
...****************...
Baru saja aku melakukan hal yang bodoh, bertaruh dengan orang yang statusnya jauh lebih tinggi padaku. Entah apa yang merasuki diriku, sehingga aku memiliki kepercayaan diri seperti itu.
Harusnya aku sadar diri siapa diriku, pria miskin yang mencintai sang bidadari. Sekalipun bidadari itu juga mencintai si miskin, namun bidadari akan segera sadar, bila dunia mereka berbeda.
Kenapa tadi aku bisa seOptimis itu?
Namun sekarang bisa sePesimis ini?
Jauh dalam diriku, aku berharap dirinya memilih diriku. Semoga kenangan kita selama ini bisa membuatnya berpaling kearah ku.
Dalam hidup ini, yang kumiliki hanyalah waktu, dan waktu yang kumiliki telah kuhabiskan untuk terus bersamamu.
...****************...
"Hey cantik..." sapa Awan pada Nala.
"Oh, hay Jawa... Ah kebetulan kamu dateng, aku mau minta tolong." ucap Nala yang senang melihat Awan.
"Minta tolong apa Nal?"
"Nanti aku ada off air di studio kak Nico, tapi mamah mau nitip cendol yang di depan sekolah kita, sama belanja bahan-bahan kueh. Kamu bisa bantu ga? Please..." ucap Nala memohon.
"Oh, itu aja? Ya udah nanti aku mampir ke rumah." ucap Awan tulus.
"Makasih banget ya beib... Ini uangnya. Yang ini buat kamu udah bantuin aku." ucap Nala manja, dan menyerahkan uang senilai 300.000 rupiah untuk keperluan belanja buratih, dan 500.000 rupiah untuk ongkos Awan.
"Ya udah, gue masuk kelas duluan Wa. Bye..." lanjut Nala dan pergi menuju kelasnya.
Awan tidak menyangka Nala akan bersikap seperti itu padanya. Walaupun yang dilakukan Nala bukanlah sebuah kesalahan, namun Awan merasa sakit hati dengan perlakuan Nala pagi ini.
'Entah mengapa gue ngerasa di rendahin banget kali ini ... Ah, gue ga boleh negatif thinking. Lagi juga ga ada yang salah dari yang dia lakuin ke gue, gue ya aja baper' gumam Awan dalam hati.
...----------------...
Jam pelajaran sekolah pun telah usai. Siang ini ada hal yang berbeda, yaitu lapangan sekolah terlihat sangat ramai. Awan yang baru keluar dari kelasnya, tidak peduli dengan keadaan lapangan yang terlihat lebih ramai hari ini.
Ia terus berjalan menuju kelas Nala. Sesampainya disana dia mencoba melihat kedalam kelas melalui jendela. Rupanya kelas Nala telah kosong. Siswa lain yang melihat Awan tengah melihat-lihat kelasnya dari jendela pun menegurnya.
"WA, cari siapa lo? Nala?" tegur Johan teman sekelas Nala.
"Eh, elo Jo... Ia gue cari si Nala." jawab Awan.
"Dia udah keluar noh, di jemput ama artis. Ngapain ada artis masuk sekolah kita coba. Bikin heboh aja" ucap Johan menggerutu.
"Oh, oke deh Jo... Gue coba cari ke sana ya." ucap Awan menepuk pundak Johan.
"Ok broo..." sahut Johan.
Awan pun bergegas menuju lapangan sekolah yang tidak begitu luas. Ia menerobos kerumunan pra siswa yang ingin melihat Nico dan Nala.
"Gila si Nala beruntung banget dia bisa deket ama artis, apa jangan-jangan mereka pacran ya?"
"Ga mingkin lah pacaran, tapi akalo ia mereka cocok sih. Apa lagi Nala sekarang juga udah terkenal."
__ADS_1
"Ia... Ia bener tuh, cocok banget."
Awan mendengar perbincangan siswa dan siswi yang telah berkerumun untuk melihat Nico dan Nala. Langkahnya pun terhenti setelah mendengar perbincangan tersebut. Awan pun berbalik arah dan menghindari kerumunan siswa tersebut. Dengan dada yang sesak, Awan pun melangkah meninggalkan lingkungan sekolah.
Saat ia melangkah keluar gerbang sekolah, ia melihat penjual cendol yang menjadi langganan Nala. Seketika Awan pun teringat dengan permintaan tolong dari Nala untuknya. Segera Awan menuju penjual cendol tersebut dan memesannya.
Di kala Awan tengah menunggu pesanannya selesai, tiba-tiba ada mobil yang hendak menabrak ya, beruntung Awan berhasil menghindar dengan melompat ke trotoar jalan. Mobil mewah itu pun mundur dan berhenti tepat di hadapan Awan. Kaca mobil itu pun perlahan terbuka. Terlihat Nala yang tengah menunduk dan tidak menoleh ke arah Awan, kemudian dari sebelah Nala, Nico tersenyum kearah Awan.
"Mas, kalo jajan jangan di pinggir jalan. Jalanan ini buat lewat mobil." ucap Nico sambil tersenyum.
Tanpa memperdulikan ucapan Nico, Awan pun mengambil pesannya yng sudah selesai dan segera berjalan tanpa mperdulikan Nico dan Nala.
'Bangsat Nico, apa mau dia sebenarnya? Nala... Kenapa dia ga coba bela gue, atau khawatir sama gue?' gumam Awan dalam hati.
...----------------...
Di dalam mobil Nico, Nala marah akan sikap Nico.
"Kak, kenapa jahat banget si? Kalo tadi Awan ketabrak beneran gimana?" ucap Nala dan mulai menangis.
"Buktinya ga ketabrak kan? Harusnya kwtabrakbtadi biar seru. Tapi bagus lah, kalo ketabrak pasti ngerepotin." ucap Nico santai.
"Sumpah aku ga habis pikir ama kaka, apa salah dia kak? Tega banget si." ucap Nala yang kali ini ia tidak mampu lagi menahan air matanya.
Seketika Nico pun menghentikan mobilnya.
"Tega? Aku tega? Kamu liat ini, maksud kamu apa? Siapa yang kamu bilang tega Nal?" ucap Nico yang kemudian melemparkan beberapa lembar foto ke wajah Nala.
Nala pun melihat foto itu satu-persatu, seketika tangisan Nala pun terhenti. Wajahnya kini berubah pucat.
"Semalem kamu minta pulang cepet, kamu alesan ibu kamu minta kamu pulang cepet. Tapi apa sayang? Kamu ke cafe tempat si gembel itu nyanyi. Kamu nungguin dia, kamu peluk dia, dan kamu pulang jalan kaki gandengan sama dia di tengah malem. Kamu yang tega, kenapa kamu begitu Nala?" ucap Nico lirih namun penuh penekanan.
"Maa... Maaf kak." jawab Nala tertunduk.
"Kenapa kamu tega sayang? Aku ini tulus sama kamu, aku serius cinta sama kamu Yang..." ucap Nico yang kini terlihat kacau.
"Aku juga sayang sama kak Nico, maafin aku kak. Sekarang terserah kaka maunya kaya gimana. Aku akuin aku salah kak, aku juga masih sayang sama Awan." ucap Nala yang memberanikan diri untuk jujur.
Mendengar hal itu Nico melirik ke arah Nala tajam.
"Kalo di hati kamu ada orang lain, kenapa dulu kamu terima cinta ku? Kamu tuh udah sepenuhnya punya aku saat kamu terima cinta aku. Tapi ... Asli aku ga ngerti sama kamu."
"Ia ka, ia... Aku sadar aku salah, dan kesalahan aku udah fatal banget kak." ucap Nala yang kini menangis.
Melihat Nala yang kini menangis, Nico segera memeluk Nala. Nala pun menumpahkan air matanya di pelukan Nico.
"Maafin aku kak, aku sayang banget sama kaka. Sebenarnya aku takut kalo kaka cuma mau main-main sama aku, aku ga tau kalo kaka mau serius sama aku." ucap Nala uang masih menangis di pelukan Nico.
"Aku serius sayang kamu Nal, sejak pertama aku lihat kamu. Aku yakin aku jatuh cinta sama kamu." Nico semakin erat memeluk Nala.
"Maafin aku, maafin kak. Aku janji, mulai saat ini, aku cuma untuk kak Nico." ucap Nala penuh ketulusan.
Mendengar hal itu Nico pun tersenyum tipis.
"Kamu janji?"
"Ia kak aku janji." ucap Nala tulus.
__ADS_1
"Jangan bagi hatimu buat yang lain Yang, pastikan itu untuk aku selamanya."
Nala pun melepas pelukannya dan menatap mata Nico dalam.
"Aku janji." ucap Nala meyakinkan Nico.
"Makasih ya sayang." ucap Nico dengan senyuman.
"Tapi ada sesuatu yang harus kamu lakuin sayang." ucap Nico.
"Apa itu kak?" tanya Nala yang menyadarkan kepalanya di lengan Nico.
"Pagi tadi Awan dan aku membuat sebuah perjanjian. Jika kamu lebih memilih Awan, maka aku akan membiarkanmu untuk bersama Awan tanpa menggangu urusan kontrak kerja yang kamu dan aku jalani. Namun, bial kamu memilih aku, aku minta Awan untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan kamu. Aku mau kamu sampaikan pilihanmu kepada Awan." ucap Nico tenang.
Nala kembali terdiam mendengar perkataan Nico. Jauh di Lubuk hatinya dia masih sangat mencintai Awan. Ia pun sangat mengerti, bila ia melakukan ini pada Awan, sama saja ia akan menyakitinya. Nala sunggubtak ingin menyakiti orang yang masih sangat dia cintai.
"Sayang?" Ucap Nico membuyarkan lamunan Nal.
"Apa ini ga berlebihan kak, biar aku aja yang jauhin dia, dan berenti bicara sama dia." ucap Nala memberikan pilihan.
"Kenapa? Kamu ga mau bilang kalo kamu milih aku? Segitu doang cinta kamu Yang?" ucap Nico menekan Nala.
"Bukan begitu ka ... Oke, oke... Aku bakal ngelakuin itu buat kaka." ucap Nala.
"Bener kamu mau ngelakuin itu buat aku?" tanya Nico.
"Bener kak, aku juga mau jalananin ini serius sama kaka. Aku mau melangkah kedepannya sama kaka." ucap Nala.
"Makasih ya sayang." ucap Nico bahagia.
...----------------...
Malam hari di cafe tempat Awan bekerja, suasana cafe begitu ramai. Awan tengah bernyanyi mengisi live music di cafe tersebut. Tidak di pungkiri, suara Awan sangat merdu dan indah. Untuk ukuran laki-laki remaja, suara Awan merupakan karakter suara yang lembut.
Dari stage live music Awan melihat Nala yang terlihat sangat cantik dengan rambut terurai indah. Namun yang menyakitkan adalah, ketika Nala yang terlihat begitu indah tengah memeluk lengan Nico mesra. Nala tertunduk dan tidak mampu menatap ke arah Awan. Dari sana Awan menyimpulkan bila yang dipilih Nala adalah Nico, bukan dirinya.
Awan terus bernyanyi, tersenyum dan memejamkan matanya.
"Kali ini saya akan menyanyikan sebuah lagu ... Lagunya yang sangat menyentuh buat saya, dan lagi ini juga terjadi pada saya ... Dimana orang yang saya cinta, dan dia pun tau bila aku sangat mencintai dia ... Namun pada akhirnya, di memilih jalannya sendiri untuk menentukan kebahagiaannya sendiri ... Saya hanya bisa berterimakasih padanya ... Karena dulu, dia sudah mencoba untuk menerima saya apa adanya ... Terimakasih buat dia, dan percayalah ... Aku akn bahagia bila kau juga bahagia."
...The Rain - Ujung Pertemuan...
...Di ujung pertemuan ini, Kau terlihat indah sekali....
...Tersenyum di antara gundah, Memilih kata untukku...
...Bukankah kita pernah berjanji, tak akan sesali kisah ini...
...Jika inilah yang terakhir kalinya, Kau dan aku bisa bertemu...
...Terima kasih untuk pernah mencoba, menerimaku dengan segala beda...
...Jika inilah akhir cerita kita, Tak perlu khawatirkan aku...
...Bila kau bahagia, akupun bahagia,Jaga dirimu di sana...
Bersambung...
__ADS_1