Suamiku Benci Aku

Suamiku Benci Aku
Mas Randy Cemburu?


__ADS_3

Sesampainya di minimarket aku langsung masuk diikuti mas Randy yang berjalan di belakangku yang tengah sibuk dengan gadgetnya.


Aku memilih barang yang akan kami beli sesuai kebutuhan kami berdua, asik dengan belanjaan tiba-tiba seseorang memanggilku.


Mbak Aqila?" Tanya seseorang dari belakangku,


"Eh, ada kang Hafidz!" Ucapku ketika menoleh kebelakang ternyata kang Hafidz yang memanggil ku,


"Mau belanja juga kang?" Lanjut ku,


"Iya mbak, kebetulan kebutuhan di kos udah habis." Jawabnya ramah,


"Mbak Qila ngekos daerah sini ?" Lanjutnya,


"Eeh, i-iya kang, gak jauh dari sini."


"Saya juga ngekos daerah sini mbak, masuk gang belakang minimarket ini."


"Ehm, ehm" dehem seseorang yang ternyata mas Randy, karena saking keasikan bicara dengan kang hafidz aku sampai lupa dengan Mas Randy. Kulihat mas Randy yang tadinya hanya fokus pada gedged nya kini memandang kami dengan pandangan menakutkan,


Bagaimana ini? Jangan sampai kang Hafidz tahu kalau aku sudah menikah. Di kampus memang belum ada yang mengetahui pernikahanku, aku berpikir lebih baik merahasiakan nya terlebih dahulu mengingat hubunganku dengan mas Randy masih terasa ngambang.


Kulihat kang hafidz yang tengah memandang kearah mas Randy dengan pandangan heran.


"Maaf Om, ada apa ya? Tanya kang Hafidz sopan,


"Sudah selesai? Ayo pulang" Bukannya menjawab pertanyaan kang Hafidz, mas Randy malah menarik tanganku dengan kasar menuju kasir,


"Kang, saya pamit duluan ya" ucapku pada kang Hafidz sambil berjalan karena tarikan dari mas Randy.


Sekarang kami telah sampai di rumah dan aku tengah merapikan barang belanjaan tadi, padahal masih banyak yang kurang, tapi apa boleh buat mas Randy sudah mengajak pulang. Seharusnya aku bersyukur karena ia telah mau menemaniku belanja, suatu perubahan yang sangat besar bagiku.

__ADS_1


Seperti biasanya, tidak ada percakapan diantara kami mulai dari mas Randy menarik tanganku di minimarket sampai sekarang, hanya hening.


Entah ia marah aku berbicara dengan lawan jenis, entahlah, aku tidak tahu. Aku berharap ia cemburu padaku, tapi mana mungkin ia marah atau cemburu padaku, dihatinya kan masih ada wanita lain. Seandainya aku yang ada di hatinya pasti sekarang kami tengah hanyut dalam kebahagiaan.


"Mas mau aku buatkan kopi?" Tanyaku ketika melihat mas Randy turun dari tangga dan duduk di sofa.


"Em" cuma itu jawaban yang keluar dari mulutnya, bukan, bukan keluar dari mulutnya karena mulutnya saja tidak ikut terbuka.


Aku pun segera segera membuatkannya kopi, suatu kebahagiaan yang sangat besar bagiku bisa melayani suamiku yang beku ini.


"Kamu pulang minggu depan, sayang?"


"Akhirnya rinduku akan terobati setelah hampir dua tahun kita enggak ketemu."


"Kamu memang hebat sayang, kamu bisa menyelesaikan S2 kamu dengan predikat cumlaude aku benar-benar bangga padamu."


"Secepatnya aku akan melamar kamu."


"Dah sayang, eemmmuahch"


Apa yang akan mas Randy lakukan setelah kekasihnya itu kembali?


Apa mas randy akan memadu ku? Atau ia akan menceraikan ku? Allah, sanggupkah aku bila itu terjadi?


Kuberikan kopi yang sudah aku buat dengan penuh cinta ini dihadapannya, tanpa sepatah katapun aku langsung mengundurkan diri dari hadapannya memasuki kamarku.


Aku butuh obat untuk bisa menenangkan hati ini, air mata pun sudah menetes dengan derasnya.


Bunda. Aku butuh Bunda, hanya Bunda yang bisa menenangkan ku disaat seperti ini. Tapi apa aku cerita masalah ini pada Bunda? Aku enggak mau Bunda ikut sedih karena ku. Allah apa yang harus aku lakukan.


...*****...

__ADS_1


Pagi ini aku sudah terbangun dengan keadaan lebih baik. Tadi malam aku menangis meratapi diri ini sampai tertidur. Tidak pada siapapun ku ceritakan masalah rumah tanggaku ini, hanya Allah lah sejatinya tempat mengadu.


Sekarang kami tengah sarapan, tidak seperti biasanya ketika sarapan mas Randy pasti akan menolak sarapan bersama, sekarang ia mau ikut sarapan denganku.


"Mas, aku boleh ikut sekalian gak? arah kampus sama kantor nya mas, kan searah!" Ku beranikan diri untuk bertanya padanya.


Lama dalam keheningan, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Baiklah, lebih baik aku naik ojek online saja.


Selesai sarapan mas Randy pun pergi ke kantornya tanpa mengajakku. Padahal aku sangat berharap bisa ikut dengannya sekalian menghemat uang ongkos. Kalau akau ikut bersamanya otomatis tidak ada ongkos yang keluar, lumayan kan uangnya bisa ditabung atau disedekahkan.


Hijab dan gamis sudah rapi tinggal memakai sepatu aku akan berangkat menimba ilmu.


semua sudah beres, sepatu dan tas pun sudah terpakai, tapi sepertinya masih ada yang kurang.


Uang. Ya, uang, aku lupa mengambilnya. Aku pun mengambilnya dari dalam lemari, dibawah susunan kain sarungku. Melihat kain sarung ini aku jadi sedih, aku rindu suasana pondok. Aku rindu Amel sahabatku di kampung, sahabat seperjuangan ku. Kira-kira bagaimana kabarnya? Aku benar-benar keterlaluan, semenjak menikah aku tak pernah menghubunginya padahal dia adalah orang yang paling mengerti aku selain Ayah dan Bunda.


Hanyut dalam kesedihan ternyata ojek yang aku pesan sudah didepan rumah terdengar dari klaksonnya yang dibunyikan berkali-kali.


Sesampainya di kampus aku segera ke kelas. Oiya aku kuliah di jurusan Bisnis, padahal dulunya aku tidak pernah berminat kuliah di jurusan ini. Dulu aku ingin kuliah kedokteran, tapi apa dayaku, kuliahku semuanya Mama yang atur, katanya kalau aku lulus nanti aku bisa kerja di kantornya mas Randy.


Di kampus ini aku tidak punya banyak teman akrab karena aku memang dari dulu tidak pandai bergaul. Teman akrabku hanya satu namanya Rania, dia juga berhijab walaupun hijab yang ia kenakan tak sama denganku.


Orangnya baik dan periang. Kami berdua juga akrab dengan kang Hafidz. Sapaan kami di pondok 'Mbak dan Kang' memang tak kami ubah walaupun kami sudah berada diluar pondok sehingga Rania sempat merasa aneh dengan sapaan kami tersebut. Akupun menjelaskan kepadanya kalau itu merupakan sapaan kami dari pondok. Dia pun memakluminya.


"Mbak Qila, Om yang kemarin itu siapa?" Tanya kang Hafidz yang kebetulan duduk disampingku,


""A-anu kang, Om itu ..., Om itu saudara jauh dari Ayah, i-iya saudara jauh dari Ayah!" Jawabku gugup. Maaf kan hamba ya Allah, hamba tidak bermaksud untuk berbohong tapi ini juga kemauan mas Randy yang dulu pernah mengatakannya padaku.


"Ooh, tapi dia aneh tadi malam mbak, kayak nya dia marah!"


"Enggak kok kang, Om Randy emang orangnya gitu, cuek banget." jawabku. Allah ampuni hamba kembali, hamba telah membicarakan aib suami hamba sendiri.

__ADS_1


"Ehm, ehm, pada ngomongin apa ini?" Tanya Rania yang tiba-tiba memotong percakapan kami. Alhamdulillah kamu menyelamatkan ku Rania, kalau kamu tidak datang mungkin aku akan berbohong lagi.


...jangan lupa vote, like dan komentar nya temen-temen yang baik hati....


__ADS_2