SUARA SENJA

SUARA SENJA
Bab 11 "Membius"


__ADS_3

Dunia seperti mempermainkan ku saat ini, sekejap aku merasa bahagia, dalam sekejap pula aku merasakan sakit. Aku tak ingin hidup dalam permainan dunia yang seperti ini.


Bimbang datang menghampiri ku lagi. Aku selalu menyadari, jika aku tidak akan sanggup memiliki dia sepenuhnya. Namun, ketika bersama dirinya seolah dia itu milikku satu-satunya.


Tak bisa kulupakan caranya bernyanyi dan menatap dalam mata laki-laki lain. Nala, haruskah aku berhenti? Atau menunggu kau yang akan menghentikanku?


Hari-hari pun berlalu, aku mulai memiliki duniaku sendiri. Aku bisa menghabiskan waktuku untuk bekerja di cafe bersama orang yang menganggapku sebagai saudara. Begitu juga pak manager yang selalu terbuka padaku.


Sakit yang ku rasa karena cinta, dapat terbayarkan dengan rasa cinta yang lain, dalam bentuk berbeda yaitu sebuah keluarga. Kini sudah seminggu setelah aku mulai bekerja di cafe ini, dan Nala pun telah disibukkan dengan pekerjaannya.


Dulu kita selalu menghabiskan waktu bersama, susah senang kita bersama, namun kini terasa semakin jauh. Mungkin karena kesibukannya ataupun tuntutan profesinya, sehingga hanya menyisakan sedikit waktu untuk kita saling berjumpa.


...****************...


"Oii, bro!!!" seru Arka, salah satu pengunjung cafe yang hampir setiap hari datang bersama teman-temannya ke cafe tersebut.


Merasa dirinya terpanggil, Awan melambaikan tangan dan bergegas menuju Arka, tak lupa Awan membawa buku menu untuk di tawarkan pada Arka.


"Ia bang Arka, mau persen apa bang?" tanya Awan dan menyodorkan buku menu pada Arka.


"Gue persen kaya biasa aja. Eh, lo liat temen-temen gue ga? Udah pada kesini belom ya?" Ucap Arka dan mengajukan beberapa pertanyaan.


"Emm, kayanya belom deh bang. Baru bang Arka doang yang keliatan. Ada lagi yang persen bang?"


"Oh, gitu. Ya udah persen yang biasa aja dulu, sekalian nunggu yang laen. Kebiasaan kalo hari minggu pada ilang-ilangan."


"Pada sibuk pacaran kali bang, gue siapin psenannya dulu ya bang."


"Tau dah, ngakunya doang pada jomblo. Bokinnya segudang. Ya udah ok, makasi ya Bro"


Beberapa menit kemudian Awan datang membawa psenan Arka.


"Ini bang creamy latte dingin siap, di bonusin cemilan sama om Bimo ni bang, menu baru katanya."


"Wihh, mantep emang om Bimo, paling mengerti. Bilangin makasih entar ya."


Di karenakan kondisi cafe tidak terlalu ramai, Awan pun duduk di kursi kosong de depan Arka.


"Bang, gue duduk sini boleh?" tanya Awan.


"Owh... Iiaa duwduwk awja ga paopao, darrii podao soepi." ucap Arka yang kini mulutnya penuh terisi cemilan pemberian pak Bimo koki di cafe tersebut.


"Makasih bang. Abang sama temen-temen abang kuliah ambil jurusan apa bang?"


"Emmh, pada ngambil jurusan komputer atau informatika. Tapi pada males-malesan hahaha."


"Males-malesan gimana bang?"


"Ya pada asal-asalan gitu, kalo mau masuk ya berangkat, kalo kaga ya nongkrong."


"Emang ga sayang biaya bang,udah mahal-mahal malah main-main doang."


"Ya mau gimana lagi Wan, itu kenyataannya. Lagi juga mereka, termasuk gue cuma mau ijazahnya doang. Kalo soal kerjaan, mereka udah pada punya kerjaan masing-masing. Udah gitu ga ada yang sesuai ama jurusannya lagi."

__ADS_1


"Wah, udah punya kerjaan masing-masing toh."


"Si Botak Ogi, dia punya bengkel mobil gede di Jakarta Pusat. Si Maman, dia punya Cafe kaya gini, di Malioboro Yogyakarta. Si Akim sama si kuncen punya usaha rental mobil, joinan dia berdua. Kalo gue punya studio musik. Biar kata keliatan kumpul-kumpul kaya orang gabut, mereka orang-orang berduid Wan."


"Wah, keren bang."


"Ehh, bro... Bukanya disini ada live musicnya ya? Ko ga pernah denger gue. Udah 6 bulan disini, siang malem ga ada yang mainin tuh alat musik."


"Kurang tau bang, belom sempet nanya sama pak manager."


"Boleh di mainin ga sih, kalo boleh, hayu lah kita coba. Bisa main musik kan lo?"


"Bisa sih bang."


"Ya udah, ayo coba Wan."


"Tapi, takut di omelin gue bang."


Arka pun berjalan menuju stage live music yang ada di cafe tersebut. Dia mulai memainkan keyboard yang ada di hadapannya saat ini. Awan yang merasa ragu untuk ikun naik ke atas stage live music.


"Udah naik aja mumpung masih sepi, nanti kalo rame sibuk kamu." ucap Yadi yang sedari tadi memperhatikan Awan.


"Beneran ga papa pa?" tanya Awan ragu.


"Iah, udah naik sana." jawab pa Yadi yang kemudian mengacungkan ibu jari pada Arka yang tengah memainkan keyboardnya.


Awan pun naik ke atas stage live music, dia mengambil gitar akustik. Kemudian dia mencoba senar gitar itu satu persatu. Awan mendapati senar gitar yang terdengar sumbang. Butuh 1 sampai 2 menit untuk menyetel gitar yang ia kenakan agar terdengar merdu.


Arka pun memperhatikan apa yang dilakukan Awan, ia sedikit terkejut, rupanya Awan terlihat sudah sangat mahir dengan gitar tersebut, karena dia mampu membuat gitar yang tadinya sumbang, kini terdengar sangat merdu dan sangat pas.


Awan memberi isyarat pada Arka, bila dia telah selesai menyetel gitarnya. Arka meminta agar Arka menyanyikan lagu apapun yang ia mau, Arka akan segera mengikuti.


Petikan gitar dari Awan pun mulai terdengar. Petikan yang menghasilkan nada yang sangat merdu, sehingga dengan sopan nada-nada itupun mulai memasuki telinga semua orang yang berada di sekitar cafe tersebut.


...Terlalu Manis - SLANK ( Awan )...


...Kuambil gitar dan mulai memainkan...


...Lagu yang biasa kita nyanyikan...


...Tapi tak sepatah kata yang terucap...


...Hanya ingatan yang ada di kepala...


.......


...Hari berganti angin tetap berhambus...


...Cuaca berubah daun-daun tetap tumbuh...


...Kata hatiku pun tak pernah berubah...


...Berjalan dengan apa adanya...

__ADS_1


.......


...Di malam yang dingin dan gelap sepi...


...benakku melayang pada kisah kita...


.......


...Terlalu manis untuk dilupakan...


...Kenangan yang indah bersamamu...


...Tinggalah mimpi...


.......


...Terlalu manis untuk dilupakan...


...Walau kita memang tak saling cinta...


...Tak kan terjadi ......


Awan bernyanyi dengan penghayatan yang sangat tinggi, dia menumpahkan semua perasaannya kedalam lagu tersebut. Ia menutup matanya dan mulai masuki alam imajenasinya. Sambil terus bernyanyi, ia merasa seperti di sebuah ruangan yang serba putih, disana hanya terdapat dirinya dan seorang gadis yang telihat sangat jauh. Gadis itu adalah Nala.


Awan mencoba berjalan kearahnya. Selangkah demi selangkah namun Nala semakin lama semakin jauh dan menghilang. Ketika lagu yang ia nyanyikan telah selesai, Awan tersadarkan oleh suara tepuk tangan yang meriah dari semua orang yang berada disekitar cafe tersebut.


Di luar ekspektasi semua orang yang berada disana. Suara Awan mampu membius para pendengar di sekitar cafe tersebut. Arka pun dibuat tak percaya, bila Awan mampu membawakan lagu itu dengan sangat baik.


"Mantaaap mas Bro, asli gue ga nyangka bisa sebagus itu suara lo." ucap Arka menghampiri Awan.


"Makasi bang, maap kalo aransemen gue lebay bang."


"Engga Bro, itu keren banget. Mau lanjut?"


"Engga bang, cukup deh, mau lanjut ngepel hehehe." jawab Awan yang telah meletakkan gitarnya.


"Oke deh, makasih banget udah mau maen musik bareng gue. Asli, lo punya bakat Bro. Bisa lah kapan-kapan, ngisi bareng gue."


"Ia bang, gue juga makasih banget udah ngajakin gue naek ke sini."


"Ya udah turun yu, kayanya si bedul baru pada dateng noh."


Awan pun kembali menuju pantry untuk mengambil perlengkapan untuk membersihkan lantai. Saat ia berjalan melewati beberapa pengunjung di cafe tersebut, Awan banyak mendapat banyak pujian dari para pengunjung cafe. Awan pun hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada stiap pengunjung yang memujinya.


Pak Yadi dan teman-temannya pun bertepuk tangan ketika melihat Awan yang masuk kedalam dapur.


"Suaramu itu Wan, beeehhh... muanteeep!!! Ngingetin aku dulu waktu muda." ujar pak Bimo.


"hallaah, suaramu pales mooo mo... Tapi beneran Wan, suara kamu mantep. Dua jempol buat kamu" timpal pak Rido mencibir pak Bimo.


"Ini baru anak bapa, bergerak maju, jangan melehoy mulu, hidup monoton amat, selanjutnya jangan mundur terus bergerak maju. Wong suaramu itu keren banget kok." ucap pak Yadi yang muncul tiba-tiba merangkul Awan.


"Ia, makasih pa, makasih om."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2