
Putri Vallena dan Kapten Dunan dipersilahkan duduk oleh Seinna, lalu Tuan Locosmic menemui mereka berdua. "Aku telah mendapatkan banyak sekali Kristal Biru," ujar Putri Vallena. Kapten Dunan pun memberikan sekantong besar Kristal Biru kepada Tuan Locosmic.
"Wah, banyak sekali," ucap Tuan Locosmic.
"Paman bisa ambil beberapa untuk Paman simpan, anggap sebagai hadiah dariku," ujar Putri Vallena dengan tersenyum.
"Berarti hanya Batu Sapphire saja yang belum kau berikan," Tuan Locosmic mengambil kantong tersebut.
"Aku akan pergi esok hari, untuk sekarang aku ingin beristirahat," jawab Putri Vallena.
"Baiklah, akan hari ini aku akan meleburkan Kristal Biru ini, kau beristirahatlah," Tuan Locosmic berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu aku pamit, paman," Putri Vallena berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Tuan Locosmic tertawa seraya berkata, "Bukannya aku tak ingin bersalaman denganmu, hanya saja tangan ku sedang sangat kotor."
Putri Vallena pun ikut tertawa mendengar permintaan maaf Tuan Locosmic lalu meninggalkan toko bersama Kapten Duncan.
"Kapten, aku ingin kembali ke istana dan beristirahat, tolong kau temui Ayahku dan katakan padanya aku tidak ingin diganggu seharian ini karena aku sangat lelah sekali," perintah Putri Vallena dari atas kuda tunggangannya kepada Kapten Duncan yang berjalan kaki disebelah kanan Putri Vallena. "Baik, Putri Vallena," jawab Kapten Duncan.
Sesampainya di istana, Putri Vallena bergegas menuju kamarnya, sedangkan Kapten Dunan membawa kuda Putri Vallena menuju istal kuda keluarga kerajaan.
Sementara itu, Pangeran Melvin yang telah membersihkan dirinya, menghadiri acara jamuan makan siang bersama ayahnya beserta Putri Julia.
"Kau dan adikmu kemana saja? Aku sangat mencemaskan kalian," tanya Raja Tremora sebelum memulai acara jamuan makan siang dari kursi makannya.
"Aku membantunya mencari Kristal Biru di Gua Tamahagane, Ayah," jawab Pangeran Melvin.
"Untuk apa? Bisakah kalian pamit denganku sebelum kalian pergi?" tanya ayahnya lagi.
"Ayah, maafkan kami, tetapi kami tidak ingin mengganggu istirahat Ayah, lagipula kami sudah dewasa dan bisa menjaga diri," Pangeran Melvin mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Tetap saja kalian anak-anakku, aku mengkhawatirkan keadaan kalian! Apalagi saat ini Kekaisaran Devourian sedang mengawasi gerak-gerik kita. Kalian harus berhati-hati," tegas Raja Tremora.
"Baik, Ayah," jawab Pangeran Melvin seraya menundukkan kepalanya.
"Dimana adikmu? Mengapa ia tidak ikut makan siang bersama kita?" Raja Tremora celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya.
"Ia sedang ingin beristirahat seharian ini dikamar nya, Kapten Dunan menitipkan pesannya kepadaku," jawab Pangeran Melvin.
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai jamuan makan siangnya!" seru Raja Tremora yang berdiri dari kursi makannya kepada para hadirin.
Alunan musik klasik yang dimainkan oleh pemain biola dan piano, mengiringi jamuan makan siang tersebut. Para pelayan istana pun bergegas menghidangkan makanan di atas meja. Putri Julia yang duduk berhadapan dengan Pangeran Melvin, sesekali mencuri pandang kearahnya. Awalnya, Pangeran Melvin tidak sadar akan hal itu. Namun pada akhirnya Pangeran Melvin memergoki Putri Julia sedang menatapinya. Lalu Putri Julia yang menyadari akan dirinya telah dipergoki oleh Pangeran Melvin, segera menundukkan kepalanya dengan wajah yang merona.
"Putri Julia," panggil Pangeran Melvin.
"I-iya, Yang Mulia," jawab Putri Julia dengan gugup.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Pangeran Melvin setelah meneguk minumannya.
"Syukurlah kalau begitu," Pangeran Melvin pun tersenyum kepada Putri Julia, sehingga membuat Putri Julia tersedak saat sedang menyantap makanan di mulutnya.
Pangeran Melvin bergegas berdiri dari kursinya saat melihat Putri Julia tersedak. Namun Putri Julia mengangkat tangan kanannya sebagai pertanda ia dapat mengendalikan situasi tersebut. Lalu Putri Julia mengusap bibirnya dengan serbet yang ia letakkan dipangkuan nya.
Pangeran Melvin kembali duduk di kursinya setelah melihat Putri Julia kembali tenang. Lalu perbincangan pun dilanjutkan. Putri Julia yang sejak tadi merasa gugup, kini tampak bersemangat saat ia menceritakan apa yang telah terjadi dengan kerajaan ayahnya.
Ditengah-tengah acara jamuan makan siang itu, tiba-tiba terjadi kegaduhan di depan pintu masuk istana. "Hei, izinkan aku masuk! Aku ingin bertemu dengan raja kalian!" teriak pria yang diselamatkan oleh Pangeran Melvin dan Putri Julia di Hutan Hulhula.
"Kau tidak bisa masuk! Hanya tamu undangan saja yang diperbolehkan masuk!" seru salah seorang penjaga.
"Ayolah, sebentar saja!" ucap pria itu.
"Tidak bisa!" jawab seorang penjaga lainnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan memaksa masuk!" ia bersikukuh dengan niatannya bertemu Raja Tremora.
Ia mundur beberapa langkah dan mengambil ancang-ancang. Kedua penjaga di depan pintu pun saling menoleh dan bertatapan karena merasa heran dengan apa yang dilakukan pria itu.
"Satu... Dua... Tiga...!" Pria itu berlari sekencang-kencangnya dan menerjang kedua penjaga pintu masuk istana. "Brak-Bruk!" pintu masuk istana terdobrak yang disertai dengan jatuhnya kedua penjaga ke lantai tertimpa tubuh pria itu.
Para penjaga yang berada di tangga naik menuju kamar tamu beserta Kapten Dunan yang menjaga didepan pintu masuk aula, terkejut melihat kejadian tersebut. Lalu mereka bergegas menghampiri pria itu, sedangkan Kapten Dunan masuk ke dalam aula perjamuan untuk melaporkan kejadian tersebut dan mengevakuasi sang raja.
Baru saja Kapten Dunan melaporkan peristiwa penerobosan tersebut, pintu masuk aula terdobrak dengan satu persatu penjaga yang terpental ke dalamnya. Seluruh hadirin didalam aula menjadi terkejut dan berteriak histeris. Suasana pun menjadi panik dan kacau.
Pria itu masih berdiri di ambang pintu masuk aula dengan kuda-kuda serta nafas yang sesaknya. "Paman Tremora!" teriak pria misterius tersebut.
Merasa dirinya dipanggil, sang raja memperhatikan pria itu dengan seksama dari kursi makannya. Lalu tertawa lah Raja Tremora setelah mengenali pria itu. "Kau rupanya, Porta Leichstedner, anak dari Jendral Qiborda Leichstedner."
Pria itu bergegas menghampiri Raja Tremora, namun segera dihadang oleh Pangeran Melvin. "Siapa kau? Apa kau lupa dengan perlakukan mu kepada adikku saat di Hutan Hulhula?" tanya Pangeran Melvin dengan tegas.
"Apakah kau tuli? Aku adalah Porta Leichstedner. Putra dari jendral tersohor di Kerajaan Synchronesia, Qiborda Leichstedner!" jawab pria itu dengan genggaman tangan kanan di dada kirinya.
"Sombong sekali kau ini! Kau telah membuat kegaduhan di kerajaan ku, sebaiknya segera kau tinggalkan tempat ini!" seru Pangeran Melvin sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Cukup! Kalian berdua duduklah, mari kita lanjutkan perjamuan makan siang kita!" perintah Raja Tremora.
"Tidak Ayah! Sebelum pria ini meminta maaf dan berlutut dihadapan mu, takkan ku biarkan orang ini hidup dengan tenang!" bantah Pangeran Melvin.
"Kau pikir dengan kepalaku yang masih diperban ini tidak dapat mengalahkan mu? Asal kau tahu saja, dengan keadaan ku seperti ini aku masih bisa menggunakan 30% kekuatanku untuk membungkam mulut harimau mu itu!" Porta tersenyum sinis kepada Pangeran Melvin.
"Kalau begitu, kita buktikan di depan halaman istana sana," tantang Pangeran Melvin.
"Baik, siapa takut?!" jawab Porta.
__ADS_1