaya pernah lihat tapi lupa dimana."


"Temen Bass Ma! Namanya Anggi." jawab Bass cepat sebelum Cleo membalasnya dengan jawaban aneh-aneh. "Yang kemarin datang ke rumah buat ngasih surat panggilan dari Bu Ani."


Anggi terbelalak, "Eh?"


"Oh ya? Kok ada disini?" tanya Sarah lagi.


"Bass jadi ada temen dong kalau gitu, bisa bantuin Bass ngerjain tugas fisika yang dari Bu Ani ya?" Sarah tersenyum.


Bass ikut tersenyum lebar mengetahui kalau ibunya adalah satu satunya orang yang punya pemikiran yang sama. Benar adanya Sarah telah membuat jalannya sedikit lebih mudah karena Anggi kini tahu kalau Bass membutuhkannya. Namun, suara seseorang membuat Bass memutar bola matanya kesal.


"Kenapa harus dibantu? Ini hukuman untuk Bass biar bisa sekolah lagi, bukan hukuman buat temannya." kata Bagas sembari menaikkan nada suaranya.


"Tapi kan Papa tau kalau Bass itu bukan anak jurusan IPA, jadi mana mungkin dia—" perkataan Darah mendadak dipotong oleh Bagas.


"Justru karena itu, makanya jadi anak jangan nakal! Pikirkan masa depan!" desis lelaki tua itu.


Suasana langsung terasa mencekam, Anggi terkejut. Baru dua menit sejak pasangan itu duduk di ruang tengah namun sudah berhasil mengubah rumah ini serasa terbakar.


Anggi semakin tidak enak setelah tahu kalau Bagas itu orangnya keras. Dia memperlakukan Bass seolah hukuman adalah hal yang penting untuk setiap anak, padahal dia tidak tahu kalau ini mungkin akan berdampak pada Bass. Lihat saja dari raut wajah Bass yang mencekam dan tangannya mengepal dendam.


"Bass gimana selama ini sayang?" tanya Sarah, mencairkan suasana.


Bass tahu kalau ibunya sedang mengalihkan perhatian semua orang. "Baik kok ma! Cuma kangen teman aja."


"Pokoknya papa mau kamu itu ngejauhin teman-teman kamu yang ga berdampak baik buat kamu Bass!" hentak Bagas menyinggung soal tiga sahabat Bass.


Sarah menghela napas panjang, "Udahlah Pa! Kita disini kan baru berapa menit, udah marah-marah aja."


"Dia selalu bikin ulah disini, kamu pikir papa ga tau Bass?"


"Syukurlah Papa tau." sahut Bass.

__ADS_1


Perkataan Bass ditemani datangnya Helen sembari membawakan nampan berisi dua gelas teh hangat. Tampak dari asap yang mengepul mantap di atas mulut gelas keramik itu. Helen meletakkan nampan di atas meja dan membiarkannya disana, kemudian duduk di samping Anggi dan Cleo.


"Lebih baik papa langsung ke titik utama kenapa papa sama mama harus datang menemui kamu, Bass!" ujar Bagas dengan segera meraih tas hitam miliknya ke atas meja.


Mata mereka semua tertuju ke satu arah, yaitu amplop besar berwarna cokelat yang dikeluarkan sedemikian cepatnya oleh Bagas. Bass mengernyit, begitu juga dengan Helen. Mereka bahkan tidak sabar mengetahui isi sari amplop besar itu.


"Ini kiriman dari seseorang, papa ga tau siapa dan ini cukup membuat papa muak sama kamu, Bass!"


Hening sejenak, sebelum akhirnya Bass meraih amplop itu dari atas meja. Sarah berharap kalau emosi Bass tidak meluap kala ini, dan tidak akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. Mereka baru sampai lima menit dan keadaan langsung pecah tanpa sambutan.


Lelaki itu mengeluarkan isi amplop berupa beberapa jepretan foto. Napasnya seakan terhenti melihat isi foto itu, kemudian dia menoleh ke arah Anggi dan Cleo bergantian. Anggi paham, pasti ada sesuatu di balik itu semua. Ingin rasanya dia langsung bertanya, tapi dia harus menjaga sikap di depan orangtua Bass.


"Lihat isinya?" kata Bagas.


"Papa lihat sendiri kalau Bass udah lihat kan? Sekarang, apa yang salah?" Bass meletakkan kembali foto-foto itu dalam posisi terbalik ke atas meja.


Cleo meraih lagi hasil jepretan kamera itu, kemudian memandangnya sejenak begitu kuga dengan Anggi. Isinya berupa foto Dio, Fariz, dan Jhon sedang mengisap rokok dengan beberapa botol minuman keras di sekitar mereka, belum lagi seorang perempuan yang duduk di pangkuan Dio terlihat tertawa renyah. Anggi mengerutkan dahi mengetahui kalau foto itu diambil di salah satu kedai tak jauh dari sekolah, dan tempat biasanya anak nakal nongkrong dan melakukan hal yang belum wajar untuk anak SMA begitu.


"Itu teman kamu yang kurang ajar itu?" tanya Bagas lirih. "Kamu seharusnya udah tau kenapa Papa datang kemari kan?"


"Ayolah berpikir jernih pa! Di foto itu Bass ga ada. Kenapa Papa jadi nuduh Bass gini?"


"Jadi karna kamu ga ada di foto itu, papa harus percaya sama omongan kamu?" bentak Bagas tiba-tiba.


Anggi bergidik ngeri kemudian berlanjut saat Cleo menarik tangannya untuk pergi dari ruang tamu. Semua menoleh pada dua gadis utu, tapi mereka tetap melanjutkan langkah mereka menuju kamar Cleo. Rasanya hal ini bukan tontonan untuk gadis belia yang bisa terganggu batin atau pikirannya.


Sesampainya di kamar, Cleo menutup pintu rapat-rapat. Keduanya bertatapan, bedanya Anggi bingung dan Cleo tampak khawatir. Anggi tidak paham kenapa Cleo harus membawanya pergi sedang di ruang tengah keadaan tampak semakin seru dengan bentakan Bagas, dan juga sebenarnya karena Anggi ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kenapa narik gue?" protes Anggi.


"Udahlah! Gue yakin kok kalau Bass ga ngelakuin hal gila kaya ngerokok, minum miras, atau main cewe. Setau gue dia bukan tipe kata gitu."


"Tau darimana? Bass itu orangnya emang liar di sekolahan. Bisa aja emang Bass ngerokok atau bahkan ngeganja."


"Tolol!" desis Cleo sembari memukul pundak Anggi. "Bass itu masih normal, hanya Bagas aja yang aneh."


"Bagas?"


"Papanya Bass, namanya Bagas. Dia orangnya keras banget sama Bass, tapi satu yang gue tau kalau Bass ga bakal ngelakuin hal bodoh kaya gitu!"


"Dia sahabatan sama Fariz, gue kenal Fariz itu emang pecandu berat. Gimana Bass ga keikut?" Anggi menggidikkan bahunya sekali.


"Yakin sama gue atau sama Bagas? Lo lihat kan di foto itu ga ada Bass!"


"Emang dapat fotonya darimana?" tanya Anggi heran.


Cleo mengerucutkan bibir dan berpikir sejenak, "Denger dari telpon tante sih, katanya ada yang ngirimin ke rumah. Yang ngirim siapa coba? Ga seneng banget sama Bass? Ya bilang langsung, kok main di belakang ring sih?"


Anggi menoleh spontan pada Cleo, tampaknya gadis itu sangat sayang pada sepupunya itu. Dan apa pun yang terjadi aku pada Bass, sepertinya Cleo akan membela. Hal ini membuat Anggi sedikit bimbang, antara Bass memang benar anak baik-baik atau karena Cleo hanya melindungi Bass saja?


Tidak ingin memikirkan hal itu, Anggi langsung menempelkan telinganya di pintu dan mulai menyimak pembicaraan empat sosok yang sedang berbincang di ruang tamu. Dia ingin tahu keadaan Bass.


Mungkin ini salah satu dampak karena Anggi ingin mencoba lebih dekat lagi dengan Bass. Dia ingin tahu segalanya, bahkan untuk hal sekecil apa pun. Dia hanya tahu satu hal, yaitu dia ingin Bass kalau benar lelaki itu ialah remaja baik-baik, dan Anggi berdoa agar itu ialah sebuah kebenaran.


Bagi Anggi, rasa ingin tahunya kali ini merupakan jalur panjang untuk mengetahui segala sisi mengenai sang target. Mungkin terlalu berlebihan, tapi inilah yang dinamakan penasaran. Butuh ketelitian katanya.


Dalam batin, Anggi sebenarnya memekik, 'Ayo sadar Anggi! Lo suka sama Bass? Kok kepo gini?'. Tapi gadis itu malu mengakui bahkan untuk hati sendiri.


"Anggi!" panggil Cleo sehingga yang dimaksud menoleh. "Lo penasaran sama kehidupan Bass?"

__ADS_1


"Eh?"


...♨♨♨...


__ADS_2