
Mendengar pertanyaan ini dari Esme, Jason sama sekali tidak terpengaruh. Dia justru menjawabnya dengan pertanyaan juga, “Apakah kamu menyukai dirimu yang ini, atau sebelumnya?”
Esme kaget karena dia tidak memiliki kesan yang baik untuk pemilik tubuh yang asli, tapi itu hanya ke arah kepribadiannya. Pemilik tubuh asli mengganggu Jason, ya, dan semua itu untuk mendapatkan perhatiannya.
Pemilik tubuh yang asli menyayanginya, tidak ada kesalahan dalam hal itu.
“Aku tidak pernah menyukai diriku sendiri.” Esme mengungkapkan dengan senyuman. Mendengar ini, tatapan Jason semakin mendalam.
Esme tidak mau membahas terlalu jauh mengenai perasaan dan cinta dengannya. Karena itu, dia mengubah topik. Dia memajukan dagunya sambil berkata, “Potong dengan cepat, aku lapar.”
“Tidakkah kamu melihat aku sudah memotong steak di depanmu?” Jason berkata sambil menunjuk piring di depan Esme dengan lirikan matanya. “Apa kau tidak tahu cara memakannya?”
“Tapi aku sudah memakan apa yang ada di depanmu.”
“Ini baik-baik saja.”
Untuk sejenak, Esme bingung dengan jawabannya.
Ingatan pemilik tubuh yang asli mengatakan bahwa Jason adalah orang yang memperhatikan kebersihan. Seseorang yang menempatkan sebuah kebersihan di bagian paling atas dalam daftar hidupnya.
Apa dia baik-baik saja makan dengan air liurnya?
Melihat Esme yang linglung dan bukannya makan, Jason mendesaknya, “Mengapa kamu tidak makan? Bukankah kau bilang kau lapar?” Ketika Jason selesai mengatakan ini, dia memasukkan potongan steak ke mulutnya, mengunyah sambil melihat Esme.
Sepasang mata phoenix gelap dengan cahaya memikat menawan, menyebabkan detak jantung Esme lebih cepat dan dia menjatuhkan tatapannya.
Esme melanjutkan makan malam dengan bingung. Sambil menghindari tatapan tajam Jason yang tertuju padanya sepanjang waktu, dia benar-benar tidak bisa merasakan makanan dengan benar.
Semuanya terasa hambar, meluncur ke dalam kerongkongannya begitu saja ketika emosi kompleks dia rasakan dalam waktu yang sama.
“Kau masih belum memberitahuku perusahaan tempatmu bekerja.” Bahkan Jason menunggunya untuk memberitahu itu sendiri.
Jason melihat bekas tusukan merah dan memar ungu di jari-jari Esme. Alisnya berkerut, “Kau bekerja di tempat bordiran?”
Esme merasa kosong sekali lagi. Apakah membuat gaun dihitug sebagai pekerjaan sulaman?
__ADS_1
Dia mengangguk, “Ya.”
“Pekerjaan bordir adalah pekerjaan tingkat rendah yang tidak memberikan banyak gaji.” Jason berkata dengan dingin. Wanita sialan ini, haruskah dia menyusahkan dirinya sendiri seperti ini?
“Ini akan meningkat di masa depan.” Esme menjawab denga sikap acuh tak acuh.
“Bagaimana jenis pekerjaanmu? Bari tahu aku nama perusahaan itu!”
Berani sekali perusahaan itu mengizinkan istrinya melakukan pekerjaan kasar seperti itu! Paling tidak, dia seharusnya menjadi anggota tetap staf kantor.
Esme mengangkat kepalanya, lalu tersenyum, “Apa yang salah? Apakah kau merasa tertekan?”
Sebelum Jason menjawab, Esme menegaskan, “Jangan tanya. Aku tidak akan memberitahumu tempat perusahaanku bekerja.” Berhenti sebentar, Esme menambahkan, “Aku tidak suka kau mencampuri urusan pekerjaanku.”
Jason menyeringai dingin mendengar ini. Bahkan sekarang dia tidak mengizinkannya ikut campur dalam pekerjaannya? Dulu, dia suka pamer di depannya. Berharap mendapat pujian darinya. Tapi sekarang, semua yang dia lakukan dirahasiakan darinya.
Pada awalnya, dia benar-benar marah ketika Esme tidak kembali saat makan siang. Tidak tahu kenapa, ketika dia melihat luka-luka di jari-jari wanita itu, kemarahannya menguap. Tidak hanya itu, bahkan ada perasaan … sakit hati.
Kesehatannya tidak dalam kondisi yang baik untuk bekerja. Di masa lalu, Esme yang suka memaksakan diri, pada akhirnya dia sendiri yang kelelahan lalu mengurung diri di kamar.
Sebelumnya, dia tidak pernah merasakan sakit hati seperti ini.
Merasa tertekan akan seorang wanita, merasa khawatir akan seorang wanita, ini benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman dan membuat dia meragukan dirinya sendiri.
“Makanlah dengan cepat.” Jason berkata, menutupi kebingungan di matanya yang terus berputar-putar.
Setelah makan malam, Jason dan Esme meninggalkan restoran. Ketika mereka berjalan keluar dari lobi hotel, Clara yang sedang makan malam dengan Layla langsung melihat mereka. Matanya hampir meloncat keluar dan tangannya membentur meja dengan suara mendesak, “Kakak, cepat lihat! Bukankah itu Tuan Muda Hall dan Esme?”
Layla segera menghentikan gerakannya, memutar badan untuk melihat.
Esme dan Jason keluar dari hotel. Satu di depan, dan satu lagi di belakang. Wajah Layla berubah signifikan. Mereka datang untuk makan malam?
Jason Hall makan malam dengan Esme?
Banyak pikiran yang membebani kepala Layla, karena Jason Hall tidak pernah membawa Esme untuk makan malam.
__ADS_1
“Esme Andreas, pelacur itu!” Clara menatap dengan kejam ke arah Esme.
Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan di kepala Layla. Dia merasa sedikit khawatir dan takut hal yang paling berharga akan direnggut oleh orang yang paling dibencinya. Karena dia tahu, jika itu terjadi, Jason tidak akan pernah kembali ke tangannya lagi.
Tentu saja ada juga kebencian ….
Tanpa riasan dan pakaian yang mewah dan mahal, ‘Tempat Sampah’ itu terlihat cukup rapi. Clara merasa kesal dengan penglihatannya ini.
Mengapa baik dia maupun Layla tidak memiliki gen untuk wajah secantik itu dan bentuk tubuh yang bagus?
“Makan!” Layla berbalik, memelototi Clara.
Clara sudah bisa melihat mood Layla berubah menjadi buruk. Dia berkata, “Aku tidak merenggut lelakimu, kenapa kau memelototiku?”
“Ini semua salahmu karena Jason menyukai Esme!” Layla mengingat usaha Adiknya yang gagal dalam membius Esme dan menggertakkan giginya dengan marah.
Clara merasa sangat bersalah. “Bagaimana mungkin itu salahku? Aku membenci pelacur itu melebihimu.”
“Jika Jason Hall benar-benar jatuh cinta pada Esme, itu karena dia tidur dengannya terakhir kali.”
Clara tercengang, kemudian dia tampak berdalah di depan Layla.
Tatapan Layla berubah menjadi dingin dan keras. “Bagaimana jika Esme memiliki cara untuk membuat Jason Hall kembali padanya?”
“Bagaimana itu mungkin?!” Reaksi Clara menjadi berlebihan. “Bukankah dia sendiri juga membius Tuan Muda Hall sebelum itu, bahkan sampai dia hamil? Tuan Muda Hall memaksanya melakukan aborsi.”
Jika Jason benar-benar menginginkan Esme, mengapa Jason bertindak begitu kejam, memaksa Esme untuk menggugurkan bayi mereka?
“Memang apa yang kau ketahui?” Layla membentak Clara. “Jason Hall sangat peduli dengan bayi itu!”
“Apa?!” Saat Clara bertanya dicampur dengan nada terkejut, itu sama dengan sebuah bentakan.
“Aku bilang, Jason Hall sangat peduli dengan bayi mereka. Ada alasan kenapa Jason melakukan itu dulu."
Clara tidak mau mendengar bagaimana kisah yang sebenarnya, karena dari ucapan dan tatapan Layla, hal ini sudah menunjukkan sesuatu yang buruk.
__ADS_1
Namun, sisi lain dalam hatinya ingin mengetahui itu. "Kakak, apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti."
***