Suamiku Benci Aku

Suamiku Benci Aku
Lamaran


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu Ayah dirawat di rumah sakit, semua biaya pengobatan dan rawat inap Ayah sudah dibayar oleh keluarga Om Bagas.


Disinilah kami sekarang, diruang inap VVIP yang mewahnya jauh melebihi rumah kami sendiri. Sekarang kondisi Ayah sudah membaik, tiga hari lagi mungkin sudah diperbolehkan untuk pulang. Memang Ayah sudah memberontak untuk pulang dari hari-hari sebelumnya, katanya takut biaya rumah sakit yang tidak bisa kami bayar. Ayah memang belum tahu masalah bantuan Tante Desi yang punya imbalan itu, Bunda takut kalau kami memberitahunya,  Ayah pasti akan syok.


Setiap kali Ayah menanyakan biaya yang kami dapat dari mana, bunda pasti mengalihkan pembicaraan, aku takut bagaimana reaksi ayah nanti kalau sampai tahu anaknya ini rela menikah demi uang.


Soal Tante Desi, kemarin dia sudah menghubungi kalau hari ini mereka akan menjenguk ayah. Semenjak selesai operasi minggu lalu  mereka belum menjenguk ayah, katanya tante Desi juga harus menjalani pemulihan dulu berhubung beliau juga baru keluar dari rumah sakit.


"Assalamualaikum..." Terdengar salam dari arah pintu yang diketuk dari luar, kemudian terlihatlah  Om Bagas dan Tante Desi setelah pintu dibuka,


"Waalaikumussalam..." Jawab kami bersamaan, kemudian aku langsung menyalami tangan Tante Desi dan menangkupkan kedua tangan di dada untuk Om Bagas, biar bagaimanapun dia bukan seorang Mahram untukku.


Ayah sempat terkejut melihat keduanya, mungkin beliau berfikir bagaimana bisa mantan majikannya itu bisa ada disini.


Keterkejutannya itupun hilang bagai ditelan bak bumi setelah berbincang- bincang bersama, mulai dari saling tanya kabar sampai banyak hal lainnya.


Aku hanya bisa tersenyum melihat empat orang tua ini, Om Bagas memang benar- benar baik walaupun ayah hanya mantan supir pribadinya tapi dia tidak perlihatkan derajatnya sama sekali.


"Maafin anak tante,ya, dia gak bisa ikut, calon suami kamu itu memang sibuk dengan pekerjaannya padahal dia bisa luangin waktunya buat ketemu sama calon istrinya sendiri. Tante juga kesel tadi sama dia." Tiba-tiba Tante mengucapkan kata-kata yang kami jaga seminggu ini. Ku tatap wajah Bunda yang sama ekspresinya denganku kemudian beralih melihat wajah Ayah yang sedang memancarkan aura kemarahan.


"Ooh Allah, aku mohon jangan sampai amarah Ayah keluar didepan keluarga yang sudah membantu kami, setelah tahu apa yang sudah terjadi. Aku tahu ayah pasti bisa menahan amarahnya, Ayah adalah sosok orang yang  penyabar."  pikirku positif.


"Iya Tante, gak papa kok." Hanya kata itu yang bisa ku lontarkan. Maafkan kami Ayah, engkau pasti bertanya-tanya didalam hatimu,  kumohon jangan keluarkan amarahmu, batinku selalu positif menyemangati diri sendiri.


"Oiya sayang tante kemarin lupa nanya sama kamu, kamu  kuliah dimana?"


" Qila gak kuliah Tante, Qila baru aja lulus beberapa bulan lalu dari pondok."


"Gimana kalo kamu kuliah aja nanti, kan sayang harus berhenti lagian usia kamu juga masih muda."


" Engak usah deh Tante, Qila gak mau ngerepotin Tante lagi."


"Enggak sayang, kamu harus kuliah, kamu gak usah takut soal biaya, Randy itu gila kerja uangnya pasti bisalah biayain istrinya kuliah." Pernyataannya kembali menyinggung tentang soal calon suami, bagaimana aku bisa mengalihkannya, kulihat kembali wajah Bunda hanya bisa pasrah dengan keadaan sedangkan Ayah dia sepertinya masih Manahan amarah.

__ADS_1


" Qila ikut baiknya aja Tante.'" Entahlah, disisi lain aku merasa senang bisa melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda, tapi aku masih takut apakah ayah akan meridhoi pernikahanku nanti.


"Tapi sayang untuk masuk perguruan tinggi pendaftarannya udah tutup, kamu mau, kan, kuliah di swasta saja tapi kamu tenang aja fasilitasnya gak kalah kok sama yang negri." Ucap Tante Dewi yang terlihat dia sangat semangat menanyakan hal ini.


" Iya tante."


" Oke, nanti Tante yang akan daftarin kamu, Tante punya teman pengurus kampus, nanti Tante kabarin lagi berkas yang harus kamu persiapkan "


"Baik Tante."


Tak terasa waktu berlalu, Om Bagas dan Tante Desi pun sudah izin pulang. Diruang VVIP yang dipenuhi AC ini terasa sangat panas, bukan panas dari luar melainkan dari dalam melihat wajah ayah yang akan mengeluarkan amarahnya. Apapun kemarahan ayah nanti, ku akui beliau orang sangat sabar dia bisa manahan amarahnya yang sudah hampir meletup.


"Apa kalian udah gak anggap ayah keluarga lagi?" Kata-kata pertama yang keluar dari mulut ayah,


"Bagaimana mungkin kami tidak menganggap ayah sebagai keluarga, kami sangat menyayangi ayah," sayangnya kata-kata itu hanya terucap di hatiku,aku tidak berani menatap wajah Ayah, mungkin ini yang dinamakan  marahnya orang penyabar itu lebih mengerikan dari pada marahnya orang yang pemarah.


"Kenapa kalian diam, memang benar kalian udah gak anggap Ayah keluarga kalian lagi? JAWAB!" Suara ayah naik dari pada kata-kata sebelumnya, aku masih dengan posisi sama, diam menunduk dihadapan Ayah tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.


"Tapi kenapa dik, kenapa kalian tega rahasian hal sebesar  ini dari mas. Mas ini ayahnya Aqila, kenapa kalian tega merima lamaran seorang pria bahkan dalam keadaan Mas belum sadarkan diri." Tanya Ayah Kembali dengan suara yang sudah sedikit mereda. Namun, sepertinya ayah belum tahu bahwa kami menerima usulan Tante Desi itu karena terpaksa juga.


"Se-sebenarnya, maafin kita mas. Sebenarnya ini permintaan non Desi, kalau Qila terima tawarannya untuk menikah dengan anaknya, dia mau membiayai biaya operasi, Mas."


"A-apa?, Tapi kenapa? Kenapa kalian terima tawaran itu, kenapa dik, kenapa kamu tidak melarang Aqila menerima permintaan mereka, itu artinya kita menjual putri kita sendiri. Kenapa kalian gak biarin Ayah pergi saja?" Ucap Ayah dengan suara lemah sambil meneteskan air mata, aku yang sedari tadi sudah meneteskan air mata pun kini bertambah, menangis sesenggukan melihat air mata Ayah.


"Mas, aku udah larang keras Aqila buat menolak permintaan mereka, aku sudah katakan untuk menunggu sawah kita terjual tapi, kita dalam keadaan khawatir, Mas, kita gak tega biarin Mas dalam keadaan kritis apalagi sampai kehilangan nyawa". Jawab Bunda menenangkan tangis Ayah,


"Dik, kamu tahu sendiri kan, keluarganya Pak Bagas itu jauh dari agama mereka itu terlalu cinta dunia, kamu lihat sendiri kan mereka rela meninggalkan anaknya demi uang. Anaknya itu juga dididik tanpa ilmu agama, Bunda tega melihat Aqila menikah dengan pria jauh dari agama?  Bahkan kenapa dia tega membeli putri kita, Aqila itu anak kita satu-satunya dik. Harta bukan menjamin hidup bahagianya." Ucap Ayah lagi dengan air mata yang masih menetes.


."Astaghfirullah..., Istighfar mas. Kenapa mas jadi suudzon gini, ingat mas manusia itu bisa berubah jangan melihat masa lalunya saja."


"Astaghfirullah..., astaghfirullah..., astaghfirullah...," Ucap Ayah berulang kali sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya,  tak tahan melihat ayah seperti itu aku langsung menghambur kepelukannya yang disusul oleh Bunda.


Ketiganya kami berpelukan dengan berurai air mata sambil mengucapkan kalimat istighfar.

__ADS_1


"Ayah, maafin Qila" ucapku sesenggukan dipelukan Ayah, perlahan Ayah melepas pelukan kami.


"Ini semua salah Ayah sayang, maafin Ayah yang tidak hati-hati naik motor. Gara-gara Ayah kamu harus korbankan masa depanmu. Maafin ayah, ini semua salah Ayah." Ucap Ayah menyalahkan dirinya sendiri.


" Ayah, ini udah takdir kita semua Qila sangat ikhlas menikah dengan anaknya Tante Desi asalkan Ayah sembuh. Qila mohon, Ayah, ridhoi Langkah Qila." Ucapku sambil menggenggam tangannya kemudian menciuminya. Namun Ayah hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya, kulihat dari wajahnya beliau belum sepenuhnya ikhlas.


...*****...


Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian kemarahan ayah. Alhamdulillah seiring berjalannyanya waktu ayah sudah ikhlas menerima kenyataan aku akan menikah dengan anak Tante Desi Meskipun, terkadang masih tampak ketidakrelaannya.


Setelah tiga hari  ayah pulang dari rumah sakit,  Om Bagas dan Tante Desi langsung mengadakan acara lamaran tepatnya kemarin malam, katanya lebih cepat lebih baik.


Sesuai dengan kesepakatan bersama, tepatnya hanya Tante Desi yang paling semangat, pernikahan kami akan digelar dua Minggu lagi. Aku dan calon suamiku itu hanya pasrah saja.


Selain persiapan pernikahan, ternyata Tante Desi tak melupakan niatnya untuk menguliahkan ku.


Semua Masalah pendaftaran masuk universitas,Tante Desi yang urus aku hanya menyerahkan berkas yang diminta saja seperti fotokopi KK, fotokopi KTP, dan berkas- berkas lainnya.


Semua keperluan untuk mengadakan walimahan pun  keluarga pria yang mengurus semua, kami hanya terima siap saja. Tante  Desi melarang Bunda ikut bekerja membantu, karena Tante Desi sudah menyewa WO.


Katanya, Bunda lebih baik fokus merawat ayah agar lebih cepat sembuh seperti semula, bahkan beliau memberikan kami seorang pekerja rumah untuk membantu pekerjaan rumah.


Untuk calon suamiku itu, bahkan aku merasa tidak pantas untuk bersanding dengannya.


Ternyata calon suamiku itu adalah  orang yang pernah aku tabrak di rumah sakit sebelum ayah operasi, pria yang mengataiku aneh.


Dia ternyata lulusan S3 diluar negri, sedangkan aku hanya lulusan tingkat SMA saja, pantas saja Tante Desi mendesak ku untuk melanjutkan kuliah.


Di acara lamaran dia tidak banyak bicara, dia hanya diam dan berbicara hanya ketika  menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya saja. Melihat wajahnya, sepertinya dia terpaksa melakukan lamaran itu, mungkin itu juga paksaan dari Tante Desi sehingga ia menerimanya.


...Bersambung...


...jangan lupa vote, like and komennya ya teman-teman...

__ADS_1


__ADS_2