STARS OF DESTINY : League Of Revelations

STARS OF DESTINY : League Of Revelations
Star 1 - Pembawa Pesan -


__ADS_3

"Saat langit kembali cerah, maka penduduk di tanah yang di berkati itu bersuka cita. Mereka berpikir untuk memulai kehidupan baru bersama orang-orang di sana. Namun siapa sangka, angin kembali bertiup sangat kencang sebagai peringatan akan datangnya badai. Maka gentar lah orang-orang yang berada di sana." (Lumina 1:2).


Mereka semua kini telah tiba di istana Kerajaan Tremora. Seluruh petugas istana sibuk menyiapkan segala keperluan demi menyambut tamu mereka yang datang secara mendadak.



"Selamat datang di Wings Palace, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya," sambut Raja Tremora I di ruangan singgasana raja.



Seluruh rombongan termasuk Putri Julia bertekuk lutut sebelah kaki di hadapan Raja Tremora I. "Hormat kami dan panjang umur untuk Yang Mulia, Raja Tremora I," Putri Julia menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu berlebihan, Putri Julia," ujar Raja Tremora I seraya berdiri dari singgasananya. Putri Julia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Raja Tremora I seraya berkata, "Maafkan kehadiran kami merepotkan anda, Yang Mulia."


Raja Tremora I tertawa mendengar ucapan Putri Julia. Kemudian ia menghampiri Putri Julia dan memintanya untuk berdiri, "Tidak, aku lah yang meminta maaf kepada dirimu dan dua kerajaan lainnya, karena aku tidak mampu memberi cukup bantuan untuk kalian. Bagaimanapun juga aku juga harus melindungi kerajaan ku sendiri."


"Apakah anda mendengar kabar tentang keluarga kerajaan lainnya?", tanya Putri Julia.


Raja Tremora I menggelengkan kepala lalu menghela nafasnya, "Aku masih menyelidiki keberadaan mereka lewat pasukan pencarian dari ku, biar bagaimanapun kerajaan kalian adalah aliansi dengan kerajaan kami. Walau di masa lalu kita saling bermusuhan, namun kini semua berjalan dengan baik dan damai."

__ADS_1


Tiba-tiba seorang prajurit menerobos masuk ke dalam ruang singgasana raja dengan wajah yang pucat seraya berseru, "Yang Mulia, gawat!"


Seluruh hadirin yang berada ditempat itu terkejut dan menoleh kearahnya. Pangeran Melvin bergegas menarik pedang dari sarungnya dan berkata, "Apa kau ingin mati di tanganku atau di tiang gantungan karena telah menerobos masuk tanpa izin dan mengganggu raja yang sedang beramah tamah dengan tamunya?"


Prajurit itu segera menghentikan langkah kakinya yang tergesa. Dengan nafas yang masih tidak beraturan, prajurit itu berkata, "Tapi Yang Mulia, di depan pintu gerbang ada seseorang yang mengaku perwakilan dari Kekaisaran Devourian. Datang dengan membawa potongan kepala milik komandan regu penolong dan pencari, Komandan Haelios dan ingin segera bertemu dengan anda."


Wajah setiap orang ditempat itu menjadi pucat dan suasana menjadi mencekam. Raja Tremora I tersenyum lalu berkata, "Jadi ia ingin menemui ku? Baiklah."


Pangeran Melvin menghadang langkah ayahnya seraya berkata, "Biar aku saja yang menemuinya, Ayah cukup menemani mereka disini."


"Hei kakak, aku juga ikut!" seru Putri Vallena sembari menepuk bahu kanan sang kakak dengan tangan kirinya. Pangeran Melvin pun menoleh kearah Putri Vallena sembari tersenyum, "Baiklah, asal kau tidak merepotkan ku saja."


"Aku juga akan menemani kalian berdua," ucap Edea kepada Pangeran Melvin dan Putri Vallena. Mereka segera menuju gerbang masuk Kota Machion bersama prajurit yang membawa pesan tadi.



"Siapa kau ini?! dan ada perlu apa kau kemari?!" tanya Pangeran Melvin tanpa gentar sedikitpun.


Pria itu tersenyum dari balik masker ya dan berkata, "Salam kepada kalian semua, penghuni Kerajaan Tremora. Kaisar kami, Yang Mulia Qabael hanya ingin menyampaikan pesan kepada raja kalian: "Menyerah atau Musnahlah!"

__ADS_1


"Kami lebih baik mati dari pada menyerah kepada kaisar kalian. Sebaiknya cepat tinggalkan tempat ini sebelum aku dan pasukan ku membunuhmu!" gerak Pangeran Melvin.


Pria itu menjadi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Pangeran Melvin. Ia melempar potongan kepala yang ia jinjing ke arah Pangeran Melvin, lalu kepala itu jatuh dan menggelinding di atas tanah sampai berhenti tepat di ujung sepatu besi milik Pangeran Melvin dengan wajah yang menghadap keatas memandangi Pangeran Melvin. "Sungguh biadab!" ujar Pangeran Melvin. Tubuhnya gemetar menahan amarahnya yang semakin menjadi.


"Kalian pikir kalian bisa membunuhku saat ini juga? Tidakkah kalian tahu? seratus orang dari kalian dapat ku habisi dalam sekejap dengan kekuatanku!" pria itu mengepalkan tangan kanannya mengarah kepada Pangeran Melvin.


Edea dan Putri Vallena yang berada di belakang tubuh Pangeran Melvin, hanya diam seribu bahasa. Mereka merasakan letupan aura kekuatan yang melebihi kekuatan mereka pada pria itu. "Sebaiknya kau jangan gegabah, pangeran. Aku merasakan letupan aura kekuatan orang ini melebihi kita semua yang berada disini. Sebaiknya kau tahan dulu amarahmu," tiba-tiba Edea membuka suara menenangkan Pangeran Melvin.


"Wah... Wah..., seorang penembak jitu dari Kerajaan Aetherian rupanya, aku banyak mendengar cerita dan reputasi tentang dirimu. Bersyukurlah, kalian masih dibiarkan hidup oleh Tuan Igniton," pria itu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Aku tidak tahu siapa kau dan kita belum pernah bertemu di medan pertempuran sebelumnya. Namun akan ku pastikan, aku Edea Velvetta bersumpah akan membalaskan kematian raja dan rakyat Aetherian di pertempuran berikutnya."


Pria tersebut tersenyum lalu membanting sebuah bom asap dihadapannya. Sebelum ia menghilang di dalam asap yang tebal itu, ia berkata, "Kalau begitu, aku tunggu kau di pertempuran selanjutnya."


Mereka pun mengambil potongan kepala milik komandan regu penolong dan pencari lalu di bungkus dengan kain putih dan kembali ke dalam istana. Satu jam kemudian, diadakan pemakaman dengan protokol militer Kerajaan Tremora.


Hari telah menjelang malam. Kini Pangeran Melvin sedang berada di halaman istana. Ia berbaring di atas rerumputan sembari mengamati bintang-bintang di pekatnya langit malam. Sementara itu, Putri Julia yang sedang berada di beranda kamarnya, tak sengaja melihat keberadaan Pangeran Melvin di halaman istana. "Sedang apa ia di sana? Apakah ia tidak takut masuk angin?" gumam Putri Julia pelan. Ia pun berinisiatif mengambil sebuah selimut miliknya di dalam sebuah kotak peti yang ia bawa untuk diberikan kepada Pangeran Melvin, lalu bergegas menuju halaman istana.


Sesampainya di sana, dengan perasaan yang canggung dan malu-malu, Putri Julia menghampiri Pangeran Melvin dengan langkah yang ragu. "Mengapa kau ke keluar? Udara saat ini sedang dingin, tidak baik untuk kesehatanmu," ujar Pangeran Melvin yang menyadari kehadiran Putri Julia karena suara gemerisik rumput yang diinjak.

__ADS_1


"Hm... Tidak... Aku... Aku...," ucap Putri Julia yang terbata-bata. Pangeran Melvin pun bangun dari baringnya dan duduk bersila. "Mengapa kau tiba-tiba menjadi canggung kepadaku?" tanya Pangeran Melvin.


"Ma-maafkan aku telah mengganggumu," Putri Julia membalikkan tubuhnya dan mematung untuk sesaat, lalu bergegas kembali ke dalam istana. "Hei! mengapa...?" Pangeran Melvin berusaha menghentikan langkah kaki Putri Julia dengan seruannya, namun tidak dihiraukan oleh sang putri.


__ADS_2