Suamiku Benci Aku

Suamiku Benci Aku
Kedatangan Sang pujaan hati


__ADS_3

Bab 13


“Mas, mau kemana?” Tanyaku pada Mas Randy yang hendak keluar rumah, biasanya dia belum bangun sepagi ini walaupun ia pergi ke kantor apalagi di hari libur seperti ini.


“ Bukan urusan kamu.” Jawabnya cuek,


“hufft” Dari pada memikirkan kemana perginya Mas Randy lebih baik aku melanjutkan masakan ku yang hampir selesai.


Setelah semua masakan selesai aku menghidangkannya diatas meja seperti biasanya untuk disantap sebagai sarapan pagi. Mas Randy belum kunjung datang, dari pada menunggunya lebih baik aku sarapan terlebih dahulu karena masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan ditambah tugas kuliah yang begitu banyak. Ternyata kuliah itu sangat jauh berbeda dengan sekolah, hampir setiap dosen memberi tugas disetiap pertemuan.


Suara ketukan pintu terdengar sangat keras, dapat dipastikan orang yang mengetuknya tidak sabaran. Aku segera membuka pintu meninggalkan sarapanku yang masih setengah masuk kedalam perutku, mungkin itu Mas Randy, tidak mungkin orang lain yang mengetuk pintu dengan begitu tidak sopannya.


Pintu aku buka dengan begitu lebarnya, pemandangan didepan pintu ini sungguh membuat hatiku begitu sesak. Dengan manisnya Mas Randy menggenggam tangan seorang wanita yang bersandar mesra di dada bidangnya, aku saja sebagai istri sahnya baik didalam agama maupun dalam negara tidak pernah diperlakukan seperti itu. Allah, apakah ini kekasih Mas Randy yang begitu dirindukannya? Apakah ketakutan ku selama ini akan terjadi mulai hari ini?


“Dia siapa, Yang?” Tanya gadis itu pada Mas Randy dengan suara merdunya sambil menatapku dengan tatapan tidak suka.


“Ooh, dia pembantu di rumah ini! ayo masuk katanya kamu sudah lapar” Jawaban Randy semakin membuat hatiku hancur sehancurnya, merekapun masuk kedalam rumah tanpa memperdulikanku.


Sekarang aku tengah menghidang makanan untuk suamiku dan kekasihnya, Mas Randy benar-benar menjadikanku sebagai pembantu.


Setelah selesai melayani mereka aku segera masuk kedalam kamarku menumpahkan air mata yang sejak tadi memberontak untuk keluar. Allah, sanggupkah aku melewati hari-hariku dengan kehidupan seperti ini?


Astaghfirullah, ampuni hambamu ini ya Allah. Seharusnya hamba tak pantas mengucapkan perkataan seperti itu, hamba sudah seperti orang yang tidak percaya akan kuasa-Mu.

__ADS_1


Seharusnya hamba berdoa agar diberi kesabaran oleh- Mu bukan malah mengeluh ketika diberi ujian yang masih sangat kecil ini. Diluar sana pasti banyak saudara-saudara kami yang mempunyai ujian lebih besar dari yang hamba lewati, contohnya saja saudara kami di Palestina sana yang bahkan untuk mendirikan sholatpun mereka harus mempertaruhkan nyama mereka. Sedang kami disini dengan mudahnya untuk mendirikan sholat, diantara kami malah ada yang masih dengan senang hati meninggalkanya. Ampuni kami ya Allah. Semoga engkau segera memberi kami hidayah secepatnya.


‘Hei, pembantu! Seharusnya kamu itu melayani majikanmu dengan benar, bukan malah tidur di kamar.” Ucap kekasih Mas Randy setelah aku membuka pintu kamarku karena pintunya diketuk,


“Maaf, non” aku tak tahu kata apa yang harus kuucapkan kepadanya, walaupun hati tak mengizinkan jawaban yang keluar dari mulutku itu tapi apa hendak dikata, bukankah mas Randy sendiri yang mengatakan aku adalah seorang pembantu?.


“ Malah bengong pula, sekarang beresin piring kotor sisa makan kami tadi. Ingat! Kamu digaji untuk bekerja bukan untuk tidur! Setelah selesai lo beresin, siapkan kami cemilan dan minumnya juga!


“ Baik, non.”


*****


“Yang, kapan kamu mau melamar aku?”


“ Aku hanya takut kamu akan mengingkari janji kamu, “


“Kamu tahu sendirikan, aku itu cinta banget sama kamu, aku gak bisa kehilangan kamu. Bahka ketika kamu memutuskan untuk kuliah di luar negri pun aku orang yang paling sedih bukan kedua orang tua kamu. Kamu tahu alasannya kenapa? Karena aku cinta banget sama kamu, aku enggak mau untuk jauh dari kamu untuk yang kedua kalinya.”


Samar- samar aku mendengar percakapan mereka berdua dengan begitu harmonis, sikap mas Randy sangat berbeda ketika berhadapan denganku. Semenjak kedatangn mbak Silvia tempo hari, mas Randy sangat jarang pulang ke rumah walaupun bisanya mas Randy memang jarang di rumah. Tiga hari sudah mbak Silvia datang, mas Randy hanya dua kali datang ke rumah itupun hanya sekilas mengmbil beberapa pakaian dan memberikan pakaian kotornya padaku untu di cuci. MIRIS, nasibku benar- benar miris, suamiku sendiri menjadikanku pembantu.


Setiap malam aku harus tidur di rumah sendirian dalam keadaaan was-was, entahlah aku memang begitu penakut, walaupun tidur di selimuti rasa takut aku harus siap meghadapinya tidak mungkin setiap malam aku harus numpang tidur d rumah tetangga walaupun mereka tidak masalah akan hal itu. Mungkin dengan begini aku akan menjadi seorang wanita yang lebih pemberani lagi.


Entah sampai kapan hidupku akan seperti ini, Aku hanya berdoa semoga masalah rumah tanggaku ini cepat selesai entah itu nanti berakhir dengan sebuah perpisahan aku akan ikhlas.

__ADS_1


“Qila, ngelamunin apa sih? Kayak orang lagi putus cinta saja!” ucap sahabatku. Ternyata aku sedari tadi melamun, sekarang kami berdua tengah berada di kantin kampus menunggu mata kuliah lain.


“e-enggak kok, aku gak lagi ngelamunin apa-apa. Aku Cuma lagi kepikiran banyak tugs, kamu tahu sendirikan tugas kita itu banyak banget!”


“Santai aja kali Qil, tugas kuliah itu gak usah terlalu di pikirkan, nanti juga bakal siap”


“Kamu enak ngomong gitu, karena memang bakat kamu ada di situ. Lah, aku? Kamu tahu sendirikan aku gak minat kuliah di jurusan ini, aku itu gak suka yang namanya masalah bisnis dan semacamnya,”


“Walaupun kamu gak minat, kamu pasti bisa. Aku yakin kamu itu sosok yang pintar. Yang harus kamu lakuin itu adalah kamu harus ingat, kamu kuliah untuk apa? Dan kenapa kamu ambil jurusan ini, bukankah katamu kamu kuliah disini karena orang tuamu? Jadi kamu harus semangat demi orang tuamu, oke! SEMANGAT’


Inilah yang aku sukai dari sosoknya, selalu memberiku motivasi. Aku memang memberi tahu bahwa aku kuliah di jurusan ini keinginan dari kedua orang tuaku, tidak mungkinkan kalau aku mangatakan keinginan mertuaku? Bukankahkah mertua juga orang tua, jadi aku tidak berbohongkan?


Biaklah mulai detik ini aku harus semangat kuliah, mengejar impian melalui perantara, sedidaknya jika nanti mas randy menceraikanku aku sudah memiliki pendidikan, meskipun aku belum tahu kapan itu terjadi yang kuharapkan semoga itu tidak terjadi.


Didunia perkuliahan sangat jauh berbeda dengan sekolah, di sekolah kita dituntut harus mengerjakan tugas rumah, jika tidak mengerjakan akan dihukum misalnya seperti dijemur di lapangan. Sedangkan diperkuliahan tidak ada yang peduli, itu dikembalikan kediri kita masing-masing, sekitr delapan puluh persen ilmu kita yang cari sendiri sedang dari dosen kita hanya mendapat sekitar dua puluh persen.


Kuliah mengajarkan kita untuk ikut berorganisasi, sedang aku tipe orang yang tidak suka akan keramaian.


Sepulang dari kampus aku melakukan kegiatan seperti biasa yakni mengerjakan pekerjaan rumah, memasak walaupun hanya umtuk diri sendiri. Aku tidak tah seberapa kuat aku untuk bertahan hidup dengan keadn seperti ini, yang aku pegang sekrng Bahwa Allah tidak akan menguji umatnya melebihi batas kemampuan umatnya.


Semakin hari sikap mas Randy semakin tidak peduli denganku, meskipun ia jaarang pulang ke rumah, tapi setiap kali ke rukamah mas Randy pasti mengeluarkn kata-kata kasar.


Setelah selesai mengerjakan pekerjaanjm sudah menunjukkan pukul lima sore, entah sejakkapan pula mas Randy sudah duduk manis di sopa.

__ADS_1


Sebagai seorang istri yang mengharap ridho suaminya, ku beranikan diri untuk menghampirinya dan mengambil tangannya untuk disalam. Mas Randy terlihart sedikit terkejut atas kehadiranku, namun ia tak menolak uluran tanganku. Alhamdulillah, bahagiaku cukup sederhana dengan penerimaan ulurn tangnny saja aku sudah sngat bahagia apalagi jika mas Randy berlaku seperti suami pada umumnya mungkin akunadalah orng yang paling bahagia.


__ADS_2