Suami Jahatku

Suami Jahatku
Tidak Memenuhi Syarat Sebagai Musuh


__ADS_3

Ketika Emilia masuk ke kamarnya, Esme baru saja keluar dari kamar mandi menggenakan baju tidur sederhana. Dia baru saja mencuci rambut, dan masih basah ketika dia keluar dari kamar mandi. Tetesan air yang berkilauan menggantung di ujung rambut, jatuh ke bawah.


“Nona, Tuan dan Nyonya serta Nona Kedua semua ada di bawah. Tuan meminta Anda untuk turun sebentar.” Emilia berkata sambil memperhatikan Esme.


Melirik ke luar jendela, Esme berkata, “Sudah sangat malam. Untuk apa mereka datang kemari?”


“Sepertinya ini bukan sesuatu yang bagus dilihat dari udara di sekitar mereka.” Emilia menggerutu.


Esme mengambil handuk, mengeringkan rambut saat dia berjalan turun.


Ketika dia hampir mencapai langkah paling bawah, dia bisa merasakan tatapan marah yang diarahkan Roy dan Anita padanya.


Jason duduk malas di sofa, tapi ada aura ketidaksukaan yang keluar dari tubuhnya memenuhi ruang tamu yang luas. Matanya menyipit dengan tajam dan dingin. Baik Roy dan Anita, bisa merasakannya dengan jelas.


Anita mengira Jason kesal karena Esme membius Clara, dia pikir itu sebabnya Jason mengungkapkan ekspresi dinginnya yang begitu luas. Dia sangat berharap Jason bisa menceraikan Esme di tempat. Lebih baik lagi jika dia memberikannya tamparan gemilang di saat yang sama.


Esme memberikan kesan yang tidak bisa dijelaskan pada Clara dengan penampilan yang baru saja mandi. Rambut sedikit basah dan sedikit berantakan dengan tetesan air. Kulitnya yang dibelai oleh pancuran air panas tampak lebih kenyal dan lembut. Bahkan lebih di bawah cahaya, seolah-olah air bisa keluar darinya.


Kecemburuan yang kuat berkelip di mata Clara. Bahkan caranya melihat Esme menjadi lebih tajam dan lebih bermusuhan dari Roy dan Anita.


Selain Jason, tiga orang di ruang tamu memandang. Esme mengerutkan kening, namun dia ingin tertawa di saat yang sama. Mereka datang larut malam hanya untuk melihatnya dengan mata seperti itu? Seolah dia adalah musuh yang telah membunuh kakek buyut mereka atau semacamnya.


Jason perlahan mengalihkan perhatian ke arahnya. Dan ketika menyadari rambutnya masih basah, ekspresinya tenggelam lebih dalam. Secara kebetulan, Esme melihat ke arahnya dan mata mereka bertemu di tengah jalan.


“Esme Andreas, kau seorang pelacur!”


Dengan tiga tangga terakhir yang tersisa sebelum Esme memasuki ruang tamu, Anita bangkit dengan marah. Memaki, dan menunjuk wajah Esme.


Anita mengira Esme akan marah ketika dia memanggilnya seperti itu dan akan datang untuk memukulnya dengan kemarahan. Dengan begitu, dia bisa mengatakan jika Esme memang tidak terkendali, menyerangnya dan dia bisa meminta Jason untuk menghukumnya.


Sayangnya, Esme berhenti tepat di tangga, menatap dengan tatapan dingin pada Anita.

__ADS_1


Apa yang terjadi?


Bukankah Esme arogan, sembrono dan tidak tahan dengan seseorang yang memarahinya? Dan dia suka berkelahi, bukan? Dia telah melompat ke depan, memanggilnya pelacur sambil menunjuk ke arahnya, jadi mengapa reaksinya begitu dingin?


“Tidak cukup dengan reputasimu yang seburuk itu? Mengapa kau menggunakan cara tercela untuk merusak masa depan Clara?”


Tidak mau menyerah, Anita terus menggunakan telunjuknya, menunjuk wajah Esme, menggunakan kata-kata kasar dan kekerasan mengalir tanpa sumbat.


“Kau hanya pelacur seperti Ibumu! Kalian berdua suka menggunakan cara tercela untuk mencuri suami orang lain! Kau lebih buruk dari Ibumu. Bukan hanya kau mencuri suami orang lain, kau bahkan menghancurkan ketidakbersalahan orang lain! Esme, tidak peduli seberapa tidak malunya dirimu, pasti ada batasnya. Clara adalah Kakakmu!”


Jason mendengarkan dengan tenang, tapi pandangannya berubah tipis dan membuat suasana semakin mencekam.


Esme mengejek dengan jijik. “Tolong beritahu aku, suami siapa yang aku curi?”


“Layla!”


“Oh ….” Bibir Esme melengkung dengan senyuman membuat cibiran dingin. Namun, dia tetap cantik, membuat gelombang iri di hati Clara.


Tubuh Jason condong dengan malas ke sofa, sementara mata phoenix yang mempesona itu hanya menangkap gambar Esme. Kemarahan dan kecemburuan pecah dalam dirinya, tapi pada saat yang sama, perasaan ini membuatnya merasa ingin menangis.


“Nyonya Andreas, siapa suami Layla?” Esme bertanya dengan rasa penuh ingin tahu.


“Dia ….” Anita berbalik dan menunjuk Jason dengan matanya. Saat itulah dia menyadari Jason sedang menatap dirinya dengan dingin dan tajam.


Mata yang menakutkan! Anita hampir melompat keluar dari kulitnya. Sisa kata-katanya tertahan di tenggorokan. Meskipun kata itu tidak diucapkan dengan jelas, tapi tindakannya sudah menunjukkan.


Apa yang ingin dia katakan adalah Jason suami Layla.


Ketika Anita menunjuk Jason, Esme menuruni tangga, melewati Anita dengan senyum melengkung dan mengandung sarkasme.


“Siapa?” Esme bertanya padanya lagi, duduk di sebelah Jason, mengajukan pertanyaan yang sudah dia ketahui jawabannya.

__ADS_1


“Esme, mengapa kau menghancurkan Clara?”


Ketakutan oleh pandangan Jason, Anita memilih kabur dan kembali ke masalah utama. Setelah semuanya, tujuan utamanya hari ini adalah untuk mengetahui kenapa Esme melakukan itu pada anaknya.


Mata Esme perlahan mengalihkan fokus mereka pada Clara, “Aku membiusmu?”


Melihat mata Esme, jantung Clara menegang sesaat dalam ketakutan. Dia dengan hati-hati melihat ekspresi Jason sebelum menyatakan dengan lemah, “Jika bukan kau siapa lagi?”


“Hehehe ….” Esme mengeluarkan tertawa yang meremehkan.


Roy tertegun oleh dengung sarkastik Esme. Dia membesarkan Esme sebagai seorang putri, tapi dia belum pernah melihat Esme yang dingin, jauh dan tenang. Ada aura mulia di sekitar Esme, seolah-olah orang di depannya ini bukan anaknya.


“Apa yang kau tertawakan, Pelacur? Kau menghancurkan kepolosan putriku!” Sekali lagi Anita membentaknya. Ingin sekali mengirim tamparan untuk Esme, tapi ketika dia menatap Jason, tatapan pria itu membekukannya di tempat.


Bukankah seharusnya Jason berada di sisinya? Mengapa dia terlihat begitu mengancamnya ketika memarahi Esme?


Anita merasa sangat sedih, seperti serigala yang menangis, dia meratapi hatinya, “Tuhan tidak adil! Putriku sangat baik, dihancurkan oleh pelacur seperti dia! Tuhan tidak memiliki mata …!”


“Esme, seberapa besar dendammu pada Clara?” Mata Roy menusuk tajam Esme, tidak seperti seorang Ayah memandang anaknya.


Esme tersenyum cerah, “Aku tidak punya dendam atau kebencian kepada siapa pun.” Pada saat mengatakan ini, matanya tertuju pada Anita dan Clara. “Kalian semua tidak memenuhi syarat untuk dianggap sebagai musuhku.”


Roy jelas kehilangan wajahnya, tapi dia memasang badan, menunjukkan keganasannya pada Esme. “Karena kita tidak memenuhi syarat untuk menjadi musuhmu, mengapa kau membius Clara? Beruntung dia hanya pingsan dan diselamatkan. Bagaimana jika dia bertemu dengan pria tercela? Maka seluruh hidupnya akan hancur olehmu. Apa kau mengerti itu?”


“Aku tidak memberi obat pada siapa pun. Aku juga tidak peduli dengan metode tercela itu.”


“Clara menjadi seperti itu dan dilucuti setelah meminum minuman yang kau berikan kepadanya. Bagaimana mungkin kau tidak mengakuinya?” Mata Roy bersinar merah.


“Benarkah?” Esme justru menunjukkan senyum lembut, lalu beralih kembali pada Clara. “Apa aku memberimu minuman dan menyuruhmu meminumnya?”


***

__ADS_1


__ADS_2