
"Ayah berangkat," kata ayah sembari menyodorkan tangannya,
"Iya, Yah, Ayah hati-hati dijalan " jawabku sambil mencium punggung tangan ayah.
"Iya sayang, doakan Ayah ya, biar dagangan Ayah habis terjual, kalian juga hati-hati di rumah jangan sampai kelelahan. Qila nanti lapor sama Ayah kalau bunda bandel." Nasehat Ayah padaku dan juga bunda.
"Iya mas, doa kita itu gak akan berhenti buat mas. Mas gak usah khawatir, Bunda juga kan sudah sembuh. Mas saja yang khawatirnya terlalu berlebihan," Jawab Bunda sambil menyalami tangan ayah.
Bunda Memang baru saja mengalami keguguran karena pendarahan.
Sepulang dari pondok aku mendapat kabar kalau Bunda hamil. Sempat khawatir juga waktu itu mendengar Bunda hamil karena usianya yang sudah hampir setengah abad. Tapi, kekhawatiran kami itu dikalahkan rasa bahagia.
Rasa khawatir itupun ternyata terjadi, tiga bulan kemudiannya Bunda pendarahan hebat karena memang kondisi Bunda tidak menjamin ia untuk bisa hamil, akhirnya Bunda mengalami keguguran.
Aku kasihan terhadap mereka, setelah sekian lama ingin mempunyai anak lagi, akhirnya Bunda hamil namun, kebahagian itu hanya sementara. Aku juga hadir bahkan setelah lima tahun pernikahan mereka, itupun dalam kondisi sangat lemah. Setelah aku lahir,berita dokter kembali menyayat hati mereka, dokter mengatakan kalau Bunda tidak ada kemungkinan untuk bisa hamil lagi.
Bunda sekarang berusia empat puluh dua tahun, ia menikah diusia yang masih sangat muda, tujuh belas tahun. sedangkan Ayah sudah berusia lima puluh tahun, Ayah meminang Bunda diusianya dua puluh lima tahun, Bunda waktu itu hanyalah seorang anak panti asuhan yang tidak punya keluarga, sedangkan Ayah adalah seorang supir.
"Ayah itu gak mau terjadi apa-apa sama anak dan istri Ayah." Ucap Ayah sembari mencium kening dan pipinya Bunda.
"Udah deh, Qila itu bosen lihat Ayah yang sok khawatir sama Bunda, padahal niatnya biar bisa modusin Bunda dan romantisan didepan Qila, sampai mata Qila itu terkontaminasi gara-gara Ayah dan Bunda." Ucapku sok marah pada ayah.
"Bilangin aja cemburu, iya gak Dik." Jawab Ayah untuk menggodaku.
"Ia, mas." Jawab Bunda ikut menggodaku.
"Iihh, Bunda kok gak dukung Qila sih, pokoknya Qila marah sama Ayah dan Bunda." Jawabku cemberut seolah-olah aku benar-benar marah padahal aku hanya bercanda.
"Udah jangan cemberut gitu, jelek tau gak. Ayah berangkat, Assalamualaikum." Ucap Ayah sembari memberi salam.
"Wa'alaikumussalam..." Jawabku dan Bunda bersamaan.
Didalam rumah kami bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah. Meskipun aku melarang Bunda, tetapi tetap saja Bundaku itu keukeuh ingin membantu.
Beberapa jam setelah Ayah pergi aku merasa ada yang aneh menghantui hati dan pikiranku.
"Bunda, perasaan Qila gak enak banget, kayak ada yang aneh." Ucapku pada bunda merasa khawatir tapi tidak tau apa yang ku khawatirkan, entah mengapa perasaanku sangat gelisah.
"Baca istighfar sayang, kalau belum tenang juga sholat lah," Nasehat Bunda padaku dengan tenang namun, dari tatapan wajahnya aku juga melihat ia merasa gelisah tapi, aku tidak mau bertanya lagi.
"Ya Allah, ya Rohman, yang Maha membolak-balik kan hati. Hamba tidak tau apa yang merasuki hati hamba sehingga pikiran dan hati hamba tidak konsisten. Hamba mohon ya Allah, janganlah engkau buat hati hamba ini mengkhawatirkan nikmat duniawi, jadikanlah hati ini hanya takut dan khawatir atas azab-Mu. Lindungilah keluarga hamba, saudara- saudara seiman hamba, jadikanlah kami hamba mu yang selalu taat terhadap perintahmu. Aamiin..Aamiin ya robbal'alamin."
Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Hari ini begitu cerah, ditambah suasana kampung yang masih asri menjadikan suasana disini sangat sejuk.
"Tididit tididididt." Hanyut menikmati udara segar aku tersadar dari dering ponsel jadul ku, ponsel yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS saja.
Nama Ayah tertera di ponsel, tumben Ayah nelpon dijam segin,i apa ada yang ketinggalan ya. Bukannya mengangkat telpon Ayah, aku malah sibuk berpikir sampai suara Bunda mengagetkanku dari pikiranku.
"Nduk, siapa yang telpon." Tanya bunda padaku.
__ADS_1
"Ayah, Bun." Jawabku,
"Ayah?" Tanya bunda lagi merasa heran,
"Ia bun, Qila angkat dulu ya." Jawabku kemudian mengangkat telpon Ayah.
"Assalamualaikum Yah, ada apa kok tumben pagi gini nelpon Qila, Ayah pasti rindu ya?" Ucapku tak sabaran menunggu jawaban salam Ayah.
"Wa'alaikumussalam, bener ini dengan keluarga pak Lukman?" suara di sebarang sana yang ternyata bukan Ayah.
"Hallo." Ujar si penelpon lagi karena aku tak menjawab pertanyaannya.
"Ia pak benar, saya anaknya pak Lukman." Jawabku
"Bapak atas nama Lukman mengalami kecelakaan setengah jam yang lalu, sekarang kami dalam perjalan karena dia dirujuk menuju rumah sakit.
"Apa? G-gak mungkin i-itu Ayah." Jawabku lemah dan terbata-bata, tak terasa air mata sudah menetes di pipiku dan hape yang aku pegang pun sudah terjatuh dilantai.
"Ada apa sayang?" Tanya bunda panik padaku.
"A-ay Ayah kecelakaan Bun." Jawabku tak sanggup melihat reaksi bunda.
"Eng-enggak mungkin itu Ayah sayang, mas Lukman pasti baik-baik aja tadi pagi kamu dengar sendiri kan kalau Ayah baik-baik aja." Jawab Bunda menangis sesenggukan.
"Kita harus segera ke rumah sakit Bun, kata pak polisi yang nelpon Aqila tadi mereka masih dalam perjalan. " Ujarku kepada Bunda dengan nada sedih menahan tangis.
"Iya sayang, ayo, kita harus segera berangkat."
Setelah mengambil hijab dan memakainya tanpa mengganti baju, aku dan Bunda segera ke rumah pak Udin. Masih dengan pakaian rumahanku yakni kain sarung dan baju tunik selutut. Memang inilah ciri khas ku, karena aku sudah merasa nyaman memakainya karena kebiasaan dari pondok. Ya, pondok kami memang ciri santri yang memakai kain sarung baik santri putri maupun santri putra. Aku jarang memakai gamis, sesekali aku memakainya kalau perjalan jauh saja seperti pulang dari pondok atau balik ke pondok karena memang perjalan dari rumah ke pondok memakan banyak waktu, kurang nyaman saja kalau diperjalanan memakai sarung.
Alhamdulillah pak Udin, tetangga kami, bersedia mengantar kami ke rumah sakit meskipun hanya naik mobil pick up, yang terpenting kami harus secepatnya sampai ke rumah sakit. Dalam perjalan aku dan bunda tak hentinya melafazkan zikir dan doa semoga ayah baik-baik saja.
"Suster, pasien bernama pak Lukman diruang mana? Pasien akibat kecelakaan hari ini?" Tanyaku pada suster itu.
"Pasien atas nama pak Lukman berada diruang IGD." Jawab suster itu kami pun segera menuju ruang IGD ditemani oleh salah satu orang suster karena kami tidak tahu letak ruangannya.
Pintu ruangan IGD masih saja tertutup, kata suster yang membantu kami menuju ruangan ini, Ayah masih diperiksa oleh dokter.
Lima belas menit berlalu, dokterpun keluar dan menghampiri kami.
"Bagaimana keadaan suami saya dokter?" Tanya bunda.
"Keadaan pasien sangat buruk, kepalanya mengalami benturan kuat kita harus segera melakukan operasi." Kata dokter itu yang membuat kami sangat terkejut,
"A-apa dokter? Operasi?" Jawab bunda lemah,
"Iya Bu, kita harus segera melakukan operasi sebelum keadaan pasien semakin buruk, sebaiknya segera urus surat yang diperlukan dan juga untuk biaya operasinya pada resepsionis." Jawab dokter itu kemudian meninggalkan kami didepan ruangan IGD.
Kamipun segera masuk untuk melihat kondisi ayah,
__ADS_1
Benar apa kata dokter. Kondisi Ayah sangat buruk, berbagai alat rumah sakit tertempel dikepalanya dan juga banyak luka yang ada ditubuhnya selain kepala. Aku dan bunda begitu histeris melihat kondisi ayah. Tidak tau sudah berapa banyak air mata yang menetes, namun dari tadi tidak bisa kering.
Kami segera menuju resepsionis tadi, untungnya aku sudah ingat jalannya karena memang letaknya tidak terlalu jauh. Pak Udin masih setia menemani kami, dia memberi kami banyak nasehat.
" Suster berapa biaya yang harus kami persiapkan untuk operasi suami saya." Tanya Bunda setelah kami sampai didepan resepsionis itu,
" Biaya yang harus dipersiapkan sebesar lima puluh juta, kemudian ibu juga harus menandatangi surat rumah sakit yang akan kami berikan nanti." Jawab suster,
"Lima puluh juta suster?" Tanya Bunda terkejut,
"Untuk biaya operasi memang begitu Bu, apalagi pasien mengalami luka di kepala yang begitu parah."
" Apa tidak bisa dilakukan operasi terlebih dahulu suster?, Kami tidak punya uang sebanyak itu suster". Kata bunda,
"Maaf Bu, ini sudah menjadi peraturan rumah sakit. Saya hanya menjalankan!" Jawab suster itu dengan iba.
"Terimakasih suster, kami akan segera menyediakan uangnya." Kataku dengan lemah.
Aku panik melihat kondisi bunda yang sangat terpuruk.
"Pak Udin, bisa kami minta tolong lagi?" Tanya bunda pada pak Udin.
"Iya Bu Nur, kalau saya mampu saya akan tolong." Kata pak Udin dengan iba.
"Pak saya minta tolong jual sawah kami pada siapapun. Pak Bakhtiar pernah ingin membeli sawah itu pada kami, semoga saja beliau masih mau. Saya mohon pak, kami sangat butuh uang." Mohon bunda dengan berurai air mata sambil menyodorkan kunci rumah.
"Insya Allah Bu, kalau begitu saya segera pamit agar lebih cepat." Jawab pak Udin.
"Bun, Qila pamit sholat zhuhur sebentar ya, kalau udah selesai nanti Qila yang jagain ayah."
"Ia sayang, jangan lupa doain ayah ya." Kata bunda membuatku terharu.
"Ia Bun, pasti Qila gak lupa." Jawabku
Aku pun segera pergi menuju musholla, meskipun aku belum tahu letaknya dimana nanti aku bisa tanya orang-orang.
Setelah selesai mendirikan sholat, aku pun segera menuju ruang ayah dengan sedikit terburu-buru agar Bunda pula yang sholat.
"Bruk" tak sengaja aku menabrak seseorang sehingga membuat kami terjatuh. Aku merasakan sedikit sakit diarea pinggul, karena aku terjatuh dengan posisi terduduk.
"Kalau jalan itu pakai mata dong, jangan banyak melamun". Ucap seorang pria yang aku tabrak tadi dengan kasar membuatku sedikit takut,
"Maaf pak, saya benar-benar tidak sengaja." Ucapku meminta maaf tapi, dia malah marah kembali,
"Bapak?" Saya bukan bapak kamu!" Ucapnya lagi dengan masih sangat kesal dan bergegas pergi meninggalkan,
"Dasar bocah gak tau diri, penampilannya juga aneh banget." Ucapnya perlahan sambil berjalan meninggalkanku namun masih dapat kudengar.
" Kenapa dia berpikir aku aneh, bukankah aku sudah meminta maaf ? Dia saja yang aneh, marah-marah tidak jelas bahkan aku juga tidak sepenuhnya salah." Batinku.
__ADS_1
...Bersambung....
...Jangan lupa kasih vote, like and komennya ya temen-temen yabg baik hati...