STARS OF DESTINY : League Of Revelations

STARS OF DESTINY : League Of Revelations
Prolog


__ADS_3

"Suatu saat nanti, akan datang awan hitam yang sangat besar menutupi daratan dari arah Timur, lalu menghancurkan raja-raja di daratan itu. Maka tercerai-berai lah mereka dan tak ada satupun kekuatan yang mampu membendungnya. Namun saat awan hitam itu telah tiba di tanah yang diberkati, sebuah cahaya terang yang menembus langit akan melenyapkan awan hitam tersebut." (Lumina 1:1).


Pagi ini, langit terlihat cerah di atas Kota Machion, Kerajaan Tremora. Semua penduduk kembali beraktivitas seperti biasanya. Sepanjang jalan Kota Machion dipadati lalu lalang orang-orang yang sedang berjalan kaki.



"Cepat cari Putri Vallena!" terdengar perintah dari salah seorang kapten kepada lima orang bawahannya di ujung jalan dekat dengan pintu gerbang masuk istana. "Siap, kapten!" jawab mereka seraya bergegas berpencar meninggalkan tempat.


Sesosok gadis cantik mengenakan mantel bertudung berwarna hitam tersenyum dari balik dinding sebuah rumah. Ia pun bergegas meninggalkan tempatnya bersembunyi.


Gadis itu berjalan menyusuri setiap jalanan di kota sembari menghindari beberapa prajurit yang sedang mencarinya, hingga ia tiba disebuah toko pembuat senjata. "Aku rasa ini tempatnya," ia bergumam pelan di depan pintu toko, lalu Ia pun memutuskan untuk memasuki toko tersebut. Sayup-sayup terdengar suara besi yang dipukul-pukul dari arah ruangan belakang toko. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang wanita yang menghalangi langkahnya saat ia berupaya melihat bagian ruangan belakang toko.



"Maaf, apakah benar ini toko pandai besi Tuan Locosmic?" tanya sang gadis kepada wanita yang menghalangi langkahnya. Wanita itu pun menganggukkan kepalanya seraya bertanya, "Kau ini siapa dan ada keperluan apa mencari Ayahku?"


Gadis itu membuka tudung mantelnya, sehingga tampaklah wajahnya yang cantik nan mempesona sembari tersenyum kepada wanita yang berada dihadapannya. Sehingga membuat wanita itu takjub sekaligus terkejut setelah mengetahui identitas gadis dibalik mantel bertudung hitam tersebut. "Ka-kau... Putri Vallena?!"



"Hush! rendahkan sedikit suaramu, aku tidak ingin semua orang mengetahui keberadaan ku disini," Putri Vallena meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. "Mari, silahkan ikuti aku keruangan tamu. Aku akan segera memanggil Ayahku." Mereka berdua pun beranjak menuju ruang tamu, Putri Vallena dipersilahkan duduk sementara wanita itu menuju ruangan belakang untuk memanggil ayahnya.


"Oh... Putri Vallena rupanya," sapa Tuan Locosmic sembari membasuh tangannya yang baru saja ia cuci dengan handuk. Putri Vallena berdiri dari duduknya dan menyapa Tuan Locosmic. "Paman Locosmic, maafkan kedatangan saya mengganggu pekerjaan paman."



Paman Locosmic menarik kursi seraya berkata, "Tidak, tidak mengganggu sama sekali. Apa yang membuat Putri Vallena sampai keluar dari istana untuk menemui ku?"

__ADS_1


Putri Vallena duduk kembali di kursinya dan mengemukakan keinginannya, "Aku ingin mempunyai sebuah pedang yang akan menjadi legenda nantinya."


Tuan Locosmic terdiam sejenak dengan ekspresi wajah yang sedikit terkejut. Ia menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Akan aku usahakan, namun aku punya persyaratan. Bagaimana?"


Putri Vallena tersenyum dan menanyakan persyaratan dari Tuan Locosmic, "Baik, apa persyaratannya?"


"Berikan aku Dua Batu Sapphire dan Satu Kristal Biru," jawab Tuan Locosmic.


"Baiklah, aku akan memenuhi persyaratan itu."


Paman Locosmic tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya seraya berkata "Baik, kalau begitu selamat berjuang, aku akan mempersiapkan bahan-bahan lainnya untuk membuatkan pedangmu."


"Kalau begitu aku pamit," ujar Putri Vallena sembari berdiri dari kursinya.


Putri Vallena ditemani oleh putri dari Tuan Locosmic menuju pintu depan toko. "Siapa namamu?" tanya Putri Vallena. "Namaku Seinna Locosmic," jawab wanita itu. "Baiklah Seinna, aku pamit," Putri Vallena kembali menutup kepalanya dengan tudung mantel dan berlalu.



"Bagaimana dengan jalan-jalannya, Tuan Putri?" tanya pria itu. Putri Vallena pun terkejut karena mengenali suara pria tersebut. Dengan kepala yang tertunduk sembari menghalangi wajah dari balik tudung mantelnya, ia ingin segera memutar balik tubuhnya. Namun pria itu dengan sigap membuka tudung mantel Putri Vallena dan menjewer telinganya. "Ah! Ampun kak! Sakit!"


"Kau telah membuat kegaduhan dilingkungan istana, sekarang kau harus pulang, karena ayah sangat mengkhawatirkan mu," ucap pria itu yang ternyata adalah kakak laki-laki Putri Vallena.


"Tuan Melvin, akhirnya kau menemukan Putri Vallena," ucap kapten yang sejak tadi mencari Putri Vallena seraya berlari kearah mereka. "Kapten Dunan Windshire, kau ini sungguh tidak berguna," ujar Pangeran Melvin yang tangan kanannya masih menjewer Putri Vallena.



"Maafkan aku, Tuan Melvin." ujar Kapten Dunan sembari berlutut sebelah kaki dihadapan Pangeran Melvin. Tiba-tiba suara terompet berbunyi dari arah menara penjaga di gerbang pintu masuk Kota Machion, tidak jauh dari tempat Pangeran Melvin dan Putri Vallena berdiri. Arak-arakan kereta kuda serta prajurit dari kerajaan lain tampak mendekati gerbang kota diikuti beberapa rakyat sipil kerajaan tersebut yang tampak terluka dan babak belur.

__ADS_1



"Mari kita lihat apa yang terjadi di gerbang sana", ajak Pangeran Melvin setelah melepaskan tangannya dari telinga Putri Vallena. Mereka bertiga pun bergegas menuju pintu gerbang kota. Di sana tampak seseorang wanita mengenakan topi lebar berwarna merah dengan membawa dua buah pistol di kedua sisi pinggulnya mendekati kedua prajurit penjaga pintu gerbang yang menghalau mereka.



"Perkenalkan! namaku adalah Edea Velvetta, pemimpin divisi pertama Kerajaan Aetherian, ingin meminta perlindungan sementara kerajaan kalian karena kerajaan kami telah hancur oleh Kekaisaran Devourian," ucap wanita itu.


"Kalau kalian ingin meminta perlindungan kami, kalian harus membawa surat diplomatik yang di tanda tangani oleh raja kalian," jawab salah seorang penjaga.


"Ta-tapi raja kami telah tewas dalam pertempuran, hanya kami saja yang tersisa dengan selamat. Kami tidak tahu lagi harus kemana, karena Kerajaan Odissieia dan Synchronesia juga telah hancur oleh mereka. Hanya kerajaan kalianlah yang tersisa dan aku pastikan sebentar lagi mereka akan datang kemari," ucap wanita itu.


Kedua pengawal tersebut tertawa lalu berkata, "Kau ini sedang bercanda ya? Kerajaan kami tidak selemah kerajaan kalian, lagipula kalian telah gagal melindungi kerajaan dan raja kalian sendiri, masih mengancam kami dengan cerita khayalan mu itu."


"Apa kau bilang? Kami lemah?" balas wanita itu dengan kedua tangan yang bersiap di kedua gagang pistolnya.


"Hentikan Edea!" teriak seorang gadis yang turun dari salah satu kereta kuda di paling depan.


"Putri Julia, maafkan saya," ujar Edea sembari menundukkan kepalanya.


"Aku adalah Putri Julia Aether, Putri pertama dari Raja Aetherian II. Kami ingin bertemu dengan raja kalian," gadis itu memperkenalkan diri.



"Kalau begitu ikutlah denganku, aku akan mengantarkan kalian bertemu Ayahku," suara Pangeran Melvin terdengar jelas dari belakang kedua penjaga pintu gerbang.


"Pa-pangeran Melvin," kedua penjaga itu menundukkan kepalanya dan membuka jalan bagi Pangeran Melvin. "Apakah begitu cara kalian menyambut tamu kerajaan lain yang datang meminta pertolongan kerajaan kita? Besok kalian datang ke kantor militer untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian ini," tanya Pangeran Melvin dengan tegas. "Ma-maafkan kami, Yang Mulia."

__ADS_1


"Mari, masuklah dan selamat datang di Kerajaan Tremora," ajak Pangeran Melvin kepada Putri Julia.


__ADS_2