
Gladys dan Bobi akhirnya keluar dari cafe setelah setengah jam membincangkan masalah Bass. Mereka tidak ingin menyerah dan mengaku kalah karena yakin kalau Anggi pasti akan tutup mulut. Bahkan ada sederetan naskah rencana jahat lagi yang disusun rapi untuk ke depannya.
Sangking fokusnya menyusun rencana, mereka tidak sadar ada sepasang kuping yang mendengar semua percakapan itu. Sesaat setelah mereka keluar, seorang lelaki berkaos putih yang dari tadi sengaja batuk-batuk menurunkan kertas menu yang menutupi mukanya. Tangannya pegal memegangi kertas itu dari tadi, tapi ia tidak peduli karena tujuan utamanya dari tadi adalah menguping pembicaraan Glad dan si cupu itu.
Kenapa begitu penting baginya? Karena dia adalah Dio!
Dio mengernyit dan kemudian berdiri sembari meneguk sisa ice capuccino miliknya. Langkahnya gontai menuju ambang pintu dan mengintip keberadaan dua manusia yang hendak merencanakan hal buruk pada sahabatnya. Matanya menemukan ketika keduanya menaiki angkutan umum dan pergi berlalu.
Awalnya Dio hanya menunggu datangnya gebetan kesekian miliknya di cafe. Tanpa sadar harus bertemu Gladys dan mendengar percakapan menarik yang satu ini.
Lelaki itu meraih handphone miliknya dan mencari kontak Sebastian Prananda. Nama itu masih hangat berada di atas, karena kemarin malam mereka baru siap membicarakan keadaan naas yang menimpanya disana. Dan sekarang dengan kebetulan, akar dari masalah ini terkuak di telinga sahabatnya sendiri.
"Halo Bass!"
"Dio?" ucap Bass.
Anggi langsung cekatan menatap Bass, namun lelaki itu mengernyit seraya menatap tajam ke arah Anggi. Gadis itu memutar bopa matanya dengan kesal, kemudian kembali berkutat pada soal yang hendak ia kerjakan.
"Lo tau ga! Gue udah tau semua akar dari masalah lo dan kayanya, ini semua ga jauh-jauh dari bidadari yang bakal lo manfaatin buat ngerjain tugas-tugas fisika lo." jelas Dio.
Perkataan menohok dari Dio barusan lantas membuat Bass menatap cepat lagi pada Anggi. Gadis yang kini duduk dengan tangan memegang satu pena berwarna hitam dan mulutnya komat-kamit entah mengingat rumus atau mantera menghilang seperti di sinetron. Lelaki itu ingin membaca pikiran Anggi, sayang tidak bisa dan tidak akan bisa.
"Ga mungkin!" katanya pada Dio.
Anggi mengangkat kepalanya lagi dan menatap Bass dengan heran. "Ga mungkin apa?"
"Gue bicara sama Dio, bukan sama lo!" ketus Bass. "Udah ah, kerjain yang bener sana!"
"Wait!" Dio langsung angkat bicara. "Anggi ada disitu?"
"Iya. Gue sama dia lagi belajar berduaan disini." katanya.
Anggi melirik kecil, dia mulai curiga kalau saja pembahasan ini menjurus pada dirinya. Sesegera mungkin dia menjatuhkan diri lagi pada soal yang ia bahas. Mencoba fokus pada dua hal sekaligus tapi sayang ia tidak bisa.
"Gila lo Bass! Manjur bener!"
"Iya, yaudah lanjutin cerita lo."
"Si Anggi, Gladys, sama Bobi, mereka yang rencanain ini semua." lanjut Dio. "Mereka yang ngirimin foto itu ke rumah lo. Menurut gue lo harus hati-hati sama Anggi. Dia bisa aja jadi temen di balik selimut."
Bass menimbang perkataan Dio sambil tertawa kecil. "Gue sama Anggi ga lagi make selimut."
Gadis yang barusan mendengar namanya sontak melotot dan menghujam tatapan ke arah Bass. Gadis itu curiga mengenai apa yang sedang dibahas oleh Sebastian dan dengan Dio, sejoli pembully.
"Apaan nyebut-nyebut nama gue?" geram Anggi.
"Ribuan nama Anggi di dunia ini dan lo masih kegeeran?" Bass memicingkan matanya.
"Bass?" Dio memanggil dari seberang telepon.
"Oh iya Dio? Gini ya, apapun yang bakal terjadi gue okey kok disini. Lo ga usah khawatir." ucap Bass.
"Ga!" tegas Dio. "Kalau masalah ini bikin lo harus netap di kampung sana, gue ga bakal maafin yang namanya Gladys, Bobi, sama Anggi!"
"Dio, nyantai bro!" Bass cengingisan. "Udah ya yayang Dio, gue mau belajar!"
Bass menutup jaringan telepon, kemudian dengan spontan matanya menuju ke arah Anggi yang juga menatap dia. Gadis itu melepas pena yang ia pegang kemudian menghela napas panjang. Lelaki itu benar-benar membuatnya bingung sekaligus penasaran.
"Daritadi, gue selesai enam soal!" kata Anggi.
"Ya terus?"
__ADS_1
Anggi memekik. "Lo tenang-tenang? Enak aja!"
"Ga tenang-tenang juga sih. Ya gue nyiapin minuman buat lo, nyiapin kertas, dan gue nemenin lo dari awal sampai lo siap enam soal. Bahkan kalau diitung, gue unggul lebih banyak soal capeknya." Bass berusaha membenarkan dirinya yang jelas-jelas salah.
Menyebalkan.
"Kalau gitu kita udahan belajar hari ini." kata Anggi.
"Woy marmut, kalau kita nyelesain enam soal doang per hari, ga bakal kelar nih tugas."
"Yaudah kalau gitu lo aja yang kerjain." Anggi melepas pena yang menyelip di jari-jarinya.
Bass menghela napas panjang sembari tersenyum ringan menatap mata gadis di hadapannya itu. Tidak lupa ia memasang tatapan mengintimidasi yang jelas membuat Anggi binggung bukan kepayang.
"Kita istirahat bentar, gimana?" Bass melirik jam tangannya yang menunjuk angka di antara sepuluh ke sebelas. "Kita main game!"
"Game?"
"Iya!!" Bass berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Anggi seolah memberi kode kalau ia siap menarik gadis itu dari posisi duduknya.
Anggi memutar bola matanya kesal. Ia pun meraih uluran tangan itu dan berdiri sepenuhnya, "main game apa?"
"Kejar-kejaran, dan lo yang ngejar!!" secara tiba-tiba, Bass berlari kuat. Ia menuruni anak tangga menuju halaman dan berlari menyusuri taman rumah dan tiba di depan pagar kayu.
Anggi terdiam. Ia melihat Bass dengan kerutan di keningnya. Lelaki itu terlalu spontan menentukan permainan apa yang mereka pilih dan ia malah mengangkat kaki, berjingkrak seperti anak kecil, dan tiba di pagar hanya dalam hitungan per lima detik. Yang benar saja lelaki jangkung itu harus dikejar?
"Ayo dongg!!" Bass memelas ketika memutar badan dan melihat Anggi masih termenung di teras.
Dengan pasrah, Anggi memasang sandal dan mulai berlari, "Kalau lo ketangkep, siap-siap berubah jadi rendang!"
Bass terkekeh kuat. Ia berlari mengintari jalanan utama dengan jenaka, melompati bebatuan yang ia temui, dan tidak lupa sesekali menoleh ke belakang melihat Anggi yang tertinggal jauh di sana.
"Cupu lo! Ayo kejarrr!!" lirih Bass.
"Bass, tunggu!!" pekik Anggi.
Bass berbelok menuju jalanan setapak yang tidak berpenghuni. Ia menuju danau tempat ia dan Anggi kemarin bertemu. Danau tenang yang memiliki rimbun pohon di sekitarnya.
Anggi mengikuti lelaki itu dengan cekatan. Tatapan matanya tak lepas dari punggung Bass. Ia sempat kehilangan sosok Bass di balik batang pohon yang lebar. Sampai akhirnya, tibalah ia di danau yang dimaksud. Ia juga melihat Bass berdiri menghadap danau tanpa melirik kedatangan Anggi yang ngos-ngosan serta yaris jatuh karena kelelahan.
"Ketangkep!" Anggi memukul pundak lelaki itu. "Lo bakal jadi rendang."
Bass tertawa kuat, "Lo mau masak gue?"
"Stttt!!" Anggi mengingatkan lelaki itu untuk tidak berbicara terlalu kuat. "Entar penunggu danau ini ngikutin lo sampe lo balik ke kota nanti."
"Lo serius?" Bass membulatkan matanya. "Disini ada penunggunya?"
Anggi mengernyit. Ia tidak berpikir kalau Bass akan percaya pada gurauannya barusan. "Ya enggalah, gila lo?"
Bass menghela napas lega. Ia memang tidak pernah percaya hal mistis, namun suasana desa membuatnya bergidik ngeri. Sepi dan penuh tanda tanya.
"Soalnya gue mikir, kalau penunggu danau ini ngikutin gue balik ke kota nanti, gue harus ngurus due setan! Bokap gue salah satunya!" ujar Bass tanpa beban.
Anggi tertawa nyaring. Umpatan Bass soal ayahnya tidak pernah kalah dibanding lelucon lainnya. Laki-laki yang berada di sebelahnya kini bisa membalikkan fakta mengenai kebenciannya terhadap Bagas menjadi lelucon. Sungguh Bass yang malang!
"Gue sih ga takut, gue malah milih diikutin, biar gue punya temen. Kalau lo pergi, gue ga punya temen lagi dong?"
Bass terdiam. Ia melirik Anggi dengan tatapan yang penuh tanda tanya, "Lo bisa temenan sama Cleo."
Dengan raut wajah yang langsung berubah, Anggi mengutuki dirinya. Kenapa ia harus mengatakan hal barusan di depan Sebastian Prananda. Ia tahu kalau lelaki itu tidak akan mengerti maksudnya, dan mungkin tidak akan mengerti. Lelaki itu akan kembali ke kehidupannya setelah masa hukumannya berakhir, begitu juga hubungan Bass dengan desa ini, dan juga dengan Anggi.
__ADS_1
"Oy, kok lo diem?" Bass menyadarkan Anggi segera.
"Eh—" Anggi terkesiap.
"Ohh, jadi lo beneran mau ditemenin sama setan?"
"Enggaaa!!" kesal Anggi.
"OY SETANN! PENJAGA DANAU INI!" Bass berteriak kuat. "KELUAR LO!"
"Hey Bass!" Anggi menahan tawanya, ia pikir pemanggilan setan harusnya sakral.
Bass menghiraukan Anggi, ia tetap memekik kuat, "IKUTIN DIA YA! DIA PENGEN PUNYA TEMEN!"
"Bastian!" Anggi mencoba menutup mulut Bass yang menyerocos tidak jelas.
"Lo pendek, ga bakal bisa nahan gue!" Bass memundurkan langkahnya seolah menantang Anggi untuk menghampirinya.
"Diem deh Bass!" Anggi mengejar Bass dengan tatapan kesal, ia juga mengambil beberapa kerikil untuk melempari lelaki itu yang terus menghindari.
"Ih jangan main lempar!"
"Biarin!" Anggi melompat sembari tetap melempari Bass, ia pun mencoba mengumpulkan kerikil dari tepi mulut danau. Ia melempari Bass semakin ekstrem meskipun lemparan itu nyatanya tidak mengenai Bass karena lelaki itu selalu berhasil menghindar.
Menyadari Anggi yang terlalu dekat dengan tepi danau yang lumayan terjal, Bass terkesiap. Ia mendekat sembari memekik, "Awas jatuh!!"
"Bilang aja lo ta—" byurrr!!
Yang dipikirkan Sebastian terjadi. Anggi terjatuh ke dalam danau yang ternyata lumayan dalam dan dianggap remeh karena ketenangannya. Sontak, Bass langsung mendekat ke mulut danau, mencoba menelaah letak gadis itu.
Tanpa disangka, bukannya berenang menuju tepi, Anggi malah melayangkan tangannya keluar dari air. Antara ia sedang bercanda atau benar-benar tenggelam. Namun, melihat jarak Anggi yang semakin jauh dari tepi membuat Bass yakin kalau gadis itu tidak lagi bercanda.
Anggi tidak bisa berenang!
Tanpa pikir panjang, Bass menyeburkan dirinya ke danau itu. Dengan gaya bak pahlawan, Bass bertingkah layaknya seseorang yang ingin menyelamatkan sebuah nyawa. Namun, setelah tubuhnya basah semua, dari ujung kaki hingga rambut, ia berdiri tegap.
Kakinya sampai ke dasar danau, dan batas air hanya sampai perutnya saja. Ia melirik ke arah tangan Anggi yang melambai-lambai di atas air.
"Anggi?" bingung Bass.
Seketika gadis itu berdiri tegap. Ia menyeka wajahnya dengan telapak tangan dan setelah beberapa detik Anggi tertawa paling kuat. Dia menipu Sebastian Prananda.
"Sial! Lo awas aja!!" Bass menyadari bahwa dirinya ditipu oleh gadis yang satu itu. Ia pun berlari dengan tubuhnya yang setengah terendam air. Ia menuju Anggi yang masih tak kuat menahan tawanya.
Percikan air diciptakan oleh tangan Bass. Anggi membalas percikan itu tak kalah cepatnya. Keduanya aer kejar-kejaran di dalam danau dengan kecepatan yang diperlambat oleh air.
"Lo kurang ajar asli! Jantung gue udah nyari copot!!" pekik Bass yang masih belum terima.
"Wleeee!!" ledek Anggi.
"HEYYYY!!" tiba-tiba pekikan seseorang terdengar.
Anggi sontak terkejut, begitu juga dengan Bass. Keduanya melirik ke arah sumber suara. Terdapat seorang lelaki tinggi yang sepertinya baru tiba. Dia terlihat terkejut melihat dua sosok manusia basah kuyup berada di tengah danau.
"Mampus!" lirih Bass.
"Siapa?" bisik Anggi.
"Anak pak kades." jawab Bass.
Mereka diam sejenak.
__ADS_1
"Kalian ngapain?" Lelaki itu memekik. "Anak gadis sama laki-laki ga boleh mandi bareng di sini! Dinikahin sama setan mau?"
......♨♨♨......