STARS OF DESTINY : League Of Revelations

STARS OF DESTINY : League Of Revelations
Star 6 - Pangeran Melvin Melawan Porta -


__ADS_3

Di Istana Wings Palace, Pangeran Melvin dan Porta sedang berkelahi di halaman istana. Tampak mereka berdua telah babak belur dan terluka, namun belum ada seorang pun dari mereka yang ingin menyerah.


"Tangguh juga dirimu sebagai seorang yang dimanjakan," sindir Porta seraya mengusap bibirnya yang berdarah.


"Aku belum mengerahkan seluruh kekuatanku, ini hanyalah separuhnya saja," Pangeran Melvin tersenyum dengan pipi kirinya yang telah memar membiru.


"Kalau begitu, akan ku bungkam mulutmu yang besar itu," Porta berlari ke arah Pangeran Melvin seraya mengayunkan kepalan tangan kanannya menuju pipi kanan Pangeran Melvin. Melihat serangan yang datang tiba-tiba dari Porta, Pangeran Melvin melindungi wajah dengan kedua tangannya demi menahan serangan itu.


"Whosshh...Tap," tiba-tiba Putri Vallena muncul mencengkram pergelangan tangan kanan Porta dengan kedua tangan lalu menariknya. "Apa?!" seru Porta yang terkejut seraya tubuhnya ikut tertarik. "Hyahh!" Putri Vallena dengan kuda-kuda yang kuat mengangkat tubuh Porta lalu membantingnya ke atas tanah.


"Arggh!" erang Porta disertai darah segar menyembur dari mulutnya. "Sudahi perkelahian ini atau kau akan berhadapan denganku!" Putri Vallena memberikan peringatan dengan wajah yang sangat marah.


"Ka-kau... bidadari yang menyadarkan ku saat di hutan!" wajah Porta tampak terkejut bercampur bahagia karena ia dapat bertemu lagi dengan Putri Vallena.


Putri Julia bergegas menghampiri Pangeran Melvin yang mulai tampak sempoyongan. "Brakk!" tubuh Pangeran Melvin pun limbung tak sadarkan diri namun berhasil ditahan oleh Putri Julia ketika hampir jatuh ke atas tanah. "Kakak!" seru Putri Vallena saat ia menoleh ke arah kakaknya dan Putri Julia.


"Porta Leichstedner! kau ditahan karena telah membuat kegaduhan dan menyerang keluarga kerajaan. Pengadilan kerajaan akan memutuskan hukuman yang pantas untukmu nanti," seru Kapten Dunan yang datang dengan membawa kedua prajurit untuk menangkap Porta.

__ADS_1


"Lepaskan ia!" seru Putri Vallena. Semua khalayak ramai di tempat itu menjadi hening ketika mendengar ucapan Putri Vallena. "Ta-tapi Tuan Putri...," ucap Kapten Dunan seraya memberikan isyarat berhenti kepada kedua prajuritnya. "Aku akan mengampuni mu dengan sebuah syarat," Putri Vallena menunjuk wajah Porta. "Apa syarat itu?" tanya Porta yang masih duduk selonjor di atas tanah. "Bawakan aku dua buah Batu Sapphire, maka kau akan diampuni."


Seluruh orang di tempat itu terkejut mendengar syarat yang diajukan oleh Putri Vallena bahkan oleh ayahnya, Raja Tremora. Sungguh sangat tidak setimpal dengan yang baru saja ia lakukan. "Tapi Tuan Putri, bagaimana kalau ia melarikan diri nanti?" tanya Kapten Dunan. "Kalau dia berani lakukan itu, di pertemuan berikutnya akan ku pastikan ia tewas di tanganku sendiri," jawab Putri Vallena yang melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu ke dalam istana.


"Bisakah kalian membantuku? Tanganku sudah sakit sekali menahan tubuh Pangeran Melvin," ucap Putri Julia kepada Kapten Dunan yang berada didekatnya. "Oh, maafkan kami Putri Julia. Cepat bawa Pangeran Melvin menuju kamarnya! seru Kapten Dunan kepada kedua prajuritnya."Dan kau! segeralah pergi temukan Batu Sapphire untuk Putri Vallena sebelum aku sendiri yang akan mengeksekusi mu disini," seru Kapten Dunan kepada Porta.


Porta pun bergegas lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Raja Tremora beserta para hadirin kembali masuk ke dalam istana.


Hari pun menjelang petang. Raja Tremora mengetuk pintu kamar Putri Vallena, "Vallena, bolehkah Ayah bicara sebentar?"


"Ayah tidak mengerti, mengapa kau begitu baik mengajukan syarat seperti itu kepada Porta? padahal ia telah melanggar hukum kerajaan," tanya Ayahnya dari depan pintu.


"Masuklah Ayah, akan ku jelaskan di dalam," Putri Vallena mempersilahkan ayahnya untuk masuk ke dalam kamar.


"Aku sangat membutuhkan Batu Sapphire untuk membuat pedang baru untukku, aku baru saja kembali dari Gua Tamahagane dan saat ini kakakku tidak dapat menemaniku karena kondisinya yang belum pulih setelah perkelahian tadi siang," jelas Putri Vallena sembari duduk di tepi ranjangnya. "Dan menurutku dia orang yang sangat baik walau sifatnya yang yang kurang menyenangkan. Entah kenapa aku begitu mempercayainya," imbuh Putri Vallena.


"Ayah sangat mengenali Ayahnya Porta. Setahu ayah, dulu Porta adalah anak yang sangat pendiam. Ibunya pun menanamkan kedisiplinan kepada Porta. Namun, entah mengapa anak itu menjadi pembuat onar sekarang," ucap Raja Tremora yang berdiri dihadapan Putri Vallena.

__ADS_1


"Ayah tenang saja, kalau ia berani untuk melarikan diri, aku akan sendiri yang akan mengurusnya nanti sesuai sumpahku tadi," ucap Putri Vallena.


"Tapi karena hal itu, saat ini tersiar kabar ke seluruh penjuru negeri bahwa kau telah ikut melanggar aturan kerajaan yang berlaku, seharusnya kau biarkan saja ia dijatuhi hukuman," Raja Tremora mengusap puncak kepala Putri Vallena.


"Kalau rakyat menghendaki hukuman untukku karena telah ikut melanggar aturan kerajaan, maka hukumlah aku, Ayah. Namun satu hal, selama orang itu masih bisa dimaafkan dan menjadikannya lebih baik lagi, maka aku orang pertama yang akan memaafkannya. Tapi jika orang itu menyalahgunakan kebaikanku, maka aku lah orang pertama yang akan menghukumnya! tegas Putri Vallena.


Raja Tremora tertegun mendengar ketegasan Putri Vallena. Ia pun mencium kening putrinya itu seraya berkata, "Ketegasan mu menurun dari ku, sedangkan rasa kasih sayangmu menurun dari Ibumu. Dan ucapan mu itu membuatku merindukan Ibumu," tampak kedua bola mata Raja Tremora berkaca-kaca.


"Sudahlah Ayah, Ibu tidak pernah meninggalkan kita. Walau tubuhnya telah terkubur oleh tanah namun jiwanya tetap hidup di hati kita," Putri Vallena mencoba menenangkan perasaan ayahnya yang sedih, namun malah membuat air mata ayahnya mengalir.


Putri Vallena bergegas memeluk ayahnya, "Ayah masih mempunyai ku dan Kakak Melvin. Ayah juga masih mempunyai orang-orang yang sangat mencintai Ayah di kerajaan ini. Ibu pasti tidak tenang kalau melihat Ayah bersedih seperti ini."


Raja Tremora melepaskan dirinya dari pelukan Putri Vallena dan bergegas meninggalkan kamar sembari membasuh kedua pipinya yang basah oleh air mata.


Sedangkan dikamar Pangeran Melvin, Putri Julia sedang duduk disebuah kursi di samping ranjang Pangeran Melvin. Tampak wajah Pangeran Melvin dibalut oleh perban, masih tak sadarkan diri. "Wajahmu diperban saja masih terlihat tampan sekali," ucap Putri Julia dengan tiba-tiba. Kedua pipinya pun merona merah. "Ah, apa yang baru saja aku katakan!," ia menggeleng-gelengkan kan kepala berusaha menyadarkan diri dari lamunannya. Namun ia tidak dapat menolak perasaan yang menggebu di dalam hatinya. Seolah dadanya ingin meledak karena menahan gejolak rasa yang selama ini ia pendam.


Bagaikan seorang yang sedang mabuk kepayang, ia pun diterbangkan oleh angan-angan asmaranya sendiri. Sehingga ia tidak menyadari bahwa kini wajahnya telah kian dekat dengan sang pangeran. "Uh...," erang Pangeran Melvin tiba-tiba. Putri Julia pun tersadar dan bergegas kembali duduk di kursinya dengan wajah yang sangat malu.

__ADS_1


__ADS_2