
"Ya ampun Wan...! Lo kenapa Wan sampe pucet gitu?" Ucap Tamara khawatir melihat Awan yang terlihat sangat pucat setelah dari toilet.
Arka dan Akim pun turut khawatir melihat keadaan Awan yang sangat pucat.
"Bang ini duit banyak banget bang" ucap Awan sambil menyodorkan uang yang telah di berikan oleh Akim.
"Emang kenapa Wan? Itu dp dari gue buat kerjaan lo besok, knapa di balikin Wan?" tanya Akim bingung.
"Engga bang itu banyak banget." jawab Awan
"Bro, ini rejeki namanya. Lo nyanyi di acara gue, terus gue bayar lo. Udah gitu aja, terima nih." ucap Akim.
"Wan, ini bayaran profesional namanya. Kita di undang di acara resmi. Lo tau ga? Artis-artis di sana, apa lagi yang udah terkenal, bisa lebih dari 100jt kalo manggung. Kalo Lo udah jadi bintang nanti, duit segitu udah biasa Wan." ujar Arka.
"Betul, anggap ini sebagai langkah awal. Sapa tau lo bakal ngetop nantinya, lo bisa punya uang banyak hasil kerja keras lo. Ini adalah bayaran yang pantas buat lo." ucap Akim.
"Buat biaya bokap lo yang dirumah sakit bro." timpal Arka.
Mendengar perkataan Arka dan Akim akhirnya Awan pun menerima pembayaran uang muka tersebut.
"Beneran gapapa bang?" tanya Awan memastikan.
"Ini Uang halal bro. Santai aja." jawab Akim.
Pak Budi pun datang membawa pesanan yang sudah siap disajikan.
"Permisi, pesanannya sudah siap, kalo ada yang mau di pesan lagi, panggil aja ok." ucap pa Budi yang tengah selesai menaruh semua makanannya di meja.
"Oke om, makasih ya..." ucap Arka yang jawab dengan anggukan dari pak Budi.
"Nah, Kita makan dulu deh. Abis itu gue sama Ara mau balik duluan ya. Karena masih ada yang pengen gue sama Ara temuin." ucap Akim.
Mereka pun memulai makan malam dengan sedikit obrolan santai. Saat Awan dan yang lainnya tengah menikmati makan malam mereka, tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang tengah berdiri dibelakang Awan.
Arka memberikan kode pada Awan yang tengah lahap menikmati makan malamnya.
"Bro, ssttt...!" Bisik Arka yang di jawab Awan dengan gerakan alis keatas.
"Tuh belakang lo." ucap Arka dan memberikan isyarat dengan memajukan bibirnya ke arah belakang Awan.
"Apaan si bang ... Oh Mayang. Emm... Aa... Ada apa May?" terkejut Awan ketika melihat mayang telah berdiri dibelakangnya, dengan Wajah yang memerah dan mata yang berkaca-kaca.
"Ah... May, kenapa May? Maafin aku May, semua gara-gara aku May." Ucap Awan yang masih merasa bersalah atas semua yang menimpa pak Yadi ayah dari mayang.
Tanpa mengatakan apapun Mayang memeluk Awan dengan sangat erat. Awan sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Mayang. Mayang terus menangis di dalam pelukan Awan. Awan pun membalas pelukan mayang, guna menenangkan mayang yang tengah menangis.
"Kamu kenapa May, kita ngobrol di belakang ya." ucap mayang dan kemudian perlahan Mayang melepas pelukannya pada Awan dan menghapus air matanya.
"Bang Arka, bang Akim, mba Ara. Gue izin ke belakang ya." Arka meminta izin untuk meninggalkan mereka.
"Ok, lanjut aja Wan. Nanti gue langsung balik aja ya." jawab Akim.
"Ia Bang, mba. Gue makasih banget buat semuanya bang, mba." ucap Awan kemudian menjabat tangan Akim dan Tamara.
"Oh ia lupa, ini makanannya gue bwa kebelakang ya, lumayan masih enak." Awan berbalik kemudian mengambil piring makanannya yang belum selesai ia habiskan.
Arka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Awan yang sangat polos. Arka dan Akim pun melanjutkan makan malamnya dan saling berbincang.
__ADS_1
Awan dan Mayang pun menuju pantry untuk dapat saling berbicara.
"Oh, emmm... May, gimana kabar kamu may? Kabar bapa juga gimana?" tanya Awan ragu.
"Maafin aku bang... Maafin aku udah jahat sama abang, udah ngusir abang... Maafin aku." ucap Mayang dengan rasa bersalah pada Awan.
Air mata yang tak mampu Mayang bendung pun kembali membasahi pipinya. Air mata itu mewakili rasa sesal dan merasa sangat bersalah karena telah mengusir Awan. Ia tidak menyangka bahwa orang yang sudah ia perlakukan dengan buruk, kini melakukan sesuatu yang tidak ternilai untuk ia dan ayahnya.
Awan pun menghapus air mata Mayang dengan lembut. Namun, hal itu membuat Mayang semakin menangis. Kembali Awan memeluk Mayang untuk menenangkannya.
"Udah jangan nangis, aku juga salah kok May, udah bawa bapa ke dalam masalahku sama preman terminal itu."
"Abang ga salah, Mayang yang salah. Aku udah usir abang, tapi abang masih bantu Aku untuk biaya pengobatan bapa. Aku ga tau, kalo ga ada abng bapa kaya gimana jadinya." ucap Mayang yang masih terus menangis.
"Mayang, udah ya nangisnya. Sini hapus dulu air matanya. Jelek banget sumpah." ucap Awan mencoba menghibur Mayang.
"Apaan sih bang, ga lucu tau." ucap Mayang kemudian mencubit lengan sebelah kiri Awan.
"Aduh, gila pedes banget cubitannya. Yang satu lagi dong biar seimbang, yang kanan juga mau." gurau Awan sambil memberikan lengan kanannya untuk di cubit mayang.
"Aaabaaaang ih." ucap mayang yang mulai tersenyum dan tidak lupa mencubit lengan kanan Awan sekuat mungkin.
"Aaaaaa... Cubitan iblis cantik, hot parah dikulit ini. Hahahaha..."
"Mau lagi sini."
Terukir senyuman di wajah Mayang yang pipinya masih basah bekas air mata miliknya. Awan pun terus mencoba menghiburnya sampai akhirnya Mayang benar-benar dapat tersenyum.
"Emmm... Udah makan belum?" tanya Awan.
Mayang hanya menjawab dengan gelengan kepala. Awan tersenyum pada Mayang, kemudian mengusap kepala Mayang dengan lembut. Mayang merasa berdebar-debar kerika menatap Awan yang tersenyum dan mengusap lembut kepalanya.
Awan pun memotong daging steak dengan ukuran kecil untuk menyuapi Mayang.
"Nih, buka mulutnya."
"Emm... Emmm... Enak sih..." ucap Mayang.
"Kok pake sih? Kamu ga suka?" tanya Awan.
"Emm... Bukan, abang nyuapinnya kecil banget." gerutu Mayang
"Hahahaha... Mau yang gede toh, nih aaaaa..."
Mereka berdua pun makan bersama diseling tawa dan canda. Dari kejauhan terlihat sosok perempuan yang memakai masker tengah memperhatikan mereka. Perempuan itu pun meneteskan air mata melihat kedekatan ya dengan Mayang.
Ternyata sedari awal tadi perempuan itu telah memperhatikan mereka berdua, sejak awal pertemuan Mayang dan Awan. Melihat kebersamaan Awan dengan mayang entah mengapa hatinya terasa sangat sakit. Melihat Awan dan Mayang menuju area cafe, perempuan itu pun segera bersembunyi.
"Ya udah, titip salam buat bapa ya. Nanti aku kesana kalo udah beres disini." ucap Awan yang tengah berjalan bersama Mayang.
"Ia bang, jangan malem-malem ya bang..." ucap Mayang.
"Oke..." jawab Awan sambil mengusap lembut kepala Mayang.
Entah mengapa mayang selalu merasa berdebar ketika di sentuh kepalanya oleh Awan, bahkan kini wajah mayang pun memerah. Awan mengantarkan mayang sampai tepi jalan untuk menaiki taksi menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat saat ini.
Awan pun kembali menuju kursi dimana Arka tengah memainkan smartphone miliknya.
"Bang maaf lama. Bang Akim udah balik ya?" ucap Awan.
__ADS_1
"OK, ga papa. Lanjut main yo, mumpung lagi rame nih. Kali ini jangan lagu cinta ya." ucap Arka, kemudian ia menuju stage live music dan diikuti oleh Awan.
...KITA SAMA - DAUN JATUH (COVER AWAN)...
.
...Kita berada di tempat yang sama...
...Memijak bumi dan menatap langit yang sama...
...Kita diberi banyak hal serupa...
...Disinari matahari, menghirup udara...
.
...Hanya saja caraku, caramu menyikapinya...
...Yang berbeda...
.
...Kau bisa untuk memilih...
...Hal baik atau buruk 'tuk sekitarmu...
...Kau bisa untuk memilih...
...Sulit atau mudah 'tuk hadapi masalahmu...
...Tapi s'lalu ingat, yang kau tabur itu yang kau tuai...
.
...Kita punya kesempatan yang sama...
...Siang malam putaran waktu yang sama...
.
...Hanya saja caraku, caramu menyikapinya...
...Yang berbeda...
.
...Kau bisa untuk memilih...
...Hal baik atau buruk 'tuk sekitarmu...
...Kau bisa untuk memilih...
...Sulit atau mudah 'tuk hadapi masalahmu...
...Tapi s'lalu ingat, yang kau tabur itu yang kau tuai...
...----------------...
Bersambung...
__ADS_1