
Hari ini, hari libur. Di pagi hari yang cerah ini aku tak mau memikirkan masalah yang akan terjadi kedepannya. Cukup jalani saja dengan ikhlas, bukankah Allah tidak memberikan ujian melebihi batas kamampuan hambanya? Setelah semalaman aku menangisi kelakuan mas Randy, sekarang aku hanya ingin mendoakannya semoga Allah memberikan hidayah kepadanya secepatnya. Semoga ia kembali ke jalan Allah.
Aku dan mas Randy sekarang sedang sarapan. Sejak bangun tidur mas Randy belum mengucapkan kata-kata apapun termasuk bertanya kenapa ia bisa tidur di sofa.
Ku perhatikan mas Randy dengan lekat yang tengah memasukkan suap demi suap nasi kedalam mulutnya. Mas Randy memang tampan, kulitnya putih tidak sepertiku yang berkulit coklat, hidungnya mancung, kumis tipisnya yang membuat dia semakin terlihat sangat mempesona, berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang. Pantas saja mas Randy tak sudi memperistri wanita seperti aku, dengan wajah pas-pasan dan dari keluarga sederhana pula.
"Ngapain kamu mandang saya kayak gitu? Saya tahu saya tampan, tapi jangan harap saya akan jatuh cinta sama kamu.!" Ucap mas Randy menyadarkanku,
"Maaf mas"
"Saya bosan setiap hari dengar kata maaf dari mulut kamu, apa tidak ada kata lain yang bisa kamu ucapkan selain Kata maaf.?"
"Iya mas"
tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar mengalihkan pembicaraan kami. siapa yang datang sepagi ini. Aku bangkit dari dudukku dan meninggalkan mas Randy yang masih sarapan.
Pintu terbuka memperlihatkan Mama yang berdiri dengan hijab dan baju gamis yang begitu indah.
"Mama. Ya Allah Mama udah berubah, Subhanallah. Semoga Mama bisa Istiqomah, Aqila senang benget Ma." Ucapku dipelukan Mama dengan berurai air mata. Aku benar gak nyangka secepat ini Mama diberi hidayah untuk menutup aurat padahal baru seminggu lalu kami meninggalkan rumah.
"Eeh, Ma, Mama kenapa?" Tanyaku panik karena tubuh Mama hampir tersungkur kelantai kalau tidak ditahan oleh mas Randy yang entah sejak kapan sudah berada disini. Mas Randy pun membawa Mama kedalam kamar tamu.
"Mama sakit. Sejak kalian pindah kondisi Mama kurang baik, Mama hampir setiap jam memanggil nama Aqila." ucap Papa setelah Mama dibaringkan oleh mas Randy di ranjang.
"Kenapa Papa gak bilang kalau Mama sakit? kita kan gak tahu, kasian Mama, Pa." Ucapku dengan air mata yang sejak tadi tak berhenti turun.
"Mama melarang Papa memberi tahu kalian. kalian tahu sendiri Mama udah gak sabar pengen punya cucu. Walaupun menahan rindu sama Aqila, Mama akan rela asalkan keinginannya cepat terpenuhi. Tapi sayang, fisiknya tak bisa bekerja sama dengan hatinya." jelas Papa.
"Sekarang keadaan Mama gimana,Pa? Mama gak pernah kena serangan jantung lagi kan?" tanya mas Randy,
"Alhamdulillah, sejak kalian menikah kondisi jantung Mama semakin baik. Kalian enggak usah terlalu khawatir, kata dokter kemarin Mama cuma perlu istirahat cukup. Lagian Mama kan udah jumpa sama Aqila, Mama pasti sembuh.
"Aqila" Ucap Mama perlahan,
"Mama, Alhamdulillah Mama udah sadar. Aqila khawatir banget sama Mama."
"Mama enggak papa sayang, Mama cuma kelelehan dan rindu sama menantu cantik Mama." ucap Mama sambil mencium keningku,
__ADS_1
"Qila juga rindu sama Mama. Mama punya hutang sama Aqila!"
"Mama punya hutang? perasaan Mama gak pernah ngutang deh sana Qila."
"Pokoknya ada. Mama utang cerita sama Qila, cerita sama Aqila gimana perjalanan hijrah Mama sampai Mama memantapkan hati untuk menutup aurat, padahal Qila baru pindah seminggu."
"Kayaknya kita jadi terlupakan, Pa, kalau kita masih ada disini." Ucap mas Randy,
"Menantu Mama ini. Nanti Mama akan cerita semua, sekarang Mama mau tanya dulu sama kalian, udah ada kabar belum kalau Mama akan segera punya cucu.
"Ma, kita baru pindah seminggu lho, buat cucu itu proses panjang. Udah gitu, buat gak langsung jadi pula" jawab mas Randy
"Padahal Mama udah gak sabar pengen cucu" ucap Mama manja.
"Ma, kalau Allah ngasih pasti nanti Aqila hamil, kita cuma bisa bersabar." Jawaban mas Randy memang terdengar sangat menentramkan hati, tapi aku itu hanya sebuah kepura-puraan. Bagaimana aku bisa hamil jika tidak disentuh olehnya. Jangan kan melakukan hubungan suami istri, menyentuh tangannya saja untuk dialah ia tidak ridho.
"Iya sayang, Mama akan sabar menunggu. Mama mau nginap disini, Mama kangen sama menantu Mama."
"APA?" Teriakku dan mas Randy bersamaan,
"Kalian kenapa teriak segitunya, gak rela Mama ganguin kalian acara buat cucu untuk Mama? kalian tenang saja Mama gak bakalan gangguin!"
"Tapi apa? udahlah Randy, kamu itu gak pernah buat hati Mama senang. enggak lihat apa, Mama ini sakit gara-gara menahan rindu sama menantu."
"Sama Randy, Mama gak rindu?"
"Buat apa Mama rindu sama kamu? gak ada untungnya buat Mama."
"Sepertinya posisi Randy sebagai anak sudah teralihkan." Kata mas Randy memelas,
"Gak usah sok manja gitu, sebelum ada Aqila juga kamu jarang banget jumpa sama Mama. Jadi pantaslah kalau Mama menggantikan posisi kamu."
"Baiklah, kalau gitu Randy sama Aqila keatas sebentar, Ma. Mama sama Papa istirahat disini dulu." Ucap mas Randy dan menarik paksa tanganku menuju lantai atas dan masuk kedalam kamarnya.
"Mas, sakit" Ucapku pada mas Randy karena mas Randy terlalu keras menarik pergelangan tanganku.
"Ini gawat, jangan sampai Mama tahu kalau kita tidur pisah ranjang. Cepat kemasi barangmu dan sembunyikan dimanapun. jangan sampai Mama melihatnya, kita tidak mungkin bisa membawanya ke kamar ini, bisa gawat."
"Tapi disembunyikan dimana mas?" Tanyaku polos,
__ADS_1
"Otak kamu kapan jalannya sih, benar-benar bego banget. Simpan semua barang kamu entah itu didalam lemari, dibawah ranjang pokoknya jangan sampai Mama tahu kita pisah kamar. Setelah selesai kunci kamar itu dan berikan kuncinya padaku agar Mama gak bisa masuk."
"Tapi mas, Qila harus pakai baju apa kalau semuanya disimpan dalam kamar itu?"
"Susah banget ya ngomong sama kamu, baju kampungan kamu itu bawa ke kamar ini beberapa potong, tapi ingat jangan sampai Mama tahu. Kalau Mama sampai tahu kamu akan terima ganjarannya."
"Baik mas"
"Tunggu apa lagi? cepet kemasi barang kamu itu selagi Mama masih istirahat."
"iya mas"
...*****...
Berada dalam kamar yang sama dengan mas Randy membuat kecepatan jantungku memompa darah semakin cepet, padahal jarak dia jarak kami terbilang sangat jauh. Mas Randy duduk di atas ranjang sambil melihat laptopnya dengan sangat fokus, apalagi yang biasa ia lakukan selain pekerjaannya. Mas Randy benar-benar gila kerja. Sedangkan aku duduk diatas kursi didepan meja rias memandangi mas Randy dari arah cermin.
Meskipun ini bukan untuk pertama kalinya kami tidur dalam kamar yang sama, tapi aku masih merasa sangat canggung. Aku bingung harus tidur dimana, sedang mata ini sudah terasa sangat berat untuk terbuka. Baiklah, seperti sebelumnya, seperti sewaktu tinggal masih di rumah orang tua mas Randy, berhubung tidak ada sofa di kamar ini aku memutuskan tidur diatas lantai beralaskan ambal, itu tidak masalah bagiku karena ambal yang digunakan pun sangat bagus.
"Mau ngapain kamu?" Tanya mas Randy sambil menatapku dengan tajam yang sedang memangku selimut dan bantal.
"Qila mau tidur, mas!" jawabku singkat,
"kamu tidur di lantai?" Tanyanya dengan penasaran,
"Iya, mas."
"Untuk malam ini kamu saya izinkan tidur di ranjangku," Katanya cuek "Tapi kamu jangan mimpi kalau saya kasian sama kamu. Ingat! saya hanya tidak mau besok ketika bangun tidur kamu masuk angin dan Mama akan banyak mengintrogasi ku." Lanjutnya,
Aku tahu mas, tidak sedikitpun dihati kamu ada perasaan cinta untukku bahkan untuk sebesar butiran debu pun tidak ada. Tapi tidak bisakah kami memiliki perasaan kasian sebagai sesama manusia.
"Baik mas." Akupun naik keranjang mas Randy dan membaringkan tubuhku disampingnya. Jangan tanyakan sudah secepat apa jantungku memompa darah, intinya kecepatannya melebihi kecepatan jantung ketika aku disuruh pidato mendadak di khalayak umum seperti yang pernah aku alami ketika di pondok dulu.
Kulihat mas Randy dia hanya biasa saja bahkan fokusnya didepan laptop tidak terganggu sama sekali.
Apa aku bisa tidur dengan keadaan seperti ini? akupun tidak tahu jawabannya hanya saja aku sedang berusaha untuk memejamkan mata. Apa lagi yang bisa kelakukan diposisi seperti ini? mengharapkan bisa bercerita atau bercengkrama dengan mas Randy, pasti kalian sudah tahu jawabannya kalau itu tidak mungkin.
...Hai teman-teman semua, jangan lupa baca surat Al-kahfi nya. jadikanlah Al-Qur'an sebagai bacaan utama....
jangan lupa juga Like, vote and comennya
__ADS_1