Suami Jahatku

Suami Jahatku
Sikapmu yang Membuatku Dingin


__ADS_3

Begitu mendengar tawaran Seth, Esme langsung menyahut, “Sekarang?” Mata Esme bersinar, sedikit tergoda.


Jarang bertemu dengan seseorang yang tidak membencinya dan mau membicarakan banyak hal dengannya. Melihat Seth, dia merasa sangat tertarik.


Cara Seth melihatnya dipenuhi dengan harapan dan niat baik, jadi Esme tidak tega menolak undangan Seth. Dan lagi, ini adalah kesempatan dia untuk menjalin hubungan pertemanan. Tidak dapat dia pungkiri, kelak dia pasti membutuhkan seseorang untuk mendukungnya.


“Kapan pun yang kamu sukai.” Melihat Esme yang tidak menolak undangannya, senyum Seth yang cerah jadi lebih cerah lagi.


Kata ‘hebat’ hampir lolos dari bibi Esme karena kegirangan, tetapi dia berhasil menggigit kembali kata itu. Mengingat dia masih belum menemukan penjahit untuk membuat gaun yang dia rancang, dia tidak bisa buru-buru. Sebaliknya, dia tersenyum malu.


“Bagaimana dengan minggu depan? Aku tidak bebas dalam dua hari nanti.”


“Yakin?”


“Apa yang menyenangkan di padang rumput?”


“Berkuda, memanah, minum anggur susu kuda, dan tentu saja, menikmati pemandangan alam yang indah!”


Esme berseri-seri saat dia meringsut dan berkata sedikit lebih rendah, “Semua kegiatan itu adalah favoritku.” Berkuda, memanah, dia benar-benae merindukan itu.


“Itu luar biasa untuk didengar. Ini juga favorit hidupku.”


Meliriknya, tatapan Esme memiliki makna curiga. “Favorit hidup?”


“Ya.”


Sekali lagi, Esme menatap dia dengan keraguan. “Bukannya favorit hidupmu adalah wanita dan uang?”


“Wanita hanya menyukai wajah dan uang saja. Dan, aku tidak bisa mempercayakan seluruh perasaan dalam hidupku pada mereka. Uang tidak lain adalah faktor eksternal, itu hanya membawa kepuasan meterialistik, tapi tidak bisa memberi saya kebahagiaan dari aspek spiritual atau psikologis.”


“Mereka yang baru saja kau sebutkan, dapat memenuhi kebahagiaan yang kamu cari?”


“Tentu saja.”


Esme bertanya dengan nada menggoda, “Kau suka naik kuda jantan, atau betina?”


“Kuda betina. Karena ini memberiku susu kuda, aku suka meminum anggur kuda.”


Esme tertawa kecil padanya. “Aku setuju.”


“Tidak kusangka kita memiliki banyak kesamaan.”

__ADS_1


Jason berdiri di tangga, menyaksikan Esme dan Seth berbicara dan tertawa bersama dengan gembira satu sama lain. Matanya yang gelap terbakar, alisnya tiba-tiba terangkat dengan skeptis.


Ini adalah pertama kalinya dia melihat Esme yang tertawa seperti ini, tulus, riang dan bahagia. Matanya seperti ujung pedang saat dia melihat lengan Seth yang terlalu dekat dengan bahu istrinya.


Apakah dia memiliki keinginan untuk mati lebih cepat dengan mendekati istrinya?


Sepertinya mereka telah merasakan tatapan Jason pada saat yang sama.


Dua orang yang saat ini sedang berbisik mengangkat kepala mereka dan melihat Jason hampir meledak.


Hanya dengan melihat pria ini, apa pun suasana hati yang baik telah menguap menjadi udara tipis.


Seth tampak tidak menyadari bahaya di dalam situasi, tapi justru masih memberikan senyum cemerlang pada saat dia memanggil, “Jason Hall, keahlian membuat teh istri kamu adalah nomor satu.”


Tatapan dingin Jason menyapu ke peralatan teh di atas meja kopi. Apalagi dia sempat mencium aroma harum dari teh ini tadi. Meski begitu, Jason tetap tidak percaya kalau Esme tahu caranya menyeduh teh.


Wanita ini … apakah dia masih Esme yang dia kenal?


“Mengapa kamu masih berdiri di sana? Masih ada satu cangkir tersisa. Cepat datang ke sini dan rasakanlah!” Seth kembali menyesuaikan posturnya, duduk tegak, jari-jarinya yang ramping menyodorkan Jason kursi.


“Kenapa kau masih di sini?” Jason mengangkat kakinya, melangkah ke arah mereka, dan duduk memotong jarak antara Seth dan Esme. Kedatangannya membawa aura dingin yang menyengat.


“Tuan Muda Thanos juga suka minum teh?” Jason mencibir.


“Bukannya aku tidak suka minum teh, hanya saja kebutuhanku sangat tinggi. Dan ini adalah pertama kalinya aku merasakan teh harum seperti yang dibuat oleh Esme.”


Suhu di mata Jason turun dengan jelas. Seth selalu lebih suka minum anggur kuda. Jika tidak, pilihan lainnya adalah minuman beralkohol lain. Minuman seperti teh dan sejenisnya … sejauh pengetahuan Jason, Seth tidak akan pernah tertarik.


Seth memiliki kepribadian yang lugas dan jujur. Jika dia member pujian seperti itu, itu membuktikan betapa terampilnya pembuatan teh Esme.


Namun, mendengarkan pujian sahabatnya untuk Esme, entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman.


Jason duduk di antara Seth dan Esme, menyilangkan kaki panjangnya dengan malas. “Lima menit. Singkirkan dirimu dari rumahku sekarang.”


Seth memasang wajah memelasnya. “Lima menit? Aku masih belum cukup di sini.”


“Aku yakin, kau tidak ingin semua kuda di kandangmu mati.”


“Kau memang kejam, Jason!” Seth mendengus, merajuk dan berdiri. Dia mengarahkan wajah marah pada Jason, dan dalam sekejap matanya berubah berseri-seri dengan senyum kebahagiaan saat menatap Esme. “Esme, jangan lupa untuk memanggilku kapan pun kau bebas.”


“Aku tidak punya nomormu.”

__ADS_1


Secara fleksibel, Seth memberikan kartu nama dengan senyum samar, “Nomor ponsel dan telepon rumahku tercatat di sini.”


“Oke.” Esme menerima kartu itu dengan senang hati.


Tatapan Esme bertahan sampai mengirim Seth keluar. Bukan karena dia tidak tahan untuk berpisah, tapi dia tidak ingin melihat ke belakang.


Memang untuk apa? Untuk melihat wajah Jason yang gelap? Dia merasa tidak tertarik dengan itu.


Cuaca di luar cukup bagus, bunga-bunga bermekaran dan lebah juga terlihat begitu indah. Namun, Jason tidak memiliki sentimen yang sama.


“Orang itu sudah pergi, apa yang bisa dilihat?” Jason menegurnya.


“Orangnya sudah pergi, tapi aromanya masih tertinggal.”


“Esme Andreas!” Jason mendidih dengan kemarahan.


Perlahan, Esme menoleh dengan kebingungan yang terlihat jelas di seluruh wajahnya. “Kau sepertinya tidak terlalu senang.”


“Kau benar-benar bermain mata dengan pria lain di depanku?” Tatapan tajam Jason membebani Esme.


Esme mempertahankan eskpresinya yang polos dengan mengedipkan mata. “Aku hanya membuat dua pot teh untuknya, dan dia sudah memujiku bagus. Bagaimana ini disebut menggoda?”


“Kau tau caranya menyeduh teh?”


Esme menampilkan senyum briliannya, “Apakah begitu sulit dipercaya?”


“Lalu, apalagi yang kau tau?”


Esme dengan sengaja memainkan rambut panjangnya saat dia memikirkan setiap kata tanpa terburu-buru. “Mm … aku sepertinya tidak bisa mengingat untuk saat ini.”


“Kecelakaan mobil tunggal dapat menyebabkan perubahan dramatis padamu? Sekarang aku sangat ragu jika kau adalah Esme Andreas yang kukenal dulu.”


Wajah Esme tampak tenggelam pada ucapannya, “Tidak perlu diragukan lagi, aku benar-benar tidak sama dengan Esme yang dulu.”


Mata Emilia hampir meloncat dari rongga matanya karena terkejut mendengar kalimat itu. Bagian akhirnya membuat hatinya sakit untuk Esme.


Berhadapan dengan wajah poker Jason, Esme berkata lagi, “Ini bukan kecelakaan mobil yang memicu perubahan drastis padaku. Itu adalah sikapmu yang membuatku sedih dan membuat hatiku menjadi dingin.”


***


Terima kasih yang sudah memberi dukungan dan vote ya ... bab kedua akan menyusul nanti. Happy reading dan terima kasih sudah mengikuti cerita ini ....

__ADS_1


__ADS_2