
Aku terbangun sekitar pukul tiga pagi, meskipun tidur di sofa tak membuat badanku sakit karena ukuran sopa ini memang cukup besar dijadikan tempat tidur dengan badanku yang kecil.
Aku segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu' dan mendirikan sholat tahajjud. Sebelum sholat terlebih dahulu aku membangunkan mas Randy dengan rasa sedikit takut. Mengingat respon yang diberikan kepadaku selama ini selalu memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Mas, bangun, mari sholat tahajjud dulu." Ucapku sambil menggerakkan kakinya yang tertutup selimut secara perlahan, namun dia juga belum terbangun sampai panggilan ketiga,
"Kamu...,? Ngapain kamu ganggu tidur gue." Ujarnya sedikit membentak sambil mendudukkan tubuhnya,
"Sholat dulu, mas, nanti boleh lanjutin tidurnya." Ucapku lembut,
"Kamu udah gila, Apa? Ini masih pagi buta. Walaupun gue gak pernah sholat lagi, gue juga masih ingat waktu sholat. Gue juga dulu pernah belajar agama, semua guru gue itu ngajarin kalo sholat itu lima waktu doang. Kalo kamu udah gila gak usah ngajak gue ikut gila, dasar wanita aneh, sok alim lagi" jawabnya marah, kemudian membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya kembali.
Tak terasa air mataku menetes. Allah, inikah imam yang kau berikan padaku? Mampukah aku menghadapi sikapnya nanti. Hamba mohon kuatkanlah hamba menjalani ikatan suci ini.
Baru saja menikah dua hari mas Randy sudah banyak memberiku luka, pasangan pengantin baru yang biasanya terlihat malu-malu tapi mau, namun tidak denganku. Jangankan mengharap malam pertama, untuk menatapku saja mas Randy sangat enggan, bahkan ia tega mengusirku tidur untuk seranjang dengannya.
Selesai sholat tahajjud aku melanjutkan murojaah, menjaga hapalan agar tak hilang dari ingatan. Meskipun aku bukan seorang hafidz quran 30 juz, setidaknya aku juga berusaha menambah hapalan walaupun sehari hanya sebaris. Aku memang bukan anak yang pintar, entah kenapa aku sangat susah untuk mengingat sesuatu mungkin karena itulah aku tidak menjadi seorang hafidz Qur'an seperti kebanyakan temanku di pondok. Setiap aku menyetor hapalan, pastinya aku lupa hapalan sebelumnya, karena itu aku tertinggal banyak. Tapi tidak apa-apa, dulu, memang aku pernah sempat putus asa karena setiap menghapal pasti lupa lagi. semangat ku kembali lagi, ustadzah yang membimbing ku waktu itu senantiasa memberi nasihat 'proporsi tangkapan otak setiap orang itu berbeda, jadi jangan pernah berputus asa meskipun kita tak menjadi seorang hafidz setidaknya kita ada usaha'.
Pagi ini semua keluarga sudah ada dimeja makan untuk sarapan, termasuk Ayah dan Bunda. Sarapan kami hanya berupa dua lembar roti yang diolesi dengan selai, padahal baru kemarin mengadakan pesta besar-besaran, kemana semua makanan yang begitu banyak itu. Aku kembali teringat dikampung, setiap ada yang mengadakan pesta aku dan Amel pasti sering ikut membantu lumayan, kan, bisa makan enak yang jarang sekali kami makan.
"Randy, Qila, ini hadiah dari Papa atas pernikahan kalian" ucap Papa sambil memberikan dua lembar kertas yang langsung diambil mas Randy, yang aku tidak tahu itu kertas apa,
"Maaf Pa, Randy gak bisa, Lusa Randy harus masuk kantor lagi."
"Gak boleh gitu dong sayang, kamu itu harus cuti kerja dulu lagian Lusa itu kamu baru nikah tiga hari masak udah kerja lagi?" Jawab Mama,
"Randi ada proyek besar yang kerja sama dengan perusahaan Jepang, Randy gak mau menyianyiakan kesempatan besar ini, lagian untuk bulan madu kita masih bisa ditunda dulu, beda dengan proyek ini Ma." Jawab mas Randy, yang dapat ku simpulkan pemberian Papa tadi adalah sebuah tiket untuk bulan madu.
Aku sangat heran dengan orang kaya, kenapa harus ada bulan madu, ya, pasti banyak biaya yang keluar. Lebih baik uang yang dipakai bulan madu itu disedekahkan ke pondok atau ke anak yatim atau lainnya.
Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Ayah dan Bunda baru saja berangkat hendak pulang, diantarkan oleh pak supirnya Papa, mungkin mereka masih lama sampainya. Mama dan Papa pasti ada dikamar nya, sedangkan mas Randy, aku tidak tahu dia pergi kemana. Tadi, setelah Ayah dan Bunda berangkat, mas Randy juga pergi.
Dari pada tidak ada kegiatan sama sekali, lebih baik aku pergi ke dapur bantu-bantu bibik kerja. Rumah ini sangat luas, terdiri dari tiga lantai, kamar mas Randy yang sekarang juga sudah menjadi kamarku meskipun kami tidur tidak seranjang berada dilantai tiga. Kamar Mama dan Papa ada dilantai dua, kamar yang lain aku tidak tau siapa yang menempati karena di rumah ini memang cuma ada kami berempat selain yang bekerja di rumah ini, yang kutahu kamar mereka ada dilantai bawah, mas Randy memang anak tunggal sama sepertiku sehingga rumah ini terlihat sangat sepi.
__ADS_1
Tiba di dapur aku melihat tiga orang wanita dengan masing-masing pekerjaannya, ketika melihatku mereka semua terlihat menahan tawanya. Ada apa, apa yang salah dengan penampilanku, aku jadi bingung sendiri.
Aku menghampiri Bik Minah yang sedang terlihat berkutat dengan masakan, hanya dia yang masih aku kenal diantara ketiganya. Usianya mungkin sekitar usia Bunda, belum terlihat keriput diwajahnya.
"Masak apa bik, boleh Qila bantu?" Tanyaku sopan,
"Eh.. jangan non, nanti bibik dimarahin sama nyonya" jawabnya sedikit ragu,
"Panggil Qila aja bik, Qila kan masih kecil masa bibik manggil 'non' sih" ucapku cemberut mencoba akrab dengannya,
"Gak boleh gitu non, non kan, istrinya Aden"
"Gak papa Bik, pokoknya panggil Qila aja."
"Baik non..eh, nak Qila"
"Gitu dong bik, sekarang Qila bantuin bibik masak ya, biar Qila yang potong-potong bahannya, bibik yang siapin bumbunya karna Qila memang gak pandai masak, hehehe" ucapku malu sambil terkekeh,
"Tenang aja bik, Mama itu orangnya baik kok" ucapku sambil memotong sayuran, tapi aku merasa tidak nyaman karena dua orang wanita lainnya masih saja melirikku sambil senyum-senyum, ketika aku menatap mereka langsung pergi,
"Bik, ada yang aneh ya sama penampilan Qila, kenapa tadi mereka selalu aja menahan tawanya lihat Qila?" Tanyaku pada bik Minah,
"Itu nak, tapi nak Qila jangan marah ya," ucapnya sedikit ragu
"Gak lah bik, kenapa harus Qila marah"
"Gini nak, penampilan nak Qila itu agak aneh aja. Kita semua gak nyangka kalau nyonya milih menantu kayak nak Qila"
"Emang ada yang salah ya bik, sama penampilan Qila?" Ucapku sedih, aku tahu aku tak pantas menikah dengan anggota keluarga ini, mereka sangat jauh dibandingkan dengan keluarga kami, tapi bukankah harta itu hanya titipan?
"Bukan gitu nak, maaf ya, bibik terus terang aja, Nak Qila lebih baik ganti baju deh, jangan pakek kain sarung"
Ternyata itu penyebabnya, kain sarung yang aku pakai ini? Tapi apa yang salah, Bu Nyai saja yang merupakan seorang istri pak Kiyai, orang yang sangat dihormati memakai kain sarung bahkan meskipun ia pergi keluar kota bersama pak kiyai.
__ADS_1
Memang dunia sekarang aneh, orang yang memakai kain sarung dikatakan kampungan, gilaran orang yang memakai baju kurang kain dianggap modis.
...*****...
Sekarang kami berada diruang keluarga, Mama dan Papa duduk bersebelahan, sedangkan aku dan mas Randy duduk disopa yang berbeda.
"Sayang, Mama ada hadiah buat kamu" ujar Mama sembari menyodorkan sebuah kotak yang sudah terbungkus rapi,
"Terimakasih Ma" jawabku sambil menerima hadiah tersebut,
"Eits, jangan dibuka dulu, bukanya nanti saja, dikamar kalian, kalau kalian udah mau tidur" ucap Mama menghentikan tanganku yang hendak membuka kado tersebut, membuatku jadi malu sendiri,
Jarum jam pun sudah menunjukkan pukul sepuluh, kami semua pun mengakhiri percakapan dan memutuskan untuk tidur, sebelum malangkahkan kaki menuju kamar Mama sempat mengingatkan jangan lupa membuka hadiahnya tadi, aku jadi penasaran isinya apa, jarang sekali aku mendapat hadiah. Dan untuk kado pernikahan kami, kami belum membukanya, mas Randy katanya masih capek kalau aku mau buka, ya, buka sendiri saja. Tidak mungkin kan, aku membukanya, itukan hadiah dari temannya semua, tidak ada satupun dari sahabatku karena memang tidak ada sahabatku yang hadir di resepsi ini karena lokasinya terlalu jauh. Untuk resepsi dirumah dua hari lalu, kadonya aku tinggal dirumah. Alhasil, kado pernikahan kami yang begitu banyak masih tersimpan dikamar sebelah.
Mas Randy masih berada dikamar mandi, aku sendiri pun tak sabar membuka hadiah Mama.
Ternyata isi dalam kotak ini didalamnya masih ada dua kotak lagi dengan ukuran berbeda. Aku buka kotak yang lebih kecil dahulu karena bentuknya sangat imut. Isinya adalah sebuah handphone bermerek apel kegigit. Ini kan hape mahal, bahkan penggunaan nya sendiri aku tidak bisa mengingat hape yang aku punya hanya hape jadul. Rasanya aku gak pantes punya hape semahal ini, Akupun langsung menyimpannya diatas meja rias.
"Apa ini?" Gumamku melihat isi kotak kedua tersebut, sebuah baju seperti baju dalam tapi kenapa ada banyak rendanya. Berwarna merah mencolok dan sangat tipis, kira-kira panjangnya diatas lutut, berlengan pendek, bukan, ini bahkan tidak berlengan sama sekali, ini hanya terdapat tali kecil.
"Ini maksudnya apa, kok Mama ngasih baju dalam kek gini?" Gumamku lagi sambil merentangkan baju ini, tiba-tiba,
"Heh, gadis sarung, kamu mau goda saya? Jangan harap mempan, tubuh kamu gak ada yang menggoda, kecil semua" ucap mas Randy yang sudah ada di depanku entah sejak kapan, bahkan aku tidak menyadari suara pintu kamar mandi terbuka.
"Eh..maksudnya gimana mas?" Tanyaku bingung masudnya apa,menggoda apa,
"Ternyata bukan cuma kampungan, kamu juga bego banget." Ucapnya kemudian membaringkan tubuhnya hendak tidur,
Masih dalam kebingungan, Akupun menyimpan kembali hadiah Mama dan membaringkan tubuh di sofa, membaca doa dan beberapa ayat suci Alquran kemudian segera menuju alam mimpi.
...Bersambung...
...jangan lupa kasih vote, lime and komennya ya temen-temen...
__ADS_1