SUARA SENJA

SUARA SENJA
Bab 15 "Alasan Untuk Bersyukur"


__ADS_3


Sesampainya di rumah sakit, Awan dan Arka segera menuju resepsionis untuk mengetahui lokasi pak Yadi. Resepsionis tersebut pun mengatakan bila pasien yang bernama Yadi masih berada di ICU. Segera Awan dan Arka menuju ruang ICU yang tidak jauh dari lokasi resepsionis tersebut.


Di depan ruangan ICU, terlihat Mayang yang telah menunggu ayahnya dengan raut wajah yang cemas.


"Bang, itu anaknya pa Yadi bang." ucap Awan.


"Ya udah, kita kesana ayo..." ajak Arka.


"Tunggu bang, gue ga mau ribut bang. Gue udah sempet di usir sama Mayang, karena dia nyalahin gue soal kejadian semalem yang bikin bapa masuk rumah sakit sekarang."


"Loh... Maksudnya gimana?" tanya Arka.


Awan pun menjelaskan kronologi yang terjadi dengan detail. Dia juga menunjukkan bekas luka yang ada di wajahnya. Arka pun mengerti dengan kondisi Awan sekarang, dan merasa sangat iba dengannya.


"Ya udah bro, gue aja yang kesana. Lo tunggu sini, nanti gue kasi tau gimana keadaan pa Yadi." ucap Arka kemudian menepuk pelan pundak Awan.


"Makasih banget bang udah mau bantu." ucap Awan dengan mata yang berkaca-kaca.


Arka pun pergi menuju ruangan ICU untuk mengetahui kondisi pak Yadi.


"Hey, kamu anaknya pa Yadi ya?" sapa Arka pada Mayang.


"Ia bang, abang ini siapa?" tanya mayang sedikit bingung.


"Oh, Aku Arka dari cafe tempat pa Yadi kerja. Mau nengok keadaan pa Yadi. Gimana perkembangannya?"


"Bapa ngerasa sakit di bagian dada bang. Kata dokter untuk mengetahui kondisi bapa lebih lanjut, harus melakukan pemeriksaan lanjutan, kaya rontgen, dan CT scan. Sedangkan untuk pemeriksaan itu butuh biaya besar. Tabungan aku dan bapa ga cukup bang." ucap Mayang yang kemudian menangis.


"Tapi kalo ga di periksa bisa bahaya kan?" tanya Arka khawatir.


"Ia bang, aku takut banget bapa knapa-napa."


"Udah kamu yang tenang dulu. Aku mau masuk bisa?"


"Belum boleh masuk kayanya bang, belum jam besuk."


"Kalo gitu salamin dulu ke bapa ya, bilangin kalo Arka tadi kesini. Udah kamu jangan larut sedihnya. Nanti aku dan temen-temen di cafe coba bantu."


"Ia kak, makasih kak."


Arka pun pergi meninggalkan Mayang. Kemudian Arka menceritakan tentang keadaan pa Yadi serta keterbatasan biaya untuk pemeriksaan. Awan mengepalkan tangannya dengan sangat kuat guna menahan sakit didalam hatinya melihat kondisi pak Yadi, yang sudah ia anggap sebagai ayah angkatnya.


"Udah tenang dulu, ayo kita tanya biaya yang di butuhin untuk berobat pa Yadi. Ayo ikut gue." ucap Arka menenangkan Awan yang terlihat sangat cemas dan putus asa.


"Ia bang." jawab Awan dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


Sesampainya di bagian administrasi, Arka menanyakan perihal biaya administrasi pasien atas nama Yadi yang berada di ruangan ICU. Petugas administrasi pun merincikan biaya untuk pengobatan pak Yadi serta biaya untuk pemeriksaan lanjutan, seperti rontgen dan CT scan, semuanya senilai 15 juta rupiah, sudah termasuk 5 hari rawat inap VIP, di karenakan ruangan lain tengah penuh diisi oleh pasien.


Nilai yang sangat fantastis untuk Awan, dia merasakan lemas disekujur tubuhnya memikirkan biaya yang harus di keluarkan untuk pengobatan pak Yadi, orang yang dulu pernah menyelamatkannya.


"OK baik mba, untuk pembayarannya saya proses sekarang, atas nama Awan ya mba. Mohon segera di tindak lanjuti dengan cepat ya mba, untuk pengobatan ayah dari teman saya." ucap Arka.


"Baik pak. Kami buatkan kuitansinya ya, mohon di tunggu sebentar."


"Bang, lo serius bang? Gimana cara gue ganti uangnya nanti bang." ucap Awan terkejut dengan apa yang Arka lakukan.


"Udah jangan khawatir, nanti tinggal lo bayar aja ke gue, hehehe" jawab Arka santai.


"Bang, ini ser..." ucapan Awan tang terpotong oleh pengurus administrasi.


"Silahkan tanda tangan disini pak." ucap petugas administrasi.


"Wan, tanda tangan Wan." ucap Arka menyuruh Awan menandatangani administrasi tersebut.


"Se... Serius ii... Ini bang? Ucap Awan ragu.


"Udah buat kesembuhan bokap lo." ucap Arka.


Awan pun menandatangani surat administrasi tersebut. Arka segera mengeluarkan kartu debit miliknya untuk melakukan pembayaran. Petugas administrasi memberikan kuitansi lunas pada Arka.


"Nah, udah beres nih. Pegang ini jangan sampe ilang." Arka memberikan kuitansi lunas itu pada awan


"Santai aja Wan. Itulah fungsinya temen bro." ucap Arka menepuk pundak Awan.


"Udah yu cabut, kita latihan buat manggung di acara weding si Akim di cafe. Kemarin gue udah ngomong sama pemilik cafe, katanya dia malah seneng kalo ada yang ngisi live music di sana. Ayo ah..." lanjutnya.


Awan sungguh tidak menyangka bila dia akan di pertemuan dengan orang-orang baik, yang menganggapnya sebagai teman. Segera mereka kembali menuju cafe. Dirinya masih tidak percaya, bila ada orang sebaik Arka, tapi dia masih memikirkan cra untuk mengembalikan uang sebesar 15 juta rupiah pada Arka.


...----------------...


Saat Mayang tengah tertidur di kursi tunggu ruang ICU, tiba-tiba ada perawat yang menghampirinya.


"Permisi kak." ucap perawat tersebut.


"Oh, maaf sus, Saya ketiduran." ucap mayang yang sedikit terkejut.


"Ia kak, Maaf saya ganggu nih. Saya mau ngasi tau, kalo bapa udah dapet kamar buat rawat inap, dan besok pagi akan mulai kita rontgen dan CT scan. Kami mau pindahin bapaknya sekarang ya." Ujar perawat tersebut.


"Loh, tunggu sus, bukanya harus ada pembayaran dulu ya, abis itu baru bisa di tindak lanjuti?" tanya Mayang.


"Untuk pasien atas nama bapa Yadi sudah dibayar lunas kak, jadi segera kami tindak. Permisi kak kami akan segera memindahkan pasien." ucap perawat tersebut.


"Baik sus." jawab Mayang

__ADS_1


Mayang masih belum bisa mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasa belum membayarkan apapun untuk biaya rumah sakit ayahnya, namun kini ia mendengar bila pembayarannya telah lunas.


Mayang pun mengikuti perawat yang saat ini tengah mengantar ayahnya menuju ruang rawat inap. Mayang kembali terkejut, ketika ruangan rawat inap ayahnya adalah VIP. Ruang rawat yang memiliki fasilitas lengkap, mulai dari kulkas, tv, dan sofa.


"Nak! Kok bapa di bawa kerang rawat yang ini? Ini pasti mahal nak. Coba kamu tanya sama suster nak." ucap pak Yadi.


"Ga tau pa. Bapa tunggu sini ya, Mayang mau cari tau." ucap mayang dan meninggalkan ayahnya sendiri untuk sebentar.


Mayang pun menanyakan perihal ruang rawat ayahnya yang terkesan mewah pada suster yang tadi mengantar ayahnya. Namun, suster itu membenarkan jika ini adalah ruang rawat inap pak Yadi. Perawat itu pun menyarankan Mayang untuk bertanya pada petugas administrasi, guna mengetahui informasi administrasi dan ruang rawat yang dipesan.


Sesampainya di bagian administrasi, Mayang menanyakan data-data tentang ayahnya. Petugas administrasi pun segera memberikan berkas-berkas milik pasien atas nama Yadi pada mayang. Pada berkas tersebut tertera data pasien, ruang rawat pasien dan juga bukti pelunasan administrasi atas nama Awan.


Mayang sangat terkejut melihat nama Awan tertera pada pelunasan administrasi, yang membuatnya lebih terkejut adalah nominal pelunasan administrasi milik ayahnya, yaitu 15 juta rupiah. Seketika Mayang mengingat apa yang telah ia lakukan pada Awan semalam. Ia telah mengusir Awan pergi jauh dari keluarganya.


Rasa bersalah pun menghantui perasaannya saat ini. Dengan langkah yang tak lagi cepat, ia kembali ke ruangan tempat ayahnya di rawat. Dia menceritakan semua tetnag pelunasan administrasi kepada ayahnya.


"Nak, Awan itu orang yang sangat baik. Awan juga orang yang sangat tulus. Hanya saja nasibnya tidak terlalu baik. Dia hidup sendiri sejak kecil sampai saat ini. Mencari nafkah sendiri, semuanya serba sendiri. Dia itu ga akan jahat sama kita, karena dia udah anggap kita ini keluarganya. Kita harusnya merangkul dia nak. Kasihan dia" ucap ayah Mayang.


"Ia pak, nanti aku mau minta maaf kalo ketemu bang Awan." ucap mayang yang tengah menangis karena merasa bersalah pada Awan.


"Yang jadi pertanyaan bapa, dia dapat uang sebanyak itu dari mana ya? Bapa takut dia melakukan sesuatu yang ga baik, cuma demi pengobatan bapa."


"Nanti coba Mayang tanya pa. Malam ini, Mayang mau pulang dulu ambil baju bapa dan baju aku, soalnya kita rawat inap disini sampai lima hari, karena hasil rontgen dan CT scan ga bisa langsung keluar. Sekalian aku mau nemuin bang Awan di cafe, tadi aku coba telpon om Bimo. Katanya Awan ada di cafe pa."


"Ia, tinggal aja nak, bapa gapa kok."


...****************...


Terkadang semua ini sangat membingungkan buatku. Di saat aku mengutuk kehidupanku, entah mengapa selalu ada alasan untuk aku bersyukur atas hidupku.


Aku menyimpulkan jika dunia tak selamanya cerah, pasti akan ada hujan yang akan membasahi bumi.


Dari hujan yang turun akan melahirkan sebuah pelangi, walau pelangi itu tidak akan bertahan lama.


Tapi dari sana aku belajar untuk tidak terhanyut dalam keindahan. Karena masih ada badai yang siap menghadang langkah ku di masa depan.


Mungkin sekali lagi aku dapat bersahabat dengan dunia ini, karena sahabatku dan keluargaku masih berada di dunia ini.


...****************...


"Bro... Cek sound." Ucap Arka.


"OK, siap bang." jawab Awan.


Awan pun mulai memainkan gitarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2