
"Ah... Arcabellum, kota pertama yang dibangun oleh para pahlawan legenda Tremora," ujar Komandan Serphano.
"Komandan, Pasukan Pelontar telah siap! Menunggu perintah selanjutnya!" salah seorang prajurit melapor kepada Komandan Serphano. Komandan Serphano mengangkat pedangnya seraya berseru memberikan perintah, "Bersiap...! Lontarkan!"
Seluruh bola besi yang membara, melesat dari sepuluh alat pelontar. Bak meteor-meteor yang jatuh dari langit di tengah gelapnya malam, terlihat oleh pasukan penjaga yang berjaga di atas benteng-benteng Kota Arcabellum. "Serangan telah dimulai!" teriak salah seorang penjaga yang menjaga di atas pintu gerbang kota. Lalu seluruh penjaga yang berjaga di atas benteng meniupkan sangkakala yang terbuat dari logam kuning, sebagai pertanda seluruh penjuru kota sedang dalam keadaan berbahaya dan bersiap-siap untuk bertempur.
Suara sangkakala terdengar menggema di sekitar Kota Arcabellum dan Hutan Sura. Komandan Serphano tersenyum bahagia ketika mendengar suara gema dari sangkakala tersebut. "Permainan sudah dimulai."
Suara dentuman yang sangat keras terdengar saat bola besi berapi jatuh menghantam kedalam Hutan Sura. Api dari bola besi tersebut dengan cepat membakar pepohonan disekitarnya.
Pasukan ninja yang telah bersiaga didalam Hutan Sura, dengan sigap merapal jurus ninja elemen air untuk memadamkan api. "Jurus Elemen Air: Naga Air," teriak para pasukan ninja serempak.
Tiba-tiba saja, air laut yang berada disebelah barat Kota Arcabellum membentuk beberapa spiral menjulang ke langit lalu menyatu membentuk sebuah rupa naga raksasa.
Kemudian Naga Air itu terbang melintasi Hutan Sura yang tidak terlalu jauh dari letak laut tersebut sembari menyemburkan air ke arah pepohonan yang terbakar.
Saat Naga Air itu sibuk meliuk-liuk melintasi Hutan Sura sembari menyemburkan air untuk memadamkan api, Komandan Serphano mengangkat pedangnya kembali dan berseru, "Pasukan infanteri.... Serang!"
__ADS_1
Gemuruhnya teriakan serta riuhnya suara tapak-tapak kaki dari para pasukan infanteri yang berlari menuju Hutan Sura membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Halau pergerakan mereka!" seru seorang pemimpin ninja kepada seluruh anggota yang berada di dekatnya.
Disaat yang bersamaan, Komandan Serphano memberikan perintah kepada para pasukan pemanah untuk bersiap menyerang dengan panah api. "Tembak!" seru Komandan Serphano memberi perintah.
Puluhan panah api melayang di udara dan tak lama jatuh menghujam Naga Air Raksasa itu, namun serangan tersebut tidak berarti apa-apa. Panah-panah api tersebut pun padam dan jatuh membumi.
Serangan balasan pun dilakukan. Para anggota ninja yang mengendalikan Naga Air tersebut segera mengarahkan naga itu menuju para pasukan pemanah sembari menyemburkan air yang sangat deras. "Ah! jerit para pasukan pemanah yang tidak sempat menghindar dari serangan tersebut. Tubuh mereka tersapu oleh semburan air Naga Air.
"Cih..., sial!" gumam Komandan Serphano yang melihat hal tersebut. Naga Air itu pun memutar balik tubuhnya dan terbang mengarah kepada Komandan Serphano yang sedang berada di atas kuda di belakang para tentaranya.
Guyuran air dari hancurnya Sang Naga bagaikan sebuah hujan yang turun deras dari langit ditengah pertempuran. Membuat seluruh tentara, Komandan Serphano serta tanah disekitar mereka menjadi basah.
Lima orang penyihir itu pun kembali memutar-mutarkan tongkatnya. Makhluk Batu itu pun menggebrak tanah yang basah dengan kedua tangannya. Lalu serpihan-serpihan batu serta tanah yang hancur oleh gebrakannya, ia buat menjadi sebuah bola batu yang amat besar. Ia pun mengangkat bola batu itu dan siap melemparkannya ke arah Hutan Sura.
"Menghindar!" seru sang pemimpin ninja kepada seluruh anggota disekitarnya. Lalu bola batu itupun dilemparkan oleh Makhluk Batu itu. "BOOM!" terdengar suara dentuman yang begitu dahsyat saat bola batu raksasa itu menghantam tanah yang sebelumnya menghancurkan pepohonan terlebih dahulu.
"Serang!" seru para prajurit infanteri yang kini telah memasuki Hutan Sura. Pertempuran sengit pun tak terelakkan antara pasukan ninja dan prajurit infanteri Kekaisaran Devourian. Korban dikedua belah pihak pun mulai berjatuhan.
__ADS_1
Sementara itu, lima orang penyihir kembali memutar-mutarkan tongkatnya seraya merapal sebuah mantra yang membuat Makhluk Batu Raksasa itu berjalan menuju Hutan Sura. "Haha! Habisi mereka!" Komandan Serphano tertawa dengan bangganya melihat situasi medan peperangan yang semakin menguntungkan pihaknya.
Para prajurit Kerajaan Tremora di Kota Arcabellum kini telah bergerak menuju Hutan Sura untuk membantu Pasukan ninja. Namun beberapa prajurit merasa gentar saat melihat sebuah Makhluk Batu Raksasa mendekati Hutan Sura. Beberapa prajurit sempat menghentikan langkah kakinya. "Jangan takut! Lindungi tempat ini dan keluarga kita dari kehancuran!" seru Mayor Zero yang memimpin langsung penyerangan bersama Leon. Akhirnya prajurit yang sempat menghentikan langkahnya kini kembali bergerak setelah mendengarkan ucapan Mayor Zero.
Kini Hutan Sura tampak bagaikan neraka, api berkobar sangat besar. Darah segar serta beberapa mayat prajurit dari kedua belah pihak tampak bergelimpangan, membuat gentar bagi siapa saja yang melihatnya. "Mundur!" seru sang pemimpin ninja. Bagaikan sebuah bayangan, beberapa prajurit ninja melesat dengan cepat setelah mereka tersudutkan oleh pasukan infanteri Kekaisaran Devourian. Makhluk Batu Raksasa itu berjalan melintasi Hutan Sura dan hampir tiba di batas hutan yang terhubung dengan jalan utama menuju Kota Arcabellum.
"Prajurit! Bersiap!" seru Mayor Zero. Para prajurit Kerajaan Tremora pun menyiapkan kuda-kuda dan menggenggam gagang pedang mereka dengan erat. Tiba-tiba saja, dari arah laut dekat tepi pantai Kota Arcabellum, muncul sebuah makhluk yang menyerupai setengah tubuhnya berbentuk gurita dan setengahnya lagi berbentuk manusia yang memakai sebuah mahkota dan menggenggam sebuah trisula. "Poseidona!" seru para prajurit Kerajaan Tremora. Mata mereka tak dapat lepas dari makhluk itu karena merasa takjub. "Terima kasih atas bantuannya, Nyonya Luxia," gumam Mayor Zero seraya tersenyum senang.
Poseidona pun bergerak ke arah Hutan Sura dan menyemburkan air ke sekeliling hutan. Api yang berkobar dengan sangat hebat pun kini padam. Kini ia berhadapan dengan Makhluk Batu Raksasa. Poseidona memulai penyerangan. Ia memukul makhluk itu dengan trisula air miliknya. Namun serangan itu tak berarti apa-apa untuk Makhluk Batu Raksasa itu. Kini makhluk itu menyerang balik Poseidona dengan tinjunya, namun tangannya hanya menembus tubuh air milik Poseidona.
Komandan Serphano mengangkat pedangnya dan memerintahkan pasukan pemanah untuk mengawal pasukan infanteri dari belakang. Para pasukan pemanah pun bergerak menyusul pasukan infanteri yang tersisa di Hutan Sura.
Sementara itu, para prajurit Kerajaan Tremora sedang asyik melihat pertempuran antara Poseidona melawan Makhluk Batu Raksasa. Saling menyerang dan bertahan pun tak terelakkan diantara kedua makhluk tersebut.
"Tuan Serphano, tenaga kami hampir habis. Semua tenaga kami telah kami kerahkan untuk mengendalikan Golem itu," ucap salah satu penyihir kepada Komandan Serphano. Raut wajah Komandan Serphano mendadak berubah. Ia tampak kesal dengan ucapan penyihir itu, "Cih! Tahan sedikit lagi, kemenangan hampir kita dapatkan!" seru Komandan Serphano memaksa. "Kalau terus dipaksakan, kami butuh waktu lebih lama lagi untuk memulihkan tenaga kami," bantah penyihir itu.
Dengan perlahan, Golem mulai goyah dengan berdirinya. Daya serangnya pun tak sehebat diawal. Ini disebabkan oleh melemahnya tenaga lima penyihir yang membentuk dan mengendalikan Golem tersebut. Hingga akhirnya kelima penyihir tersebut pun benar-benar kehabisan tenaga mereka. Sekali pukulan trisula milik Poseidona, mampu membuat rubuh tubuh Golem dan membuat susunan tubuhnya terpisah-pisah saat jatuh ke tanah. bagaikan pecahan-pecahan batu yang amat besar menggelinding terpisah.
"Kami sudah tidak sanggup lagi," ucap kelima penyihir dengan nafas yang terengah-engah. Komandan Serphano pun menundukkan kepalanya dengan kecewa. Pikirannya menjadi kacau dimana ia hampir meraih kemenangan didepan mata. "Baiklah, kalian boleh beristirahat sambil mengisi kembali tenaga kalian," ucap Komandan Serphano.
Poseidona pun kembali menuju laut dan menyatu dengan lautan. Namun kini, pasukan infanteri telah tiba di batas Hutan Sura yang terhubung dengan jalan utama menuju Kota Arcabellum. Kini kedua belah pasukan saling berhadapan. Mereka pun bersiap-siap untuk terjadinya bentrokan diantara mereka.
__ADS_1