
Begitu dia melarikan diri dari ruangan, Layla mulai menangis. Mengingat bagaimana kerasnya Jason memperingatkan dia dan membuang makanan yang dia bawa, dia merasakan sebuah kesedihan dan kegagalan yang besar. Ditambah lagi, Jason tidak segan memberikan semua perhatiannya pada Esme.
Esme menyukai Jason saat wanita itu berumur tiga belas tahun, tapi dia menyukai Jason sejak masa puber. Perasaannya terhadap Jason dimulai jauh lebih awal dari yang dilakukan Esme, dan dia mengenalnya lebih awal dari pelacur itu!
Kenapa pada akhirnya yang Jason nikahi justru Esme, dan bukan dia? Apakah itu karena Esme telah menguntitnya sepanjang waktu sampai mereka menikah?
Di luar rumah sakit, Clara sedang menunggu Layla. Dia tidak menyukai Esme, jadi dia tidak ikut masuk. Melihat Layla menangis saat dia bersembunyi, dia terperangah, “Kakak, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?”
Layla mengabaikannya, terisak-isak berlari ke dalam mobil. Clara duduk di kursi kemudi, sementara Layla di kursi penumpang. Tetapi Clara tidak menyalakan mesin, dia menatap Layla dengan cemas, “Apakah pelacur itu mengganggumu?”
Meskipun dia tidak menyukai Esme sebagai adik, tapi dia menahan diri untuk tidak mengintimidasi wanita itu di keluarga Andreas. Terutama ketika dia menyukai Jason, sampai mereka akhirnya menikah.
Dan hari ini menjadi berlipat ganda saat dia menyaksikan cara Jason memperlakukan Esme dan bagaimana pria itu memarahinya.
Hatinya benar-benar hancur!
“Apa yang terjadi?” Clara masih dalam kebingungan.
Apakah Layla perlu menangis sampai sejauh ini hanya karena Tuan Muda Hall baik pada Esme? Selama ini dia tidak pernah melihat Layla menangis.
“Di depan mataku, Jason membuang supku ke tong sampah, mengatakan jika dia tidak akan membiarkan Esme menyiksa perutnya dengan makan makanan yang aku buat. Dia … dia bahkan memarahiku! Tapi menghibur Esme dan mengatakan dia akan memasak untuknya di masa depan.”
Ekspresi kecemburuan mutlak melintasi mata Clara saat dia mendengar kata-kata itu dari Layla. Pelacur Esme, benar-benar beruntung!
Dia mengerutkan kening seolah sangat terganggu, “Tuan Muda Hall tiba-tiba baik pada Esme. Mungkinkah dia hamil?”
Pertanyaan ini semakin memicu Layla, tubuhnya bergetar saat dia berteriak, “Bagaimana mungkin? Bahkan jika iya, terlempar dari kuda pasti akan meruntuhkan janin itu, kan?”
“Kau benar ….”
“Kaulah yang harus disalahkan!” Tiba-tiba Layla menatap dingin pada Clara.
“Kakak, kenapa kau menyalahkanku lagi?”
__ADS_1
Bisakah Layla tidak menyalahkan siapa pun di kepalanya?
“Itu karena kau membius Jason! Itu mendorong dia untuk tidur dengan Esme. Dia mulai memperlakukan Esme dengan baik setelah itu. Dan itu semua adalah idemu! Berpikir itu adalah ide yang bagus untuk Esme!”
Clara merasa terluka mendengar tuduhan itu, “Bagaimana aku bisa mengerti jika semua ini akan terjadi?”
“Oh, kau tidak tahu? Kau tidak tahu, ya? Mengapa keluarga Andreas memiliki seseorang yang bodoh sepertimu?!”
“Kakak, apakah kau berpikir aku ingin Tuan Muda Hall memperlakukan Esme dengan baik? Aku justru berencana merusak reputasinya, dan dengan begitu Tuan Muda Hall mencapai keputusan untuk menceraikannya.”
“Jason sudah memutuskan untuk menceraikan Esme sejak awal! Ini semua salahmu! Kau mendorong mereka bersama-sama!”
Mata Layla sangat dingin, lebih tajam daripada pedang saat dia mengarahkan pandangannya pada Clara. Semuanya, semua kesalahan yang telah terjadi ditumpahkan ke tubuh Clara.
Mata Clara memerah karena sedih, melihat Kakaknya memperlakukan dia seperti ini. “Kakak, aku tidak berusaha mendorong mereka bersama, aku ….”
“Jangan katakan lagi!” Layla tiba-tiba membentak dengan suara kasar. Di dalam mobil orang luar tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi, oleh karena itu tidak perlu menekan atau menyembunyikan perasaannya.
Meskipun Clara sudah terbiasa dengan kepribadian Kakaknya, itu masih tidak cocok dengan dia yang disalahkan dan dibentak ketika dia tidak melakukan kesalahan.
“Sudah menjadi kenyataan Jason memperlakukan Esme dengan baik. Jika kita ingin dia membencinya seperti di masa lalu, kita harus memikirkan cara untuk benar-benar menghancurkan reputasinya.” Suara Layla yang dingin terdengar lagi.
“Apa sisa reputasi Esme yang belum ternoda?” Clara bertanya bingung, dan suaranya sedikit tersedak, “Bukankah dia berubah menjadi bayi tak berdosa akhir-akhir ini? Bahkan pakaian dan gayanya tidak sama. Bagaimana caramu memikirkan agar dia kembali ke keadaannya yang dulu?”
Layla juga termenung. Ini … apa yang harus dia lakukan untuk mewujudkan itu?
Esme kembali merasa sakit setelah punggungnya terlalu lama duduk. Jason membaringkannya dengan lembut, bahkan menutupinya dengan selimut dengan penuh perhatian. Mengangkat kepalanya, dia melihat Seth yang masih dalam ruangan.
Mata Jason menggelap dengan mengancam, “Kenapa kau belum pergi?”
Sudut bibir Seth melengkung dengan senyuman iblis. “Aku menunggumu untuk mengundangku makan siang.”
“Aku ingin menemani istriku.”
__ADS_1
“Kau masih harus makan bahkan jika kau ingin tinggal dengan istrimu.”
Esme menatap dengan mata mengantuk, “Pergi dan makan sesuatu dengan Seth.”
“Aku tidak lapar.”
Seth berjalan mendekatinya. Satu tangan menggenggam bahu Jason saat dia berkata, “Kau memiliki banyak waktu untuk menemani istrimu. Ayo makan!”
Jason ingin menyingkirkan Seth. Alisnya yang tebal mengerut bersama saat dia memelototi tangan Seth. Dua lelaki menyentuh dan menahan, sikap macam apa ini?
Namun, Esme mengecam seperti dia mengusir mereka, “Kalian berdua pergi saja! Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak jika ada orang lain berada dalam ruanganku.”
“Apakah kau mendengarnya? Istrimu tidak suka kau melekat padanya.” Seth berteriak main-main, tapi jauh di telinga Jason, kata-kata itu menyengat.
Jadi, ini adalah rasanya dibenci oleh seseorang yang kita cintai?
Jason keluar ruangan dan mengayunkan tangan Seth dengan ekspresi dingin.
Seth memperhatikan gelapnya ekspresi Jason dan dengan cepat berkata, “Aku yang akan membeli, oke?”
“Aku tidak membutuhkannya.” Dia punya uang.
“Esme butuh istirahat, jadi kau harus beristirahat dengan baik. Jika kau membuat dirimu mati kelaparan dan jatuh sakit, siapa di sana yang akan merawatmu?” Sambil menggelengkan kepala, Seth berkata, “Aku tidak mengerti dengan kalian berdua. Di masa lalu, dia yang menempel padamu. Dan sekarang, kau yang menempel padanya. Apakah itu disebut karma berlaku?”
Jason tidak mau memperdulikannya, berjalan lebih dulu mendahului Seth. Tapi dalam hatinya, kata-kata itu sedikit mengusik.
Ketika Jason kembali, itu sudah berlalu satu jam. Membawa tempat makanan di tangannya, dia masuk perlahan mendekat ke sisi tempat tidur. Kedua matanya menatap wajah Esme yang tertidur lelap.
Tanpa riasan, wajah Esme justru terlihat semakin cantik dan lembut. Di masa lalu, dia selalu menunjukkan wajah dengan riasan tebal, membuatnya malas melihat terlalu lama.
Dan sekarang, melihat wajah ini, dia tidak bisa menahan tangannya. Seolah bergerak sendiri, itu terulur ingin membelai wajah Esme.
Begitu tangannya hampir menyentuh, mata Esme tiba-tiba terbuka.
__ADS_1
***