Suamiku Benci Aku

Suamiku Benci Aku
9. Rumah Baru


__ADS_3

Matahari sudah mulai surut, sore pun telah tiba. Sesuai kesepakatan tadi pagi, aku dan mas Randy pun akan segera pindah rumah. Tidak banyak barang yang kami bawa, hanya pakaianku saja sedangkan mas Randy sudah punya pakaian disana karena sebelumnya mas Randy sudah sering tinggal di rumahnya sendiri.


"kami pamit Ma." Ucapku pada Mama sambil mencium tangannya dengan takzim.


"Iya sayang. Jaga baik-baik diri kamu kalau Randy nyakitin kamu, kamu harus telpon Mama." Ucapnya dengan sedih. Masih sangat jelas di mata Mama memancarkan ketidak ikhlasan atas kepergian kami.


"Ma, jangan sedih gitu dong. Mereka kan gak pergi jauh, kita masih tinggal satu kota bahkan setiap hari pun Mama berkunjung bisa." Ucap Papa memberi nasehat.


"Tapi, Pa, rasanya itu udah beda." Ucap Mama semakin sedih,


Tak tega melihat keadaan Mama, aku pun langsung menghambur kepelukannya sambil menangis. Waktu yang ku lewati sebulan ini bersama Mama membuat ku begitu menyayanginya. Perhatian yang ia berikan padaku selalu mengingatkan ku pada Bunda.


"Ma, Mama jangan sedih ya, kalau Mama sedih Qila enggak bisa ninggalin Mama." Ucapku masih dalam pelukannya,


"Enggak sayang, Mama gak sedih. Kamu tenang saja, pokoknya Mama harus cepat dapat kabar kalau Mama segera punya cucu."


Aku dan mas Randy pun memasuki mobilnya yang akan membawa kami menuju rumah baru. Aku duduk di samping mas Randy yang sedang mengemudi mobilnya dengan fokus menatap ke depan. Keadaan begitu hening, tak ada kata yang keluar dari mulutnya begitupun denganku.


Sibuk memandang indahnya jalanan yang kami lewati, tak sadar mobil sudah berhenti didepan rumah mewah namun tak semewah rumah Mama.


Aku keluar dari mobil menghampiri mas Randy yang sedang mengeluarkan koperku dari bagasi mobil. Baru saja hati senang dengan sikap mas Randy yang aku duga akan membawa koperku, ternyata dia meletakkannya begitu saja dan meninggalkan ku memasuki rumah tanpa satu patah katapun.


"Huuuufft." ku hembuskan nafas dengan pelan


Ku ikuti langkah mas Randy yang memasuki rumah dengan tangan kananku yang menyeret koperku.


"Ngapain kamu ikutin saya?" Langkahku terhenti karena ucapan mas Randy. Maksudnya apa? aku kan mengikuti nya karena aku gak tahu letak kamar kami dimana.


"Aku, cuma mau ngikutin mas ke kamar karena aku gak tahu kamarnya dimana." Ucapku dengan polos,

__ADS_1


"Di rumah ini jangan harap kita tidur satu kamar. Saya sudah muak lihat wajah kamu sebulan ini dikamar saya." Jawabnya ketus,


"Tapi mas, kitakan sudah menikah, kenapa harus tidur terpisah?" Tanyaku gugup,


"Kamu memang benar-benar bodoh. Saya sudah katakan sebelumnya kalau saya saya jijik, saya muak melihat muka kamu. Jadi mulai detik ini sampai seterusnya kita tidak akan tidur sekamar. PAHAM!?" Katanya dengan nada tinggi,


"Pa-paham, mas."


"Itu kamar kamu." katanya menunjukkan kamar yang ada di hadapanku, dilantai satu,


"Kamar saya ada diatas, jangan coba sekali-kali kamu masuk tanpa seizin saya! mengerti!?" katanya lagi dengan nada masih sama,


"Baik mas."


"Satu lagi, di rumah ini tidak ada pembantu seperti di rumah sebelumnya. Jadi, semua pekerjaan rumah kamu yang kerjakan mulai dari menyapu, mengepel, memasak, mencuci pakaian dan pekerjaan lainnya. Ingat! Tidak boleh ada satupun kotoran yang menempel di rumah ini!"


"Untuk malam ini kamu saya bebaskan, berhubung tidak ada persediaan makanan jadi kamu boleh membelinya diluar sana untuk makan malam." katanya lagi,


"Dan, besok kamu harus beli semua perlengkapan dapur dan persediaan makanan." Ucapnya sembari memberiku beberapa lembar uang,


"Baik, mas"


"Tunggu apalagi? Ngapain kamu bengong disitu? cepat kemasi barang mu dan segera beli makanan sebelum magrib."


"iya Mas." ucapku, kemudian segera memasuki kamar yang akan menjadi kamarku.


Kamarnya tidak terlalu luas seperti kamar kami sebelumnya tetapi kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku di kampung. Tidak ada kamar mandi seperti kamar sebelumya, terdiri dari satu ranjang untuk tidur satu orang dan satu lemari kecil. Ku susun semua pakaianku dalam lemari tersebut. Untuk saja pakaianku masih banyak yang tertinggal di rumah Mama, kalau aku bawa semua pasti lemarinya tidak muat.


Selesai mengemasi pakaianku aku pun segera membeli makan malam untuk kami berdua. Aku mengambil selembar uang merah yang diberikan mas Randy tadi, sisanya aku simpan dengan uang sisa jajanku yang diberikan Mama. Uang yang diberikan mas Randy jumlahnya banyak lebih dari satu juta, kalau dijumlahkan dengan uang ku yang diberikan Mama jumlahnya melebihi dua juta. Sebelumnya aku belum pernah memegang uang sebanyak ini, tapi inilah konsekuensi menjadi istri, tak cukup menjadi istri yang patut pada suaminya seorang istri juga harus pandai menjaga ekonomi suaminya.

__ADS_1


Keluar dari rumah aku segera mencari sebuah warung makan dengan berjalan kaki. Soal makanan mas Randy tidak banyak pilihan, begitu yang aku ketahui dari Mama maupun bibik yang memasak.


Tak ada rumah makan atau restoran yang kutemui, karena tempat ini masih sangat asing bagiku. Kulihat sebuah warung kecil yang menyediakan Nasi goreng. Tak ada pilihan lain aku memutuskan untuk membeli nasi goreng itu dan bergegas kembali pulang Ke rumah.


...*****...


Selesai shalat magrib aku segera ke dapur menyiapkan makanan yang aku beli tadi. Tak lama kemudian terlihat mas Randy turun dari tangga dan duduk di meja makan. Makanan pun segera ku hidangkan dihadapannya.


"Maaf mas, Qila tadi gak ada lihat rumah makan dekat sini, cuma ada warung penjual nasi goreng, gapapa kan mas, kalau malam ini mas makan nasi goreng?" Tanyaku sambil menghidangkan nasi goreng tersebut,


Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia mengambil nasi goreng yang aku hidangkan dan memasukkannya dalam mulutnya suap demi suap.


Ku putuskan untuk ikut makan. Duduk di hapannya sedikit ragu sih, tapi tidak apa-apa demi mendapatkan perhatian mas Randy.


Alhamdulillah, mas Randy tak melarangku ikut makan bersamanya sedikit kemajuan untuk hubungan kami. Aku akan berusaha semaksimal mungkin mendapat perhatian mas Randy agar keinginan Mama cepat terpenuhi.


"Mas, temani Qila belanja persediaan dapur ya malam ini. Besok Qila ada kuliah pagi, mas Randy kan juga harus kerja, jadi kita enggak ada sarapan." Ucapku memberanikan diri pada mas Randy yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara televisi.


seperti biasa tak ada jawaban keluar dari mulutnya. Ya sudahlah sepertinya mas Randy tidak mau, besok pagi aku harus cari sarapan diluar siapa tahu ada yang jual Bubur. Baru beberapa langkah kaki aku meninggalkan mas Randy,


"Satu menit dari sekarang" Ucapnya meninggalkanku, ia pun keluar dari rumah,


Aku pun segera mengikuti langkahnya, menunggunya di gerbang setelah mengunci pintu rumah. Sekarang ia tengah mengeluarkan mobilnya dari garasi, untung di rumah aku mengenakan jilbab kalau tidak mungkin mas Randy sudah meninggalkanku. Aku memang belum memperlihatkan aurat ku secara sempurna dihadapan mas Randy meskipun ia sudah sah menjadi suamiku. Bukan karena tidak siap, aku sudah sangat siap jikalau pun mas Randy meminta hak nya sekarang, tetapi, Karena mas Randy saja yang sangat enggan melihatku.


...**BERSAMBUNG.......


...JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE, LIKE DAN KOMENNYA YA TEMAN-TEMAN....


...JANGAN LUPA BACA AL-QUR'AN. JANGAN LUPA SALAWAT AGAR HIDUP KITA PENUH BERKAH**...

__ADS_1


__ADS_2