
"Bang, bangun bang ..." ucap mayang mencoba membangunkan Awan yang tengah tertidur di atas kursi di samping ayahnya.
"Oh... Maap aku ketiduran May." ucap Awan yang mulai membuka kedua matanya.
"Abang pindah tidur sofa sana. Biar Mayang yang jaga bapa. Sekarang baru jam 4 pagi bang."
"Nanti kamu mau tidur dimana?" tanya Awan yang masih merasa sedikit pusing karena ia baru tidur sebentar.
"Nanti jam 5, ada perawat yang mau dateng bang, mau meriksa bapa. Soalnya hari ini ada jadwal rontgen sama CT scan."
"Ya udah klo gitu aku tidur bentar deh ya, tolong bangunin nanti pas perawat dateng, lagi juga hari ini aku harus sekolah May. Paling nanti aku balik dulu kerumah buat ganti baju, makanya aku harus berangkat pagi." jelas Awan dan di jawab dengan anggukan dan senyuman oleh Mayang.
Tak lama dari pindahnya Awan ke sofa, Awan sudah terlihat sangat pulas. Dari sisi ayahnya yang masih terbaring di ranjang pasien, Mayang terus memandangi Awan yang tengah tertidur.
"Ekhem!" deham pa Yadi membuyarkan lamunan anak gadisnya.
"Awas nanti jatuh cinta loh." Ujar pak Yadi.
"Apaan sih pak, orang ga ngeliatin bang Awan." gerutu Mayang
"Lah, siapa yang ngomong kamu lagi ngeliatin Awan. Wahh... Berarti bener nih Anak bapa lagi ngeliatin cowo." ucap pak Yadi meledek anak gadisnya yang kini wajahnya memerah.
"Udah deh pak, jangan aneh-aneh." ucap Mayang yang mulai tersipu.
"Kamu yang jangan aneh-aneh nak, masih kecil kamu tuh. Pikirin itu kalo emang udah waktunya." ucap pak Yadi sambil mengusap lembut kepala Mayang.
"Ia pa..." jawab Mayang.
...----------------...
Waktu menunjukan pukul 5 dini hari. Awan yang tidur di sofa, kini telah bangun dan selesai mandi. Sengaja ia mandi di rumah sakit ini, karena jika ia harus mandi dirumahnya, akan bertemu dengan drama yang hampir dia temui di setiap pagi, yaitu mengantri di WC umum untuk sekedar mandi.
"Wah, udah mandi aja Wan. Baru jam segini." tanya pak Yadi.
"Ia pa, kalo di rumah bakal beda urusannya. Ngantri di Wc umum." jawab Awan sambil merapikan rambutnya yang sudah sedikit panjang.
"Udah kamu tinggal sama bapa aja Wan. Toh trumah almarhum nenek mu itu kan tanah pemerintah. Cepat atau lambat bakal di gusur." saran pak Yadi.
"Ga tau pa, ga enak ku sama Mayang. Mungkin kalo emang penghasilanku udah tetap, aku cari kostan deket cafe." ujar Awan
"Oh ia, bapa jadi inget. Kamu dapat uang dari mana bisa bayarin biaya perawatan bapa?" tanya pak Yadi serius.
"Aku dapet kerjaan pa, disuruh nyanyi di acra nikahan bang Akim. Duitnya gede banget, kalo kata bang Arka cukup buat bayar pengobatan bapa. Nah, kemarin itu bang Arka yang ngelunasin biaya rumah sakit ini duluan. Aku bisa ngelunasin abis ngisi acra nikahan bang Akim katanya." jelas Awan.
"Akim? Oh ia, yang satu gank sama Arka yang main piano waktu itu kan?"
"bener pa..."
"Bapa ga tau harus berterimakasih sama kamu kaya gimana Wan. Duit yang kamu keluarin gede banget. Bapa gimana cara bapa gantinya?" Ucap pak Yadi dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Pa, Awan rasa ini ga seberapa di bandingin kebaikan bapa sama Mayang ke aku. Bapa ga usah itung-itung nominalnya. Aku udah anggap bapa sebagai orangtua Awan pa. Jangan pernah di ungkit, jangan pernah di itung." jelas Awan kemudian memeluk pak Yadi yang masih terbaring di ranjang pasien.
Pak Yadi tak kuasa membendung air matanya. Dia membalas pelukan Awan serta berterimakasih dengan setulus hatinya.
Di luar ruangan tempat pak Yadi dirawat, Mayang memperhatikan Awan dan pak Yadi yang tengah larut dalam kondisi yang sangat haru. Tanpa terasa air matanya pun menetes melihat momen mengharukan tersebut.
Mayang mencoba mengendalikan dirinya, dengan menghapus air matanya dan menyiapkan senyum termanis untuk Awan dan Ayah kandungnya. Mendengar ada seseorang yang membuka pintu, dengan spontan Awan dan pak Yadi menghapus air mata mereka agar tidak terlihat jika mereka baru saja menangis.
"Pagi pa, pagi bang..." sapa Mayang.
"Pa... Pagi May..." sahut Awan dengan suara sedikit parau karena habis menangis, sedangkan pak Yadi berpura-pura tidur.
Awan melirik ke arah pak Yadi, ternyata pak Yadi menutup kedua matanya, seolah-olah tengah tertidur pulas.
'mantap juga ni bapack bapack acting nya' gumam Awan sambil menatap wajah pak Yadi.
"Ooo... Bapa lagi tidur ceritanya. Perasaan tadi pas aku tinggal masih melek seger banget, kok tiba-tiba pules ya?" ucap mayang juga menatap wajah ayahnya yang mulai berekspresi, karna mendengar ucapan mayang.
"Abang, mumpung bapa tidur. Kita tinggalin aja yu... Kita jalan-jalan bang." lanjutnya
Mendengar itu wajah pak Yadi pun makin tidak terkontrol, namun pak Yadi tetap mempertahankan acting nya tersebut. Saat mayang mengehentak-hentakan kakinya seolah sedang berjalan, pak Yadi pun membuka satu matanya untuk memastikan anak gadisnya itu benar meninggalkannya atau tudak.
Betapa terkejutnya pak Yadi, ternyata Mayang sama sekali tidak pergi, melainkan tengah menatapnya sedari tadi.
"Nah, kan pura-pura. Udah aki-aki banyak tingkah bapa mah." ucap Mayang.
"Hoaaam... Emmh... Apa si May, orang bapa lagi tidur juga." ucap pak Yadi seolah-olah baru bangun tidur.
"Oh, gitu? Hehehe" ucap pak Yadi dengan tertawa yang dibuat-buat.
"Kalian berdua apa sih, Mayang liat kalian abis nangis-nangisan tadi. Udah ga usah di tutup-tutupin." gerutu mayang kesal."
"Ya, masa cowo keliatan nangis. Malu lah May." sanggah pak Yadi.
"halah... Udah lah, ni bang sarapan dulu. Abis itu baru berangkat sekolah." ucap Mayang dan memberikan satu bungkus nasi uduk pada Awan.
"loh kok cuma satu? Kamu sama bapa mana?" tanya Awan.
"Aku sama bapa udah dapet catering dri rumah sakit, paling bentar lagi dateng. Tapi bapa belom boleh makan sampe selesai CT scan nanti." jawab Mayang.
"Yah, ga enak makan sendiri. Gimana kalo brengan aja? Nanti Mayang bisa kenyangin pake catering rumah sakit." ucap Awan.
"Emmm... Boleh deh..." ucap Mayang dengan senyuman manis.
Pak Yadi hanya menggelengkan kepala melihat anak perempuannya yang kini mulai beranjak dewasa.
Awan dan Mayang pun menyantap sebungkus nasi uduk itu bersama. Mayang disuiapi oleh Awan menggunakan sendok pelastik.
"Halah... Udah tua di suapin, manja banget." ucap pak Yadi sambil membuang wajah ke arah lain.
"Yee... Siapa yang minta di suapin, bng Awan sendiri yang nyuapin. Orang sendok ya cuma satu." sangkal Mayang.
__ADS_1
"Modus." sahut pak Yadi.
"Wleee..." ejek Mayang.
Awan hanya tersenyum melihat tingkah Ayah dan Anak sering bertengkar dengan hal-hal kecil.
...----------------...
Waktu menunjukan pukul 6 pagi, Awan telah selesai berganti baju di rumahnya. Segera ia berjalan menuju sekolahnya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang berhenti di sebelahnya. Dari mobil tersebut keluarlah sopir yang berbadan kekar dan membuka pintu mobil tersebut agar Awan masuk kedalam mobilnya.
Awan yang tidak mengetahui siapa orang itu, segera menolak untuk masuk kedalam mobil tersebut. Namun dengan kasar, pria berbadan besar itu pun menarik paksa Awan agar masuk kedalam mobil.
Awan yang tidak mampu untuk melawan pun menuruti kemauan pria berbadan besar tersebut. Betapa terkejutnya Awan, ternyata yang ada di dalam mobil tersebut adalah Nico.
"Halo, Awan..." Sapa Nico.
"Apa-apaan ini?" tanya Awan dengan nada tinggi.
"Wow, galak amat kaya preman kampung." ucap Nico yang saat ini, duduk di sebelah Awan.
"Bangsat, apa mau lo? Gue ga mau cari ribut." tegas Awan.
"Oke, langsung to the point aja. Semalem lo jalan sama Nala gue kan?" tanya Nico.
"Apa urusan lo? Gue mau jalan ama dia kek, gue pacaran sama dia kek, ga ada hubungannya sama lo. Gue tau lo boss nya kan? Tapi bukan berarti hidup Nala bisa lo setir." jawab Awan.
"Nala udah resmi jadi milik gue mas, jadi gue harap lo tau apa yang harus lo lakuin. Lagi juga, apa yang bisa lo kasih buat dia sih mas? Sadar diri deh. Jauhun Nala kalo masnya sayang Nala." ucap Nico merendahkan Awan.
'Bangsat...' Gumam Awan menggigit bibir bawahnya menahan emosi.
"Cih... Ga yakin gue. Gimana kalo biar Nala aja yang nentuin dia mau kaya gimana?" ucap Awan dengan senyuman sinis.
"Hahahaha... Lo ngajak saingan? Coba pikirin baik-baik mas, gue ama Nala udah resmi mas. Lo mau ngarepin apa lagi?"
"Kenapa? Lo takut Nala pilih gue? Kita buktiin aja tapi harus fear. Ini masalah hati, ga ada kaitannya sama karir Nala. Gue harap lo bisa lebih profesional."
"Oke mas Awan, gue terima tantangan lo. Gue bakal profesional masalah kerjaan tenang aja. Tapi kalo Nala pilih gue, gue harap lo jauhin Nala sejauh-jauhnya." ucap Nico mencengkeram pundak Awan sekuat-kuatnya.
"Deal..." ucap Awan kemudian menyingkirkan tangan Nico dengan kasar.
"Ya udah keluar, ngapain lama-lama di mobil gue? Nyaman?" Ucap Nico lagi-lagi merendahkan Awan.
Awan pun segera keluar dari mobil Nico dan menutup pintu mobil Nico dengan kasar. Nico pun membuka kaca mobilnya dan menatap tajam kearah Awan. Awan hanya mengacungkan jari tengahnya ke arah Nico sambil tersenyum.
...----------------...
Sesampainya di sekolah Awan menatap Nala yang sedang mengoprasikan gawai miliknya.
'Nala, sekarang semuanya Kuserahkan padamu'.
__ADS_1
Bersambung...