SUARA SENJA

SUARA SENJA
Bab 13 "Kehilangan Dan Hancur"


__ADS_3


Darah segar pun mulai keluar dari wajah Boni yang sobek akibat pukulan Awan yang terus dilancarkan Tampa henti. Sepertinya Awan tidak menyadari bila sebenarnya Boni telah tidak sadarkan diri, namun amarah telah membutakan dirinya.


Teman-teman Boni mencoba menghentikan Awan. Namun entah tenaga dari mana, mereka semua pun tidak mampu menghentikan Awan. Sekejap Awan menghentikan pukulannya dan kemudian menatap keempat teman dari Boni dengan tatapan yang tajam dan mengintimidasi. Mereka pun lari, karena tidak ingin bernasib seperti Boni. Yang sudah berlumuran darah.


Awan pun menatap Boni kembali. Kemudian Awan berencana memukulnya lagi. Namun pukulan Awan terhenti, ternyata pak Yadi telah memeluknya dari belakang.


"Wan udah Wan. Mati nanti itu orang Wan." ucap pak Yadi sambil terus memeluk Awan.


Awan pun berhasil untuk tenang.


"Ia pa... Aku minta maaf, gara-gara aku bapa jadi dipukulin kaya gini." sesal Awan.


"Udah nak, ayo pulang nak. Pulang kerumah bapa aja ya."


"Ia pa..."


Awan pun berjalan kearah rumah Mayang. Tidak jauh dari situ, Awan melihat teman-teman Boni yang tengah bersembunyi di balik pos ronda yang sudah tak terpakai.


"Eh, BANGSAT!!! Tolongin noh temen lo. Udah mau mati dia." ucap Awan dengan tatapan tajam.


dengan segera mereka berempat berlari menuju Boni yang sudah tidak sadarkan diri dan berlumuran darah di area wajahnya. Awan melanjutkan perjalannya ke kediaman Mayang dengan menopang pak Yadi, ayah dari Mayang.


Sesampainya di kediaman Mayang, Awan mengetuk-ngetuk pintu. Tak selang beberapa waktu, Mayang pun membukakan pintu, karena dia yakin yang pulang pasti ayahnya.


"Ya, ampun bapa! Bang bapa kenapa ini bang?" tanya Mayang terkejut melihat keadaan ayahnya yang babak belur.


"Bentar May, mau taruh bapa dulu kekamarnya." ucap Awan yang masih menopang pak Yadi.


Mayang pun bergegas kedapur untuk menyiapkan kompres untuk luka lebam di bagian wajah ayahnya. Awan berhasil membaringkan pak Yadi di ranjangnya. Tak lama, mayang pun masuk kedalam kamar ayahnya dengan membawa Alat kompres untuk mengobati luka lebam di wajah ayahnya tersebut.


"Kok bisa begini si bang?" tanya Mayang sambil terus menangis.


"Bapa di Pukulin preman, waktu bapa coba buat lindungin aku dari serangan preman terminal."

__ADS_1


"Terus? Abang diem aja pas bapa di pukulin?" tanya Mayang.


"Abang udah coba sekuat abang May. Abang juga udah kasih pelajaran ke mereka."


"Orang yang mukulin bapa, apa sama orang mukulin abang?"


"Sama may."


"Berarti ada hubungannya sama abang? Semua gara-gara abang. Mending jauhin keluarga kami bang, jangan deket-deket keluarga mayang lagi. Kita ga mau kena masalah bang, hidup kita udah baik-baik aja sebelumnya. Mendingan abang pergi sekarang." ucap mayang dengan nada tinggi dan terus menangis.


"Tapi May..."


"Tapi apa? Masih punya alasan setelah bapa udah begini? Pergi bang, pergi!"


Awan pun tidak mampu berkata apa-apa, tanpa terasa air mata menetes ketika Mayang mengusirnya pergi.


...****************...


Lagi-lagi aku terbuang. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Aku hanya melakukan hal-hal seperti manusia lainnya lakukan. Namun, kenapa aku selalu menjadi yang terbuang.


Ya, ini salahku, sepenuhnya salahku. Andai saja aku bukan pecundang. Andai saja aku lebih kuat, andai saja aku lebih berani.


Siapa yang akan bertanggung jawab atas ini?


...****************...


Awan merjalan menyusuri jalan yang gelap. Suasana sangat sepi membuat dirinya semakin merasa sendiri. Dia berencana untuk mencari empat orang yang telah memukuli pak Yadi.


"Udah gila kali si Jawa. Mukulon bang Boni ampe abis gitu. Sampe sekarang belom sadar no bang Boni."


"Ia, ngeri juga tuh bocah. Selama ini dia diem loh, kita Pukulin, kita palakkin. Tapi tadi lo liat, udah kaya orang kesurupan, mukulin bang Boni sampe segitunya."


Di tengah-tengah percakapan empat orang bawahan Boni, tiba-tiba botol minuman kosong melayang kearah mereka dan tepat mengenai kepala salah satu dari mereka yang menyebabkan darah segar mengalir membasahi wajah orang tersebut.


"Oi!!! BANGSAT SIAPA LO, BERANI-BERANI YA LO NYERANG TEMEN GUE!!!"

__ADS_1


Botol kedua pun melayang dan tepat mengenai orang yang sedang berbicara tadi.


"ARRRGH... SIALAN!!!"


Awan pun menampakkan dirinya dari kegelapan. Setelah mereka mengetahui Awan lah yang melemparkan botol kearah mereka, mereka pun sidikit terkejut dan merasa ketakutan.


"Si... Sialan lo Wa!!! Kita abisin bareng bareng aja." ujar bawahan Boni yang wajahnya berlumuran darah.


"SINI LO SEMUA, LO SEMUA YANG UDAH NGANCURIN KELUARG GUE. JANGAN HARAP MASIH BISA HIDUP LO SEMUA."


Sebelum mereka menyerang Awan, Awan telah berlarinkearah mereka jengan membawa satu buah tongkat besi. Belum sempat menghindar, orang berdiri paling depan sudah mendapatkan serangan dari Awan.


Awan mengayunkan tongkat besi itu ke arah kepala orang yang terkena lemparan botol sebelumnya. Hanya dengan satu pukulan orang itu pun sudah tergeletak di jalanan aspal, dengan darah yang mengalir. Melihat temannya terkena pukulan pipa besi tersebut, mereka pun bergerak mundur.


"MAJU LO SEMUA, ATAU GUE PATAHIN NI LEHER TEMEN LO" ancam Awan


"Sialan lo wa. Ayo kita kasi pelajaran." ucap salah satu dari ketiga preman yang tersisa.


Pertempuran sengit tiga lawan satu pun terjadi. Awan benar-benar telah dibutakan oleh amarahnya. Dia menyerang para preman tersebut tanpa belas kasihan. Awan memberikan efek jera kepada para preman yang selama ini menindas dirinya. Yaitu dengan mematahkan tangan ataupun kaki dari preman-preman tersebut.


Awan juga menerima banyak pukulan dan luka lebam di sekujur tubuh dan wajahnya.


"Ini semua pelajaran buat lo semua. Lo semua tau kan, kalo gue ga punya keluarga. Jadi gue mau hidup di penjara sekalipun ga masalah buat gue. inget kata-kata gue? Lo dengar kan? LO SEMUA DENGER KAN?" ucap Awan dengan nada yang tinggi di akhir kaliamatnya di sertai air mata yang menetes, karena saat ini ia merasakan kehilangan keluarga barunya.


"Bangsat lo semua emang, BANGSAT..." lanjut Awan di sertai tangisan yang terisak.


...----------------...


Keesokan harinya, warga sekitar terminal di hebohkan dengan penemuan para preman terminal yang selama ini meresahkan, dalam kondisi yang mengenaskan. Yaitu dalam kondisi terikat di sebuah pos kamling yang sudah tidak terpakai tanpa busana. Kondisi lainnya adalah wajah mereka yang lebam serta berlumuran darah, setiap dari mereka mengalami patah tulang pada bagian tangan dan kaki.


Warga yang melihat hal itu justru sengat senang. Karena mereka adalah sosok preman yang selam ini memeras warga di sekitar terminal. Tidak ada satupun warga yang merasa iba terhadap mereka. Yang ada hanyalah sumpah serapah dan makian para warga yang melihat mereka.


Awan pun melintas melewati para preman tersebut dengan sikap yang biasa-biasa saja, seolah tidak tau apapun tentang hal itu. Ia berjalan kaki menggunakan masker dan topi untuk menutupi luka lebam pada bagian wajahnya.


Awan pun mendekat pada mereka dan membuka maskernya agar mereka berempat dapat melihat wajahnya. Setelah mereka tau siapa yang mendekat, mereka pun hanya dapat ter tunduk takut menatap mata Awan. Tanpa berbicara, Awan pun meninggalkan mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2