Suami Jahatku

Suami Jahatku
Menghapus Namanya


__ADS_3

Tangan Esme terangkat tinggi, mendarat sangat keras ke pipi Anita tanpa keraguan. Kekuatannya membuat Anita menjerit, saat kepalanya bergulir ke sisi lain.


Rasa sakit menjalar ke semua wajahnya. Namun, Anita juga tidak berani mengangkat tangan sedikit pun karena Noe terus menekannya hanya dengan tatapannya saja. Dia sadar jika dia mengangkat tangan, maka telapak tangan selanjutnya yang mendarat di wajahnya bukan lagi milik Esme, melainkan pria itu.


Tidak menunggu Anita menarik napas, Esme meluruskan dadanya dan mengangkat tangannya lagi, memberinya tamparan di sisi lain.


Esme menyerangnya tanpa ampun, kiri, kanan, dan terus seperti itu.


Selama bertahun-tahun, mereka telah menindas pemilik tubuh asli, akhirnya kini terbayarkan.


Melihat putrinya sendiri memukul istrinya, suasana hati Roy sangat buruk. Dia ingin maju untuk mendorong Esme pergi, tapi setiap kali dia melihat tatapan Jason, dia dengan pengecut menghentikan semua tindakannya.


“Kau pelacur―”


Tamparan Esme menjadi semakin parah setiap kali Anita mengutuknya. Akhirnya Anita tidak sanggup, jatuh terduduk di sofa dengan menangis memegangi wajahnya.


Clara ketakutan setengah mati oleh tindakan Esme. Bahkan Emilia mengungkapkan ekspresi tertegun. Ini … Esme Andreas yang mereka kenal selama ini?


Setelah selesai dengan Anita, Esme menatap dingin ke Clara. “Giliranmu.”


Clara ingin kabur, tapi Noe menghadang dengan tubuhnya dan saat itu juga Esme menamparnya dengan cepat dan keras.


“Esme, kau berani memukulku? Ahh ….!”


Esme tidak memiliki belas kasihan dan memberikannya tamparan di sisi lain. Hal serupa kembali terulang.


“Kau sudah mencoba membiusku berulang kali. Aku akan memukulmu dengan jumlah yang sama.”


Esme berhenti, hanya setelah dia menampar Clara berturut-turut selama empat kali.


Clara mencekram rasa sakitnya. Matanya yang menatap Esme dipenuhi dengan kebencian.


“Kau bahkan berani menyukai suamiku? Kau layak dipukul!” Esme menggunakan satu tangan untuk menangkap wajah Clara dan menggunakan tangan lain untuk memukul setelahnya.


Tamparan kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya hingga membuat robekan di bibir Clara dan darah mengalir dari sana.

__ADS_1


Melihat dari samping, reaksi Roy semakin terkejut. Wanita di depannya ini sama sekali bukan seperti putrinya.


Meskipun Esme arogan sebelumnya, tapi di depan Layla dan Clara, dia hanya tas jerami. Bagaimana dia berubah hari ini? Roy melirik Jason.


Bibir Jason melengkung, dan jejak kepuasan terlihat nyata saat dia menonton Esme.


Roy tiba-tiba kaget. Jadi seperti ini? Hanya dengan bantuan Jason, Esme berani dengan sombong memukul mereka seperti ini ….


Setelah Esme selesai, dia berbalik dan berjalan kembali ke sisi Jason lalu duduk.


Dia melirik Jason dan tiba-tiba mengungkapkan ekspresi puas. “Tanganku sakit.”


“Coba aku lihat.” Jason mengangkat kedua tangan Esme. Tangan putih itu sudah memerah karena benturan. Dia mengerutkan kening dan berkata, “Lain kali, biarkan Emilia yang melakukan pekerjaan kasar seperti ini.”


Emilia membeku. Bagaimana dia bisa melakukan itu? Dia tidak berani melawan mereka.


Anita dan Clara menangis kesakitan, tapi mata mereka menatap Esme seolah ingin membunuhnya.


Mendengar tangisan mereka, Jason mengangkat alisnya menatap Roy dengan dingin, “Masih tidak mengambil orangmu dan segera pergi? Mungkinkah kau berniat tinggal di rumahku untuk malam ini?”


Clara meraung dan tangisnya semakin kuat.


Setelah mereka semua pergi, ruang tamu menjadi sangat sepi.


Jason memegang tangan Esme dan dengan lembut mengusap tangannya. Sedangkan Esme tidak menarik tangannya lagi, membiarkan Jason menggosoknya. Suhu hangat Jason menyebar ke seluruh telapak tangannya dan membuat jantungnya melunak untuk beberapa waktu.


“Terima kasih.” Esme mengangkat suara memulai percakapan.


Jason memandangnya dengan aneh, “Terima kasih untuk apa? Mengapa kau harus berterima kasih padaku?”


“Membuktikan bahwa aku tidak memusnahkan Clara.”


“Kamu adalah istriku. Bukankah melindungimu adalah apa yang seharusnya aku lakukan?”


…….

__ADS_1


Layla langsung mendorong pintu ruang kerja Jason tanpa mengucap apa pun. Pria itu bersandar malas di kursinya, sementara tangannya memutar-mutar bulpoin. Awalnya dia duduk dengan ekspresi anggun, tapi melihat Layla yang tiba-tiba meledak di dalam kantornya, ruat wajahnya berubah dingin dan pandangannya menajam.


“Direktur Hall, mengapa aku tidak ada dalam daftar karyawan berprestasi?” Layla bertanya dengan tergesa-gesa.


Setiap tahun pada saat ini, Hall Industry akan memposting daftar karyawan berprestasi dan mereka yang terpilih akan mendapat bonus dengan murah hati. Layla tidak pernah keluar sejak dia bergabung dengan Hall Industry. Dia mempersembahkan banyak keuntungan untuk perusahaan ini.


Dia sudah bekerja keras selama ini, dan semua desainnya selalu menduduki puncak tangga tertinggi atas penjualan. Bahkan kompetisi kemarin pun dia masih memiliki nilai. Dia tidak mengerti mengapa sekarang namanya tidak ada dalam daftar.


Tatapan Jason begitu tajam padanya. “Ketika setiap kali karyawan mulai bekerja, perusahaan memberi mereka buku untuk pegawai. Apakah kau sudah membaca?”


Cahaya cemerlang Layla bersinar di matanya, “Laporan kinerja menunjukkan bahwa tahun ini aku yang terbaik. Tapi kenapa tidak ada dalam daftar karyawan berprestasi?”


“Untuk menjadi karyawan berprestasi, selain kinerja luar biasa, mereka juga harus jujur.”


Layla memucat pada ucapan ini. Apakah itu karena kejadian di pesta Shopia, mengklaim, bahwa desain pemenang adalah rancangannya dan itu sebabnya kualisifikasinya dicabut?


“Direktur―” Layla ingin menjelaskan, tapi di saat yang sama, pintu ruangan terbuka. Itu Esme, masuk dengan menggunakan seragam Hall Industry. Mata Layla membulat kaget saat dia menatap Esme.


Esme melirik acuh tak acuh padanya sebelum beralih pada Jason. “Jason, bukankah rok ini terlalu pendek?”


Jason mengamatinya. Menggenakan seragam yang tampak professional, Esme tampak elit, dewasa dan cantik. Pandangannya jatuh di atas garis rok Esme tepat di atas lutut. “Bagus. Tidak terlalu pendek.”


“Ini ketat.” Esme, dengan sudut pandang dari mana pun, tidak menyukai desain pakaian modern.


Mata Jason bepergian sepanjang kaki Esme dan berkata lagi, “Tidak ketat. Itu cocok untukmu.”


“Kau mulai bekerja di Hall Industry?” Layla mengalami kesulitan mempercayai apa yang dilihatnya. Esme tidak memiliki keterampilan, dan pendidikan sekolahnya paling tinggi hanya sekolah menengah. Apa yang akan dia lakukan di Hall Industry?


“Jika aku tidak bekerja di sini, mengapa aku memakai seragam Hall Industry?” Esme bertanya dengan cibiran.


Ketika seseorang bekerja untuk Hall Industry, mereka harus mematuhi aturan yang sangat ketat. Bukan hanya kinerjanya, bahkan berpakaian memiliki standar tertentu. Pada hari kerja normal, pakaian professional adalah wajib.


“Aku menjadikan Esme sebagai Ketua Tim dua Departemen Desain.” Jason menoleh ke arah Layla. "Dia baru tiba, biarkan dia melihat-lihat perusahaan.”


Layla merasa hatinya telah ditikam tanpa ampun oleh Jason. Dia yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun, bagaimana Esme yang tidak memiliki keterampilan apa pun bisa datang dengan level yang sama dengannya?

__ADS_1


***


__ADS_2