
Di kediaman Boni, Bobbie tengah menatap Boni yang tetduduk diatas kursi rodanya. Boni mengalami cidera yang cukup parah, terutama di bagian wajah dan kepala. Bahkan saat ini Boni mengalami kelumpuhan sementara pada kakinya akibat cidera otak yang dideritanya.
Rupanya perkelahian antara Awan dan Boni menyisakan luka yang fatal terhadap Boni di bagian kepalanya.
"Bon, gue ga nyangka lo bisa jadi kaya gini, gue bakal bales orang yang udah bikin lo kaya gini. Kalo perlu gue bunuh dia buat lo Bon." ucap Bobbie sambil metap nanar ke arah Boni adik laki-laki satu-satunya itu.
Boni hanya bisa menangis mendengar ucapan kakak tercintanya berkata demikian. Di sana juga terdapat lima orang yang mengalami patah tulang akibat perkelahian mereka melawan Awan.
'BANGSAT! Gue pastiin lo bakal mati di tangan gue.' gumam Bobbie dalam hati.
Tiba-tiba Bobbie mendengar suara ribut didepan rumahnya.
"Bang, Awan dateng bang, dia dateng berdua dan rusuh bang." ucap salah satu anak jalanan yang ada disana.
"Anjing, mau setor nyawa dia. Ayo kita abisin." ucap Bobbie kesal.
Di luar Awan dan Arka menghadapi segerombolan anak jalanan yang hendak menyerang. Awan hanya menghindari setiap serangan yang mengarah kepadanya dan terus maju mendekati kediaman Boni.
Berbeda dengan Arka, dia menghajar setiap anak jalanan yang mendekat kearahnya, bahkan Arka menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Dari jauh Rudiat hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat keponakannya yang terlihat sedang bersenang-senang.
Arka sangat membenci tindakan premanisme. Karna sejak sekolah dasar ia sempatkan bullying serta pembalakan dari kakak kelasnya hingga Arka sempat dilarikan ke rumah sakit karena bullying yang di lakukan oleh kakak kelasnya kepada dirinya. Setelah masuk sekolah menengah akhir, Arka memutuskan untuk berlatih beladiri bersama Rudiat. Hingga di sekolah menengah akhir Arka menjadi pemburu preman sekolah dan bertemu dengan Kuncen, Akim, Maman, dan Ogi sahabat terdekat Arka.
"Cukup!!! Gue ga mau nyari ribut, cukup!!!" seru Awan sambil terus menghindari serangan yang datang.
Setibanya di depan kediaman Boni dan Bobbie, Awan menghentikan langkahnya. Tampak dari pintu rumah tersebut keluarlah Bobbie beserta anak buahnya. Salah satu anak buah Bobbie mendorong seseorang yang wajahnya di penuhi perban. Awan pun mengerutkan dahi melihat melihat orang yang wajahnya di penuhi balutan perban tersebut yang menatap ke arah dirinya tajam dan penuh amarah.
"Bagus! Gue ga perlu cape-cape nyariin lo bangsat. Lo udah dateng sendiri kesini ... Sekarang lo liat ini, lo udah bikin Boni ade gue satu-satunya kaya gini ... Lo udah bikin ade gue lumpuh ... Karena perbuatan lo ade gue menderita cidera otak yang mengganggu syarafnya ... Dan lo! Harus bayar semua ini pake nyawa lo BANGSAT!!!" ucap Bobbie dengan penuh amarah.
Mendengar kondisi Boni yang sangat parah, memunculkan rasa bersalah yang besar dalam hatinya. Hal ini menganggu mental Awan untuk menghadapi Bobbie.
"GUU YANG BAKAL NGEBUNUH LO DI SINI, DEDEPAN MATA ADE GUE SENDIRI!!!" eru Bobbie.
__ADS_1
Tanpa memberi kesempatan Awan untuk berbicara, Bobbie berlari mendekati Awan untuk melakukan serangan pada Awan. Saat Bobbie berada didepannya, Awan baru tersadar, bila saat dia berada di medan pertempuran. Alhasil tinju kuat Bobbie berhasil mendarat mengenai wajah Awan yang tidak sempat menghindar.
Awan terjatuh kebelakang, Awan memegangi area wajahnya yang terkena serangan Bobbie. Awan pun berteriak menahan sakit. Melihat Awan yang meringkuk kesakitan, Bobbie kemudian menduduki tubuh Awan dan memberikan pukulan kuat berkali-kali di wajah Awan. Awan mencoba menggalangi pukulan Bobbie dengan kedua tangannya, namun Bobbie sama sekali tidak menghentikan serangannya itu.
Wajah Awan saat ini pun sudah di penuhi darah, karena tak sedikit pukulan Bobbie yang berhasil masuk dan mengenai wajah Awan. Arka yang melihat Awan tersudutkan segera berlari ke arah Awan untuk menolongnya, namun Anak buah Bobbie berhasil menangkapnya dan memeganginya hingga tak mampu bergerak lagi.
"AWAN!!!" seru Arka.
"Hahahaha... Lo denger temen lo manggil nama lo. Abis ini dia yang gue abisin, setelah lo mati. Abis itu ada dua orang lagi yang mau gue abisin, ya itu si cewe cacat dan bapanya yang deket sama lo. Ga abisin semua." ucap Bobbie sambil terus memukuli Awan yang mulai lemah.
Mendengar ucapan Bobbie yang akan menghabisi orang-orang terdekatnya, amarah Awan pun memuncak. Dengan cepat Awan menyerang balik Bobbie dengan menusukan Ibu jarinya kearah bola mata Bobbie dengan sangat kuat.
"AAAAAAAAA!!!" jeritan Bobbie yang kemudian berguling kesakitan.
Saat Bobbie masih berguling-guling kesakitan, Awan pun mulai berdiri dengan mata yang lembang, dan wajah yang di penuhi darah. Awan menginjak-injak perut Bobbie dengan sangat kuat, sesekali Awan juga menginjak injak kepala Bobbie.
Keadaan kini telah ber balik, kini Awan lah yang menyerang Bobbie terus menerus. Setelah Bobbie berhasil menangani rasa sakit di matanya kanannya, ia pun segera berdiri dan mengeluarkan pisau lipat miliknya. Bobbie pun mengayunkan pisaunya ke arah Awan. Beruntung Awan pun berhasil menghindari ayunan pisau milik Bobbie.
Terlihat bila gerakan Bobbie sangat lambat, kemungkinan Bobbie telah kehabisan tenaganya. Dengan mudah Awan menghindari tikaman pisau milik Bobbie. Awan pun memukul wajah Bobbie tepat pada bagian rahangnya. Merasa pukulannya belum cukup membuat Bobbie jatuh, kemudian Awan menarik kepala Bobbie dengan kedua tangannya, lalu menghantam kan kepala Bobbie pada lututnya sehingga Bobbie terpental kebelakang.
Awan mencabut pisau yang menancap pada lengan kirinya. Rupanya Bobbie sempat menusukan pisaunya pada saat Awan menghantam kan wajahnya pada lutut Awan. Darah pun mengalir deras pada lengankirinya tersebut.
Kemudian Awan hendak menikam Bobbie yang sudah tak berdaya. Bobbie pun hanya bisa menutup matanya dan mengucap kata 'maaf' untuk adiknya, yaitu Boni. Dengan cepat Rudiat mencengkeram tangan Awan yang hendak menikamkan pisau kearah Bobbie.
"Cukup nak. Dia udah kalah." ucap Rudiat.
Tiba-tiba Boni mencoba berdiri dan mencoba berjalan kearah kakaknya.
"Aaaaaahhhhh... Aah... Aaaaah.." Boni mencoba untuk memanggil kakaknya.
Boni pun terjatuh, karena ia masih belum mampu berdiri. Awan menghampiri Boni dengan tatapan dingin.
"Jauhin ade gue BANGSAT!!! Urusan lo sama gue." seru Bobbie.
__ADS_1
Awan pun mengabaikan teriakan Bobbie dan terus melangkah ke arah Boni. Boni yang melihat Awan berjalan kearahnya pun bergetar ketakutan.
"Meehh... Meehh... Aaaaahh..." erangan Boni yang ketakutan.
"Ayo," ucap Awan yang mengulurkan tangan untuk Boni.
Boni memandangi tangan Awan, lalu kembali menatap wajah Awan. Melihat tidak ada niat menyakiti dari Awan, Boni pun menerima uluran tangan Awan. Awan membantu Boni untuk melangkah mendekati kakaknya.
Bobbie pun memandang adik satu-satunya itu yang mencoba berjalan ke arahnya.
"Maaahhh... Amaaaah..." teriakan Boni seolah berkata pada kakaknya, kalu dia bisa berjalan.
Bobbie hanya bisa menangis dan menutup matanya, agar Boni tidak melihatnya menangis. Kemudian Rudiat membantu Bobbie untuk duduk.
"Makasih pak..." ucap Bobbie pada Rudiat.
"Jangan bertingkah Bodoh..." jawab Rudiat singkat.
Setelah jarak antara Boni dan kakaknya sudah dekat, Boni memberanikan diri untuk berjalan mendekati kakaknya. Setelah Boni mencoba berjalan sendiri dengan susah payah, akhirnya Boni pun sampai dihadapan kakaknya yang masih terduduk, kemudian ia memeluk kakaknya dengan erat. Suasana hru pun terlihat saat Boni dan Bobbie saling memeluk satu sama lain.
"Bon, gue minta maaf... Gue udah bikin lo kaya gini. Gue ga pernah bermaksud bikin lo begini." ucap Awan menyesal.
"Aaahh... Maaahhh..." Boni menggelengkan kepalanya dan kemudian menunjuk dirinya sendiri, dan ia menunduk layaknya orang yang meminta maaf.
"Maksud ade gue, dia yang salah selama ini sama lo Wa, dan dia minta maaf. Gue juga minta maaf Wa. Gue nyerah dan gue kalah, sekarang yang lo mimpin di sini Wa." ucap Bobbie sambil menunduk.
Tiba-tiba Awan terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Arka, panggil ambulan cepet." ucap Rudiat.
Beberapa menit kemudian, ambulan pun telah datang. Awan pun di bawa menuju rumah sakit. Awan yang tidak sadarkan diri kemungkinan di sebabkan oleh pendarahan pada lengan kirinya.
Bersambung...
__ADS_1