
Keluar dari pusat perbelanjaan, Esme dan Emilia memanggil taxi untuk pulang ke vila.
Dengan rasa penasaran, Emilia melirik Esme di sisinya. “Nona, jika Tuan Besar benar-benar menghentikan uang saku Anda, apa yang Anda lakukan?”
Ada rasa khawatir terlintas di kilauan mata Emilia. Esme menanggapinya dengan senyuman. “Tentu saja melanjutkan hidup.”
“Bagaimana kita bisa hidup tanpa uang?” Alis Emilia dirapatkan dengan erat.
Esme juga belum bisa menjawab pertanyaan ini.
“Nona, apakah Anda benar-benar sangat mencintai Tuan Muda Hall?” Dalam maksud setelah kesembuhan Esme saat ini. Setelah apa yang dia lihat, dia jadi tidak bisa menyimpulkan apa-apa sekarang. Seolah dia tidak mengenal Nona-nya lagi.
“Apa yang kau pikirkan Emilia? Aku pikir kau bisa memahamiku dengan baik.”
“Tentu saya tau, Nona. Anda sangat, sangat, mencintai Tuan Muda Hall. Tapi … dia tidak mencintai Anda.”
Esme hanya tersenyum miris. Dia memahami kata-kata itu lebih baik dari pada Emilia sendiri. Pengingat seperti itu tidak diperlukan.
“Nona, karena Tuan Muda Hall tidak mencintai Anda, maka jangan menjebak diri Anda sendiri di dalam labirin.”
Sekali lagi Esme hanya diam meskipun dia sudah paham semua ini.
“Tuan Muda Hall tidak mencintai Anda, dan dia bersedia memberi Anda begitu banyak uang. Kenapa tidak Anda terima saja?”
“Emilia, apakah kau takut mati kelaparan jika ikut denganku?” Esme menatapnya dengan serius.
“Tidak!” Emilia menggeleng dengan kuat. “Saya selalu dapat mencari pekerjaan. Saya hanya mengkhawatirkan Anda.”
“Jangan khawatir, aku memiliki rasa proporsional.” Esme tersenyum manis.
Tiba di vila.
Jason Hall sedang duduk di ruang tamu dengan satu kaki panjang saling bersilang. Itu adalah sikap malas tapi tetap elegan.
Jason sedang duduk dengan serius, mengamati sketsa desain terbaru Layla.
Dalam kompetisi tahun ini, Jason menempatkan urusan Layla dalam prioritas tertinggi. Setiap sketsa desain itu dilihat dengan sangat teliti dan hati-hati.
Sadar seseorang masuk, Jason melirik Esme yang berjalan dari arah pintu menggunakan gaun ungu pagi tadi. Itu adalah gaun yang sama, tapi melihatnya lagi masih sangat mengagumkan.
Seakan saat ini dia tampak berbeda dari bagaimana dia berada di pagi hari. Ya, meskipun dia sendiri tidak tahu apa perbedaannya.
Esme mengganti sepatunya dengan sandal rumah, lalu memberi tatapan sekilas pada Jason sebelum pergi ke lantai dua mengabaikan pria itu.
Secara kebetulan, matanya melihat sketsa desain di tangan Jason, lalu gerakannya melambat dan secara bertahap berhenti di sisi Jason. Matanya terpaku pada sketsa desain di tangan Jason.
Gaya pada sketsa desain itu mirip dengan gaya berpakaian zamannya.
Tapi, itu jauh kurang halus, elegan dan mengalir.
__ADS_1
Esme melihat sekilas dua sketsa lagi. Kedua gaya itu juga membawa gaya retro. Tidak jauh berbeda dengan gaun yang dia lihat di toko tadi.
Perhatian penuh Esme pada sketsa itu tidak luput dari perhatian Jason. Bibirnya melengkung ke pojok dengan senyum mengejek dan menunggu.
Dia ingin melihat sampai kapan Esme akan mempertahankan ketenangannya ini.
Menurut tempramennya yang dulu, saat dia melihat desain sketsa Layla, kata-kata kasar dan sarkastik secara alami akan mengalir keluar dari mulutnya. Pernyataan yang berlebihan dan tidak beralasan menggerogoti desain Layla sebagai desain paling jelek yang pernah dia lihat.
Bahkan Esme yang dulu pernah mencapai kekesalannya, menyahut sketsa desain itu lalu merobeknya menjadi beberapa bagian.
Jason Hall membuat keyakinan pada dirinya sendiri jika kali ini apa yang dia lihat tidak akan membuatnya tetap tenang.
Seperti biasanya, dia berbalik menatap Jason dengan senyuman. “Ini desain Layla?”
“Bukankah kau menanyakan sesuatu yang sudah jelas?”
“Aku ingat semua entri sebelumnya adalah gaya desain modern. Bagaimana desain ini mengikuti gaya retro?”
“Setelah memenangkan tempat pertama, itu akan didistribusikan ke pasar Eropa dan Amerika. Lalu, perlahan-lahan menjadi trend populer. Jika salah satu desain ini memenangkan tempat teratas, reputasi desainer akan secara alami menyebar ke seluruh dunia.”
Jason memiliki senyum samar ketika menatap Esme. Dengan enteng dia berkata, “Pada saat itu, nama Layla Andreas akan terdengar di seluruh dunia. Dia akan menjadi Ratu pusatnya orang merasa iri dan ikon yang paling dicari.”
Esme tersenyum santai sambil menatap lurus ke Jason. Jangan bilang dia tidak tahu apa motif tersembunyi dari ucapan Jason tadi.
Membual tentang Layla di depannya bukanlah pertama kali bagi pria itu.
“Berdasarkan kreasi ini, dia ingin memenangkan tempat pertama?” Esme melirik kertas itu lagi.
Meski suaranya rendah, di ruang tamu besar dengan hanya ada mereka berdua ditambah Emilia yang berdiri tanpa mengeluarkan suara, suara Esme terdengar tajam dan jelas.
Tanpa ragu, Jason bisa menangkap arti kalimat itu.
Dia tahu Esme tidak akan bisa menahan sandiwara lebih lama lagi.
Bukankah ini benar-benar terjadi? Sekarang, akhirnya dia kembali ke dirinya yang normal.
“Kreasi ini? Bisakah kau mendesain dengan lebih baik?” Hinaan itu terasa jelas di telinga Esme.
“Aku bukan seorang desainer.”
“Jika kau bukan seorang desainer, apa hakmu mengomentari dan menghukum kreasi ini?”
“Karena desain ini … sangat jelek.”
“Begitukah?” Jason memutar matanya. Kedua tangannya berada di atas pegangan sofa seperti Big Master. “Katakanlah, bagaimana kreasi ini jelek?”
“Tidak bisa kujelaskan, tapi ini memang sangat jelek.”
“Esme, bukan kau yang hanya cemburu, tapi kau sama sekali tidak tau apa-apa.”
__ADS_1
Esme mengangkat bahunya. “Aku tidak merasa demikian.”
Setelah beberapa waktu, Esme menambahkan, “Jason Hall, aku dapat menghapus sepuluh persen saham Hall Industry tapi sebagai gantinya aku ingin bekerja di sana.”
“Teruslah bermimpi liar seperti itu.”
Mendengar keinginan Esme, mata Jason menjadi tajam dan dingin. Suasana dingin itu memancar dari seluruh tubuhnya.
Suhu ruangan jatuh tiba-tiba.
Daripada membiarkan Esme bekerja di perusahaannya, dia mungkin bisa mempertimbangkan sepuluh persen saham itu.
“Aku ingin bergabung dengan departemen desain.” Esme mengabaikan tatapan tajam pria itu dan lanjut bicara dengan tenang.
Sebenarnya Esme hanya ingin bekerja dan membuktikan kepada semua orang bahwa dia bukan orang yang tidak kompeten.
Namun, Jason memiliki banyak pemikiran berbeda tentang motifnya. Dalam kepalanya, Esme hanya sosok yang absurd.
“Esme Andreas, jangan menganggap Hall Industry sebagai tempat sampah.”
Makna kalimat itu menunjukkan bahwa Esme tidak lebih dari sampah!
Kali ini Esme menatapnya dingin. “Apakah kau yakin tidak membiarkanku bekerja di Hall Industry?”
“Coba tebak.”
“Bagaimana jika aku bisa membantu Layla untuk memenangkan posisi pertama?”
Jason malah mengejeknya, “Mengandalkan otak sederhana dan terbelakang milikmu?”
“Jason Hall, apakah mengejekku membuatmu merasa bahagia?”
“Kamu yang meminta.”
“Baik, kau tidak membiarkanku bekerja di Hall Industry dan menolak untuk memberikanku sepuluh persen saham. Maka kau hanya perlu menceraikan aku di atas meja.” Selesai mengatakan ini, Esme berbalik pergi menaiki tangga.
Mata gelap Jason menatap tajam punggungnya. Tegap, elegan dengan aura seorang wanita bangsawan.
Apalagi dia juga merasa desain dari Layla ini kurang memuaskan. Tapi dia tidak bisa menentukan tepat di mana letak kelemahannya.
Setelah dikiritik dengan kata ‘jelek’ oleh Esme, kesan yang dia miliki dari desain ini semakin menurun.
Wanita sialan! Satu-satunya hal yang dikuasi wanita itu hanya meredam suasana hatinya.
Apakah mereka jelek hanya karena dia bilang begitu? Tiba-tiba pikiran ini melintas.
****! Dia tidak akan mungkin terpengaruh ucapan wanita sialan itu tadi.
***
__ADS_1