
Keesokan harinya, pembawa pesan Gubernur Vestigia telah tiba di Istana Wings Palace. Ia kini berada di dalam ruang singgasana raja sedang memberikan surat dari Gubernur Vestigia. "Jadi... tidak berapa lama lagi mereka akan datang kepada kita, dimulai dari penyerangan Kota Arcabellum," gumam Raja Tremora sembari membaca isi surat tersebut.
"Benar Yang Mulia Raja Tremora," sahut Theodore.
"Baiklah aku akan mengirimkan lima ribu pasukan beserta Divisi Kedua, Bellarum, menuju Kota Arcabellum untuk mempertahankan barisan depan Kerajaan kita. Perintahkan Divisi Ketiga, Arcanum sebagai tim penyergap di dalam Hutan Sura untuk memperlambat pergerakan musuh", perintah Raja Tremora.
"Mengerti, Yang Mulia," jawab Theodore.
"Kalau begitu pergilah menuju Kota Bellaruna lalu temui pemimpin Divisi Kedua, Vania Callysta untuk bergegas bergabung bersama Divisi Ketiga," imbuh sang raja lagi.
"Baik Yang Mulia, kalau begitu aku mohon pamit."
"Oh... bawalah ini. Berikan kepada Fenrira, serigala raksasa tunggangan mu itu," Raja Tremora memberikan isyarat kepada pelayan istana untuk memberikan sebuah kantong cokelat ukuran sedang berisikan daging mentah yang segar.
"Terima kasih Yang Mulia," Theodore mengambil kantong itu kemudian berlalu.
"Yang Mulia Raja Tremora, pemuda itu telah kembali membawa sekantong Batu Sapphire dan...," ucap salah seorang penjaga ruang singgasana yang kini telah berada dihadapan sang raja.
"Dan?" tanya Raja Tremora penasaran.
"Ia membawa seekor bayi naga bersamanya," prajurit itu menjawab rasa penasaran Raja Tremora.
"Kalau begitu, suruh ia masuk!" seru sang raja.
Porta pun memasuki ruang singgasana raja. Ia tampak tersenyum saat mengulurkan tangan kanannya yang menggenggam sekantong Batu Sapphire. "Bagaimana Paman? Ini adalah tebusan untuk hukumanku," ujar Porta bangga.
"Oh... akhirnya kau kembali dengan selamat, aku dengar kau membawa seekor bayi naga bersamamu?" tanya Raja Tremora.
Porta menganggukkan kepalanya, lalu seekor bayi naga keluar dari sela-sela baju zirah nya seraya merayap ke pundak Porta.
"Apakah kau tidak takut akan membahayakan dirimu dan masa depan kita nanti?" tanya Raja Tremora. Porta pun tersenyum dengan pertanyaan sang raja, "Dahulu kala, leluhur kami adalah pengendali naga. Kemungkinan dia adalah naga terakhir yang masih hidup."
__ADS_1
"Baiklah, Kapten Dunan cepat panggilkan Putri Vallena kemari!" perintah Raja Tremora.
"Baik, Yang Mulia," Kapten Dunan bergegas meninggalkan ruang singgasana raja.
Dalam perjalanan menuju kamar Putri Vallena, Kapten Dunan berpapasan dengan Putri Julia yang baru saja keluar dari kamarnya. "Oh... halo kapten," sapa Putri Julia.
"Selamat pagi, Tuan Putri," balas Kapten Dunan.
"Tampaknya kau sedang terburu-buru, ada apa?"
"Raja Tremora memerintahkan ku untuk memanggil Putri Vallena di kamarnya," jawab Kapten Dunan.
"Oh, kalau begitu bolehkah aku ikut bersamamu?" tanya Putri Julia.
Kapten Dunan mengernyitkan keningnya dan kembali bertanya, "Mengapa Tuan Putri ingin ikut bersamaku?"
"Aku juga sudah lama tidak berbincang dengan Putri Vallena," jawabnya dengan tersenyum.
Kapten Duncan pun akhirnya mengiyakan permintaan Putri Julia. Mereka berdua pergi menuju kamar Putri Vallena.
"Tuan Putri!" seru Putri Julia seraya mengetuk pintu kamar saat mereka telah tiba di depan kamar Putri Vallena.
"Yang Mulia memanggil anda untuk segera hadir di ruang singgasana," jawab Kapten Dunan dari samping kiri Putri Julia.
"Baiklah," Putri Vallena keluar dan menutup pintu kamarnya.
Sesampainya di Ruang singgasana, Putri Vallena terkejut melihat Porta yang sedang asyik bermain dengan bayi naga miliknya.
"I-itu naga!" seru Putri Vallena.
Raja Tremora tertawa melihat keterkejutan Putri Vallena, "Dia benar-benar pria yang tangguh bukan?"
"Ini sekantong Batu Sapphire yang engkau minta," Porta menghampiri Putri Vallena dan memberikan kantong cokelat tersebut.
"Tidak ku sangka kau akan mendapatkannya secepat ini," ujar Putri Vallena seraya mengambil kantong cokelat yang diberikan oleh Porta.
__ADS_1
"Itu bukanlah suatu hal yang sulit untukku," ucap Porta seraya tertawa puas.
"Baiklah, terima kasih kalau begitu. Aku mohon pamit," Putri Vallena berlalu meninggalkan ruang singgasana.
Kapten Dunan bergegas membuntuti Putri Vallena dari belakang. Ia mendapati Putri Vallena kembali ke kamarnya. Tak berapa lama Putri Vallena kembali keluar dari kamarnya dengan memakai kemeja berwarna putih, Celana panjang hitam, serta mantel bertudung berwarna hitam.
Putri Vallena terkejut melihat Kapten Dunan yang sedang menunggu di depan kamarnya seraya menyandarkan tubuh ke dinding dan melipat kedua tangannya di dada. "Ingin menyelinap keluar bukan?" tanya Kapten Dunan seraya tersenyum sinis.
"Eh... mengapa kau berada disini? Bukankah tidak sopan mengamati kamar seorang wanita, apalagi kamar seorang putri raja?"
"Aku hanya lebih memperketat pengawasan terhadap gerak-gerik mu, hal ini juga merupakan perintah dari ayahmu sendiri," jawab Kapten Dunan.
"Baiklah, terserah kau saja," Putri Vallena melangkahkan kakinya yang kemudian diikuti oleh Kapten Dunan dari belakang.
Mereka berdua pun kini telah tiba di toko pandai besi Tuan Locosmic. Putri Vallena menyerahkan sekantong Batu Sapphire kepada Tuan Locosmic.
"Banyak sekali Batu Sapphire yang engkau berikan," ucap Tuan Locosmic takjub.
"Hahahah... seperti biasa, Paman Locosmic boleh menyimpan sisanya jika pedangku sudah jadi," Putri Vallena tersenyum.
Tuan Locosmic menjadi tertawa mendengar ucapan Putri Vallena. Ia pun mengambil kantong cokelat itu dan berdiri dari tempat duduknya, "Tunggu saja beberapa hari ini, pedangmu akan ku buat menjadi sebuah legenda suatu saat nanti."
Putri Vallena ikut berdiri dari duduknya dan mengucapkan terima kasih kepada Tuan Locosmic karena telah mau membantunya. Ia dan Kapten Dunan pun pamit.
"Kapten Dunan, aku ingin sekali makan roti lapis di kedai, aku mendengar kabar bahwa roti lapis di kedai itu sangatlah lezat," ajak Putri Vallena.
"Bukankah seorang putri raja dilarang untuk makan makanan sembarangan?" tanya Kapten Dunan.
"Iya aku mengerti, tapi aku ingin sekali menyicipi roti lapis itu. Aku penasaran dengan rasanya," sanggah Putri Vallena.
"Baiklah, tapi sebelum kau memakannya, biar aku terlebih dahulu menyicipinya. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu," Kapten Dunan melangkahkan kakinya.
Ia menyadari kalau Putri Vallena hanya diam dan berdiri mematung saat ia melangkahkan kakinya. Lalu ia bertanya kepada Putri Vallena, "Mengapa kau hanya diam saja? Apa tidak jadi membeli roti lapis di kedai itu?"
Putri Vallena menundukkan wajahnya seraya berkata, "Aku tidak ingin orang-orang tahu kalau aku sedang berada disini, sebaiknya kau saja yang pergi membeli."
__ADS_1
Kapten Dunan menghela nafasnya lalu tersenyum manis, "Baik, tunggulah disini Tuan Putri."
"Hush! Jangan keras-keras menyebut Tuan Putri disini!" Putri Vallena memandang Kapten Dunan dengan kesal seraya mengacungkan jari telunjuk kanan di depan bibirnya.