Suami Jahatku

Suami Jahatku
Sangat Tersiksa


__ADS_3

Melihat Esme di bawahnya dengan ekspresi pucat, Jason tersenyum iblis. “Esme, aku begitu ingin melahapmu sekarang.”


Otak Esme berdengung seketika setelah dia mendengar kata-kata itu. Takut setengah detik, lalu dia mendorong Jason dengan semua kekuatan yang dia bisa. “Jangan mengacau, Jason!”


Meski begitu, kekuatannya dibanding Jason adalah perbedaan antara langit dan bumi. Jason bahkan tidak bergerak sedikit pun!


Asataga … kenapa dia berat sekali!


Kedua tangan Jason memegang kepala Esme, meralarang dia bergerak dan agar tidak menghindari matanya. “Esme Andreas, lihat aku!”


“Lepaskan aku!”


“Tidak.”


“Apa kau sedang menunjukkan sikap tidak malumu?”


“Itulah yang sedang aku rencanakan.”


“Jika kau tidak pergi, aku akan berteriak!”


“Esme, kita adalah suami istri.” Jason mengingatkan dengan lembut, tapi seperti ada sebuah peringatan dan cibiran di dalamnya. Seolah kata itu sebuah pengingat, jika dia berteriak, betapa tidak malunya dia.


“Bukankah hal ini normal? Atau, kau berpikir untuk membuatnya lebih heboh?” Jason sedikit menyeringai.


“Apanya yang normal? Kau bahkan memberiku surat cerai.”


Mata Jason menggelap saat dia mengamati wajah Esme, lalu sedikit menyentak, “Sobek!”


Esme terkikik. “Atas dasar apa? Atas dasar apa aku harus melakukan itu setelah mendengarmu menyuruhku untuk menyobeknya?”


“Atas dasar karena aku Jason Hall. Kau lupa, aku sedang memperbarui itu. Entah aku yang memanjakanmu, atau kau yang memanjakanku. Durasinya selama sepuluh ribu tahun. Karena kau tidak menjawab, baiklah, aku akan memulainya lebih dulu. Mari kita nikmati sepuluh ribu tahun kita mulai saat ini.”


Dengan ringan Jason mencium bibir Esme, sentuhan lembut sebagai permulaan setelah deklarasinya tadi.


Seperti sebuah aliran listrik yang mengalir, tubuh Esme merasa menggigil karena sarafnya berhenti berfungsi seketika. Ketika bibir tipis itu menyentuhnya, semua pemikiran dalam kepalanya lenyap. Wajah tampan Jason kini berada tepat di depan matanya.


Dia … menciumnya lagi.


Merasakan tidak ada perlawanan, Jason memperdalam ciumannya. Menggigit, menggigit dan menggigit. Bibir Esme begitu lembut. Semakin dia merasakannya, semakin sulit untuk melepaskan. Manisnya perasaan ini membuatnya terperosok, menenggelamkan, dan membuat kecanduan.


Sebaliknya, Esme terus menatap kosong.

__ADS_1


Wajah yang dipahat dengan sempurna, mata yang tak bisa dipahamai dengan alisnya yang gelap seperti tinta. Setiap inci hanya menunjukkan kesempurnaan.


“Bodoh! Tutup matamu saat berciuman!” Bibir Jason melengkung indah, menanggung senyum penuh kasih sayang. Jarinya mengusap lembut di atas alis Esme.


“Jason Hall ….” Tatapan Esme menusuknya. Suaranya lembut dan jernih. “Aku sekarang tidak punya keinginan untuk membuka diriku sendiri.”


Esme berkata tanpa kepura-puraan saat dia memandang Jason dengan serius. Jason merasa seperti ada seember air dingin yang ditumpahkan di kepalanya saat ini. Perasaan seperti ini adalah yang terburuk.


Suara rendah dan seraknya datang, “Sampai kapan?”


“Sampai aku jatuh cinta padamu lagi.”


“Dan kapan itu?” Jason ingin sebuah kepastian.


“Tidak tahu.”


Tangan besar Jason di wajah Esme menegang. Ketika dia melihat ke bawah, hanya ada jarak satu sentimeter di antara wajah mereka. “Esme, aku tidak percaya kamu tidak lagi mencintaiku.”


“Terserah kamu. Percaya atau tidak, itu masalahmu.”


“Baiklah. Lupakan itu. Apa hubungannya kau mencintai aku atau tidak? bahkan jika kamu tidak mencintaiku, kau masih harus melakukan tugas seorang istri.”


Jason menundukkan kepalanya lagi, secepat kilat, menjepit mulut Esme dan tidak memberikan kesempatan untuk memikirkan satu kata pun.


Semua pikiran dan bahkan udara di paru-parunya di rampok. Namun, hatinya semakin tenggelam ketika pria itu memperdalam ciumannya.


Perbuatannya hanyalah melakukan tugas suami istri?


Esme tidak memberikan perlawanan lebih lanjut, karena apa pun yang dia lakukan, hanya semakin membuat dirinya kelelahan saja. Membiarkan pria itu menciumnya dan menyentuhnya seperti yang dia suka.


Seiring berjalannya waktu, Esme merasa malam ini dia akan terjun ke tanah terlarang. Namun tiba-tiba, Jason berhenti.


“Aku tidak bisa menyentuhmu saat ini.”


Esme mengedipkan matanya beberapa kali. Kedua pipinya masih merah, dan pandangannya masih berkabut. Terlihat dalam kebingungan. Apa artinya tidak bisa menyentuhnya saat ini?


Pikiran Esme berayun pada keberadaan Layla di chalet. Secsra otomatis, dia menyimpulkan bahwa itulah sebabnya. Tanpa disadari, hatinya terasa tertusuk. Bahkan pada saat ini, Jason masih mempertimbangkan keberadaan Layla.


Jason mengalihkan berat badannya, tapi dia tidak turun dari tempat tidur. Sebaliknya, ia berbaring di sisi Esme. Tanpa Jason menekannya, Esme langsung merasakan kemudahan bernapas.


Karena Jason dengan keras kepalanya menginginkan tempat tidur, maka dia akan memberikan itu padanya. Dia hanya akan tidur di lantai!

__ADS_1


Tepat saat dia hendak bergerak, Jason tiba-tiba menarik pinggangnya, menenggelamkan dia di bawah tubuhnya. “Jangan bergerak. Lebih baik tidur.”


Tubuh Esme membeku, seperti sebuah papan yang terbaring di sana. Dia terlihat sangat jinak dan berkelakuan baik. Saat Esme berbaring di sisi Jason menatap lampu Kristal di langit-langit, pikiran rumit berputar-putar di kepalanya.


Ini adalah pertama kalinya Jason memeluk pinggangnya untuk tidur bersama.


Jason menyadari bahwa Esme sedang menatap cahaya di atas dengan pemikiran yang dalam. Dia tidak bisa menahan keinginan untuk bertanya, “Apa yang kamu pikirkan?”


Esme memandangnya, matanya menatap tajam saat dia bertanya, “Mengapa kau tidak bisa menyentuhku saat ini?”


Pada awalnya Jason tercengang dengan pertanyaan itu, tapi setelahnya, senyuman jahat muncul di wajahnya, “Kau ingin aku menyentuhmu?”


“Tidak.”


“Bohong.”


“Apa karena Layla?”


Seketika, sinar memikat di mata Jason lenyap karena pernyataannya. Dengan muram dia membalas, “Semua berjalan lancar sebelumnya. Kenapa tiba-tiba membahas Layla?”


“Kau tidak bisa menyentuhku karena ada Layla di sini, kan?”


“Layla Andreas ada di sini? Di mana?” Mata Jason menyapu sekeliling ruangan.


“Di chalet ini.”


“Apa hubungannya denganku?”


“Apakah kamu tidak berhenti karena memikirkan dia barusan?”


“Sepertinya lubang di otakmu tumbuh lebih besar.” Jason benar-benar tercengang dengan pernyataannya.


Esme mengerutkan kening. Bertanya dengan ekspresi bingung. “Bukankah begitu?”


Jason malah semakin gemas mencekram pinggangnya. “Aku bukanlah seorang pria pengejar rok, menatap panci sambil memakan yang ada di mangkukku. Wanita bodoh! Jika bukan karena akibat kecelakaan mobil yang menolongmu saat ini dan tubuhmu yang lemah, apakah mungkin aku menyiksa diriku sendiri seperti ini?”


[Menatap panci sambil memakan yang ada di mangkuk, dalam arti serakah. Mengarahkan pandangan ke setiap wanita yang ada.]


Esme telah melanggar ucapan dokter untuk lebih banyak beristirahat, dan sekarang setidaknya diperlukan tiga bulan untuk pulih dari pemulihan sebelum dia bisa berhubungan. Dia baru saja kehilangan bayi di perutnya. Bagaimana mungkin menambahkan hentakan yang keras secara bertubi-tubi lagi ke tubuh itu?


Sebelum tiga bulan penyembuhan berlalu, Jason tidak berani menyentuhnya lebih jauh. Dia takut tubuh Esme akan rapuh, tidak bisa menangani aktivitas berat.

__ADS_1


Jadi … dia sangat menahannya dan sangat tersiksa.


***


__ADS_2