
"Tring... Tring...!" kedua pedang Kristal Biru itu terpental saat hampir mengenai tubuh Pangeran Melvin dan Putri Vallena.
Putri Vallena dan Pangeran Melvin yang memejamkan kedua mata seraya melakukan perlindungan dengan tangan kanan di depan wajah mereka, kini perlahan mulai membuka mata.
Alangkah terkejutnya mereka, sebuah kubah perisai sihir berwarna ungu kehitaman yang sedang berputar melindungi tubuh mereka.
"I-ini...," ujar Pangeran Melvin yang disertai lenyapnya perisai sihir tersebut.
"Siapa di sana yang berani menggangguku!" seru Nephirre.
Muncul sesosok gadis cantik berambut putih bermata biru dari balik pohon yang tak jauh dari tempat mereka berada. Wanita itu memakai gaun berwarna campuran putih dan ungu dan membawa tongkat sihir berukiran sayap dengan Batu Rubi yang terpatri ditengahnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi yang harus kau tahu adalah aku akan membuatmu menjadi "Guardian" ku," jawab gadis itu.
"Ha... Bermimpi lah!" Makhluk itu melesat menuju gadis itu beserta kedua pedang Kristal Birunya.
"Sigillum Magicis," gadis itu membaca sebuah mantra penyegelan. Lalu muncullah simbol Pentagram dengan enam simbol elemen di dalam sebuah lingkaran putih yang besar tepat di atas tanah dan sosok gadis tersebut berdiri di tengah-tengah lingkaran kecil yang berwarna merah.
"Ah!" Makhluk itu tersedot ke dalam simbol elemen biru atau air saat melesat melayang di udara menuju gadis itu. Tak berapa lama, simbol Pentagram itu lenyap beserta makhluk tersebut.
Gadis itu berjalan maju sedikit dari tempat berdirinya dan mengambil sesuatu dari tanah. Rupanya makhluk itu telah bertransformasi menjadi batu Kristal berwarna biru dengan balutan corak kelok gelombang berwarna hitam.
__ADS_1
Pangeran Melvin dan Putri Vallena berdiri dari jatuhnya. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
"Aku ucapkan terima kasih kepada kalian," ucap gadis itu kepada Pangeran Melvin dan Putri Vallena sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.
Pangeran Melvin dan Putri Vallena saling menoleh karena merasa heran. Baru saja nyawa mereka diselamatkan oleh gadis itu dan seharusnya mereka berdua lah yang berterima kasih, tapi justru gadis itu yang mengucapkannya terlebih dahulu.
Setelah itu, gadis tersebut berputar arah dan berjalan meninggalkan Pangeran Melvin dan Putri Vallena.
"Hei, tunggu! Siapa namamu?" seru Putri Vallena.
"Kau tidak perlu tahu namaku," jawab gadis itu tanpa menoleh sedikitpun.
"Maukah kau ikut bersama kami menuju Kerajaan Tremora?" tanya Putri Vallena lagi.
Gadis itu tidak menghiraukan pertanyaan Putri Vallena dan terus melanjutkan langkah kakinya.
"Aku yakin ia orang baik, lagipula ia baru saja menyelamatkan kita," jawab Putri Vallena.
"Ah sudahlah, mari kita pulang. Gadis itu juga tidak menghiraukan kita", ajak Pangeran Melvin.
Mereka mengambil kembali karung cokelat berisi Kristal Biru yang sempat terjatuh saat kejadian tadi lalu menuju kuda tunggangan mereka yang masih terikat di sebuah pohon.
Mereka pun berangkat kembali menuju istana. Lalu saat mereka melintasi Hutan Hulhula, mereka mendapati sesosok pria yang tak sadarkan diri telungkup di atas tanah menghalangi perlintasan jalur menuju keluar hutan . Seketika Pangeran Melvin dan Putri Vallena menarik tali kekang kuda mereka guna menghentikan laju kuda. Kuda mereka pun meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. "Lihat!" seru Putri Vallena.
Mereka berdua turun dari kuda dan menghampiri pria tersebut. Lalu Putri Vallena bergegas memutarbalikkan tubuh pria itu dan memeriksa denyut nadi serta nafasnya.
"Dia masih hidup," ujar Putri Vallena seraya menatap wajah kakaknya.
__ADS_1
"Uh...," erang pria itu tiba-tiba. "Hei, apa kau tidak apa-apa?" tanya Putri Vallena. Pria itu membuka kedua matanya dengan perlahan. "Apakah aku sudah mati?" tanya pria itu. Putri Vallena tersenyum padanya dan berkata, "Tidak, kau belum mati."
Pria itu mengangkat tangan kanannya dan menempelkan telapak tangannya di pipi kanan Putri Vallena, "Iya benar, tampaknya aku sudah mati. Saat ini aku sedang menatap seorang bidadari di surga."
Pipi Putri Vallena pun menjadi merah merona mendengar ucapan pria tersebut. Sementara itu, tanpa Putri Vallena sadari, pria itu meletakkan telapak tangan kanannya pada buah dada bagian kanan Putri Vallena yang setengahnya terhalang oleh baju zirah, "Terima kasih Tuhan, bidadari ini benar-benar sempurna."
"KYAHHH...!" jerit Putri Vallena yang terkejut dengan sentuhan tangan kanan pria itu pada buah dadanya. Lalu Putri Vallena mengeluarkan pedang dari sarung dan menghunuskan nya pada wajah pria itu, "Apa yang baru saja kau lakukan?! Kau ingin benar-benar mati rupanya ya?!"
Pangeran Melvin pun menjadi tersulut emosinya karena telah melihat adiknya dilecehkan oleh pria tersebut. Lalu dengan cepat ia melayangkan tendangan menuju pinggang kiri pria itu.
"Ah! Maafkan aku! Tadi belum sepenuhnya aku sadarkan diri!" pria itu mengerang kesakitan oleh tendangan Pangeran Melvin seraya memegang pinggang kirinya dengan kedua tangan. Lalu pria itu terkulai lemas dan tak sadarkan diri kembali.
"Hei kak, kau terlalu berlebihan. Lihat sekarang ia tak sadarkan diri lagi," ucap Putri Vallena dengan wajah datar kepada kakaknya.
"Tapi pria itu telah melecehkan mu!" jawab Pangeran Melvin dengan nafas yang masih tidak beraturan karena emosinya yang memuncak. "Mari kita tinggalkan saja pria itu disini! Tak ada gunanya kita menolong dirinya!" tambahnya lagi.
Putri Vallena menjadi tidak tega melihat kondisi pria tersebut, lalu ia meminta kepada kakaknya untuk memapah pria itu dan menaikkannya ke atas kuda milik kakaknya. Awalnya Pangeran Melvin menolak, namun akhirnya ia menuruti keinginan adiknya tersebut. Lalu perjalanan menuju Istana Wings Palace pun dilanjutkan.
Kini tampak matahari telah naik di atas kepala. Udara pun menjadi sedikit memanas. Mereka berdua telah tiba di pintu gerbang Kota Machion. "Putri Vallena dan Pangeran Melvin, darimana saja kalian? Baginda Raja Tremora sangat khawatir dengan keadaan kalian," tanya Kapten Dunan yang telah menunggu kehadiran mereka berdua di depan gerbang. "Jangan khawatir kapten, kali ini aku yang menjaga adikku sendiri demi mewujudkan impiannya," jawab Pangeran Melvin.
"Kakak, aku akan mampir sebentar ke toko pandai besi Tuan Locosmic, lalu aku akan kembali menuju istana," ujar Putri Vallena.
"Baiklah, aku akan membawa pria ini terlebih dahulu menuju bangsal pengobatan untuk dilakukan perawatan. Sekarang kau boleh mengawal adikku lagj, Kapten Dunan," Pangeran Melvin memacu kudanya meninggalkan Putri Vallena dan Kapten Dunan disana.
"Mari ikut aku ke toko pandai besi Tuan Locosmic," ajak Putri Vallena kepada Kapten Dunan.
Tak berapa lama, mereka berdua pun tiba di depan toko pandai besi Tuan Locosmic. Putri Vallena bergegas turun dari kudanya, sedangkan Kapten Dunan membantu mengikat tali kekang kuda milik Putri Vallena di depan toko, lalu membawakan karung cokelat yang berisikan penuh dengan potongan-potongan Kristal Biru.
__ADS_1