Suamiku Benci Aku

Suamiku Benci Aku
7. Kapan Hamil?


__ADS_3

Pagi ini semua keluarga termasuk mas Randy sedang sarapan pagi. Berhubung hari ini hari libur jadi mas Randy tak punya alasan untuk tidak ikut sarapan bersama kami.


"Sayang, kamu udah hamil belum? Mama udah pengen banget gendong cucu!"


"uhuk uhuk uhuk" ucapan Mama membuatku sangat terkejut, bagaimana aku bisa hamil jangankan melakukan itu, kami bahkan tidak pernah tidur seranjang.


"Kamu kenapa sayang? hati-hati dong sayang minumnya." ucap Mama memperingati,


"Iya Ma, Qila gak kenapa-napa kok." jawabku


"Gimana, kalian udah ada ikut program hamil belum?"


Kulihat mas Randy wajahnya tetap sama seperti biasa, datar. Apa yang harus aku katakan sama Mama gak mungkinkan aku jawab dengan jujur. Bisa-bisanya nanti mas Randy murka sama aku.


"Mungkin belum waktunya Ma. Nanti Allah pasti kasih sesuai dengan waktu yang tepat" hanya itu yang bisa ku ucapkan menjawab pertanyaan Mama,


"Selain berserah diri kepada Allah, kalian juga harus lebih giat usaha lagi biar cepat dikasih." pertanyaan apalagi ini?


Aku hanya diam, biar mas Randy saja yang menjawab.


"Gimana mau giat usaha Ma,? Mama tiap hari kekepin istri Randy, mau diajak pindah rumah Mama gak diizinin."


"Itu cuma alasan kamu saja, tanpa harus pindah rumah kan bisa usaha. kamu saja yang gak pernah ajak Qila liburan, ajak main ke hotel yang bagus, ini malah kamu sibuk kerja. Disuruh hari libur kamu malah tidur."


"Perusahaan udah jadi tanggung jawab aku Ma. kalau aku gak kerja gimana nasib perusahaan?"


"sekali-kali kan bisa libur. Disuruh bulan madu kamu malah tolak demi kerjaan kamu itu. pokonya Mama gak mau tahu, Qila harus cepat hamil Mama udah gak sabar gendong cucu."


"Gak bisa gitu dong Ma. Mama kenapa sih atur hidup aku semua?" Bentak mas Randy yang membuat kami semua terkejut.

__ADS_1


"Randy! jaga bicara kamu? ucap Papa yang sedari tadi diam.


"Maaf Ma. Randy gak bermaksud bentak Mama." ucap mas Randy pada Mama tapi Mama hanya diam saja. Mungkin Mama sedih.


"Ma, mungkin Randy benar mereka butuh waktu untuk berdua. Biar mereka pindah rumah, Mama juga kan bisa tiap hari kunjungi Qila." ucap Papa memberi solusi,


"Tapi Pa, Mama gak mau pisah sama Qila."


"ini juga demi kebaikan kita semua Ma. Mama sendiri kan yang udah gak sabar ingin Punya cucu."


"Baik, Mama akan izinin kalian pindah rumah dengan syarat, Mama bebas kapan saja jenguk Qila. Dan ingat, kalian harus cepat kasih Mama cucu."


"Baik Ma, terima kasih banyak udah izinin kita pindah rumah. kalau gitu nanti sore kita akan pindah." Putus mas Randy,


"Satu lagi, kamu gak boleh buat Qila nangis. Kalau sampai Mama tahu kamu buat Qila nangis Mama gak akan segan keluarin kamu dari keluarga kita. kamu harus ingat, jaga baik-baik anak Mama!"


kamu mungkin gak nyakitin fisik aku mas, tapi kamu nyakitin batin aku. Selama ini aku selalu melihat kebencian di matamu padaku. kapan kamu menganggap ku istri mu, mas. Didepan Mama dan Papa saja kamu terlihat tidak peduli, bagaimana nanti kalau kita hanya tinggal berdua. selama ini aku sangat senang Mama tidak mengizinkan kita pindah rumah. Tapi tidak mungkin aku menolak untuk tinggal berdua dengan mu ketika Mama sudah mengizinkankannya. Biar bagaimanapun seorang istri harus ikut dengan suaminya.


semoga aku bisa meluluhkan hatimu mas. semoga engkau dapat memberiku cinta layaknya seperti pasangan pada umumnya.


"Aku heran deh sama Mama! Yang anaknya Mama itu siapa sih? Aku atau Qila?" ucap mas Randy sedikit cemberut,


"Anaknya Mama itu tetep kamu, tapi sekarang Qila itu udah jadi anak Mama juga. Kamu gak usah cemberut gitu, keliatan udah tua nanti Qila berpaling dari kamu. Kamu mau jadi duda?" ucap Ma tersenyum mengejek mas Randy


"Mama doain aku jadi duda?"


" Siapa tahu kamu mau."


Didepan mereka kamu terlihat mempertahankanku , mas, tapi nyatanya kamu ingin secepatnya melepasku. Teringat kembali perkataan mu di mana seharusnya kita jadikan malam pertama kita.

__ADS_1


flashback


" Hei... Bangun, ngapain kamu tidur di ranjang saya" ucap mas Randy membangunkanku,


"Eh, mas, sudah datang" jawabku polos,


" Turun dari ranjang saya, enak banget tidur disitu"


"Tapi mas, Qila harus tidur dimana?"


" Itu bukan urusan saya, minggir" ucapnya lagi sambil menarik tanganku kemudian ia berbaring dengan nyaman,


"Satu lagi, jangan harap saya mau tidur seranjang dengan wanita kampung kayak kamu, saya jijik lihat muka kampungan kamu ada dikamar saya. Jadi, sebaiknya gak usah muncul dihadapan saya." ucapnya kasar,


"secepatnya gue akan menceraikan kamu. Ingat saya tak pernah menganggapmu sebagai istri. Kamu jangan pernah berfikir kalau saya akan memperlakukanmu sebagai istri, ingat, saya hanya menganggapmu sebagai pembantu ku."


Flashback off


setelah mengusirku dari tempat tidur mu kamu malah mengatakan kata yang begitu menyakiti ku. Baru sehari kamu mengucapkan kata sakral disaksikan Allah dan para malaikat, dihadapan Ayah dan banyak para saksi lain kamu sudah mengatakan hal yang sangat diinginkan syaitan.


Apakah setelah pindah rumah nanti kamu akan menjadikan ku sebagai pembantu, mas? sama seperti yang kau katakan pada waktu itu? selama ini kamu hanya tak menganggap ku saja sudah menyakitiku. Bagaimana nanti jika kamu benar-benar menganggap ku sebagai pembantu mu, seperti apa rasa sakit yang aku aku terima.


Allah, semoga aku bisa menjalani kehidupan selanjutnya dengan penuh sabar dan syukur. Jangan sampai aku tertipu daya oleh godaan syaitan yang selalu memberikan bisikan indah.


...*****...


...Bersambung...


...jangan lupa kasih vote, like ,dan komentnya ya teman-teman semua...

__ADS_1


__ADS_2