
Hari ini adalah hari dimana pak Yadi sudah diizinkan untuk pulang. Kondisinya kini telah membaik, hasil rontgen menunjukan ada keretakan pada tulang rasuk dan mengalami gegar otak ringan. Pak Yadi disarankan untuk tidak terlalu banyak bergerak, apa lagi melakukan pekerjaan.
Pak Yadi pun diperintahkan oleh dokter untuk tetap di rumah selama dua minggu kedepan, guna mempercepat penyembuhan. Hal ini menjadi memont bahagia bagi Awan dan Mayang, karena kondisi ayah mereka sudah membaik. Mayang pun segera memesan taksi online untuk mengantar mereka menuju rumah mereka yang sudah lima hari ia tinggalkan.
Sesampainya di kediaman pak Yadi, Awan menopang pak Yadi untuk masuk kerumahnya. Mayang pun membukakan pintu, betapa terkejutnya Mayang melihat rumahnya yang bersih dan rapih. Ini semua berkat Awan yang selalu menyempatkan diri untuk membersihkan rumah pak Yadi sepulang sekolah.
"Woahh wangi dan bersih banget ni rumah. Abang yang ngerapihin ini semua?" tanya Mayang sambil mengecek setiap ruangan dirumahnya.
"Ii... Ia de ... Ayo pa, dikit lagi sampe kamar pa..." jawab Awan sambil menopang pak Yadi menuju kamarnya.
"Aduh makasih banget Wan. Maapin bapa ngerepotin kamu terus Wan." ucap pak Yadi.
"Pak, yang harusnya terimakasih itu aku. Bapa udah ngijinin aku buat jadi anak bapa." ujar Awan.
"Siapa yang anggep kamu anak? Kepedean kamu." ucap pak Yadi.
"Emm, oh engga ya hihihi." ucap Awan sambil meringis.
"Hahaha... Bapa bercanda, kamu udah panik gitu." ucap pak Yadi.
"Oh, hehehe ... Ga lucu pa, nyakitin." ucap Awan sambil tertawa getir.
"Hahahah..." tawa pa Yadi.
"De... Bapa mu ga jelas ni de." seru Awan memanggil Mayang.
"Biarin aja bang, udah tua maklumi aja bang." seru Mayang yang berada di ruang tengah.
"Hahahaha..." tawa Awan dan pak Yadi bersamaan.
...----------------...
Sore hari pun tiba, Awan bergegas menuju cafe untuk bekerja. Malam ini adalah malam terakhir ia akan bekerja di cafe, karena mulai hari senin minggu depan ia akan menjalani ujian nasional di sekolahnya.
Dulu Awan tidak pernah peduli tentang ujian sekolah, Karena setiap harinya ia harus mengamen agar tetap dapat uang untuk bertahan hidup setiap harinya. Namun setelah bekerja di cafe, ia mendapatkan gaji yang cukup untuk hidup sebulan kedepan. Bahkan setelah menyanyi di cafe, ia selalu mendapatkan bonus dari pak manager yang tidak sedikit setiap harinya, membuat ia mampu menyisihkan uang untuk menabung.
Karna hal itu, di tahun terakhirnya sekolah kali ini, ia taingin main-main lagi. Dia akan fokus kepada ujian sekolahnya tersebut. Untuk urusan uang, ia masih punya simpanan yang bisa di gunakan untuk hidup selama sebulan bersama keluarga angkatnya.
Saat di jalan terminal, ia merasakan bila ada orang yang tengah memperhatikannya. Awan mempercepat jalannya, kemudian dengan sengaja Awan berbelok kesebuah gang buntu, guna mengetahui siapa orang yang sedang mengikutinya.
__ADS_1
"Sialan, si Jawa ilang." ucap seorang laki-laki.
"BANGSAT!!! Jangan harap hidup tenang itu anak." ucap pria yang lain.
Awan bersembunyi di balik jemuran baju milik warga. Awan sangat mengenal suara laki-laki yang pertama berbicara. Ia adalah Angga, sahabat dari Boni. Namun ia belum pernah mendengar suara laki-laki yang satunya. Suara yang asing di telinganya. Awan menafsirkan suara laki-laki yang terakhir adalah suara orang yang sudah dewasa, kemungkinan laki-laki tersebut berumur 25 tahun atau lebih.
Saat ini Awan benar-benar tidak siap jika harus bertarung melawan 2 orang preman tersebut. Awan memilih untuk menunggu kedua preman tersebut pergi dari tempat itu.
Beberapa saat kemudian kedua orang preman tersebut pun pergi, setelah memastikan bila Awan benar-benar tidak ada di lokasi tersebut. Yang membuat Awan tidak siap adalah, kedua preman tersebut membawa senjata tajam berupa pisau lipat di tangannya. Awan sempat melihat itu saat mengintip dari tempat persembunyian nya.
'Untung mereka ga nemuin gue, bisa mati konyol gue kalo sampe ketauan tadi. Ahhh! Kenapa urusan sama mereka ga selesai-selesai. Berarti hidup gue ga aman buat sekarang ini. Gue harus cari cara buat ngeberesin ini semua' gumam Awan dalam hatinya.
Setelah merasa aman, Awan melanjutkan perjalanannya menuju cafe. Sesampainya di cafe Awan bergegas menemui pak manager, guna memberitahukan jika ia tidak akan bekerja selama satu minggu kedepan karena akan melaksanakan ujian nasional di sekolahnya.
Setelah mendapat persetujuan dari pak manager, Awan segera menuju stage live music untuk menghibur para pengunjung cafe dengan nyanyainnya. Tidak lupa Awan memberikan salam kepada Arka dan teman-temannya.
Kini Awan berada di stage live music, ia mulai memetik gitarnya.
"Selamat malam semuanya, semoga semua yang ada disini dalam keadaan sehat dan bahagia ya. Walaupun ga semua orang bisa bahagia tapi, ga ada salahnya untuk tetap tersenyum hari ini. Seberat apapun masalah hidup kita, kalau kita hadapi dengan senyuman, semua akan terasa sedikit lebih ringan. Seringan apapun beban hidup kita, kalau kita terus menghindari dengan tangisan, itu akan ber ujung dengan penyesalan. Satu lagu pertama menceritakan orang yang telah menghabiskan waktu untuk membuat sang pujaan hatinya terkesan padanya dan melihatvkearahnya, namun semua hanya sia-sia dan akhirnya dia sadar, bahwa cinta tak pernah bisa dia paksakan."
...Hal - L (cover Awan)...
...Sungguh tak terasa, sudah tujuh tahun, rotasi waktu hidupku....
...selalu aku lihat belakang punggungmu, di saat kau lihat belakang punggung pria lain....
...Menunggu kau menoleh dan berlari ke arahku, dan memelukku seerat-eratnya....
...Sudah aku coba untuk menghapusmu, naifku hanya jelaka....
...Di rindu pada siapa, ku masih merasakannya, kamu masih penyebabnya...
...Selalu aku lihat belakang punggungmu di saat kau lihat belakang punggung pria lain....
...Menunggu kau menoleh dan berlari ke arahku, dan memelukku seerat-eratnya....
...Mencoba berdamai dengan diriku, tapi kau selalu tahu itu bagaimana mungkin?...
...Ketika kau masih jadi satu-satunya Alasan ku menunggu, di lini waktuku....
...sungguh tak terasa, sudah tujuh tahun, habiskan masa mudaku....
__ADS_1
...Hanya untuk membuatmu, terkesan kepadaku, begitu bodohnya aku....
...****************...
Lagu itu benar, aku telah membuang banyak waktuku hanya untuk membuatmu terkesan kepadaku dan membuatku terlihat bodoh, ketika pada akhirnya kau tidak memilih ku.
Walau waktu tidak mampu menahanmu, tapi waktu akan selalu menghantuimu, dan juga menghantuiku.
Karena kenangan akan selalu ada, walau kau dan aku mencoba menghapusnya, kenangan akan tetap ada.
...****************...
Perjaan Awan pun telah selesai setelah menyanyikan beberapa lagu. Kemudian ia meninggalkan stage live music tersebut. Awan terlihat sangat terburu-buru dan gelisah, sampai-sampai ia melewatkan meja yang di tempati oleh Arka dan kawan-kawannya tanpa menyapa.
"Ehh, vokalis lu kenapa tuh? tumben ga nengok kesini dia, langsung cabut gitu aja." ucap maman ucap Maman pada Arka.
"Oh, ia... Tumben banget ya? Apa jangan-jangan lagi kena masalah dia." ucap Arka yang merasa khawatir.
"Udah ga usah ikut campur kita, lanjut push rank aja lah." saut Ogi.
"Eh, tapi beneran ada yang ga beres kayaknya, dia nyelonong pulang gitu aja, tanpa pamit sama karyawan yang lain ... Bro, lo pada stand by disini, Gue mau ikutin tuh anak dulu. Perasaan gue ga enak." ucap Arka.
"Ya elah ka, si Awan udah tua kali, biarin aja kali." ucap Ogi dan dibenarkan oleh maman dan kuncen.
"Akh elah, gue cabut dah ya." ucap Arka
"Woi ka, ahh..." seru maman.
Awan meninggalkan cafe dengan terburu dengan wajah yang panik. Ia Mencoba menghindari kejaran preman yang sore tadi telah mencoba mengejarnya. Dengan waspada dan sangat hati-hati.
"Mau kemana lo bangsat?" tiba-tiba Angga berasa di depan Awan.
Awan yang terkejut langsung balik kanan dan berencana untuk melarikan diri. Namun tanpa ia sangka, tepat di belakangnya terdapat seorang pria dewasa yang berbadan kekar tengah mengayunkan pisau kearah Wajah Awan. Sadar akn apa yang lakukan pria besar tersebut, Awan segera mundur satu langkah untuk menghindari ayunan pisau tersebut.
Awan yang kehilangan keseimbangan pun jatuh terduduk di jalan aspal. Melihat Awan yang terjatuh, pria besar itu tidak menyia-nyiakan waktu. Serangan ayunan pisau kembali ia arahkan ke wajah Awan. Beruntung Awan dapat menghindarinya kembali. Dengan cepat pria besar itu menendang wajah Awan dengan keras.
Awan pun tertelungkup di aspal. Pria besar itu pun mencengkeram rambut Awan dan menariknya ke atas, hingga Awan berdiri dari posisi yang sebelumnya tertelungkup di aspal.
"Lo jagoan di sini? Berani-beraninya lo mukulin Ade gue sampe masuk rumah sakit. Udah punya banyak nyawa lo. Malem ini, gue abisin semua nyawa lo bangsat." ucap pria besar itu sambil terus mencengkeram rambut Awan.
Awan hanya bisa meringis menahan sakit saat rambutnya ditarik paksa oleh pria yang mengaku kakak dari Boni.
__ADS_1
Bersambung...