
"Tidakkah kalian mengetahui apa yang telah dipersiapkan oleh langit untuk menguji mereka?" (Lumina 1:3).
Sesampainya di ujung koridor menuju kamarnya, Putri Julia tanpa sengaja menabrak tubuh Putri Vallena yang baru saja berbelok dari arah berlawanan. Mereka berdua jatuh di atas lantai yang di lapisi oleh karpet berwarna biru. Akhirnya tubuh Putri Julia pun menindih tubuh Putri Vallena. "Ma-maafkan aku," ujar Putri Julia sembari bangkit dari jatuhnya. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Putri Vallena berdiri. "Aduh! sakit sekali!" erang Putri Vallena yang masih terbaring kesakitan.
Setelah Putri Vallena mampu untuk berdiri kembali, ia mengusap-usap pakaiannya dari atas hingga ke bawah seraya berkata, "Kau ini bodoh sekali! Mengapa kau berlari seperti orang yang sedang dikejar oleh hantu?"
Putri Julia tersenyum kecut dan kembali meminta maaf kepada Putri Vallena. "Lain kali jangan berlarian di area koridor, sangat berbahaya!" Putri Vallena mengingatkan.
Putri Julia menganggukkan kepalanya yang disaat bersamaan, Pangeran Melvin menegur mereka berdua. "Ada apa kalian ribut-ribut? Hari sudah malam, aku takut suara kerasa kalian mengganggu ketenangan istirahat orang lain."
"Ma-maafkan aku," Putri Julia bergegas meninggalkan Pangeran Melvin dan Putri Vallena dengan wajah yang merah merona. "Aneh sekali sikap putri itu," ucap Putri Vallena. "Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Pangeran Melvin kepada Putri Vallena. "Aku ingin pergi mencari batu Kristal Biru dan batu Sapphire sebagai bahan tempaan pedang baru ku nanti," jawab sang putri.
Pangeran Melvin memangku tangan kanan sembari mengusap-usap dagunya, "Baiklah, aku akan menemanimu."
Putri Vallena terkejut mendengar perkataan kakaknya, "Apa kau bersungguh-sungguh?"
Pangeran Melvin menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Anggap saja ini latihan untukmu."
Mereka pun segera berangkat meninggalkan istana menuju Gua Tamahagane dengan menunggang kuda kesayangan mereka. Tidak lupa untuk membawa sedikit perbekalan selama perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, mereka akhirnya tiba di depan mulut Gua Tamahagane. "Akhirnya kita sampai juga," Ujar Pangeran Melvin yang baru saja turun dari pelana kudanya.
Mereka membakar dua buah obor sebagai penerang saat ingin memasuki gua yang sangat gelap. "Silahkan kakak masuk terlebih dahulu," ujar Putri Vallena sembari mempersilahkan Pangeran Melvin masuk terlebih dahulu ke dalam gua. Pangeran Melvin diam terpaku seolah tidak mendengarkan ucapan Putri Vallena. "Hei kak! cepatlah masuk!" Putri Vallena menepuk pundak kanan Pangeran Melvin dari samping. "Kau mengejutkan saja!" seru Pangeran Melvin. "Ka-kau tau 'kan aku takut akan gelap," tambahnya lagi.
Putri Vallena menjadi tertawa mendengar ucapan kakaknya. Ia pun melenggang dengan santai memasuki gua seraya berkata, "Kau selalu mengatakan aku tak berguna untukmu, ternyata kau sendiri sama saja tidak berguna nya denganku."
__ADS_1
Sekumpulan kelelawar terbang melintasi atas kepala mereka sesaat setelah memasuki gua. "Ah...!!!" Putri Vallena berteriak membuat Pangeran Melvin menjadi sangat panik dan ciut, "Lebih baik kita kembali ke istana."
Putri Vallena kembali tertawa yang kali ini terbahak-bahak mendengar ajakan Pangeran Melvin. "Hei kak, mengapa kau menjadi sangat ketakutan begini? Mari kita lanjutkan, kali ini aku yang akan menjagamu."
Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tanpa sadar telah sampai bagian terdalam gua. Di tempat itu, cahaya obor mereka dipantulkan oleh bebatuan Kristal Biru, sehingga suasana di sekeliling ruangan itu menjadi bercahaya kebiru-biruan.
"Wah, indah sekali!" ucap Putri Vallena takjub. "Ayo cepat kita ambil Kristal Biru ini dan cepat kembali, perasaanku sungguh sangat tidak enak di sini!" seru Pangeran Melvin.
Mereka pun mengumpulkan beberapa pecahan Kristal Biru dan meletakkannya di dalam sebuah karung ukuran sedang berwarna cokelat.
Baru saja mereka ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran sesosok makhluk pria yang aneh menghadang jalan keluar mereka. Tubuhnya tampak berwarna biru sama seperti kristal di ruangan itu. Ia seperti mengenakan mahkota berwarna hitam dan putih, pelindung tangan berwarna hitam dan celana panjang hitam bercorak kelok gelombang air berwarna putih dan sepatu besi berwarna hitam.
"Kalian pikir kalian bisa pergi begitu saja setelah mengambil sesuatu yang bukan milikmu?" suara berat makhluk itu menggema di seluruh ruangan.
"Ka-kau ini siapa?" tanya Putri Vallena kepada makhluk itu. Suara tertawa makhluk itu cukup membuat merinding dan membuat takut bagi siapa saja yang mendengarnya. "Namaku adalah Nephirre, aku diperintahkan oleh Penyihir Putih untuk menjaga tempat ini."
"Penyihir Putih? Rasanya aku pernah mendengar julukan itu, tapi aku lupa siapa namanya," ucap Pangeran Melvin sembari mengusap-usap dagunya saat ia mencoba mengingat siapa nama Penyihir Putih tersebut.
"Kalian harus melewati ku terlebih dahulu kalau kalian ingin keluar dengan selamat dan membawa Kristal-kristal Biru itu," ucap makhluk itu lagi.
Pangeran Melvin dan Putri Vallena saling menoleh dan bertatapan, lalu mereka tersenyum sembari menganggukkan kepala mereka. "Baiklah, kita akan bermain kucing dan tikus seperti saat kita kecil dulu," ucap Pangeran Melvin kepada Putri Vallena. "Hem...," Putri Vallena mengiyakan ide Pangeran Melvin.
"Hei, lihat apa itu di belakangmu?!" seru Pangeran Melvin seraya menunjuk ke arah belakang tubuh makhluk tersebut. Lalu saat makhluk itu menoleh ke arah belakang nya, disaat yang bersamaan Pangeran Melvin dan Putri Vallena berlari melewati sisi kiri dan kanan makhluk tersebut.
__ADS_1
Merasa kesal karena telah di tipu oleh trik Pangeran Melvin, makhluk itu meronta dengan murka. "Groaahh!!". Suara raungan dari makhluk tersebut membuat beberapa Kristal Biru di ruangan itu pecah dan patah, ada juga yang ambruk dari atas langit-langit gua.
"Awas! Seluruh Kristal Biru di ruangan ini akan menimpa kita!" seru Pangeran Melvin kepada Putri Vallena yang sedang ikut berlari disisi kirinya.
Mereka berdua pun akhirnya mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menebas beberapa Kristal Biru yang jatuh dari langit-langit gua sembari berlari.
"Kalian takkan bisa keluar dari gua ini!" makhluk itu menyusul mereka dari belakang. Terdapat dua buah Kristal Biru yang ia bentuk menjadi dua bilah pedang yang melayang di udara demi menebas tiap Kristal Biru yang akan menimpanya.
Pangeran Melvin dan Putri Vallena melihat cahaya putih di depan mereka, sebagai tanda hampir sampai di mulut gua. Mereka pun lekas melompat keluar saat tiba di mulut gua dan mendarat dengan sebelah lutut yang hampir menempel pada tanah.
Sesampainya diluar gua, sinar fajar mulai menyongsong. Kini tampak jalan masuk di mulut gua telah tertimbun bebatuan dan pecahan-pecahan kristal bertebaran disekitar mulut gua.
"Akhirnya kita selamat, huh!" ucap Pangeran Melvin lega.
"Akhirnya tinggal mendapatkan Batu Sapphire," ujar Putri Vallena.
"Mari kita pulang," ajak Pangeran Melvin.
Mereka berdua pun beranjak menuju sebuah pohon, tempat mengikat tali kekang kedua kuda mereka. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari mulut gua. Timbunan bebatuan yang berada di mulut gua bergetar hebat.
"A-apa yang sedang terjadi?" tanya Putri Vallena sembari menoleh ke arah mulut gua.
"Boom!" Timbunan bebatuan itu pecah lalu melesat lah sosok makhluk pria tadi sembari kedua pedang Kristal Biru melayang disisi kiri dan kanannya.
Pangeran Melvin dan Putri Vallena melompat ke arah samping demi menghindari serangan mendadak tersebut.
Sadar akan serangan mendadaknya tidak berhasil, makhluk itu segera menerbangkan kedua pedangnya ke arah Pangeran Melvin dan Putri Vallena yang masih jatuh telentang di atas tanah.
__ADS_1
"Tidak!" jerit Putri Vallena, "Ah!" erang Pangeran Melvin saat kedua pedang itu mengarah kepada mereka.