Suami Jahatku

Suami Jahatku
Aku Merasa Panas!


__ADS_3

Setelah membaca seluruh informasi dengan seksama dan mengingat setiap perkataan Esme, tiba-tiba dia merasa jika semua ini berhubungan. Hal yang mustahil, bagaimana Esme berhubungan dengan orang di zaman yang bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini?


Jason menatap layarnya dengan bingung. Noe sudah mencari tahu begitu lama, dan hasilnya adalah Dong Fang Xuan yang satu ini.


Dia memikirkan kalimat Esme terakhir sebelum wanita itu pingsan, dan itu membuat kernyitan di dahinya semakin dalam. Siapa Dong Fang Xuan di mulut wanita itu? Jika Esme mengatakan dia membunuh sembilan koneksi keluarganya, itu artinya Dong Famg Xuan ini ada di dunia ini, di era ini.


Pembunuh yang membunuh Presiden sebelumnya? Atau orang-orang yang menyakiti Ibu penyanyinya itu, Alma?


Tidak peduli siapa itu, dengan kemampuan Noe, mencari tahu tidak akan menjadi mustahil. Jika Dong Fang Xuan ini melenyapkan keluarganya, itu artinya dia tidak jauh dari pembunuh Presiden atau Ibu penyanyinya.


Tiba-tiba, suara air di dalam kamar mandi berhenti. Jason mengangkat matanya memandang ke pintu kamar mandi.


Lima menit setelah air berhenti, orang di dalam kamar mandi masih belum keluar.


Berapa lama waktu yang diperlukan untuk memakai dua potong pakaian?


Jason hampir lupa, lengan Esme terluka. Mengingat ini, Jason menunjukkan sebuah seringai kecil. Dia berjalan menghampirinya, mengangkat tangan untuk mengetuk dengan ringan.


Di dalam kamar mandi, Esme menyahut, “Apa?”


“Berapa lama kau harus mandi?”


“Aku sudah selesai.”


“Kalau sudah selesai, kenapa tidak keluar?”


“Masih duduk di toilet.”


Baik, biarkan dia duduk di toilet dalam damai … tapi, apa dia butuh waktu yang lama?


Lima menit lagi berlalu, tapi Esme tidak juga muncul dari kamar mandi. Jason sekali lagi mengetuk pintunya. “Esme Andreas, jika kau tidak segera keluar, aku akan mendobrak kamar mandi dan masuk.”


“Jason, kau sangat penuh kebencian!” Esme di sisi lain bahkan tidak sedang duduk di toilet. Masalahnya adalah … dia tidak bisa memakai bra-nya.


“Jika kau tidak keluar, aku akan mendobrak masuk dan melakukan hal-hal yang bahkan lebih penuh kebencian.” Jason sudah mulai tidak sabar ketika dia menunggu di sisi pintu.


“Pergi dan panggilkan perawat untukku.” Esme merasa tersudut dan mulai menyerah.


Jason menjadi marah setelah mendengarnya. “Apa yang terjadi?”


“Jangan mengajukan banyak pertanyaan, cukup pergi panggil perawat untukku. Perawat wanita.”

__ADS_1


“Rumah sakit ini hanya memiliki perawat wanita.” Jason menegaskan. Ketika Esme membuat permintaan khusus seperti itu, dia menebak apa yang terjadi. Suara air sudah berhenti begitu lama, tapi dia tidak keluar. Itu pasti karena dia tidak bisa memakai pakaian sendiri.”


“Cepat hubungi salah satu.”


“Oke.” Senyum kelicikan kembali ke wajah Jason. Di saat yang sama, seorang perawat masuk untuk memeriksa pasien.


Jason melambai padanya, mengisyaratkan agar dia mendekat. Karena tampilan Jason yang mempesona, perawat itu sedikit tersipu saat mendekatinya.


“Seseorang mencarimu di dalam.” Jason berkata sambil menunjuk ke kamar mandi dengan dagunya.


Perawat itu kebingungan. Seseorang mencarinya di sana?


Jason mengetuk lagi dan berkata, “Perawat ada di sini.”


“Jangan membohongiku! Bagaimana bisa begitu cepat?”


Mendengar suara Esme, perawat itu tersenyum manis, “Nona Andreas, apakah Anda membutukan bantuan saya?”


Mendengar bahwa benar-benar ada perawat, Esme dengan cepat membuka pintu.


Siapa yang tahu saat pintu terbuka, siluet Jason yang muncul?


“Kau dapat kembali ke pekerjaanmu.” Jason berkata pada perawat sebelum menutup pintu.


“Jason, apa yang kau lakukan?” Melihat Jason yang masuk, Esme dengan cepat mengambil pakaian yang tergantung di rak untuk menutupi dadanya.


Jason memblokir seluruh pintu, memperhatikan Esme dengan penuh minat dan menggodanya, “Bisakah kau menggunakan pakaian sendiri?”


Dia hanya berhasil memakai celananya, wajahnya merah karena malu, “Keluar!”


“Bisakah kau melakukan sendiri jika aku keluar?” Jason mengamatinya dengan eskpresi lucu.


“Kirim perawat masuk, dan aku bisa berpakaian.”


“Mengapa aku tidak bisa melakukan apa yang dilakukan perawat?”


“Kau laki-laki.”


“Aku suamimu.” Perkataannya mutlak. “Tubuhmu, hanya aku yang bisa melihatnya. Seragam tidak memenuhi syarat.”


Setiap kurva di tubuh Esme sempurna. Jason telah berhasil melihat sekilas, tapi itu cukup unruk membuatnya bergejolak.

__ADS_1


Kata-katanya membuat Esme terbakar lebih merah. Sambil menatap Jason, dia membentak, “Aku akan melakukannya sendiri!”


“Jika kau bisa melakukannya sendiri, maka kau tidak akan mengunci diri di sini untuk waktu yang lama.”


Sangat merugikan!


“Aku akan membantumu.” Dengan tenang Jason mengambil bra yang menggantung di rak, sementara tangan yang lainnya melepaskan tangan Esme yang menekan dadanya.


Dengan tangannya menarik diri, embusan udara dingin menyapu kulit Esme. Dua dada yang terlihat menggemaskan, kencang dan lembut bergetar sedikit. Dengan posisi ini, diekspos di hadapan Jason dengan segala kemegahannya.


Wajah Esme memerah karena malu berhadap dia bisa menggali sebuah lubang.


Jason menunduk. Melihat gundukan yang mengencang itu, pupilnya gelap dan tenggorokannya menegang saat dia menelan ludah. Sengatan listrik menyengat di tulang belakangnya.


Esme meberi tampilan yang seolah ingin menelannya utuh. “Apa yang kamu lihat? Cepat bantu aku!”


Jason kembali sadar dan memalingkan muka, menggodanya, “Tubuhmu begitu mempesona.”


“Aku dingin.”


Dengan seringai dia menjawab, “Sayang sekali, aku merasa panas.”


Meski mulutnya mengambil keuntungan, tangannya bergerak dengan cepat saat dia mengaitkan pengait bra itu di belakang punggung Esme.


Ketika tangan hangat Jason meluncur di kulitnya, Esme menegang dengan tegas. Gara-gara lengan kirinya yang digips, membuat Esme sulit menyesuaikan dadanya dengan bra.


Jason tersenyum lebih dalam, mengangkat tangan kirinya, dan membantu dua gumpalan itu dan menyesuaikannya dengan bra.


Ketika kulit telapak tangan Jason menyapu dadanya, Esme menggigil tanpa sadar. Kepalanya tersentak dan dia melotot pada Jason.


“Jangan berpikir macam-macam! Aku hanya membantumu memakai bra-mu dan aku tidak akan melakukan apa-apa lagi.” Jason menunjukkan senyumnya yang menggoda. Namun, suaranya rendah dan serak. Matanya tanpa sadar menyapu dada Esme sekali lagi.


Tenggorokannya terasa kering, dan darah panas melonjak ke otak.


Esme tidak bisa berkata-kata lagi. Apakah Jason ingin melakukan sesuatu yang lain juga? Situasi ini hanya membuat wajah Esme terbakar karena rasa malu. Dia mengangkat matanya dan melihat Jason menatap, membuat jantungnya berdetak kencang. Sangat kencang.


Keringat dingin membasuh tulang punggungnya, mengalir ke jari-jari kaki karena kulit mereka yang bersentuhan. Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan muncul di dalam diri Jason seolah dia sudah berada dalam pertahanan terakhirnya.


“Bentuknya bagus. Kau sudah berkembang dengan baik.” Dia berkomentar sambil menangkup pa yu daranya ke bra.


Esme ingin memarahinya karena dia yang tidak tahu malu, tapi ketika dia bertemu dengan keinginan gelap dan pekat yang berputar-putar di dalam mata Jason, ucapannya tersangkut di tenggorokan. Seolah-olah mata Jason mengandung mantra, semakin lama menatap mereka, semakin dia tidak bisa membebaskan diri.

__ADS_1


***


__ADS_2