
Setelah lagu terakhir, Awan memutuskan untuk menyudahi perform nya malam ini. Arka merasa ada yang yang tidak beres dengan diri Awan. Dia terlihat lebih murung dan pendiam. Bahkan malam ini Awan belum menyapanya.
Arka pun memutuskan untuk mengikuti langkah Awan pergi. Awan menghentikan langkahnya di area parkir mobil. Terlihat dua orang laki-laki dan perempuan yang tidak asing bagi Arka mendekat ke arah Awan yang tengah tertunduk, di bawah lampu temaram.
Arka mulai mengenali dua orang tersebut, sosok perempuan itu adalah Nala, penyanyi baru yang lagi viral. Kemarin malam, Nala juga datang menemui Awan. Sedangkan sosok pria disana adalah sepupunya, yaitu Nico.
"Wa ... Maafin gue yah. Maafin gue yang udah ngecewain lo Wa. Gue udah nentuin jalan hidup gue sendiri Wa, geu udah milih kak Nico Wa. Maaf" ucap Nala dengan mata yang berkaca-kaca.
Awan tidak menjawab pertanyaan Nala, ia merogoh sakunya, mengambil korek dan satu bungkus rokok. Dia mengambil satu batang rokok dan meletakkan di mulutnya, kemudian dia mendekatkan korek api yang menyala ke sebatang rokok yang berada di mulutnya. Awan menghisap rokok itu dalam-dalam dan masih terus menunduk.
"Pilihan yang bagus Nal, daripada lo pilih gembel kaya gue. Gue harap, lo bahagia selalu Nal. Karir lo terus maju, jadi bintang yang makin bersinar. Gue udah pernah bilang, kalo gue bakal dukung lo terus. Apa pun keputusan lo, gue dukung itu Nal. Walau sekarang keputusan adalah buat ninggalin gue ... Gue dukung Nal. Tenang aja Nal, gue ga serapuh yang lo bayangin. Just go, no problem for me..." ucap Awan tanpa memandang Nala sedikitpun, dia hanya terus menunduk sambil sesekali menghisap rokoknya.
Nala pun pergi meninggalkan Awan dan berjalan ke arah Nico. Nico tersenyum bangga dengan kekasihnya itu, dua memeluk den mencium kening Nala.
"Kamu masuk mobil duluan sayang, aku mau ngomong dikit sama dia." ucap Nico pada Nala.
Tanpa berkata apapun Nala pergi menuju mobil milik Nico. Melihat kekasihnya telah menuju mobil miliknya, ia berjalan mendekati Awan.
"Lo udah paham kan? Mulai sekarang lo harus pergi dari hidup Nala." ucap Nico lirih.
"Gue paham ko ... Tapi untuk menghilang dari hidup dia, gue belom bisa ... Lo tau kan gue masih satu sekolah sama dia? Tenang aja,gue orang yang paling menepati janji ... Gue ga akan berkomunikasi sama dia, sebisa mungkin gue menghindar dari dia ... Gue ga akan sentuh dia sedikitpun ... Jangan khawatir cewe lo gue rebut. Gue rasa udah cukup, lo ama dia bisa pergi dari ini." ucap Awan santai sambil sesekali menghisap rokok miliknya yang sudah tinggal setengah batang lagi.
"Pinter lo kalo sadar diri... Tapi kalo gue liat lo ngedekitin Nala lagi, gue ga segan-segan ngehabisin lo." ucap Nico mengancam.
`Plok! ... Plok! ... Plok!`
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah lain. Nico dan Awan pun menatap kearah suara tepuk tangan itu.
"Wow... Hebat banget bang Nico ini... Pake ngancem pelajar segala. Wohhh... Keren lo bro..." ucap Arka sambil bertepuk tangan.
"Cihh... Ngapain lo kesini ka? Ga usah ikut campur urusan gue." ucap Nico kesal pada Arka.
"Weiiits... Galak amat CEO yang satu ini. Gue ga ada maksud ikut campur. Tapi barusan lo udah melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap saudara Awan, ada pasalnya loh..." Jawab Arka santai.
__ADS_1
"Bangsat lo ka..." Ucap Nico lirih dan pergi meninggalkan Awan dan Arka.
"Eh, ko udahan? Pefffftt..." ucap Arka kemudian menahan tawanya melihat Nico yang pergi dengan wajah suram.
Setelah itu, Arka berjalan mendekati Awan. Tanpa berkata apapun, ia menarik rokok yang berada diantara jari Awan, kemudian membuang serta menginjaknya.
"Galau boleh, bego jangan. Lo saih pelajar, belom boleh main korek. Sini kasih gue rokok sama koreknya," ucap Arka santai.
Tanpa menjawab apapun, Awan mberikan apa yang Arka minta.
"Bang, ko dia bisa kenal nama lo?" tanya Awan penasaran.
"Dia sepupu gue, bokap dia kaka dari bokap gue. Dari kecil gue sama dia. Bahkan dulu dia sempet satu geng sama gue, akim dan yang lain. Tapi setelah dia di UP sama bokapnya, udah mulai sombong dia, ga level gitu nongkrong sama gue dan yang lain." jelas Arka.
"Udah masuk ke dalem yo, ngapain di sini." lanjut Arka.
Mereka berdua pun kembali masuk kedalam cafe. Arka menyarankan Awan untuk professional dalam bekerja. Jangan smpi masalah pribadi terbawa dalam pekerjaan. Mendengar nasihat dari Arka, Awan pun kembali dalam pekerjaannya, yaitu mengisi live music di cafe tersebut.
...****************...
Aku sempat mengira bila kenangan dan angan mampu mempertahankan kita.
Cih ... ternyata aku saja yang bertahan dan dia tetap berubah.
Inilah bom waktu yang ku rakit sendiri. Seandainya dari awal aku sadar diri, pasti takan sesakit ini.
Aku kalah.
...****************...
Di rumah sakit tempat pak Yadi dirawat, Mayang tengah menguraikan gawainya. Ia melihat postingan Instagram milik Nico, disana terdapat banyak foto yang menunjukkan kedekatan antara Nico dengan talent barunya yaitu Nala.
Mayang merasakan bila Nala dan Nico memiliki hubungan khusus, karena terlihat dari beberapa postingan mereka yang telihat mesra serta tatapan yang saling mengisi. Mayang berencana untuk membicarakan hal ini dengan Awan. Ia merasa bila Awan harus mengetahui hal ini, karena Awan pasti tidak mengetahui apa yang terjadi di dunia maya, dikarenakan Awan tidak memiliki smartphone untuk mengakses jejaring sosial.
'Tok! Tok! Tok!' suara pintu deketuk.
__ADS_1
Segera Mayang membukakan pintu. Ternyata Awan lah yang mengetuk pintu tersebut.
"Eh, abang. Masuk bang." ucap Mayang dengan senyuman termanisnya.
Melihat senyuman manis yang terlukis di wajah Mayang, Awan pun ikut tersenyum.
"Gimana keadaan bapa hari ini?" tanya Awan sambil melangkah masuk.
"Kata bapa sih udah mendingan, kalo hasil pemeriksaan udah keluar, tapi baru dibacain dokter besok. Buat jalan udah enakan katanya, bahkan udah bisa ke kamar mandi sendiri sekarang." jelas Mayang.
"Wah, bagus dong. Bapa udah tidur ya? Ya udah abang ganteng ini mau mandi dulu ya." ucap Awan dengan sedikit bergurau.
"Idih ganteng, ia genteng kalo ngeliatnya sambil merem. Mandi gih, yang bersih." ucap Mayang kesal.
Beberapa menit kemudian Awan selesai membersihkan dirinya. Kemudian ia menghampiri ayah angkatnya yang tengah tidur di ranjang pasien, hanya untuk sekedar melihat keadaan ayah angkatnya tersebut. Kemudian ia melihat kearah Mayang yang masih berselancar di dunia maya melalui smartphone miliknya.
Awan pun menghampiri Mayang dan duduk disampingnya.
"Ngapain si de? Serius amat." tanya Awan.
"Lagi ngepoin artis-artis hehe..." jawab Mayang.
"Bukanya tidur udah malem nih, tuh liat jam, 30 menit lagi tengah malem." ucap Awan.
"Ia nanti, Bang liat ini deh? Aku curiga mereka ini ada hubungan, mana banyak lagi fotonya." ucap Mayang menunjukan foto Nico dan Nala.
Awan pun memperhatikan foto tersebut satu persatu. Mayang memperhatikan wajah Awan yeng tengah tersenyum getir, lalu Mayang segera mengambil smartphone miliknya yang di pegang oleh Awan.
"Abang ga papa kan?" Tanya mayang lirih.
"Cih... Emang abng kenapa? Abang baik-baik aja ko." ucap Awan yang mulai menyadarkan kepalanya di sofa dan menatap langit-langit.
"Bang, Mayang tau abang lagi boong. Ceritain semua ke Mayang bang. Abang mau dengerin semua yang abang rasa, jangan abng pendam sendiri. Sapa tau abis abang cerita semua, abng bisa lebih lega dan tenang. Hari ini abang keliatan kacau banget." ucap mayang yang terus menatap Awan yang terlihat sangat lelah, lelah dalam arti kata lain.
Awan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Terlihat butiran air mata dari sudut mata Awan.
__ADS_1
Bersambung...