
Dua Minggu berlalu terasa begitu sangat cepet, entah seperti apa perasaan yang ku lalui selama dua Minggu ini.
Hari ini adalah hari pernikahanku, akad akan segera dilakukan beberapa menit lagi. Disinilah aku sekarang, didalam kamar kecilku yang sudah dihiasi dengan sedemikian rupa ditemani sahabat kecilku, Amelia, menunggu calon suamiku mengucapkan ijab kabul. Didepan cermin aku duduk menatap wajahku yang sudah tidak aku kenali lagi akibat make up yang sebelumnya tidak pernah aku pakai.
Hari ini adalah hari bahagiaku, sayangnya kebahagian itu tak terpancar dari wajahku. Aku hanya bisa melamun memikirkan banyak hal, tak sanggup meneteskan air mata karena aku takut orang tuaku akan bersedih. Biarkan mereka melihatku bahagia, apapun yang terjadi nanti semoga aku bisa menghadapinya dengan penuh syukur dan sabar.
Acara akad memang dilakukan di rumah kami atas permintaan Bunda. Setelah akad akan dilanjukan dengan resepsi sampai sore hari kemudian aku langsung diboyong ke rumah keluarga Om Bagas.
Disana akan dilakukan resepsi yang sangat mewah, padahal aku sudah menolaknya. Namun,Tante Desi tetap bersikeras melakukan pernikahan mewah ini, katanya pernikahan itu hanya sekali seumur hidup jadi harus terkesan apalagi ini pernikahan anak satu-satunya.
"saya nikahkan dan kawinkan engkau Randi Pratama Efendi bin Bagaskara Efendi dengan anak saya Aqila binti Lukman dengan seperangkat alat sholat dan mas kawin 20 Mayam emas murni dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Aqila binti Lukman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"Bagaimana para saksi? SAH?"
"SAH!" Akhirnya kata itu terucap juga setelah beberapa kali pengulangan karena Randi salah mengucapkan qobul nya.
"Alhamdulillah" doa semua orang yang menghadiri pernikahanku.
Aku yang berada dikamar pun langsung dijemput Bunda untuk menemui suamiku. Jangan tanyakan bagaimana perasaanku, pastinya aku sangat gugup meskipun pernikahan ini bukan pernikahan impian.
__ADS_1
Setelah berada dihadapan suamiku akupun dituntut untuk menyalami tangannya. Kulihat dia begitu enggan mengulurkan tangannya untuk ku salam sebagai tanda bakti ku kepadanya. Dihadapan semua orang saja dia memperlihatkan wajah dengan ketidaksukaannya, bagaimana nanti kalau hanya berada dihadapan ku sendiri. Astaghfirullah, aku tidak boleh suudzon.
Mengalahkan rasa malu dan gugup ku, aku menyalami tangannya dengan khidmat, namun sayangnya tak ada balasan kecupan di kening seperti pengantin baru pada umumnya.
Setelah akad kami pun melakukan sungkeman kepada orang tua mengharap ridho dari mereka. Sangat terlihat jelas terpancar wajah bahagia di wajah kedua mertuaku, namun, ketika waktunya sungkeman pada Ayah dan Bunda air mata yang sedari tadi ku tahan tumpah seenaknya saja. Aku menangis tergugu dihari pernikahanku, dihadapan kedua orang tuaku, disaksikan banyak orang sehingga banyak orang yang ikut meneteskan air mata.
Bunda memelukku dengan erat sambil banyak memberiku nasehat tentang pernikahan, kulihat wajah Ayah, dia hanya diam menahan sedihnya saja.
Resepsi di rumahpun telah usai, memang kami tidak banyak mengundang kerabat berhubung juga kami tidak banyak memiliki kerabat.
Setelah menunaikan waktu sholat ashar, Aku pun segera diboyong ke rumah mertuaku, tak hanya aku orang tuaku pun akan ikut untuk menghadiri acara resepsi pernikahanku nanti.
Perjalanan hampir dua jam akhirnya kami sampai tujuan. Rumahnya begitu indah apalagi ditambah dengan banyak hiasan yang menandakan bahwa rumah ini akan mengadakan resepsi. Suamiku itu sama seperti sebelumnya, diam dan hanya berbicara jika ditanya saja.
Menurutku perkataannya itu sangat vulgar, bagaimana mungkin Mama berkata itu didepan banyak orang, entahlah, mungkin seperti inilah hidup dengan orang kota yang tidak mempermasalahkan hal yang berbau intim. Teringat, dulu waktu mondok ketika belajar tentang bab pernikahan terutama dibagian hubungan suami istri, kami pasti sangat malu mengkajinya walaupun waktu itu kami semua sesama jenis. Tadi Mama malah mengatakannya didepan Ayah ku sendiri yang notabenya harus aku segani. Entahlah seperti apa wajahku akan melihat wajah ayah nanti.
...*****...
Hari ini hari yang sangat melelahkan, ternyata begini rasanya menjadi ratu sehari tapi, ada yang kurang. Rasa bahagia itu tak dapat aku rasakan seperti pada pasangan pengantin umumnya.
Entah berapa banyaknya tamu yang Mama undang. Rasanya aku tidak sanggup untuk berdiri lagi. Alhamdulillah akhirnya acaranya usai juga.
__ADS_1
Sekarang aku sudah berada dikamar pengantin, yang indahnya sangat memukau. Bunga mawar merah banyak bertebaran di ranjang entah untuk apa Akupun tidak mengerti. Dalam hati aku berpikir, apakah badan tidak akan gatal jika harus tidur bersama bunga itu? Entahlah, yang terpenting sekarang aku harus mandi dan menunaikan kewajiban ku 'sholat Isya' yang sempat tertunda karena acara tadi.
Usai menunaikan kewajiban aku langsung merebahkan tubuhku di kasur yang sangat empuk ini, jujur ini baru kali kedua aku tidur di ranjang seempuk ini. Di rumah ataupun di pondok aku hanya tidur menggunakan kasur biasa.
Rasanya baru beberapa menit mata ini terpejam, seseorang telah mengusikku,
" Hei... Bangun, ngapain kamu tidur di ranjang saya" ucap mas Randy membangunkanku,
"Eh, mas, sudah datang" jawabku polos,
" Turun lo dari ranjang saya, enak banget kamu tidur disitu" ucapnya kasar,
"Tapi mas, Qila harus tidur dimana?"
" Itu bukan urusan saya, minggir"
ucapnya lagi sambil menarik tanganku kemudian ia berbaring dengan nyaman,
Ya Allah, seperti inikah suamiku, padahal kami sudah menikah kenapa dia malah mengusirku dari tempat tidur.
Karena lelah akupun melanjutkan tidurku di sofa yang kebetulan ada dikamar ini, aku jadi teringat dirumah, jangankan dikamar, diruang tengah saja tidak ada sofa, tapi yang terpenting aku hidup bahagia. Disini mungkin aku akan hidup dengan mewah, tapi apa gunanya harta jika tak ditemukan kebahagiaan, mungkin rasanya seperti air tanpa wadah, ada tapi berujung dengan tumpah sehingga akan mengalir tanpa arah.
__ADS_1
...Bersambung...
...jangan lupa vote, likenya and komennya ya teman-teman...