
...JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA TEMAN YANG BERBAIK HATI, KASIH VOTE NYA JUGA YA...
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun belum ada tanda-tanda kepulangan mas Randy. Sekarang aku tengah menunggu kepulangan mas Randy sendirian di ruang tamu sambil mengotak-atik remote televisi. Tak ada satu siaran pun yang dapat membuat hatiku tenang.
Selain khawatir dengan keadaan mas Randy aku juga takut berada di rumah besar ini sendirian. Bagaimana tidak takut, sebelumnya dimalam hari aku tidak pernah berada di rumah sendirian. Bahkan, untuk tidur sendirian aku jarang sekali hanya ketika berada di rumah. Hidup dan dibesarkan di pondok membuatku sudah terbiasa dengan keramaian, selain tidur dengan ramai mandi pun kami dalam keramaian. Sebagai seorang santri kami bukan berarti tidak takut dengan yang berbau mistis. Ketika selesai ngaji malam, diantara kami ada yang sering menakuti teman yang hendak ke kamar mandi, kami sering cerita hal-hal berbau hantu sampai-sampai kami dalam satu kamar tidur saling berdempetan.
Ingin menghubungi mas Randy tidak tahu bagaimana caranya, nomor ponselnya tak kumiliki. Menghubungi Mama dan meminta nomor ponsel mas Randy padanya sama saja akan membuatku berada dalam jurang kemarahan mas Randy.
Bagaimana ini? Sekarang jam sudah menunjukkan dini hari, tanda-tanda kepulangan mas Randy pun masih sama, nihil. Semakin malam semakin membuatku merinding, lafadz zikir, salawat dan bacaan ayat kursi sedari tadi tak berhenti ku ucapkan. Apa aku harus minta tolong pada tetangga sebelah untuk mengizinkanku tidur di rumah mereka? Tapi, aku sama sekali belum mengenal mereka. Aku berada di rumah ini pun baru malam kedua, apa aku harus menyusahkan tetangga?
Aku harus berfikiran positif, mungkin mas Randy banyak pekerjaan dan mungkin saja ia menginap di Kantor. Sebenarnya aku tidak tahu pekerjaan seperti apa yang mas Randy pegang, Mama mengatakan ia seorang CEO perusahaan yang didirikan oleh kakek mas Randy. Entah apa yang dikerjakan seorang CEO itu aku tidak mengerti. Yang aku mengerti tentang pekerjaan itu hanya seperti, apakah ia seorang guru berarti ia bekerja sebagai pengajar, jika ia seorang dokter berarti dia orang yang bekerja di rumah sakit dan tugasnya mengobati orang yang sakit, Jika ia seorang petani maka ia bekerja di kebun, jika seorang nelayan maka ia bekerja mengambil ikan, dan pekerjaan lainnya yang ada di sekitarku. Yang kulihat mas Randy hanya bekerja didepan laptopnya saja.
Baiklah! Sepertinya mas Randy memang benar-benar tidak pulang malam ini. Kuberanikan diri menghampiri rumah tetangga.
Didepan rumah ini terdapat dua orang satpam. Aku menghampri keduanya dengan rasa bersalah.
"Ada apa neng tengah malam begini keluar rumah?" tanyanya padaku sambil membuka gerbang,
"Maafkan saya pak, saya mengganggu kalian. Saya warga baru disini pak, dua hari lalu saya dan suami baru pindah rumah, rumah kita disitu." Jawabku dan menunjuk rumah kami,
"Ooh rumah itu ya neng. Terus, neng kenapa keluar malam begini?
"Suami saya belum pulang pak, katanya harus lembur. Saya takut di rumah sendirian!" Jawabku sedikit berbohong, sepertinya semenjak menikah dengan mas Randy membuatku menjadi orang yang sering berbohong.
"owalah, neng, neng. Jadi neng mau begimane?"
"Sebenarnya saya segen pak mau mengatakannya. Boleh tidak pak kalau saya menginap di rumah ini untuk malam ini saja?"
"Waduh, begimane ya neng. Tuan sama Nyonya pasti sudah tidur, gak enak kalau dibangunin."
"Karena itu saya segan kemari pak, tapi saya benar-benar takut di rumah sendirian. Saya mohon pak, izinin saya sama bapak saja di pos jaga."
"Tapi neng, kasian atuh nengnya diluar, dingin, neng ndak papa kalau neng tidur disini?
"Ndak papa pak, seharusnya saya berterimakasih sama bapak sudah baik sama saya."
"Ya sudah, neng istirahat saja. kita Disini juga tidak tidur, neng ndak usah takut,"
Aku duduk di pos jaga mereka. Allah, terimakasih engkau mempertemukan ku dengan orang sebaik mereka ditempat yang tidak ada seorangpun yang aku kenali. Tak sadar air mata menetes dengan lancangnya membasahi kedua pipi ini dan lebih parahnya lagi tidak bisa berhenti, suara isak pun terdengar sangat memilukan dari bibir ini.
"Neng, jangan nangis atuh. Kalau ada masalah cerita saja sama kita anggap saja kita orang tuanya neng!" Ucap salah satu satpam itu padaku,
__ADS_1
"Saya tidak papa kok pak. Maafin saya pak, gara-gara saya bapak jadi repot."
"Ndak papa neng," Ucapnya singkat "Bagaimana kalau kita tanya sama Tuan saja, kalau Tuan tahu kita biarin anak gadis tidur diluar seperti ini juga tuan pasti marah" Lanjutnya bertanya pada satpam satu lagi.
"Ndak usah pak, takut ngerepotin lagi,"
Tanpa menghiraukan ucapan ku merekapun memberanikan diri memencet bel rumah. Tampak keluar seorang pria paruh baya seperti usia Ayah.
Merekapun menghampiriku dan mengajakku masuk kedalam rumah. Meninggalkanku dan kedua satpam tadi di ruang tamu tak lama kemudian datang seorang wanita paruh baya bersamanya.
"Kanapa gak dibilang dari tadi sih pak kalau ada gadis cantik disini? lihat! Kalau dari tadi dibilang, kan, air mata ini gak akan menetes!" Ucap ibu itu yang sudah ada di hadapanku sembari menghapus bekas air mata yang masih ada di pipiku.
"Maaf Nyonya!"
"Udah, gak usah nangis lagi sayang!" Ucapnya padaku. Sungguh mulia hati ibu ini, bagaimna ia bisa bersikap begitu baik padaku orang yang tidak sama sekali ia kenali.
"Maaf Bu, saya mengganggu istirahat kalian semua!"
"Tidak sayang. Panggil Bunda saja ya, Bunda sangat senang kalau Bunda ada teman disini." Ucapnya ramah, "kalian semua pergi saja ketempat masing-masing, saya mau kumpul sama anak saya. Ayah juga tidur sendirian sana! Bunda mau tidur sama anak kita!" ucapnya pada semua orang.
"Iya Bun!" Kemudian semua orangpun meninggalkan kami berdua.
Aku pun diajak ibu ini yang katanya harus aku panggil Bunda. Kami tidur di ranjang yang sama, banyak yang ia ceritakan padaku. Ternyata mereka pasangan yang tidak karuniai anak, aku sedih mendengarkannya padahal mereka orang yang sangat baik.
Selepas sholat shubuh aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Ternyata mas Randy benar-benar tidak pulang semalaman, rumah yang aku tinggalkan masih sama sepi seperti tadi malam.
Seperti perintah mas Randy aku segera membersihkan seluruh rumah dan isinya. Setelah itu bersiap pergi untuk ke kampus.
Di kampus aku lebih bersemangat, mempunyai teman seperti Rania adalah suatu kebahagiaan bagiku. Rania begitu banyak mengajariku ilmu yang dimilikinya. Jika ada tugas kuliah dia dengan telatennya mengajariku bukan hanya sekedar mata kuliah ia bahkan dengan sabarnya mengajariku yang begitu gaptek.
Malam ini seperti malam kemarin. Tak ada kabar mas Randy yang aku terima. Apa aku harus menghubungi Mama? sepertinya itu bukan jalan keluar. Waktu yang terlewati dengan duduk menunggu sudah membuat hari semakin karut malam. Tak ingin kejadian seperti kemarin terjadi, aku harus memberanikan diri di rumah ini. Bagaimna kalau mas Randy pulang dan tak menemui ku di rumah? pasti ia akan marah besar.
"Tok, tok, tok....." Akhirnya mas Randy pulang juga,
Aku segera membuka pintu dan mendapati mas Randy berdiri didepan pintu dengan keadaan sangat buruk.
"Brukk" Aku terjatuh dan berada di bawah mas Randy yang menubrukku ketika melangkahkan kakinya memasuki rumah.
Beberapa detik mata kami saling berpandangan.
"huek," Aku langsung berdiri mengabaikan mas Randy yang aku jatuhkan dilantai. Bukan tanpa alasan, tapi bau yang aku cium dari tubuh mas Randy tak dapat ku tahan berada didekatnya.
__ADS_1
Benar. Mas Randy mabuk. Allah, apakah aku pantas mengeluh lagi kepadamu? Tidak. aku tahu jawabannya tidak karena setiap seorang hamba tidak dibenarkan untuk mengeluh. Tapi kenapa?
Air mata ini tak dapat ku tahan, ia mengalir begitu dengan derasnya.
Bukan cuma meninggalkan tiang agama dengan seenaknya ternyata mas Randy juga seorang pemabuk.
Kulihat mas Randy berjalan dengan setengah kesadaran dan menjatuhkan dirinya di sofa kemudian kesadarannya pun hilang.
Apa ini yang dulu pernah dikatakan Mama, "jika suatu saat kamu tahu sesuatu keburukan Randy, Mama mohon jangan tinggalkan Randy. Bimbinglah ia menuju jalan yang benar!"
Allah. Aku bukanlah seorang ahli ibadah. Apakah aku bisa mengajak mas Randy menuju jalan-Mu? Allah, kumohon berikanlah hidayahmu secepatnya pada mas Randy, tanpa hidayah-Mu tidak mungkin aku bisa mengajak nya menuju surga-Mu.
...Like...
...like...
...like...
...like...
...like...
...komen...
...komen...
...komen...
...komen...
...komen...
...vote...
...vote...
...vote...
...vote...
...vote....
__ADS_1
...Jan lupa ya teman-teman yang baik hati...