Suamiku Buta

Suamiku Buta
PERJODOHAN


__ADS_3

Namun karena Steven laki laki dan ditinggal oleh ayahnya sejak SMP, maka ia lebih dewasa daripada kedua bidadari sahabatnya ini.


***


"Mama, Arum pulang," ucap Arunika setelah membuka pintu. ia segera menghapiri nyonya Anggista dan merasa heran karena Papa Dian sudah ada di rumah, tidak seperti biasanya yang pulang saat pukul sembilan malam.


"Sayang sini duduk dekat Mama," ucap nyonya Anggista. sedangkan Amel duduk di samping tuan Rahardian.


"Rum, kita mau bicara dengan kamu," ucap nyonya Anggista memulai percakapan setelah beberapa menit hening.


"iya bicara saja, Ma, Pa," jawab Arum dengan melengkungkan bibirnya.

__ADS_1


"jadi begini, Sayang, kita berniat untuk menjodohkan kamu dengan teman sahabat Mama dan Papa," jelas tuan Dian. Kami berharap kamu menerima perjodohan in, bagaimana?" tanya tuan Dian.


Arum menatap nyonya Anggita dan Amelia secara bergantian. mencari penjelasan atas pertanyaan Papanya. seolah mengetahui apa yang dipikirkan oleh Arum, Anggista pun berkata, "iya, apa yang dikatakan Papa benar, Rum, Kami menjodohkan kamu dengan anak teman Mama dan Papa. tadinya kakak Amel yang akan kita jodohkan, tapi mengingat kakakmu kuliah di fakultas kedokteran, jadi kasihan kakakmu nanti tidak bisa konsentrasi dengan kuliahnya. jadi kami memintamu untuk menggantikannya menikah dengan Alvaro, kamu setuju 'kan?" tanya nyonya Anggista.


"iya, Rum, kamu tahu 'kan kalau aku sangat sibuk sekali. mana bisa aku memikirkan pernikahan sedangkan urusan kuliahku sangat banyak. kalau kamu 'kan tidak seberapa tugas kuliahnya. dan dikerjakan sambil tidur pun bisa," ujar Amel. tenang saja, aku ga papa kok," lanjutnya.


apa yang harus ia lakukan untuk membalas budi atas kebaikan dan kebahagiaan yang selama ini ia peroleh dari keluarga Rahardian, untuk menolak perjodohan ini rasanya tidak mungkin. Namun hatinya berkata tidak walau bibirnya tak mampu berucap yang sebenarnya. Arum ingin menolak, tapi tidak mungkin. setelah mendapat anggukan dari Amel dan Mama Anggista akhirnya ia menganggukkan kepala, "Iya, Arum setuju dengan perjodohan ini, Pa," jawabnya dengan menundukkan kepala.


Mama Anggita langsung memeluk Arum dengan erat dan mengucapkan terima kasih, pun begitu pula dengan papa Dian, sedangkan Amel tersenyum lega.


"Amel, kamu harus menikah dengan Alvaro, pokoknya Papa ga mau tahu. kita sudah berhutang budi pada keluarga Adhitama! terutama saat perusahaan kita ditipu olwh investor, Mel," tegas Rahardian dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Enggak! Amel gak mau, Pa, Amel gak mau menikah dengan laki laki buta! Amel masih kuliah, Amel masih mau bersenang senang dengan teman teman Amel. Amel masih mau menjadi dokter spesialis sebelum menikah, Pa! pokoknya Amel ga mau menikah, apalagi dengan laki laki buta. Amel gak mau," keukehnya.


"Pa, jangan paksa Amel, apa yang Amel katakan benar, Pa," ucap nyonya Anggista menengahi pertikaian dan argumen anak dan papa itu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Ma, Papa gak mau di cap sebagai orang tak tahu balas budi," tanya tuan Dian.


Seketika hening. lalu nyonya Anggista kembali membuka suara, "bagaimana kalau Arunika saja yang kita jodohkan, Pa. Mama yakin dia mau," ujar nyonya Anggista.


"bagaimana kalau dia mempermalukan kita, Ma?" tanya tuan Dian.


"tidak mungkin, Pa, kita tahu sifat Arum buka."

__ADS_1


happy reading temans, semoga selalu bahagia. ingat tolong beri vote dan hadiah ya.


Terima kasih


__ADS_2