STARS OF DESTINY : League Of Revelations

STARS OF DESTINY : League Of Revelations
Star 9 - Perpisahan -


__ADS_3

Putri Vallena dan Kapten Dunan kembali menuju istana. Tampak raut wajah Putri Vallena sangat senang. "Terima kasih Kapten Dunan, telah mentraktir roti lapis di kedai itu."


"Suatu kehormatan untuk saya bisa membuat Tuan Putri sebahagia ini," jawab Kapten Dunan.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku dan menghafal teknik pedang," ujar Putri Vallena pamit kepada Kapten Dunan yang berdiri diambang pintu masuk istana.


"Darimana saja dirimu?" tegur Pangeran Melvin yang baru saja keluar dari ruang singgasana dan berpapasan dengan Putri Vallena.


"Aku baru saja pulang dari Toko Pandai Besi Tuan Locosmic. Ada apa kak?" Putri Vallena mengernyitkan dahinya.


"Apa kau tidak tahu bahwa Kekaisaran Devourian akan memulai penyerangan di Kota Arcabellum?" tanya Pangeran Melvin.


"Aku belum mendengar kabar itu, darimana kakak tahu?" tanya Putri Vallena seraya membuka tudung mantelnya.


"Ayah memanggilku dan juga memanggilmu, namun kau tidak berada dikamarmu," wajah Pangeran Melvin tampak kesal.


"Ma-maafkan aku kak, aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu," ujar Putri Vallena tertunduk oleh rasa bersalah.


"Cepatlah temui Ayah, ada yang ingin ia sampaikan kepadamu. Oh... dan juga tetaplah menjauh dari Porta," Pangeran Melvin mengingatkan seraya berlalu.


Putri Vallena memasuki ruang singgasana raja. Disana ia mendapati ayahnya sedang berbicara dengan seorang wanita memakai dress hijau dan putih, mengenakan ikat pinggang wajah Hannya dengan 3 buah pedang, 1 buah Pedang Odachi, 2 buah Pedang Katana. Hiasan jepit rambutnya berwarna emas serta pelindung tangan dari besi berwarna hitam keemasan.



"Ah... ini dia muridmu, Nona Eiko," ucap Raja Tremora seraya berdiri saat melihat Putri Vallena masuk ke dalam ruang singgasana.


"Selamat siang, Tuan Putri Vallena, lama tidak berjumpa" sapa Nona Eiko.


"Eh... kau bukannya Nona Eiko Masashi?, putri dari legenda pedang, Tuan Masashi?" ekspresi wajah Putri Vallena terkejut.


"Benar sekali, aku adalah Eiko Kana Masashi," jawab Nona Eiko.

__ADS_1


"Mengapa tiba-tiba kau kemari?, bagaimana dengan pasukan elit kerajaan?" tanya Putri Vallena.


"Ayahmu memintaku untuk melatih keahlian pedangmu," Nona Eiko tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan rekan setim mu lainnya?" tanya Putri Vallena lagi.


Nona Eiko menghela nafasnya seraya berkata, "Sejak kerajaan kita dalam keadaan damai, kami kembali ke kehidupan kami masing-masing. Lalu saat Ayahku meninggal setahun lalu, aku memutuskan untuk kembali bertani di kebun milik Ayahku."


Nona Eiko mengalihkan pandangan matanya dari Putri Vallena, "Kemudian teman-temanku memutuskan untuk berpisah dan mewujudkan impian mereka. Ku dengar Rexomillian telah menjadi pemilik sekaligus pengelola restoran dan bar di Kota Arcabellum, sedangkan Amellia telah menikah dan menetap bersama suaminya di Kota Bellarum."


"Aku rasa sudah cukup untuk mengenang masa lalu, sekarang saatnya menatap masa depan kita. Saat ini kerajaan kita telah dihantui oleh bayang-bayang Kekaisaran Devourian," ujar Raja Tremora.


"Apa?! Jadi mereka akan segera menyerang kita, Ayah?" wajah Putri Vallena tampak terkejut.


"Tidak lama lagi. Sekarang berlatih lah dengan gurumu, dan jagalah tanah kelahiranmu ini!" seru Raja Tremora.


Putri Vallena lekas bertekuk lutut sebelah kaki dihadapan Nona Eiko seraya berkata, "Aku siap menjadi muridmu, guru."


"Kalau begitu, mari ikuti aku untuk mempelajari hal dasar teknik pedang. Yang Mulia Raja Tremora, saya mohon pamit bersama putri anda," Nona Eiko membungkukkan tubuhnya sedikit tanda memberikan penghormatan kepada Raja Tremora. Raja Tremora pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.



"Kita akan menyerang Kota Arcabellum malam ini melalui Hutan Sura. Kemungkinan di sana mereka telah menyiapkan perangkap untuk mengepung kita. Maka regu pelontar harus bersiap-siap untuk melontarkan batu api ke dalam Hutan Sura terlebih dahulu. Setelah api yang membakar hutan cukup mereda, seluruh prajurit lekas masuk ke dalam Hutan Sura dan menyerbu pintu gerbang Kota Arcabellum. Mengerti?!" seru Komandan Serphano.


"Siap, laksanakan!" seru riuh seluruh prajurit.



"Komandan Wu," sapa seorang jendral Kekaisaran Devourian yang bernama Dominic Zhang.


__ADS_1


"Jendral Zhang," jawab Komandan Serphano.


"Aku percayakan penyerangan ini kepadamu, jangan kecewakan aku," ujar Jendral Dominic.


"Tidak perlu khawatir, serahkan saja padaku," Komandan Serphano melakukan hormat kepada Jendral Dominic kemudian berlalu menuju kuda tunggangannya.


"Seluruh pasukan, waktunya penyerangan!" seru Komandan Serphano kepada seluruh Pasukan yang berbaris di belakang kudanya.


"Kejayaan milik Kekaisaran Devourian!" teriak seluruh pasukan seraya melangkahkan kaki mengikuti Komandan Serphano yang berjalan di depan mereka.


Terdengar hentakan langkah-langkah kaki dari sepatu besi yang menggema, membuat siapapun yang mendengarnya akan menjadi gentar.


Kini hari pun telah menampakkan senjanya. Di Kota Arcabellum, pintu rumah Mayor Zero diketuk oleh seorang Kunoichi. Ia pun bergegas membukakan pintu.


"Aah... rupanya kau, Nona Himawari. Ada keperluan apa datang kemari?" tanya Mayor Zero.


"Aku dan seluruh regu ninja sedang melakukan tugas yang diberikan oleh Gubernur Vestigia untuk mengevakuasi seluruh penduduk kota menuju tempat persembunyian yang aman. Aku meminta agar istri beserta anak-anakmu mengikuti ku menuju tempat persembunyian itu," jawab Himawari.



"Apakah terjadi sesuatu? Mengapa begitu tiba-tiba mengevakuasi seluruh penduduk?" tanya Mayor Zero seraya mengernyitkan dahinya.


"Salah seorang ninja telah melihat pergerakan pasukan Kekaisaran Devourian yang sedang menuju kemari. Di perkirakan tengah malam ini mereka akan tiba disini, dan kau beserta rekan-rekanmu diminta untuk berkumpul dikediaman Gubernur Vestigia sekarang!" seru Himawari.


Mayor Zero segera memanggil istri dan ketiga anaknya. Ia pun menceritakan kepada istrinya apa yang sedang terjadi.


Istrinya menjadi sedih dan meneteskan air mata membayangkan nasib suaminya yang akan pergi untuk berperang lagi. Ia pun memeluk erat Mayor Zero dengan linangan air mata. "Berjanjilah untuk kembali lagi dan lindungilah kerajaan ini, sayangku," ucap istrinya yang diiringi oleh isak tangis. Mayor Zero membalas pelukan istrinya dan berkata, "Aku pasti akan kembali lagi, kau jangan khawatir. Jagalah anak-anak kita. Kalau pun aku tidak kembali, ceritakan lah kepada mereka bahwa Ayahnya adalah seorang pahlawan yang gugur demi kerajaan dan keluarganya."


Istrinya semakin erat memeluk tubuh Mayor Zero yang besar itu dan semakin menjadi isak tangisnya.


"Ayo, sudah banyak waktu yang terbuang. Sebaiknya kita cepat menuju tempat persembunyian," ajak Himawari kepada istri Mayor Zero dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Istri Mayor Zero pun melepaskan pelukannya, lalu Mayor Zero memeluk dan mencium ketiga anaknya satu persatu dengan diiringi tangisan seolah mereka juga ikut takut kehilangan ayahnya.


"Ayah," putrinya yang paling kecil menarik-narik baju ayahnya seakan mengajak ikut bersama mereka. "Ayah harus pergi nak, kau jaga ibumu beserta kakak-kakakmu ya," ujar Mayor Zero yang sedang menggendong putri kecilnya itu seraya meneteskan air mata sembari tersenyum.


__ADS_2