
Hampir sekitar dua jam kami menunggu kabar dari pak Udin, akhirnya hape usangku pun berdering menandakan panggilan darinya.
Kabar dari pak Udin yang kami terima pun sangat mengecewakan. Pak Bakhtiar yang dulu pernah ingin membeli sawah kami, ternyata sudah membeli sawah lain sehingga dia sudah tidak punya uang lagi. Pak Udin sudah mencoba menawarkan kepada orang lain namun, tak ada satupun yang mempunyai uang sebanyak itu.
Uang yang sudah tersedia hanya ada sekitar lima juta, itupun sudah termasuk tabunganku yang jumlahnya hanya lima ratus ribu.
Aku dan Bunda pun kembali menemui resepsionis tadi. Kami memohon agar dilakukan operasi terlebih dahulu, membayar seadanya. Namun, resepsionis itu tetap mengatakan tidak bisa, karena itu sudah menjadi peraturan rumah sakit.
Masih dengan berurai air mata, sepasang suami istri yang sudah tak lagi muda, yang tak aku kenali menyapa Bunda.
"Bik Nur kan?" Tanya wanita itu,
"Iya non, non Desi teh masih ingat sama saya?" Jawab bunda sembari bertanya,
"Iyalah bik, bik Nur kan kesayangannya Randi. Bibik kenapa menangis?" Tanya nya kembali,
"Suami saya kecelakaan non, kata dokter harus dilakukan operasi tapi kami tidak punya biaya. Saya dan putri saya memohon pada resepsionis tadi agar bisa dilakukan operasi terlebih dahulu, tapi mereka tidak bisa melakukannya." Jawab Bunda kembali meneteskan air mata yang tadi sempat terhenti.
"Pak Lukman kecelakaan?" Suaminya pula yang bertanya,
"Iya den" jawab bunda.
Entah gerangan darimana, wanita yang tak aku kenali ini mungucapkan perkataan yang membuat kami semua terkejut.
" Bagaiman kalau biaya operasi pak Lukman kami yang urus semua tapi... anak yang manis ini mau menjadi menantu saya!" Tanyanya sambil memegang lenganku.
"Ma, kok mama ngomong gitu sih." Tegur suaminya,
__ADS_1
"Maaf non, itu artinya saya menjual putri saya sendiri. Saya tidak akan menjual putri saya bagaimanapun keadaan kami." Jawab Bunda,
"Bik Nur...,maksud saya itu saya tidak membeli putri kamu, tapi, saya ingin dia menjadi menantu saya, istri dari anak saya, Randi. Bik Nur masih ingat Randi kan?"
"iya non, saya masih ingat sama dan Randy. Tapi maaf non, saya tidak bisa mengorbankan masa depan anak saya."
Aku yang sangat terkejut dengan pertanyaannya itu sedari tadi diam membeku. Ini adalah kesempatan yang baik untuk mendapatkan biaya operasi ayah. Aku dan Bunda tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat ini. Apa aku harus menerima tawaran ini? Ini berkaitan dengan masa depan. Aku tidak mengenali putranya sama sekali, bagaimana kami bisa membangun rumah tangga nantinya.
"Non, tidak bisakah kami meminjam uang kalian, nanti kami akan membayarnya." Mohon Bunda pada wanita itu,
"Maaf bik, bukannya saya enggak ngasih, tapi saya terlanjur suka sama anak bibik." Jawabnya,
"Namanya siapa sayang?" Tanyanya pula padaku,
"Aqila Bu" jawabku,
"Panggil Tante aja sayang, Sekarang Qila umurnya sudah berapa?" Tanyanya kembali,
"Masih muda ya sayang, tapi udah cocok kok jadi istri, gimana mau gak jadi menantu Tante?" Tanyanya lagi,
Ku tatap mata bunda yang masih berurai air mata menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa dia mengatakan padaku untuk menolak permintaan Tante ini. Enggak, aku gak boleh egois. Tawaran ini harus aku terima. Ayah sekarang dalam kondisi sangat buruk, aku gak mungkin menolak kesempatan emas ini untuk menolong Ayah, walau aku tahu nyawa itu sudah ketentuan Allah sang pemilik segalanya, setidaknya aku harus usaha. Maafkan aku Bunda, bukan aku bermaksud melanggar perintahmu. Ini semua demi kebaikan kita, kebaikan Ayah dan Bunda, aku sudah ikhlas untuk menikah dengan putranya, walaupun aku belum mengenalnya sama sekali.
"Qi-Qila, Qila mau Tante ni-nikah sama anak Tante." Jawabku,
"Enggak sayang, kamu enggak boleh korbanin masa depan kamu. Kita tunggu aja kabar dari pak Udin."
"Bunda, bagi Qila keselamatan Ayah yang paling utama. Kita harus segera lakukan operasi secepatnya agar Ayah bisa selamat. Pak Udin sudah berusaha jual sawah di kampung, tapi belum ada yang mau beli. Kita gak mungkin nunggu lebih lama lagi."
__ADS_1
"Tapi sayang, masa depan kamu...?"
"Restui Qila Bun, biar Qila bahagia nantinya." pintaku. Bundapun menarik nafas secara dalam dan mengeluarkannya perlahan,
"Doa Bunda selalu ada untukmu sayang, terimakasih sudah lakuin hal yang terbaik buat Ayah." Ucap Bunda sembari menangis memelukku,
Aku dan Bunda pun saling berpelukan dalam Isak tangis.
" Oke, sekarang kita urus administrasinya dulu." Ucap Om yang ada di depanku yang tak kutahu namanya.
"Pa, Mama telpon Randi dulu, kabarin kalau dia pulang duluan saja, nanti kita dijemput sama supir." Ucap Tante itu kemudian menelpon seseorang.
Aku tidak tahu seperti apa masa depan yang akan aku hadapi nanti. Ooh Allah, semoga ini jalan yang terbaik. Semoga suamiku nanti adalah orang yang taat kepadamu, orang yang takut azab-Mu, orang yang selalu mematuhi perintahmu dan meninggalkan laranganmu, orang yang mencintai Baginda nabi dan menjalankan sunnah Beliau.
Sekarang kami menunggu didepan pintu ruang operasi Ayah yang telah dilakukan setengah jam lalu. Aku dan Bunda begitu panik, zikir dan doa tak terlepas dari bibir kami. Semoga operasi berjalan lancar, semoga Allah belum mengambil apa yang menjadi miliknya, aku tidak tahu apa yang terjadi kalau kami sampai kehilangan Ayah. Sosok pria cinta pertama ku, pria yang sangat berperan dalam hidupku. Meskipun Ayah orang yang sedikit pendiam, tapi Ayah begitu perhatian.
Sejam berlalu akhirnya dokterpun keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana operasinya dokter" tanya om Bagas yang baru saja kutahu namanya,
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Sekarang pasien masih terpengaruhi obat bius, mungkin setengah jam lagi pasien akan sadar."
"Alhamdulillah" ucap kami serempak.
"Boleh kami masuk dokter." Tanyaku,
"Silahkan, tapi hanya dua orang saja, sebentar lagi pasien akan segera dipindahkan ke ruang inap."
__ADS_1
"Terimakasih dokter" ucapku
Dokter itupun menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan kami.